Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
56 : Hujan peluru


__ADS_3

Tembakan yang di lakukan oleh anak buah Arthur saat itu pun benar-benar menjadi tanda kalau batasan mereka akan berakhir sampai disini jika mereka berdua tidak berlindung ataupun melawan semua anak buah Arthur.


DORR...


DORR...


"Matilah kalian semua," ucap Arthur. Dia yang melihat bagaimana nasib dari adik serta tangan kanan Vano serta Vina yang berada di pelukan Vano akan benar-benar mati begitu semua peluru yang baru saja di tembakan oleh semua anak buahnya itu sampai bersarang di dalam tubuh mereka bertiga, membuat Arthur tersenyum senang.


"Arthur, apa kau akan menganggap kalau aku bisa mati di tangan anak buahmu?" ucapan dari Vano pun langsung menarik perhatian Arthur saat itu juga, dimana dirinya saat ini benar-benar harus menerima kenyataan paling nyata, bahwa begitu semua peluru yang sedang terbang meluncur untuk membunuh mereka bertiga, di saat yang sama pula, semua peluru-peluru itu seketika langsung di hadapkan dengan peluru lain yang entah berasal dari mana.


DORR... (3x)


CTAK... (3x)


Sampai detik itu berikutnya, suara dari angin besar yang berasal dari atas, berhasil membuat sebuah kendaraan helikopter itu terjun bebas tanpa menyalakan mesin, hingga di ketinggian kurang dair lima puluh meter dari permukaan tanah, barulah mesin dari helikopter itu langsung menyala dan segera mempertahankan posisi dari helikopter itu sendiri tepat di atas pohon cemara.


WHOSHH....


WHOSHH....


WHOSHH....


"Tuan muda, kami sudah datang," ucap salah satu pilot dengan menggunakan alat komunikasi nirkabel yang hanya bisa di dengar oleh Elvano sendiri.


"Tembak mereka," perintah Elvano dengan aura hitamnya, yang artinya perintah itu benar-benar di selimuti oleh perasaan amarah yang luar biasa besar.


Kedua pilot yang tadinya hanya diam saling melirik satu sama lain, segera menerima perintah itu, dan senjata semi otomatis yang tiba-tiba saja keluar dari bawah helikopter, sontak langsung membuat panik semua anak buahnya Arthur.


"Lari!" teriak salah satu dari mereka, untuk segera menyelamatkan diri dari senjata yang asli akan memberikan mereka semua hujan peluru yang sebenarnya.


Tanpa banyak dalih dan banyak kata, di titik mereka semua hendak mengambil langkah untuk berlari dari sana menghindari jangkauan dari senjata itu, senjata itu pun lebih dulu bergerak, dan salah satu pilot yang ada di dalam helikopter tersebut segera menekan tombol khusus yang terhubung dengan senjata tersebut sampai akhirnya tembakan yang langsung mengeluarkan puluhan peluru dalam satu detik itu, berhasil membuat porak poranda area tersebut menjadi tempat kematian dari banyak orang.


"Elvano, kau bahkan sampai menyiapkan itu demi menyelamatkan wanita itu? Tapi apa gunanya jika orang yang kau khawatirkan itu, sudah meninggal dunia?" kata Arthur, saat ini dia hanya bisa mendengar suara jeritan serta tembakan yang terus terdengar tanpa ada hentinya, yang menandakan kalau semua anak buahnya sudah berhasil di kalahkan dalam sekejap mata.


Malam dari kekalahannya membuat Arthur pun langsung undur diri dari arena perang antara dirinya dengan adiknya itu.


"Abel, ayo pergi, kita siapkan kejutan yang lain untuknya," ucap Arthur, misinya untuk membunuh Elvano pun gagal, karena terhalang oleh keberadaan dari Vina.


____________

__ADS_1


Di helikopter.


Setelah aksi dari anak buahnya itu berhasil membuat hutan itu menjadi hutan kematian bagi anak buahnya Arthur, sekarang prioritas utama mereka adalah mengantarkan majikannya itu pergi ke rumah sakit.


"Tuan, apakah saya boleh bertanya, siapa dia?" tanya salah satu pilot tersebut kepada Elvano.


Elvano yang sedang membantu mempertahankan selang oksigen untuk Vina itu, segera menjawab, "Jika bukan karena dia, aku mungkin sudah mati karena ledakan tadi,"


Hanya jawaban seperti itu saja yang bisa Elvano berikan kepada mereka yang penasaran itu.


Kedua pilot itu pun sempat melirik ke belakang, demi memposisikan tubuh Vina untuk berbaring selonjor dengan posisi miring, Tuan muda mereka memilih untuk duduk di bawah sambil mempertahankan posisi dari selang oksigen yang menutup hidung dan mulutnya Vina.


'Jadi wanita itu, adalah penyelamat Tuan muda kedua?' pikir pilot ini, seraya memperhatikan penampilan Vina yang benar-benar cukup kacau.


"Vin?" Vano memanggil nama dari wanita yang terlihat sedang sekarat itu.


Tapi seperti yang di perkirakan, Vina memang benar-benar tidak menyahutnya sama sekali, selain Vano yang hanya bisa mendengar Vina yang masih bernafas tapi nafasnya saja sudah cukup lemah.


"Apa kalian tidak bisa lebih cepat lagi?" tanya Vano, dia bahkan tidak bisa marah-marah karena dia sudah terlanjur menaruh seluruh rasa perhatiannya kepada Vina.


"Ini sudah cukup cepat Tuan, sekitar tiga menit lagi kita akan sampai di rumah sakit," jawab salah satu dari pilot tersebut.


"B-baik," jawab mereka berdua dengan ragu.


"Vin, aku harap kau baik-baik saja," lirih Vano, membisikkan untaian kalimat harapan kepada Vina.


_______________


Di rumah sakit Pitié-Salpêtrière, adalah rumah sakit terbesar di seluruh eropa, dan terbesar di wilayah perancis.


Tepat di jam 10 malam, jam itu menjadi malam yang cukup sepi, karena semua aktivitas di seluruh bangsal di rumah sakit tersebut hanya di dominasi oleh para perawat dan dokter saja, sedangkan para pengunjung sudah tidak ada lagi, karena pembatasan jam kunjung yang hanya di beri waktu sampai jam delapan malam saja.


Dan tepat di tempat resepsionis, dia tiba-tiba saja mendapatkan sebuah panggilan darurat.


KRIINGG....


Tanpa basa-basi telepon itu langsung suster itu angkat. "Halo?"


-"Aku Delvin bersama dengan Tuan muda, kau beritahu mereka untuk siapkan semua peralatan untuk operasi, dan suruh beberapa staf untuk menunggu di atap,"-

__ADS_1


"Baik, akan saya sampaikan," wanita ini pun segera menekan beberapa nomor yang dia ingat untuk menghubungi dokter pribadi dari keluarga Travers. "Halo dok, Tuan Delvin dan Tuan muda akan datang kesini, harap segera temui di atap, sekaligus menyuruh kita untuk mempersiapkan ruang operasi," kata suster ini.


-"Ok, suruh Divani dan Axel untuk menyiapkan ruang operasi 5 di lantai 6, aku akan pergi kesana sekarang,"- jawab dokter muda ini kepada suster tersebut.


Dan setelah prosedur dari mereka untuk mempersiapkan ruang operasi sedang di lakukan, pria muda awal tiga puluh tahunan itu pun segera berlari dari kantornya, untuk pergi ke atap.


DRAP....DRAP....DRAP....


"Dok? Apa yang terjadi?" salah satu dari perawat yang kebetulan lewat pun datang bertanya kepada dokter tersebut.


"Kalian berdua, segera bawa brankar itu, kita naik ke atas denganku," perintahnya.


Dua anak muda itu pun mengangguk paham, dan segera mendorong brankar tersebut masuk kedalam lift.


"Memangnya siapa yang akan datang dok?" tanyanya.


"Kalian akan kenal jika sudah tahu wajahnya," jawab dokter ini.


TING....


Tanpa perlu waktu yang lama, mereka bertiga pun sampai ke ruftoop dan begitu membuka dua pintu besi itu, mereka seketika itu juga melihat ada satu helikopter berwarna hitam yang sudah menurunkan tiga orang asing yang memang belum mereka kenal siapa mereka.


"Jason, segera tangani wanita ini, selamatkan dia! Aku menuntutmu untuk menyelamatkan nyawanya saat ini juga, mengerti?!" tegas Vano, begitu dia berhasil membawa keluar Vina dari helikopter dan berjalan cepat ke arah brankar itu dan meletakkannya di sana.


Dan bagaimanapun, aura saat Vano memberikan perintah tegas kepada atasan dari kedua perawat itu, membuat suasana diantara mereka tiba-tiba saja menjadi cukup tegang.


Pria yang di panggil Jason itu pun menatap intens wajah dari Vina yang terlihat kusam serta pakaian kotor yang bercampur dengan darah merah segar, yang seketika itu juga langsung menodai permukaan dari brankar tersebut.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Tuan," jawab Jason, dan segera berbalik untuk mendorong brankar itu dengan segera.


"Tuan muda dan Tuan Delvin, anda juga harus menerima pengobatan juga," ucap Jason begitu melihat penampilan dari kedua orang pria yang baru saja datang dengan helikopter itu benar-benar sangat kacau, dan bahkan ada beberapa bagian pakaian mereka yang terbakar, itu artinya kalau mereka bertiga baru saja menghadapi bahaya besar yang berjuang dan bertaruh nyawa dengan api.


"Aku bisa belakangan saja, yang penting aku ingin melihat proses kondisinya secara berkala," jawab Vano.


Delvin hanya diam, melihat Tuan muda nya itu benar-benar begitu antusias sekali dalam memberikan perhatian penuh kepada wanita yang sedang dalam kondisi terluka itu.


"Ini akan memakan waktu yang lama, jadi sebaiknya anda bisa lakukan pengobatan terlebih dahulu," peringatnya.


Di tuntut oleh dokter pribadinya sendiri, Vano pun mau tidak mau harus menuruti perkataannya, agar setelah bisa selesai di obati, ia bisa menyusul untuk menunggu kondisi dari Vina ini.

__ADS_1


__ADS_2