Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
94 : Menunggu


__ADS_3

"Akhh..! AH! Akh!"


'Kenapa berisik sekali?' Vano yang kebetulan tertidur di sofa, karena saking lelahnya, begitu mendengar adanya suara yang cukup berisik, dia pun jadinya terbangun.


Tapi apa yang membuat Elvano langsung membelalakkan matanya begitu dia membuka matanya, dia justru melihat Vina yang tertidur di atas tempat tidur di depan sana malah sedang mencekik lehernya sendiri.


Dengan kelabakan, Vano pun langsung berlari beranjak dari sofa dan bergegas pergi menghampiri Vina.


"Akhh..! Akhh, sa-sakit!" Vina lantas meracau sendiri di dalam tidurnya dengan kedua tangan sudah mencekik lehernya sendiri.


Elvano pun dengan berusaha keras, mencoba untuk menarik kedua tangannya Vina, agar melepaskan cengkeramannya itu dari lehernya sendiri. "Vin, sadar Vin."


"Akh sakit, aku ti..uhuk. Akh!" hanya saja Vina yang masih terjerat dengan alam bawah sadarnya, terus berteriak dengan rasa sakit di lehernya sendiri.


'Tidak boleh seperti ini. Walaupun aku harus berteriak sekalipun, demi Vina agar sadar, aku akan tetap membangunkannya.' Elvano yang tidak mau melihat ekspresi wajah Vina yang tersiksa itu, dengan kuat langsung mencengkram kedua tangannya Vina, agar kedua tangannya Vina itu menjauh, dan kemudian barulah Vano pun berteriak. "Vina, sadar! Kau mencekik dirimu sendiri! Vin!" sambil mengguncang tubuhnya Vina, Vina pun langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Hah?! Apa?" Vina sontak langsung kebingungan dengan reaksi yang di perlihatkan oleh Vano kepadanya, karena begitu Vina membuka matanya, dia malah melihat ekspresi wajah Vano yang terlihat seperti baru saja melihat hantu. "Vano? Kenapa kau ada disini? Eh, di sini? Kenapa? AKu di mana? Ini kan bukan kamarku?" Vina yang benar-benar cukup kebingungan, langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, menghindari matanya yang sedari tadi teru saja di tatap oleh Vano.


"Vin!" Vano yang enggan melihat Vina terus menghindari tatapan matanya, langsung menangkap wajahnya Vina dalam sekali tangkap.


GREP...


"...!" Vina yang terkejut dengan wajahnya sendiri yang di tangkap oleh kedua tangannya Vano, langsung bengong dengan kedua pipi sudah terjepit kuat.


"Kau harus sadar, kau tadi hampir membunuh dirimu sendiri." tatap Vano sambil menjelaskan apa yang terjadi barusan pada diri Vina sendiri.


Vina yang terkejut, langsung bertanya. "Kenapa aku membunuh diriku sendiri?"


'Dia tidak ingat?' Vano pun terdiam sambil berekspresi wajah yang cukup serius. "Apa kau tadi tidak ingat? Kalau kau hampir mencekik dirimu sendiri tahu!" papar Vano dengan terus terang.


'Apa?! Kenapa aku melakukan itu?' Vina yang tidak percaya dengan perkataannya Vano, langsung tersenyum tawar. "Kau pasti mencoba untuk menakut-nakutiku kan?" tanyanya.


Vano terdiam. Bagaimana caranya untuk membuktikan kalau apa yang tadi di katakannya adalah sebuah kenyataan?


"Tapi lagian, kenapa kau bisa ada di sini? Kau kan seharusnya sedang bekerja?" Vina langsung mengganti topik pembicaraannya.


Vano masih terdiam. Dengan ekspresi wajahnya yang cukup serius itu, Vano menjawab : "Aku menunggumu bangun."


DEG....


Seketika ini kepalanya jadi seperti berhenti untuk berpikir selain terus menatap mata dengan netra hitam ini dengan begitu seksama.


"Apa yang- y-yang kau ka..takan tadi?" mulutnya pun jadi terasa kelu, untuk bertanya apa maksud dari ucapannya Vano barusan itu.


"Aku menunggumu bangun, makanya aku langsung kesini setelah kau pingsan." karena tidak mau memberitahu kejadian yang sebenarnya kepada Vina, dia pun memberikan jawaban lain dengan sedikit bumbu kebohongan.


Lagi pula ini demi kebaikan dari Vina sendiri, makannya Vano pun tidak akan mempermasalahkannya.

__ADS_1


Vina langsung menepis kedua tangannya Vano dari wajahnya dan langsung tertawa. "Pingsan? Hah.hahah, aku itu bukan orang yang bisa pingsan. Kau pasti berbohong kan? Lagian kenapa aku bisa pingsan?"


Begitu Vina hendak turun, Vano segera menjawab. "Setiap orang pada dasarnya punya alam bawah sadar yang langsung menarikmu untuk bisa pingsan. Dan kasusu itu karena kau terkejut gara-gara kamarmu tersambar petir."


Vina membelalakkan matanya.


'Petir? Kamar yang aku tempati kena petir?! Dan aku pingsan? Atau jangan-jangan sebenarnya aku ini sudah jadi roh? Dan dia adalah khayalan dari alam bawah sadarku sendiri, ya kan?' tapi begitu menggigit bibirnya sendiri, karena dia merasakan sakit, dia pun jadinya percaya. "Jadi aku bukan berada di alam fana kan?"


"Kau masih berada di rumah sakit, Vina. Lihat saja lehermu ini, kau baru saja mencekik dirimu sendiri sampai merah seperti itu." Vano pun memperlihatkan gambar dari lehernya Vina dengan menggunakan kamera handphone nya Vano.


"Ini aku yang melakukannya?!" Vina membelalakkan matanya. Ternyata dirinya tidur dengan kondisi leher yang di cekik dengan tangannya sendiri. "Tapi- kenapa aku bisa melakukan hal buruk seperti ini kepada diriku?"


Vano diam, bagaimana orang yang baru saja memimpikan hal buruk itu, malah tidak ingat dengan mimpinya sendiri?


"Hih, masa merah seperti ini?" gumam Vina, dia merebut handphone nya Vano dan mencoba bercermin sendiri dengan menyentuh lehernya yang nampak ada garis merah. "Untung saja kau tepat waktu untuk menolongku, terima kasih. Nih,"


'Kalau di pikir-pikir, dia sudah kembali ke sifatnya yang sebenarnya lagi.' pikir Vano, dia pun mengambil handphone yang di sodorkan oleh Vina dan kembali berdiri tegak. "Apa tubuhmu baik-baik saja?"


Vina yang masih ingat dengan persoalan mereka berdua yang terakhir itu, membuat kedua tangannya langsung dia silangkan di depan dadanya. "Kalau aku bilang baik-baik saja, lantas kenapa?"


Vano yang melihat tingkah dan sikap Vina yang nampak berlebihan itu, langsung tersenyum miring dan menjawab : "Apa kau pikir aku ini akan memakanmu?


Lagian, punya-"


"Nona, apakah anda sudah bangun?" di sela oleh Deiren yang ada di ambang pintu kamar, Vano akhirnya bisa menghentikan mulutnya untuk berkata vulgar.


"I-iya!" Vina segera menjawabnya, tapi matanya tidak bisa berpaling dari wajah Vano yang tampak sangat dekat dengannya. "Punya apa?" tanya Vina menuntut, agar Vano segera menjawabnya.


"Tidak-" Vano pada akhirnya langsung pergi menjauh dari Vina, dan memberikan suster tersebut masuk kedalam kamar inap mereka.


'Sebenarnya dia bicara apa sih? Punya apa? Tapi melihat dia sempat menatap ke arahku, bukannya itu berarti apa dia punya pikiran soal milikku?' dan ketika Vina melirik ke bawah, Vina pun di kejutkan dengan pakaiannya yang sebenarnya sudah di ganti, akan tetapi dia sama sekali tdiak merasakan kalau dia memakai bra?


Dalam sepersekian detik itu juga, Vina pun langsung berekspresi wajah dengan sangat suram.


"Maksudnya punyaku kecil ya?" gumam Vina dengan wajah datarnya. Bahkan ketika perawat itu masuk, mulutnya langsung melongo dengan pernyataan tersebut.


Tapi Vano yang sebenarnya bahkan masih mendengarkan ucapannya Vina barusan, hanya diam sambil melepaskan kaosnya dan langsung ganti dengan pakaian baru yang ada di atas meja.


'Pikiranku ini memang kotor, bagaimana bisa aku berpikiran kalau aku tidak mempermasalahkan punyanya dia kecil atau besar? Untung saja yang mengetahui pikiranku ini aku sendiri, kalau dia sampai tahu, aku pasti akan di pukul lagi seperti waktu itu.' pikir Vano.


Sedangkan Vina sendiri, dia langsung bengong.


"N-nona? Anda tidak apa-apa kan?" tanya suster tersebut kepada Vina, sebab melihat wajah Vina yang melamun menatap punggung dari pria yang ada di depan sana, begitu lebar.


"Suster, mataku terkontaminasi-" kata Vina dengan terus terang. "Apa ada obat pembersih mata?" tanya Vina.


"Nona, apa maksud anda?" tanya suster ini seolah tidak tahu arti dari maksud perkataannya Vina tadi.

__ADS_1


"Mataku suster, mataku terkontaminasi-" Vina tiba-tiba saja jadi merengek, bahkan Vano yang mendengarkan rengekan Vina pun langsung berbalik.


"Terkontaminasi apa Vin? Matamu sakit? Gatal atau apa? Sebentar, aku akan menghubungi dokter spesialis mata," Vano pun dengan buru-buru langsung menghubungi salah satu dokter yang bisa di ajak untuk bertemu sekarang.


"Bukan!" pekik Vina, dia yang malu dengan tingkahnya sendiri, langsung meringkuk masuk kedalam selimut lagi. "Maksudku bukan itu, aku tidak apa-apa dengan mataku, tapi juga ada masalah." katanya, membuat Vano semakin bingung.


"Masalah apa? Katakan yang jelas, biar kami berdua paham, Vin." cemas Vano.


"Itu karena kau-" tangannya pun menyelinap keluar dan menunjuk ke arah Vano dengan jari telunjuk yang benar-benar mengarah ke arah Vano.


"Aku?" Vano sendiri pun bingung, kenapa dia yang di jadikan tersangkanya? "Memangnya aku kenapa?"


"Kenapa kau buka pakaianmu di sini? Apa kau tidak tempat lain?" tanyanya.


Kedua orang itu pun jadinya terdiam, dan berakhir dengan menahan tawa mereka, yang sebenarnya tidak bisa terbendung lagi.


"Hahahah, Vin, aku pikir kau kenapa. Apa kau tergoda dengan punggungku?' ledek Vano.


Vina pun akhirnya mengeluarkan kepalanya dan melirik ke arah Elvano dengan tatapan matanya yang cukup tajam itu.


"Tuan, sebaiknya anda jangan menggoda Nona lagi, atau anda dan Nona kembali bertengkar." akhirnya perawat ini pun memberikan peringatan kepada Elvano, agar tidak banyak bicara lagi, karena takutnya setelah itu akan terjadi perang dingin lagi di antara mereka berdua.


"Hahaha, yah~ Aku akui aku ini salah, meledekmu. Tapi aku ini memang sengaja, membuka pakaianku di depanmu, agar kau aku bisa tahu bagaimana reaksimu."


Mendengar jawaban Vano yang begitu antusias, perawat ini pun langsung memasang muka datar kepada pria tersebut agar berhenti bicara lebih dari pada itu, karena berhenti bicara itu adalah cara terbaik sebelum kata-kata tersebut melukai hati orang lain.


"Dan tujuanmu itu, apakah sudah selesai?" tanya Vina, dia pun sebenarnya masih belum puas hati dengan tujuan konyolnya Vano itu. 'Sengaja? Memangnya apa untungnya dia melakukan itu kepadaku? Kau mau membuatku malu terus ya?' pikir Vina.


Karena dia cukup muak dengan tingkahnya Vano yang terus mengguncang hati dan pikirannya, Vina pun kembali memasukkan kepalanya ke dalam selimut.


"Mari Nona, anda harus ganti baju dulu,"


"Tidak mau- sebelum kau pergi, Vano." pinta Vina kepada mereka berdua.


"Kan, Nona jadinya merajuk begitu~" kata perawat ini lewat tatapan serta ekspresi wajahnya terhadap sang Tuan muda.


Vano pun jadinya tidak bisa berkata apa pun. Semua candaannya seolah langsung di telan oleh waktu yang begitu singkat itu.


"Apa kau ingin di belikan sesuatu? Aku mau pergi ke minimarket."


"Aku tidak tahu, jadinya tidak perlu." jawab Vina.


Seperti dua musuh bebuyutan, semua percakapan yang berisi candaan dari Vano pun lenyap dan di gantikan dengan perang dingin dari Vina lagi, lagi dan lagi.


"Aku akan kembali, lakukan sesuatu yang bisa membuatmu terhibur." kata terakhir Vano sebelum pria itu akhirnya pergi dari sana.


'Kenapa dia akhir-akhir ini selalu saja menggodakku?' detik hati Vina.

__ADS_1


__ADS_2