
CIP...CIP...CIP....
Suara burung kenari mengisi kesunyian di pagi hari. Pagi hari yang cerah, dan cocok untuk mencuci baju.
Seharusnya seperti itu. Namun, Vina yang masih merasakan efek soal kemarin sore, yang mana kecelakaan di tengah jalan raya itu berhasil merenggut salah satu pengguna motor, sampai tubuhnya benar-benar terlindas oleh truk, akibat dari kejadian itu, Vina mulai demam.
'Kenapa kepalaku masih saja pusing? Dan aku juga merasa ingin mual terus.' benak hati Vina, saat ini dia justru sedang berjongkok di dalam kamar mandi, dan tujuannya juga untuk mandi pula.
Padahal tubuhnya demam, dan sedang sakit kepala, tapi Vina memang orang yang seperti itu. Meskipun tubuhnya demam, dia merasa harus tetap mandi biar terlihat fresh, dan sebagai alasan untuk kepalanya itu agar merasa dingin.
Itulah kebiasaan miliknya yang jelas akan bertentangan dengan aturan dari orang sakit tidak boleh mandi.
"Uhuk..uh-huek~" Vina pun terbatuk, mengakibatkan Vano yang hendak mengetuk pintu kamar mandi untuk menghalau kejadian yang pernah terjadi beberapa malam lalu, niatnya itu langsung terhenti ketika dia mendengar suara milik seseorang dari dalam kamar mandi tersebut.
'Jika aku angkat bicara, yang jelas dia justru akan salah tingkah, lumayan sih. Tapi- apa dia masih sakit?' Vano jelas jadi khawatir, sampai akhirnya dia jadinya berdiri dan menatap pintu terus.
BYURR....
"..." Suara dari air yang langsung tersiram dari atas sampai kebawah, tiba-tiba seketika itu juga membuat pikiran milik Vano jadi terseret ke dunia traveling.
Vano mundur satu langkah demi satu langkah, sampai dia akhirnya memilih untuk duduk di kursi meja makan sambil menunggu satu orang yang sedang mandi itu.
BYURR....
Satu guyuran dari air yang di ambil dengan gayung itu, juga membuat Vano langsung memejamkan matanya, tersenyum simpul untuk mengulas imajinatif liarnya yang muncul ketika dia tahu kalau Vina sekarang ini tengah mandi.
'Ahh~ Kenapa aku jadi punya pikiran semesum ini?' pikir Vano, tidak bisa melepaskan pikirannya dari imajinasi kotornya, yang dia buat secara diam-diam di dalam kepalanya.
BYURR....
Satu guyuran dari air itu pun kembali datang, dan Elvano berhasil masuk ke imajinasi yang lebih dalam lagi, dimana dia perlahan benar-benar memikirkan hal yang sedang terjadi dibalik pintu berwarna putih itu.
'Dia- hih..., aku sampai membayangkan dia yang sedang telanjang, pikiranmu benar-benar sangat liar sekali ya Vano.' Elvano pun benar-benar di buat untuk terus tersenyum-senyum sendiri seperti itu, saking gemasnya karena otak kecilnya itu jadi kembali di ingatkan saat Vina yang tidak sengaja masuk untuk buang air kecil, tapi di saat malam itu juga, Vano sendiri juga sedang buang air kecil juga.
Sebuah perbedaan yang begitu berkontradiksi, membuat Vano benar-benar merasa girang dalam diamnya, gara-gara ketika dirinya buang air kecil dengan berdiri, justru Vina malah berjongkok.
"Hahaha, kenapa aku jadi sangat suka membayangkan itu ya?" gumam Vano, dia pun tidak bisa untuk berhenti tertawa, sebab imajinasinya itu lebih lucu dari pada kenyataan yang ada. 'Aku tidak bisa berhenti untuk membayangkannya karena saking lucunya. Vina-vina, kau benar-benar membuatku terpancing untuk jadi orang mesum seperti ini.' pikirnya.
Dan segala pikirannya itu tiba-tiba langsung Vano tarik kembali ketika dirinya mendengar pintu yang terbuka.
__ADS_1
KRIEETT....
Hingga akhirnya pintu itu berderit, terbuka dan akhirnya memunculkan satu perempuan yang baru saja mandi.
Tapi, lagi-lagi seperti harapannya Vano, Vina, perempuan itu benar-benar keluar dengan tubuh sudah berpakaian lengkap.
Melihat hal tersebut, Vano tersenyum tipis dan akhirnya bangkit dari kursinya.
'Vina ini, dia selalu saja berhasil menarik perhatianku. Masuk sudah pakaian, tapi keluar juga sudah pakaian, apa dia tidak mau memberikanku kesempatan dia keluar hanya dengan memakai handuk saja di tubuhnya?' dan pikirannya itu pun jelas akan berbanding terbalik dengan apa yang di ucapkan nya. "kau sudah selesai kan?" tanya Vano.
Vina lantas sedikit mendongakkan kepalanya ke atas, menatapnya dengan tatapan sayu miliknya, Vina menjawab : "Iya,"
Vano yang penasaran dengan kondisi tubuhnya Vina, tanpa bertanya lebih dulu, dia langsung menempelkan telapak tangannya di depan dahinya. Begitu sudah selesai merasakannya, Vano bertanya : "Padahal masih demam seperti ini, kenapa malah mandi?" tanyanya dengan dahi sudah mengernyit dengan gerakan ekstrim.
Untuk Vano sendiri, sebenarnya dari awal ia selalu memiliki kesan aneh pada diri Vina ini, karena bisa-bisanya di saat tubuh mungil itu masih dalam kondisi demam yang tidak bisa di bilang suhunya sedang, malah di ajak untuk mandi.
Pikiran aneh yang ada di dalam kepala Vina ini sangat membuat penasaran Vano.
"Biar seger lah," jawab Vina dengan selamba, lalu dia pergi dari hadapan Vano. 'Padahal aku lagi sedang malas bicara, tapi dia justru terus saja banyak tanya,' pikir Vina, sejujurnya ia tidak begitu suka jika sedang sakit, dan tidak ingin di ajak bicara apalagi lebih banyak dari pada takarnya, malah dengan sengaja, Vano lebih memilih untuk terus muncul di hadapannya dan bertanya ini dan itu. "Memangnya kenapa?"
"Malah tanya kenapa? Kalau demammu tambah parah, lalu aku harus bagaimana?"
"Apa hubungannya denganmu? Apa kau berpikir aku tidak bisa menghidupimu jika aku sakit?" tanya balik Vina.
"Maksudku bukan itu, tapi itu- kalau kau sakit, rasanya aku akan benar-benar kesepian. Dan aku tidak begitu tega melihatmu terbaring di tempat tidur." jelas Vano, memutar kesalahapahaman yang hampir terjadi itu.
"Kau bicara seolah-olah aku ini teman bermainmu. Saat kau sakit tidak bangun hampir satu minggu saja aku biasa-biasa saja, tapi kenapa kau malah akan merasa kesepian?"
"Itu beda urusan lah, kau kan waktu itu belum ken laku, makannya kau pasti menganggap kalau aku ini pasien yang hampir mati, tapi ini beda, pokoknya beda!" tanpa sadar nada yang dia ucapkan jadi semakin tinggi, dan membuat Vina menatapnya dengan tatapan aneh.
"Sebenarnya aku ingin aku bagaimana? Aku pusing, jangan mengajakku bicara lagi," rutuk Vina. Ambil menurut kepalanya, dia pun pergi dari sana, meninggalkan Vano di depan kamar mandi.
"Tunggu, kau biasanya makan obat apa? Nanti aku yang belikan," sambil mencegat Vina pergi dari hadapannya.
"Tidak usah, jadi merepotkanmu yang belum sembuh itu. Nanti juga sembuh sendiri," sahut Vina, dia menolak tawarannya itu karena Vina sangat tidak ingin membuat pria ini repot-repot keluar dari rumah, salah satu alasan paling utamanya adalah pria ini sangat berbahaya.
Berbahaya dalam hal apa?
Keberadaannya cukup mencolok, dan bisa mengundang lebih banyak dosa untuk para kaum hawa, yang jelas sudah pasti akan terpesona dengan sosok dari Elvano ini.
__ADS_1
"Lagian aku sudah minum obat, jadi tidak usah khawatir," kata Vina sekali lagi, menambahkan apa yang perlu dia katakana agar Vano tidak menambah kekhawatirannya itu.
Vano yang merasa memang tidak berguna itu, tidak bisa memaksa Vina untuk berlama-lama di depannya, sebab perempuan ini perlu kembali ke kamar, dan istirahat.
Vano pun melepaskan cengkraman tangannya itu dari pergelangan tangannya Vina, dan menjawab : "Jika kau ingin makan sesuatu tinggal suruh aku saja," ucapnya.
Vina sekilas hanya memandang wajah Vano yang tersirat rasa khawatir bercampur penyesalan, entah apa yang di sesali oleh pria yang akhirnya masuk kedalam kamar kecil itu, Vina hanya beranggapan kalau Vano memang sedang frustasi.
Hanya itu saja, tidak lebih, karena Vina tidak bisa membaca pikiran pria itu.
___________
Tak...tak...tak...tak...
Suara dari keyboard yang di tekan dengan cara yang cukup cepat itu, berhasil mengundang perhatian dari pria jangkung yang hendak masuk kedalam rumah nya Vina.
Tentu saja, dia akan mengetuk pintunya lebih dulu, tapi semua itu langsung sirna, begitu Vina yang sedang duduk di depan tv itu, menoleh ke arahnya.
"Kau sedang apa?" tanya Vano dengan wajah polosnya.
Benar. Bagi Vina, meskipun Vano punya wajah yang rupawan, tapi berbanding terbalik dengan perawakan tubuhnya yang tinggi dan besar, serta punya aura yang cukup kuat tepat di setiap pertemuan, tapi begitu Vano bertanya apa yang sedang di lakukan oleh diri Vina, Vina jadi tersenyum miring.
"Aku sedang kerja sambilan," jawab Vina tanpa pikir panjang.
Sebenarnya, di saat Vano datang dan mengutarakan pertanyaannya itu, jantung Vina sudah mulai tidak bisa Vina kontrol lagi, karena perasaannya yang lemah terhadap pria tampan, kembali kambuh.
Dan ciri-ciri paling utamanya adalah dengan jantungnya yang berdegup cukup kencang itu.
"Bukannya istirahat, malah kerja, kapan sembuhnya?" peringat Vano seraya melepaskan sandal yang dia pakai, lalu dia pun melangkah masuk kedalam rumahnya Vina.
"Ini duduk, termasuk istirahat, kan?" tukas Vina, dia tidak mau kalah dengan ucapannya Vano itu.
"Tapi otakmu kan jadinya terus berpikir." papar Vano, memberikan pengertian lagi.
"Ya, kalau aku tidak kerja, terus aku dapat uang dari mana?" timpal Vina saat itu juga.
DEG...
"Vina- katakan apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus keuanganmu yang terus aku ambil karena harus menghidupiku juga," ucap Vano dengan tiba-tiba, sampai Vina yang awalnya sudah menemukan ide paling lancar agar dia bisa mengetik dengan cepat, seketika langsung terhenti, tepat begitu Vano ingin mendapatkan uang sebagai tebusan karena ingin menggantikan uang yang Vina pakai untuk merawat luka Vano dan sekaligus biaya kehidupan Vano selama ini.
__ADS_1