Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Rahasia Kecil Cincin


__ADS_3

“Tidak usah banyak bicara, katakan saja, apa yang kau inginkan?” 


Suasananya tiba-tiba jadi berubah drastis. Yang tadinya sedikit kocak karena tingkah Elvano, tapi semua itu langsung berubah, saat Abel yang menjadi musuh alami mereka, justru berhasil mengusik Elvano itu sendiri. 


-”Apa kau tidak ingin tahu dimana kakakmu itu?”-


“Apa? Jadi kau menghubungiku karena kau ternyata sudah tahu?”


-“Bukan tidak tahu, tapi sebenarnya hanya mengantisipasi,”- jawab Abel singkat. 


“Kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu kepadaku? Kau pasti ada maunya, ya kan?” terka Elvano. 


Sebagai orang yang sudah lebih tahu seluk beluk Abel dari Arthur itu, membuat Elvano semakin hati-hati dalam membuat langkah untuk menghadapi Elvano. 


-“Tentu saja, hanya masalah biasa, kau tahu? Wanita yang kau idam-idamkan itu?”- Abel perlahan mulai memancing emosinya Elvano. 


Tentu saja, di ujung telepon sana, Abel sedang tersenyum puas, karena bangga bisa mengatakan hal tersebut kepada Elvano.


‘Jangan-jangan dia sudah berencana untuk menculik Vina lagi?’ detik hati Elvano, dia tiba-tiba jadi merasa takut dengan imajinasinya yang begitu jauh, dimana Vina sudah ada di tangannya Abel. 


TUT 


Waktu satu menit belum selesai, Abel pun langsung memutuskan panggilan diantara mereka berdua, dan meninggalkan Elvano yang sudah berekspresi begitu serius. 


“Tuan? Ada apa? Siapa yang barusan menghubungi anda itu?” tanya salah satu dari mereka lagi dan lagi. 


Tentu saja, sebagai anak buah yang begitu mengkhawatirkan kondisi dari Tuan muda nya yang benar-benar harus menghadapi banyak musuh dalam sekali jalan, membuat mereka ingin tahu segalanya juga. 


Itulah yang diinginkan oleh mereka, tapi mau bagaimanapun, mana mungkin mereka harus bertanya terus menerus kepada majikannya sendiri?


Itu tidak mungkin, jadi setidaknya mereka bertanya hal yang lebih pentingnya saja. 


“Abel,. Jangan urus yang itu. Sekarang perintahku satu dulu, melacak keberadaan cincinku, setelah itu kerahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan dari cincin milikku. 


Jika tebakanku benar, ada kemungkinan kalau ini juga ada hubungannya dengan kakakku. 


Sekarang kalian kerja, tidak ada kata berhenti sebelum semuanya beres!” perintah Elvano dengan begitu tegas. 


“Baik!” mereka bertiga pun pergi dan di ikuti oleh Elvano yang berjalan di belakang mereka berdua. 


“Aku tidak akan membiarkannya terjadi apapun kepadamu, Vin,” bisik Elvano sambil menggenggam sepasang anting-anting milik Vina yang masih berada di tangannya. ‘Dengan ini, aku jadi masih punya alasan untuk menemuinya lagi.’


“Tuan, tunggu sebentar, apakah saya boleh bertanya?” tanya dokter ini, menghentikan Elvano yang hendak pergi dari kamar. 


“Tanya apa?” sahut Elvano dengan begitu ketus, karena dia sendiri sedang dikejar oleh waktu. 


“Apakah ingatan anda sudah kembali sepenuhnya?” tanyanya. 


“Apa hubungannya?”


“Tidak, saya hanya bertanya saja.”


Elvano mengacak rambutnya dengan kasar, dan menjawab. “Ya seperti itulah. Jadi karena itu pula, aku jadi tahu,kalau sebelumnya cincin itu pernah aku bongkar dan aku pasangi alat pelacak. 


Berkat aku pingsan, ternyata ada gunanya juga ya?” seringai Elvano. 

__ADS_1


“Ah, begitu ya? Syukurlah, kalau seperti itu. 


Tapi, apakah dengan begitu, anda juga ingat dengan satu hal yang pernah diberitahu oleh kepala pengurus rumah tangga di kediaman Travers tepat sebelum Tuan besar meninggal?” tanyanya lagi. 


“Tentu saja. Walaupun begitu, aku akan tetap menyembunyikan fakta itu, agar tidak ada lagi kejadian yang seperti ini,” jawab Elvano. 


Sejujurnya ada rahasia yang baru saja Elvano ingat, kalau sebenarnya cincin lambang dari Travers itu bukanlah cincin yang dicuri itu. 


Mengapa dia tahu, karena ayahnya Elvano sendiri diam-diam menyembunyikan fakta itu lewat dari lukisan yang terpajang di kediaman utama Travers. 


Sebuah lukisan keluarga itu, memperlihatkan Ayahnya Elvano menggunakan sebuah cincin simbol Travers. Di gambar memang, cincinnya berwarna biru, tapi disatu sisi lain, lukisan itu sempat diperbaiki dengan mengganti warna cincin tersebut, yang tadinya berwarna hijau zamrud, berubah menjadi warna biru. 


Maka dari itu, Elvano pun yang tadinya sempat kebingungan dengan asal usul ingatan dan cincin yang selama ini dia pakai, akhirnya terbukti benar, kalau memakai cincin yang kemungkinan menjadi rawan untuk di salah gunakan. Dan cincin yang asli, ada di brankas di dalam kamarnya Elvano sendiri. 


Akan tetapi, untuk saat ini yang paling penting adalah untuk menemukan pelakunya lebih dulu, dan setelah itu dia akan mencari keberadaan Arthur juga, setelah itu, pilihan terakhirnya, dia baru akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Vina. 


“Itu akan menjadi kartu As milikku.” imbuhnya. 


____________


“Hei, bangun, kau harus makan ini,” perintah salah seorang pelayan kepada arthur yang saat ini kembali terbaring di atas tempat tidur. 


Wajahnya pucat, karena dia disuntikkan sebuah obat yang membuat tubuhnya benar-benar mati rasa. 


“Untuk apa aku harus makan, mungkin saja disitu ada racun,” ketus Arthur, dia sama sekali tidak akan memakan makanan yang terlihat seperti sampah itu. 


“Ok, jika lebih memilih untuk lapar, tidak masalah juga. Kalau seperti itu, aku tidak akan begitu repot.” jawab pelayan ini, lalu dia pun pergi dari kamar dengan wajah judes nya. 


BRAK …


Apakah aku akan mati tersiksa disini?” ucap Arthur pada dirinya sendiri sambil melihat bulan purnama yang ada di luar jendela sana. 


Di bawah kamar yang begitu remang, dia justru merasa kalau bulan yang ada di luar sana justru lebih terang ketimbang lampu yang ada di dalam kamar. 


‘Apa yang Abel lakukan? Padahal aku di culik seperti ini, tapi beraninya dia bahkan tidak ada tanda-tanda akan menyelamatkanku.’ racau Arthur dalam benak hatinya. 


Dia sungguh merasa tidak puas dengan apa yang terjadi padanya, sekalipun dia sendiri entah kenapa punya rasa bersalah yang cukup besar untuk mengingat insiden dari kecelakaan yang pernah dia alami sekitar dua sepuluh tahun yang lalu. 


“Entahlah, jika aku sudah seperti ini, sepertinya aku tidak punya harapan lagi untuk bisa lepas dari mereka.” kata Arthur sekali lagi, dan dia pun terasa cukup hampa dengan rasa sepi yang terjadi padanya di dalam kamar tersebut. 


Oleh karena itu, karena dia merasa tidak ada yang membantu orang sepertinya yang hanya gila kekuasaan dan tidak memikirkan besar kemungkinan terjadi, membuat dia jadi menyerah. 


Apalagi karena dia sendiri sadar, semua anak buahnya hanyalah pion yang dipaksa untuk bergerak sesuai dengan perintahnya, oleh karena itu, Arthur pun tidak begitu berharap akan ada yang menyelamatkan orang yang egois seperti diri Arthur itu sendiri. 


‘Hah, menyedihkan sekali.’ detik hati Arthur, dan dia pun terus menahan rasa sakit setiap kali bergerak, juga sesekali rasa lemas yang terjadi pada tubuhnya itu. 


__________


“Jion, apa kau tidak bisa lebih cepat?”


“Apa yang membuat anda begitu terburu-buru begitu?” tanya Jion, saat ini mereka berdua sudah ada di dalam sebuah mobil, dan hendak pergi ke Indonesia dengan menggunakan pesawat, tentunya. 


“Aku hanya ingin cepat pergi dari negara ini lebih dulu, sebelum Elvano mengerahkan pasukannya untuk mengepung bandara. 


Tentu saja, itu memang butuh waktu, tapi akan lebih bagus jika kita cepat sampai, karena Elvano sedang sibuk dengan urusan statusnya sendiri yang ingin dipertahankan semaksimal mungkin.”

__ADS_1


“Jadi soal Tuan Arthur menghilang, apakah anda benar-benar tidak akan membantunya untuk menemukan beliau?” tanya Jion, dia sedang menyetir dalam kecepatan di atas seratus kilometer per jam. 


“Apa kau ingat, kemarin dia minum teh yang kau hidangkan. Sebenarnya aku sempat memasukkan alat pelacak yang sangat kecil di sana. Karena dia meminumnya sampai habis, jadi aku tidak begitu khawatir, karena Elvano sendirilah yang akan menemukannya. 


Walaupun dengan syarat kira-kira manakah yang akan bisa dia selamatkan lebih dulu, apakah kakaknya, atau wanita itu?” jelasnya, senyuman yang begitu licik tamak menciptakan kesan iblis yang bersemayam di dalam tubuhnya Abel, keluar dari sana, menunjukkan wajah aslinya. 


Karena itu, demi rencananya untuk keluar negara lancarjaya, dia pun merubah dirinya menjadi seorang wanita. 


Tentu saja, tidak akan ada yang tahu kalau dia adalah seorang pria, karena Abel sendiri sudah bersiap dengan penyamarannya yang dia lakukan dengan sempurna. 


Sedangkan Jion sendiri, dia di dandani seperti pria pada umumnya, namun dengan penampilannya yang kasual, dia tampak seperti remaja pada umumnya. 


Dua orang itu berperan sebagai kakak beradik. 


_________


Kembali ke tempat dimana Elvano berada, dia kini sedang di perjalanan. 


Dengan menggunakan alat komunikasi, serta beberapa senjata lengkap di balik jas hitam yang dia gunakan, dia pun bersiap untuk menghadapi lawannya. 


“Apa kau sudah menemukan lokasinya?”


-“Iya. Lokasinya sekarang ini ada di- belakang anda!”- teriak seorang wanita, dialah yang bicara untuk memandu keberadaan dari musuh yang ingin dihadapi oleh tuan muda nya itu. 


CKIT!


BRAKK…!


-“Tuan?! Anda tidak apa-apa?!”- teriaknya lagi, dia kali ini benar-benar mengkhawatirkan kondisi dari majikannya, padahal sampai dua puluh menit yang lalu, Tuan muda nya itu baru saja bangun dari pingsan, tapi sekarang? Justru harus berhadapan langsung dengan musuh. 


“Itu bukan mobilku, aku baik-baik saja. Kau jangan banyak bicara dulu, kalau tidak, bisa-bisa gendang telingaku pecah karena teriakanmu itu,” kata Elvano, memberikan peringatan penuh kepada salah satu anak buahnya itu. 


-”Ah, iya, baik-baik, tapi anda harus berhati-hati, karena sepertinya lawan anda juga bukan orang biasa,”-


“Tentu saja aku tahu, tapi sepertinya itu juga bukan lawan yang seharusnya aku lawan. Hah, mereka menyadari kalau cincinnya sudah menggunakan alat pelacak, makannya sekarang aku berhadapan dengan seorang serangga,” beber Elvano, dia paham musuh yang harus dia hadapi tidak mungkin akan menemuinya secara langsung seperti itu.


Karena adanya tabrakan yang diakibatkan oleh salah satu orang yang mengendarai mobil keluar dari salah satu gang secara mendadak, hal itu pun memicu salah satu pengendara tertabrak sampai akhirnya keluar jalur dan menghantam dinding salah satu bangunan toko.  


“Apakah aku perlu menembaknya?” gumam Elvano melihat satu orang laki-laki berkulit hitam ada di dalam mobil yang menjadi tersangka atas kasus beberapa saat tadi. 


BRRMMM …


“Oho, dia ternyata mau mengejarku?” kata Elvano, dia malah justru merasa lebih tertantang dengan keberadaan dari musuh yang tidak lain adalah salah satu pion dari si dalang pembuat fitnah itu sendiri. ‘Tapi aku hanya perlu menembaknya dengan target keempat ban itu sendiri.’ pikirnya sambil menatap mobil tersebut dengan begitu seksama. 


Dan tepat ketika mobil itu hendak bergerak untuk menabraknya, dia pun bergumam lirih.


“Meskipun mobil itu anti peluru, tapi tidak mungkin dengan ban nya. Tembak,” perintah Elvano. 


Dan keempat orang yang bertugas menjadi seorang sniper, langsung membidik sasaran. 


DORR…


DORR…


DORR..

__ADS_1


__ADS_2