Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
74 : Target


__ADS_3

'Sebentar, dari hasil ceritanya ini, sepertinya ini berhubungan dengan tempat dimana dia di kurung.


Saat itu di dalam gudang itu, memang banyak asap yang sudah mulai memenuhi ruangan, tetapi saat itu samar-samar aku memang merasakan aroma busuk. Dan sekarang-' Elvano terdiam, dia kemudian jadi merenungi permasalahan yang di miliki Vina ini benar-benar serius.


Akibat dari penyekapan yang tidak berakhlak itu, meskipun Vina tidak ingat soal penculikannya itu, tapi trauma yang sudah tertanam dalam mental, tubuh dan ingatan milik Vina, membuat Vina akhirnya terjerat dalam ingatan paling buruk itu.


"Tapi aku sudah tidak apa-apa kok. Jadi kalau bisa kita pulang saja." ungkap Vina, membuat Elvano langsung menarik segala pikirannya tadi, dan segera pergi ke sisi pintu mobil sebelah Vina.


Tinnn!


"Hei! Kenapa kau menyebrang seenaknya?!" seorang wanita langsung berteriak dari dalam mobil, karena beberapa detik tadi mobilnya hampir saja menabrak seseorang yang langsung turun dari trotoar dan hendak menyebrang tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.


"M-maaf, maafkan saya."


"Sana pergi!" perintah wanita ini, tidak mau berdebat lagi, karena sama saja membuang waktunya yang berharga.


Lantas pria tersebut dengan buru-buru langsung mengambil tas belanjaannya yang terjatuh, dan segera berlari pergi dari hadapan mobil mewah berwarna merah menyala itu.


"Dasar wanita tidak tahu diri. Kenapa juga marah-marah, padahal dia sendiri yang salah, karena mengebut." dumel Vano, dia lantas membuka pintu mobil dan segera masuk kedalam.


BRAKK....


Sedangkan wanita si pemilik mobil sport berwarna merah itu, sempat melirik kesamping kirinya. Dia pun sempat melihat punggung milik Elvano, 'Kenapa rasanya punggungnya cukup familiar ya?' pikir wanita ini, dia adalah kekasih dari Elvano yang sesungguhnya.


Tetapi karena dia saat ini berada di jalan raya, maka dia pun tidak bisa berhenti terlalu lama di situ.


"Kau tadi bilang apa?" Vina yang baru menemui Vano yang baru saja masuk, bertanya dengan rasa penasaran, karena dia tadi hanya mendengar gumaman lirih Elvano.


"Tidak ada. Cepat pakai sabuk pengamannya." Vano menolak untuk menjawabnya, dan lebih memilih untuk memberikan peringatan kepada Vina, untuk segera menggunakan sabuk pengaman.


"Iya-" Vina menarik ujung dari kunci sabuk pengaman.


Tapi apakah yang namanya hari yang sial selalu saja menemani mereka berdua atau apa, Elvano dengan buru-buru malah beranjak dari kursinya dan melompat ke kursinya Vina.

__ADS_1


"Vin, buka pintunya dan keluar!"


Vina yang ikutan panik itu, langsung membuka pintu dan keluar, di susul juga Elvano yang sama-sama keluar dari mobil, dan tidak lama kemudian di detik terakhir itu, sebuah mobil dari arah belakang langsung melaju ke arah mereka berdua.


Vano yang sudah berhasil keluar dari mobil, langsung mendorong Vina menjauh dengan memeluk tubuhnya.


BRRAKK..


Dan suara keras dari mobil yang langsung menyeruduk mobilnya Elvano dari belakang, membuat sebagian besar orang di sana langsung membuat reaksi terkejut.


BRUKK....


Elvano berhasil menyelamatkan dirinya bersama dengan Vina yang dia peluk, agar kepalanya tidak terbentur, karena tindakannya tadi.


"Huwahh! Anakku! Huwaa!"


"Hiks...hiks..., ini kenapa? Mobilku yang berharga, kenapa malah kena juga?! Ahh! Bagaimana kalau ayahku tahu?!"


Suara tangisan pilu, klakson, dan tangisan dari anak-anak, semuanya langsung menyeruak mengisi kekacauan yang terjadi di jalan tersebut, akibat adanya satu mobil sedan yang menabrak dan membuat lalu linta seketika menjadi macet.


Namun Vina yang berada di pelukannya itu, tetap terbaring dan tidak bergerak selain mata yang terus berusaha di pejamkan.


"Vin, jawab, ah!" baru menyadari kalau punggungnya Vina sebenarnya dalam kondisi terluka, Elvano pun jadi tahu alasan kenapa Vina terus memejamkan matanya sampai tubuhnya gemetar, karena sedang menahan rasa sakit di punggungnya, pasti.


"Kelihatannya Istrimu kesakitan, cepat bawa pakai mobilku, ayo." dengan baik hati, seorang wanita muda yang sedang menggendong anaknya yang berusia lima tahun, langsung menawari tumpangan kepada Elvano, agar segera membawa Vina pergi ke rumah sakit.


"Terima kasih," ucap Vano dengan cepat, lalu Elvano pun mencoba untuk membantu Vina untuk berdiri. "Vin, vina-"


"Sakit-" rintih Vina, seraya mencengkram lengannya Elvano.


"Iya, aku tahu, kau bisa berdiri? Kalau aku menggendongmu, takutnya luka di punggungmu terbuka." Elvano mencoba memperingatkan Vina.


Vina pun mengangguk, dia dengan susah payah mencoba untuk berdiri. Begitu sudah berdiri, dia segera di tuntun pergi menuju sebrang jalan, dimana wanita yang membawa anaknya tadi sudah ada di mobilnya sendiri.

__ADS_1


"Tapi mobilnya," Vina malah mengkhawatirkan mobil yang menurut Vina, Elvano menyewa mobil tersebut.


"Itu urusan belakangan, yang penting itu kau, aku takutnya karena aku sempat mendorongmu jatuh, lukamu kembali terbuka." papar Vano.


Setelah berhasil menyebrang jalan, dan pergi menuju mobil milik wanita tersebut, mereka berdua pun masuk.


"Ma~ Kakak perempuan di situ kenapa?" tanya anak laki-laki ini kepada Ibunya.


"Kakak tadi jatuh, jadi harus di obati." jawab wanita ini atas pertanyaan dari anaknya tersebut.


Karena masih penasaran dengan dua orang asing yang duduk di belakangnya, anak kecil yang sedang di bantu oleh Ibunya untuk menggunakan sabuk pengaman ini, lantas menoleh ke belakang.


Terlihat, Vina justru duduk lantai mobil.


"Vin, kenapa kau malah duduk di lantai?"


"Aku takut sederan Van." sahut Vina dengan cepat.


"Sini, naik..ayo naik Vin. Walaupun punggungmu terluka, tetap sa jangan duduk di bawah. Sini aku pangku-"


Vina yang sudah terpojok dengan situasinya sendiri, spontan jadi mengiyakan tawarannya Elvano.


Verina pun kembali duduk di kursi, akan tetapi tubuhnya langsung dia letakkan ke atas pangkuannya Elvano dalam kondisi tengkurap, layaknya bayi besar.


'Mereka berdua memang pasangan aneh.' batin wanita ini, lalu setelah memasangkan sabuk pengaman ke anaknya, dia pun langsung menginjak pedal gas dan segera pergi dari sana.


______________


"Ya ampun, padahal hanya menyingkirkan dua ekor tikus, tapi kenapa tidak berhasil sih?" marah Arthur dengan salah satu anak buahnya yang dia tunjuk untuk melakukan sesuatu kepada Elvano, sang adik.


"Yah, bisa jadi keberuntungan sedang berpihak kepadanya, ya kan?" sahut Abel.


Sekarang dua orang pria ini sedang berada di sebuah Villa yang terletak di tepi pantai.

__ADS_1


Namun, ketika Arthur sedang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek bunga berwarna hitam, maka Abel tetap memakai pakaian formal nya. Karena perannya adalah untuk menjadi bodyguard Arthur, sekaligus tangan kanan sang Tuan muda pertama, maka dia memang harus selalu berpenampilan rapi, mau di manapun itu.


"Padahal mobil tersebut sudah aku kontrol dengan baik, tapi jika melihat hasilnya seperti itu, memang, selama takdir kematian untuk adik anda belum mendekat, maka mau seberapa banyak anda mau membunuhnya, pasti hasil akhirnya dia akan tetap selamat." papar Abel, seraya menggoyangkan gelas berisi jus jeruk yang hanya tinggal separuh itu.


__ADS_2