Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Jawaban


__ADS_3

'Tapi tunggu, kenapa dia bisa punya senjata api? Ini kan apartemen, apa iya tidak ada pemeriksaan barang bawaan, sampai orang ini bisa dengan mudah membawa senjata?


Tapi kalau di pikir-pikir, apa dia terus membawa senjatanya setiap saat? Tapi untuk apa?' Vina sejujurnya sudah cukup ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi kepada dirinya akibat hampir di tembak mati oleh seseorang, lalu sekarang dia sudah di tenangkan oleh Delvin.


Namun, semua rasa aman itu seketika itu juga jadi langsung lenyap, begitu Delvin bisa menggunakan senjata dengan akurasi yang cukup tinggi.


Tidak mungkin ada orang di dunia ini yang bisa melihat kecepatan laju peluru, tapi bagaimana pria yang sedang memeluknya itu bisa punya kemampuan demikian? Itu menjadi momok sendiri untuk Vina yang sangat syok dalam waktu kurang dari lima menit itu.


DORRR....


DORRR.....


Dua tembakan peluru kembali terjadi, dan di saat yang sama juga, ada beberapa peluru dari serangan lawan yang meleset dan menghancurkan tv, serta pintu kulkas!


DORRR...


"Kyaa..., apa, kenapa dia terus menembak ke arah kita?!" Vina mulai panik dengan situasi yang kian memanas.


"Itu artinya dia benar-benar ingin membunuhmu sekarang juga," jawaban dari Delvin membuat Vina semakin khawatir dengan satu-satunya nyawa yang sudah bersemayam di dalam tubuhnya selama 23 tahun itu.


"Tapi kenapa?! Aku tidak pernah merasa kalau aku berbuat melanggar hukum! Kenapa aku harus mendapatkan kejadian yang membuat aku harus bertaruh dengan nyawaku?! Hiks, apa ada yang bisa menjelaskannya, aku takut! Aku tidak bisa apa-apa, aku- aku hanyalah orang yang hanya bisa merepotkan orang lain," rengek Vina, tidak mampu untuk menahan diri untuk bicara meluahkan perasaannya itu.


Delvin yang mendengar semua keluhan milik Vina, pada akhirnya dia pun angkat suara, "Karena kau menyelamatkannya."


DORR...!

__ADS_1


Begitu satu tembakan peluru itu kembali datang, Delvin segera menyeret Vina untuk keluar dari dalam apartemen.


'Menyelamatkannya? Memangnya aku menyelamatkan siapa? Eh tunggu, a-apa itu ada hubungannya dengan Vano juga?!' menyadari ada kaitannya lagi dengan pria berdarah eropa itu, Vina langsung mendongakkan kepalanya ke atas dan menatap wajah Delvin yang begitu serius itu. "Apakah Vano juga terlibat dengan kasus ini juga?"


Delvin menundukkan kepalanya, menatap manik mata hitam milik Vina yang sedikit kecoklatan itu, Delvin pun menjawab, "Iya, karena kau menyelamatkan anak itu, akhirnya kau juga jadi terlibat. Apa kau menyesal, karena kau jadi sasaran empuk mereka semua?"


Di tanyai seperti itu, mana mungkin Vina untuk menjawab tidak.


Semua insiden yang sudah berlaku selama ini membuktikan kalau dia selama ini bisa merepotkan Vano dalam segala hal, akhirnya bisa terjawab juga.


Namun, kenapa pria asing yang ada di hadapannya itu bisa mengetahuinya?


"Bagaimana kau punya kesimpulan seperti itu, apa kau juga-"


Menghela nafas dengan kasar, Vano pun melepaskan pelukannya dari tubuh Vina. Begitu sudah terlepas, Delvin dengan buru-buru langsung mengganti magazine senjata apinya dengan yang baru. "Karena aku teman sekaligus anak buahnya, apa kau puas? Jika sudah tidak ada pertanyaan lagi, sekarang waktunya kita pergi."


Tanpa menoleh sedikitpun, cengkraman tangannya semakin diperkuat, menciptakan kehangatan yang tidak pernah Delvin rasakan, sebab selama ini dia sangat jarang sekali memegang tangan perempuan, tapi kali ini, dia bisa merasakan derasnya kehangatan yang kian menyusuri tangannya.


"Kita harus keluar dari sini," jawabnya dengan singkat.


Antara takut tapi bersatu dengan sedikit keberanian, Vina kembali bertanya dengan nada gemetar, "Tapi apakah kita harus pergi lewat tangga? Ini melelahkan, kan?"


"Naik lift tidak menjamin kita sampai dengan selamat, jadi aku pikir cara yang paling baik hanya lewat sini," jelas Delvin. Dia pun berlari menuruni anak tangga, dan Vina sendiri harus mengerahkan tenaganya yang tersisa setelah dia gunakan untuk menekan rasa syok nya itu untuk menuruni anak tangga juga. 'Cepat amat sih? Aku jadi susah menyamai langkahnya.'


Gara-gara Delvin menuruni anak tangga dengan cepat, Vina pun jadi kesusahan, apalagi yang harus dia turuni adalah ratusan! Gara-gara mereka berada di lantai empat puluh.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Ini terlalu jauh, aku tidak akan kuat kalau menuruni anak tangga sampai ke lantai satu," ungkap Vina.


Dia sungguh sudah merasa kelelahan untuk sekedar menyamai langkah kaki dari pria tersebut, tapi kenyataan pahit yang harus Vina hadapi juga tidak main-main, karena untuk mencapai lantai satu, dia harus lebih banyak menguras mental dan tenaganya.


"Ini hanya dugaan, tapi mengingat dia mengincarmu, pasti tidak mungkin hanya mengandalkan tembakan saja,"


"Apa?!" Vina langsung terkejut setengah mati, karena bagaimanapun rupanya dia benar-benar seperti seorang buronan kelas kakap. "Masa begitu? Kalau aku menyer-"


Hendak mengatakan kata tabu yang sangat di benci oleh Delvin, tiba-tiba Delvin menghentikan langkahnya dan menjeling tajam ke arah Vina seraya berkata, "Apakah anda mau menyerah di saat kita berdua sudah susah payah menyelamatkanmu dari tangan mereka?"


DEG....


Hatinya merasa seperti di tusuk, ucapan dari Delvin sungguh, cukup menyakitkan hatinya, karena rupanya laki-laki di depannya itu bekerja sama dengan Elvano untuk menyelamatkan dirinya dari tangan anak buahnya Arthur?


Hanya dengan sekali peringatan dan tatapan dari Delvin yang begitu tegas, Vina merasa tertekan sendiri, dia seperti berada di bawah kakinya, yang harus bersiap dan berusaha untuk berhati-hati dalam mengambil setiap pilihan juga langkah.


"Maaf, aku akan berusaha untuk tidak menyerah," jawab Vina, dia pun tidak mampu untuk melawan kata-katanya Delvin yang begitu menegaskan untuk tidak membuat usaha mereka berdua dalam misi penyelamatannya waktu itu tidak jadi sia-sia.


"Karena sudah mengerti, kita lanjut turun lagi," Delvin kembali mengambil langkah untuk memimpin pelarian mereka, karena Delvin sudah punya firasat buruk mengenai keberadaan dari penembak jitu tadi.


Baru dua menit mereka berdua lari, Vina yang kelelahan dalam mencapai lantai tiga puluh delapan, sudah sudah mulai ngos-ngosan, bahkan langkah kakinya saja sudah mulai goyah, karena gemetar, hingga akhirnya Vina pun tersandung.


"Kyaa~ Awas!" teriak Vina kepada Delvin yang ada di depannya itu.


Delvin sontak menyipitkan matanya tepat ketika dia menoleh ke belakang, dan pada akhirnya dia pun melihat tubuh Vina yang mulai terjatuh ke arahnya.

__ADS_1


BRUKK....


__ADS_2