Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
37 : Siksaan Tanpa Alasan Pasti


__ADS_3

Tapi, semua kebahagiaan yang pernah dia rasakan ketika bisa bersama dengan Vano, merawatnya dan menghidupinya, layaknya bayi besar yang sedang membutuhkan pengasuh baik hati, semua itu langsung berubah dengan rasa pedih yang dia rasakan.


PLAK....


"Akkh!" seru Vina dengan rintihan dari rasa sakitnya yang dia dapatkan dari hasil tamparan yang di lakukan oleh orang yang tidak Vina kenal.


Sampai suara dari milik seorang laki-laki, membuat Vina membuka kelopak matanya dengan lebih lebar lagi.


"Akhirnya kau terbangun juga sayang," ucapnya dengan seringaian kecil di bibirnya.


Vina yang sontak merasa kembali terancam, refleks matanya membulat sempurna. 'Aku kira tadi adalah kenyataan, tapi kenapa lagi-lagi mimpiku sendiri? Apa aku harus sepreti ini?! Vano, tolong aku.' kata hati Vina.


Seorang pria bersurai hitam, berjalan ke samping kanannya Vina, dan di situlah salah satu tangan yang di lindungi dengan sarung tangan medis, tiba-tiba mendarat di pinggangnya Vina. Dari situlah, tangan tersebut tiba-tiba saja menyusup masuk kedalam pakaian terakhir yang dia pakai yang tidak lain adalah tanktop, dan begitu sudah ada di pinggang kanannya persis, Vina merasakan cubitan yang cukup kasar di sana.


"Akkhh....b-berhenti, sakit," pinta Vina dengan suara parau.


Akibat dari dirinya yang hanya diberi minum satu hari dua kali dalam sehari, dia pun sekarang tenggorokannya benar-benar kering, sampai-sampai dia merasa kalau pita suaranya akan menghilang, saking suaranya yang sangat lirih dan terdengar cukup menyedihkan.


"Berhenti? Sayang sekali, kau bahkan tidak bisa memberikanku apa yang aku inginkan. Jadi aku tidak bisa berhenti melakukan ini pada tubuh jelekmu ini!" sarkas pria ini, tidak bisa membiarkan mulut itu terdiam selain ingin mendengarkan banyak rintihan sakit dari mulut Vina.


Dan cara paling mudah yang membuatnya merasa terhibur, adalah dengan menyiksa Vina dengan sesuka hatinya.


"Argghh...!" rintihan demi rintihan terus keluar dari mulutnya. Tenggorokan yang kering, bibir yang pecah-pecah, wajahnya yang pucat, serta tenaganya yang benar-benar cukup lemah, dia bahkan sebenarnya sudah tidak mampu untuk berdiri lagi.


Tapi sayangnya, semenjak penculikan yang entah terjadi sejak kapan, Vina yang bahkan sudah lupa hari, tanggal, bahkan waktu dari sekarang ini adalah hari apa, atau yang paling penting itu sekarang ini siang atau malam, dia benar-benar sama sekali tidak tahu, selain ingatan kalau setiap harinya dirinya mendapatkan siksaan berupa fisik juga mental yang sangat dalam.


Siksaan yang sangat dan sangat berat, hingga posisi tubuhnya saat ini saja kedua tangannya menggantung di atas, sehingga kakinya pun terus berdiri sepanjang waktu, tanpa ada kata istirahat dari sebuah tidur berbaring beberapa menit pun.


Tapi yang paling parahnya adalah, dia sendiri tidak tahu apapun atas dasar apa dirinya di culik oleh orang asing.

__ADS_1


Apa yang di bicarakan oleh mereka yang bicara kepadanya pun, sama sekali tidak bisa Vina mengerti.


"Hei, Vina, mau sampai seberapa lama lagi kau akan menutup rapat mulutmu soal Elvano?" tanya pria ini dengan ekspresi dari tatapan matanya yang cukup bengis.


Vina yang benar-benar tidak tahu apa yang di katakan oleh laki-laki di depannya itu, hanya bisa diam dan menatap mata dari pria itu dengan tatapan matanya yang begitu ayu.


Sebenarnya sudah satu minggu Vina di culik, dan di kurung di tempat yang gelap, lembab, dan ada banyak tikus yang berkeliaran di bawah. Sampai Vina yang menjadi korban dari gigitan tikus yang melintas itu, hanya bisa pasrah selain menahan rasa dingin yang cukup ekstrim.


"Dia tidak akan mengerti apa yang anda katakan Bos, sudah aku bilang kan, kalau dia hanya paham bahasa Indonesia?" salah satu orang yang terus berdiri di belakang Vina, membuat Vina benar-benar tidak tahu siapa di sana, selain orang yang bersedia menerjemahkan ucapannya Vina yang mungkin saja akan kembali keluar.


"Ya kalau begitu kau yang bicara, terjemahkan apa yang aku katakan kepadanya, dan terjemahkan juga yang dia katakan kepadaku!" pekik pria ini, sangat tidak suka jika siksaannya hanya berakhir dengan sia-sia.


"Apakah Tuan akan percaya jika aku menerjemahkan apa yang dia katakan kepadamu?" tanya Abel, dialah orang yang menangkap sekaligus menculik Vina dan dia bawa ke paris.


"Kau mau main-main denganku ya?" tanyanya dengan desisan yang cukup keras, saking tidak sukanya dia terhadap Abel yang terlihat ingin bermain-main dengannya.


"Vina, apa kau masih mendengarkanku? Hei bangun dong, apa kau sudah mulai lemas hanya dengan tamparan dan pukulan saja?" oceh pria ini, dia adalah Arthur, kakak dari Elvano yang sedang di incar-incar.


Melihat Vina terus terdiam, Arthur pun jadi semakin kesal.


"Vina, jawab, dimana adikku tersayang itu?! Hmm?!" tanya Arthur, tak luput dengan tangannya yang terus berbuat kasar kepada Vina dengan cara menjambaknya.


"Argghh....," Vina pun akhirnya merintih kesakitan, karena rambutnya yang lagi-lagi juga menjadi sasaran empuk Artur itu.


"VIna, dia mengatakan dimana Elvanao?"


Vina yang mendengar Abel bicara kepadanya dengan menyebut Elvano, hanya menggelengkan kepalanya dan berkata : "Tidak tahu, aku tidak...tahu."


Vina yang sudah mulai lemah dengan kondisi tubuhnya yang benar-benar berada di ambang batas kesadarannya, perlahan pandangannya pun jadi buram.

__ADS_1


Bahkan wajah Arthur yang entah tapan atau tidak, meskipun berdiri di depannya persis, dia sama sekali tidak mampu melihatnya dengan jelas.


'Tubuhku, benar-benar terasa sangat sakit. Aku ingin tidur, ahh...tolong Vano. Ternyata kau ada hubungannya dengan orang-orang ini ya? Pantas saja saat aku pertama kali menemukanmu, aku melihat banyak luka di sekujur tubuhmu, jadi berkat mereka?


Tapi apakah luka itu akhirnya akan berpindah kepadaku, karena aku berhasil membuat Vano hidup?' satu pikiran yang tidak pasti itu membuat Vina semakin terasa pusing, dan akhirnya dia pun menutup matanya, tanpa memperdulikan rambutnya yang terus saja di jambak oleh Arthur itu.


"Hei, malah tidur, sialan, apa tubuh wanita ini sebegini lemahnya?!" pekik Arthur, dia sudah menjambaknya beberapa kali, dan bahkan mencoba untuk mencekiknya, tapi apa yang ia dapat, Vina sama sekali tidak menghiraukan apapun yang di lakukan nya.


"Tuan, yang namanya di siksa anda itu kan tidak tanggung-tanggung, siapa yang akan tahan coba?" sela Abel, memotong ucapan dari majikannya yang terus saja di landa amarah yang benar-benar kuta dan tidak ada kunjung habisnya itu.


"Tch, dasar," kesal karena ucapan dari Abel, sekaligus kesal karena mainannya yang sudah tidak sadarkan diri itu. "Lagian, aku kan menyuruhmu untuk mencari Vano dan bawa anak itu ke hadapanku, bukan wanita lemah bahkan tidak menarik seperti ini." omel Arthur kepada Abel. "Pada akhirnya kau pergi juga tidak mendapatkan apapun," imbuhnya.


"Apa anda menyesal kalau aku mendapatkan wanita ini?" tanya Abel.


"Lumayan, tapi apa gunanya untuk wanita yang bahkan tidak tahu informasi apapun ini?"


Begitu mendengar Tuan majikannya itu menjawab pertanyaannya, Abel pun jadi merasa bimbang jika harus terus mendukungnya.


Padahal alasan dari membawa Vina kepadanya adalah untuk memancing Vano keluar dari persembunyiannya, tapi apa yang terjadi kepada Tuan nya itu?


Arthur malah bertanya? Apakah tidak ada pikiran bahwa apa yang di lakukan oleh Abel punya alasan tersendiri?


"Aku sengaja membawa wanita ini bersamaku, karena aku pikir ini akan memudahkan untuk memancing Tuan muda kedua muncul kepada kita." pada akhirnya dia pun harus menjelaskan alasan di balik membawa Vina jauh-jauh dari Indonesia ke negaranya.


Dan Arthur pun akhirnya terdiam, dia akhirnya tahu atas alasan apa Vina sampai di bawa pergi bersama Abel dan di tempatkan di sini.


"Tapi mau sampai kapan? Ini kan sudah sampai 1 minggu, apa kau mau aku mati bosan?" ucapan dari Arthur pun langsung di sela dengan cepat oleh Abel.


"Shhtt, kata dia, jangan pernah bicara sembarangan. Karena kata itu doa," sela Abel dengan desisan kecil, agar Tuan muda nya itu menghentikan bicara hal yang tidak berguna dan akan membuat ucapan itu bisa saja di kabulkan, kalau Arthur, Tuan yang dia layani akan benar-benar mati kebosanan, saking tidak bisa melampaui adiknya sendiri. 'Yah, sebenarnya aku sangat menantikan ini, tapi lebih baik ikuti alur permainan ini dulu. Itu lebih bagus untuk mengisi waktu hari demi hari dengan bermain dengan wanita itu juga.'

__ADS_1


__ADS_2