Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Rencana Terencana


__ADS_3

BRRMMM……..


Dengan kecepatan yang cukup tinggi, mobil sport berwarna hitam keluaran terbaru, kini menghiasi arena balap dengan semua atraksi nya dengan mobil-mobil yang lainnya. 


Puluhan mobil terus beradu kecepatan untuk memperoleh kemenangan, dan dari sekian banyak mobil, ada dua orang yang saling mengejar dengan begitu menonjol, karena mereka berdua lah yang paling tercepat. 


Dengan posisi Vano menghubungi Arthur lewat telepon, dan dengan bantuan earphone bluetooth, mereka berdua pun bisa saling bicara seraya berkendara. 


“Kau masih mau berapa banyak lagi ingin menantangku?” 


“Sebanyak yang aku bisa, tentunya.”


Dua mobil dengan warna yang saling berkontradiksi, Arthur dan Elvano pun saling adu kecepatan, dan skill bermainnya. 


“Meskipun saat ini kau sedang adu balap denganku, pasti di satu sisi anak buah kesayanganmu itu sedang bekerja keras untuk menembus pertahananku, ya kan?” tanya Elavano, menebak sekaligus mencoba bicara basa-basi dengan sang kakak. 


BRRMMMM……..


Deru suara knalpot yang saling menyaingi suara knalpot lainnya, terus mengisi ketegangan di antara mereka semua. Dari dua belas pembalap yang sedang latihan itu, dua diantaranya adalah dua orang penguasa yang mewarisi darah keturunan Travers. Dan mereka berdua sekarang adu tanding secara bersamaan dengan sepuluh pembalap lainnya. 


Perbedaan mobil sport dan mobil pembalap yang asli, menjadi pembeda diantara mereka semua. 

__ADS_1


“Yah, entahlah, jika kau pikir memang seperti itu, silahkan saja,” senyuman simpul yang tersungging di bibirnya Arthur membawa insting Elvano untuk mewaspadai kakaknya itu. 


Sebab, sudah banyak cara yang digunakan oleh sang kakak untuk merebut apapun yang sebenarnya sudah dimiliki oleh Elvano sendiri. 


“Apa kau tahu, alasan ayah menyerahkan jabatannya kepadaku itu agar kau bisa fokus saja pada kehidupanmu. Menjadi mafia itu bukan semudah yang terlihat, hanya karena jabatanku tinggi, apa kau paham artinya?”


Mendengar ucapannya Vano, Arthur mulai terpancing. “Kehidupan macam apa yang kau maksud itu? Kau itu hanyalah adik yang sudah membunuh ibuku, dan merebut posisiku sebagai hak waris utama Travers, jadi apa ucapanmu itu bagian dari rasa pedulimu kepadaku? Dan …, kau bicar seperti sedang mengajariku.”


Sambil bicara, kedua tangannya dengan cekatan bergerak sesuai dengan tugasnya, bahkan termasuk dengan kedua kakinya itu, Arthur mengambil stir ke arah kanan, tapi dengan cepat arah laju mobilnya langsung belok ke arah kiri, tepat setelah dia mengalihkan roda gigi ke nomor 3 dan menginjak rem serta rem cakram. 


“Aku hanya memberitahumu saja,” cetus Vano. Begitu sudut matanya melihat Arthur ingin membanting stir ke arahnya, Vano dengan sigap langsung menaikkan kecepatan laju mobilnya, untuk menghindari kecelakaan yang membuat mobilnya keluar dari jalur. 


BRMMM………..


“Tapi bagiku itu, sama saja.” sahut Arthur, masih dalam sambungan telepon, Arthur berkata lagi, “Dan aku membencinya.” sorotan matanya kian menjadi lebih dingin, dan suasana di arena trek balap itu pun semakin tegang, begitu melihat anak buah Arthur yang mengendalikan mobil berwarna putih itu, mulai menyamai kecepatan mobilnya Vano.


Vano yang hanya diam sambil mengawasi area belakang, tiba-tiba menginjak pedal gas lebih dalam sampai kecepatan diatas 190 km/jam, dan di titik itu juga, Vano pun perlahan langsung mengambil stir arah kanan, mendahului laju mobil kakaknya. Begitu sudah ada di depan samping kanan mobilnya Arthur, Vano langsung menurunkan kecepatannya. 


“Apa?” Arthur langsung terkejut, sebab dalam kecepatan kurang dari delapan detik itu, Vano sudah mengalihkan posisi mobilnya  dari depan, langsung berada di belakangnya persis, dan di detik berikutnya, Vano sudah berada di samping kirinya. 


Sambil membuka kaca jendela mobil, Vano pun sempat menoleh ke arah kakaknya, dan berkata : “Ketahuilah dulu kakak, yang namanya balapan mobil itu adalah hobiku, jadi kenapa kau mengundangku ke acara latihan balap, jika sebenarnya tujuannya adalah untuk membunuhku?” ucap Vano. 

__ADS_1


Dengan posisi Vano masih menghubungi Arthur lewat telepon, dan dengan bantuan earphone bluetooth, mereka berdua pun bisa saling bicara seraya berkendara. 


“Karena sudah ketahuan seperti ini, kalau begitu kalian semua, kepung anak ini, buat dia jadi penyek seperti daging giling.” perintah dari Arthur pun langsung di laksanakan oleh ke sembilan mobil tersisa yang ada di belakangnya, untuk mengejar Vano, sedangkan Arthur? Dia secepat mungkin, langsung mengambil langkah untuk keluar dari arena trek balap, dengan berhenti di tengah-tengah lapang, memarkirkan mobil putih miliknya dk sana, lalu dia pun keluar dan berdiri di depan mobilnya persis. 


Sambil memakai kacamata hitamnya, Arthur pun mengamati para pembalap yang sedang mengejar Vano dengan seksama. 


Di bawah teriknya matahari yang bersinar cerah, adu kecepatan yang ada di dalam Circuit Nevers Magny-Cours semakin memanas, begitu melihat satu mobil berwarna hitam itu, terus memimpin. Bahkan meskipun ada beberapa kali tembakan yang terjadi yang mengarah ke arah mobilnya Vano, tapi tidak terlihat satu pun dari Vano yang terkena laka lalulintas tersebut. 


Sambil terus menontonnya, Arthur pun berpikir : ‘Padahal aku selama ini tidak pernah mewaspadainya, karena aku pikir dia hanyalah anak yang tidak punya kemampuan apa-apa, mengingat dia setelah pulang sekolah pasti terus ada di rumah. Bahkan untuk berjaga-jaga, pelayan pribadinya waktu itu, terus memberikanku informasi soal kesehariannya yang membosankan. 


Apakah pelayan itu menipuku? Dia bahkan bisa melakukan segalanya dengan sangat mudah. 


Apa ini alasan Ayah memberikan jabatannya kepadanya? Dia …, lebih unggul dariku karena menguasai semua bidang dengan cukup cepat?’ semakin di pikir, Arthur pun semakin tidak menerima hal tersebut, dan mengakibatkan Arthur jadi semakin jengkel sendiri, sebab semua latihan semua pelajaran yang sudah Arthur pelajari selama ini untuk menjadi penerus, terasa jadi sia-sia, sebab semua harta jatuh ke tangan adiknya. “Abel, kau sekarang posisimu bagaimana?” tanya Arthur. 


Karena sambungan telepon antara dirinya dengan Vano sudah terputus sejak tadi, dia pun sekarang meminta kondisi dari situasi anak buahnya yang sudah menyelinap masuk ke dalam salah satu gedung untuk mengincar Vina. 


-”Aku hanya tinggal memilih waktu yang tepat untuk menyingkirkannya.”- jawab Abel. 


“Akan lebih baik menyingkirkannya langsung tanpa menyisakan tanda-tanda kehidupan. Dengan begitu, anak itu akan langsung terpukul, melihat pahlawannya sendiri, mati di dalam rumahnya itu.” ungkap Arthur kepada Abel. 


Abel pun menyeringai, -”Baik, bahkan aku sudah menyiapkan kembang api yang bisa membuatnya langsung memberikan arwahnya kepadaku.”- sahut Abel, sudah bersiap dengan persiapannya untuk melenyapkan Vina, lagi dan lagi. 

__ADS_1


"Bagus, akan aku tunggu kabar baik darimu." jawab Arthur.


__ADS_2