
Tok….Tok….Tok….
Mendengar adanya suara ketukan pintu, Vina jadi bersikap waspada dan berjalan masuk kedalam rumah, dan melihat ke arah layar monitor berukuran kecil yang terhubung dengan kamera di luar pintu.
“Permisi?” suara milik Delvin pun keluar juga, membuat Vina akhirnya membuka pintu rumah Vano untuk menyambut kedatangan dari pria tersebut.
Sebenarnya untuk saat ini, Vina sama sekali tidak tahu siapa pria yang ada di depannya ini, sampai dirinya berani bertaruh untuk membukakan pintu untuk pria ini. Padahal jelas, kalau orang ini adalah orang asing untuknya. Tapi sepertinya refleks otak dan tubuhnya menganggap kalau orang ini cukup familiar, sekalipun Vina sendiri masih tidak begitu mengingat soal memorinya.
“Aku mendengar suara keributan, apa kau tidak apa-apa?” tanya Delvin. Dia saat ini dengan berani menggunakan bahasa informal kepada Vina agar Vina tidak merasa canggung kepadanya.
“Seperti yang kau lihat, aku bukannya tidak apa-apa, tapi apa-apa. Ada yang ingin membunuhku, dan akibatnya- akibatnya, i-ini, bahuku sakit. Ya, sakit karena terserempet peluru. D-dan itu hampir saja…hiks…” Vina yang tidak kuasa untuk bicara lagi, langsung jatuh terduduk.
Namun, sebelum itu terjadi, Delvin langsung mengontrol tangannya untuk menopang tubuh Vina agar tidak jatuh ke lantai, hanya karena kedua kakinya itu gemetar ketakutan.
“Aku takut! Sebenarnya apa yang membuatku jadi sasaran? Perasaan aku sama sekali tidak pernah berbuat atau menyinggung orang lain sampai orang itu ingin membunuhku, tapi apa ini? T-tadi, tadi itu, tadi itu aku hampir kena tembak,” mencoba untuk menahan sebaik mungkin agar dirinya tidak menangis, tubuhnya pun jadi gemetar hebat, sampai Vina sendiri tubuhnya jadi menggigil. “Itu hampir, sedikit lagi pasti akan- kena…, jantungku.” ungkap Vina.
Delvin yang merasakan rasa takut yang luar basa dari diri Vina, refleks jadi memeluknya.
Tapi, mau seberapa Vina mencoba untuk bertahan, untuk menahan rasa perih di bahu, dan rasa sakit hati karena tadi dirinya benar-benar hampir saja nyawanya melayang detik itu juga, pada akhirnya Vina menangis dalam kepedihannya sendiri.
“M-maaf, bajumu jadi basah,” kata Vina, merasa bersalah karena dirinya membuat pakaian milik dari pria ini jadinya basah.
“Kalau mau menangis, menangis saja sepuasnya. Keluarkan semua yang kau rasakan itu pada tangisanmu, tidak akan ada yang memarahi atau menertawaimu, lakukan saja, tidak apa-apa,” kata Delvin memberikan tawaran sederhana
__ADS_1
Lalu benar saja, Vina pun menangis sampai air matanya tumpah semua dan menyerap langsung ke serat pakaiannya Delvin.
"Huwaahh, aku hanya ingin pulang. Hiks, padahal, padahal sebelum ni, hikss...heuk, sebelum ini aku pu-punya, punya kehidupan, y-yang damai.
T-tapi ke heuk, kenapa aku jadi s-sasaran seperti ini? Heuk," sampia nangis sesenggukan, Vina benar-benar tidak kuasa untuk menahan perasaannya yang membuncah tidak karuan.
Takut, cemas, dan selalu khawatir akan kehidupannya ke depannya, dia sangat syok dengan kehidupannya kali ini, karena dia seperti terombang-ambing dalam lautan di tengah samudra yang ganas.
"Huwahh...., heuk, hiks..., huwaah, aku takut. Aku takut mati, huwah." sampai nangis kejer, Delvin yang tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan Vina, hanya bisa memeluk dan mengusap punggungnya itu, karena tubuh dari perempuan ini masih terus gemetar saking takutnya, mati tanpa di ketahui oleh orang lain, ataupun mati tapi dengan cara yang lebih tidak manusiawi, yaitu karena serangan dari seseorang. 'Abel, apa dia sudah bergerak kembali?'
Dan pelukan yang dia berikan itu, tiba-tiba saja membuat Delvin teringat dengan adiknya yang sudah meninggal dari kecil.
'Walaupun aku terlihat bisa melakukan segalanya, sampai jadi tangan kanan Tuan muda Elvano, dan sering mendapatkan pujian, tapi kelemahanku adalah aku tidak bisa menenangkan orang lemah yang suka menangis seperti ini.' pikir Delvin, dia tiba-tiba saja mengakui kekurangan yang dia miliki dalam diamnya.
“Menurutmu, apa jika aku pulang ke rumah, kedua orang tuaku juga akan kena bahaya?” tanya Vina, tiba-tiba saja dia jadi punya pikiran yang lebih penting, dan salah satunya adalah jika dirinya pulang ke tanah air, maka kemungkinan terbesarnya adalah dia sama saja memancing musuhnya itu untuk melibatkan kedua orang tuanya sendiri dalam pusaran masalah yang sedang mengelilingi Vina selama ini.
Hanya dengan di tanyai seperti itu, VIna pun menggelengkan kepalanya tidak mau.
Tentu saja, siapa yang mau melibatkan kedua orang tuanya yang berharga ke dalam masalahnya?
Vina pun menjawab dengan gelengan kepala, “Tapi memangnya, apakah aku harus seperti ini terus? Apakah aku harus terus bersembunyi dan berlindung sepanjang waktu sampai mereka menemukanku seperti ini?”
Sangat sulit untuk diterima kalau Vina harus menjadi objek yang harus dilindungi terus menerus oleh majikan dari Delvin, yaitu sang Tuan muda Elvano.
__ADS_1
Tidak seharusnya majikannya itu terus saja menjadi tameng untuk melindungi wanita yang bahkan sebenarnya dari sudut pandang Delvin sendiri, Vina terlalu merepotkan, sekalipun jika bukan karenanya, Tuan muda nya tidak mungkin masih hidup sampai sekarang.
“Jika kau memang ingin menjadi kuat dan melawan musuhmu sendiri, kau harus bisa berubah. Tapi setidaknya bukan untuk sekarang ini, karena mau bagaimanapun kau perlu tubuh yang benar-benar sehat untuk melakukan yang ingin kau lakukan untuk membalaskan apa yang diperbuat mereka terhadapmu, ya kan?”
Vina pun mengangguk paham, “Tapi sekarang aku harus bagaimana? Rumahnya Vano jadi berantakan, bagaimana jika dia pulang dan memarahiku? Aku harus membereskannya, terima kasih sudah meminjamkan pakaianmu untuk korban tangisanku tadi, kau bisa berikan kepadaku, nanti aku akan mencucinya.”
Vina awalnya hendak bangkit, tapi begitu Vina sudah mau berdiri dan segera menjauh dari Delvin, tiba-tiba saja Delvin malah menarik tubuhnya untuk langsung berjongkok.
“Jongkok dan tutup telinga.” perintah Delvin secara tiba-tiba.
“Ha? Memangnya mau ap-” belum selesai bicara, Vina langsung membungkam mulutnya sendiri saat Delvin tiba-tiba saja sudah mengeluarkan pistolnya dari belakang pinggangnya Delvin, dan langsung menodongkannya ke arah depan sana, dimana pintu balkon dari apartemen masih terbuka lebar.
Vina refleks segera menutup telinganya dengan kedua tangannya dengan cepat sebelum ledakan dari pistol langsung mengisi ketegangan di antara mereka.
DORRR…..
CTAAKK….
Suara lain yang cukup berbeda, sontak membuat Vina segera membulatkan matanya dengan sempurna, sebab apa yang baru saja di lakukan oleh Delvin tadi adalah untuk menangkis serangan dari senjata api yanng berasal dari luar sana, yang di lakukan oleh seorang penembak jitu.
DORR….
CTAKK….
__ADS_1
Suara kedua itu, mempercepat Vina untuk di peluk lebih erat lagi oleh Delvin.
‘B-bagaimana bisa dia bisa punya kemampuan untuk menangkis peluru dari penembak jitu yang ada di gedung di belakang sana?!’ Vina terheran, tapi sayangnya ada yang lebih terheran lagi, yaitu si Abel sendirilah yang sedang merasa tercengang dengan tindakannya Delvin yang mau melindungi Vina, yang bukan siapa-siapanya.