
Dengan wajah mematung, Vano pun menatap dengan serius wajah Vina yang masih terbaring di seberang tempat tidurnya dalam posisi tubuh yang miring ke arahnya.
"K-kau kenapa berteriak? Aku ada di sini! Membuatku takut saja." ungkap Vina, dia sangat terkejut dengan teriakan yang di lakukan oleh Elvano kepadanya, dan itu sama saja seperti sedang membentaknya. 'Apa dia kalau membentak orang akan seperti itu?'
Memikirkannya saja sudah membuat Vina takut, sehingga dia tanpa sadar langsung menelan salivanya sendiri.
'Apa tadi hanya mimpi saja?' batin Vano, dia masih menatap wajah Vina dengan cukup lekat, sampai Vina yang sedari di tatap itu pun langsung salah tingkah sendiri.
'Kenapa dia terus menatapku sih? Apakah itu hobi miliknya?' pikir Vina, demi membuat wajahnya tidak bolong, setidaknya tidak di tatap terus, Vina pun langsung menutup kedua wajahnya itu dengan kedua tangannya.
Barulah saat Vano sadar kalau Elvina merasa tidak nyaman dengan tatapannya, Vano pun menghentikannya.
"Maaf, aku sudah membuatmu terkejut seperti itu." Elvano pun langsung meminta maaf langsung kepada Verina seraya menyibak rambut serabainya itu dengan kasar, lalu mengusap wajahnya dengna kasar juga, Elvano pun menunduk dengan wajah muram.
"Memangnya kau mimpi buruk seperti apa? Apakah itu menakutkan? Kau sampai memanggil namaku, apakah ada hubungannya denganku?" Deretan pertanyaan yang keluar dari mulutnya Vina pun membuat Vano jadi berpikir keras, apakah dia akan memberitahukan mimpinya yang cukup buruk?
Mimpi yang menggambarkan kalau wanita yang ada di sampingnya itu meninggal.
Hanya dengan memikirkannya kembail, Elvano jadi merasa tersiksa.
Vina adalah perempuan polos, baik, dan tidak ada niat apapun yang membuatnya rugi atau apalah, tapi yang membuat Vano merasa terjerat sendiri dalam mimpi yang sangat buruk itu adalah ketika dia harus di hadapi dengan Verina yang tidak bisa di selamatkan.
Entah karena posisinya apa di dalam mimpinya itu, sampai Vina mengalami gagal jantung.
Padahal kan dari sini saja Verina terlihat sangat baik-baik saja kan?
'Kayanya aku harus memerintahkan Jason untuk memeriksa tubuh Vina dari atas sampai bawah lagi. Jangan sampai ada yang terlewatkan.
Dan jangan sampai apa yang aku mimpikan tadi menjadi kenyataan. Aku tidak mau hal itu terjadi.
Walaupun dia ada di sini, tetap saja kan, kedua orang tuanya ada di desa, dia pasti sangat merindukan kedua orang tuanya itu, jadi harus sebisa mungkin Vina segera sembuh.' pikir Vano panjang lebar.
"Elvano."
Panggilan dari Vina pun membuat Vano kembali menarik kesadarannya, dan menatap kembali perempuan tersebut dengan ekspresi wajah yang setidaknya jauh lebih kalem dari pada yang tadi.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Vina lagi, dia yang merasa khawatir itu, berusaha untuk bangun.
__ADS_1
Namun, sebelum itu terjadi, Vano malah lebih dulu turun dari tempat tidurnya dan mencegat Vina untuk turun. "Kau tidak usah banyak bergerak, aku sama sekali tidak apa-apa." jawabnya.
Hanya saat di saat itu juga, reaksi Vina nampak seperti orang yang sedang tegang hebat.
Dia agaknya syok, sebab Elvano yang ternyata tertidur malah hanya bertelanjang dada saja.
"K-kau lukamu ini, apakah sudah membaik?" tanya Vina lagi, dia langsung mengalihkan topik syok nya itu dengan pertanyaaan yang mewakili rasa khawatirnya dengan beberapa luka jahit yang ada di dadanya Vano.
Sungguh, sebenarnya tubuh Elvano sendiri adalah pemandangan yang cukup menakjubkan.
Semakin lama di pandang, matanya jadinya terkontaminasi pemandangan yang menguras iman miliknya.
Cobaan dari sebuah godaan yang cukup berat, karena baru pertama kali bisa melihat tubuh dengan postur tubuh yang begitu sempurna.
Otot tubuh yang cukup menggoda, bahkan adanya roti sobek yang bisa di nikmati dengan cara menyentuhnya.
"Ini sudah lebih baik, tapi tidak denganmu sendiri." jawab Vano atas pertanyaan dari Vina barusan.
Vina terdiam, dia memang merasakan sakit di punggungnya, tapi ternyata ada yang lebih sakit lagi bagi Vina, sebab di lengan Elvano ada terlihat luka baru.
"Maaf ya, kau jadi terluka karena menyelamatkanku." kata Vina, sambil memperhatikan tangan Elvano yang sedang dia sentuh itu.
"T-tidak, aku benar-benar minta maaf, sungguh, kau menerjang ke arahku untuk menyelamatkan nyawamu, dan hasilnya kau malah terluka lagi."
"Vina, kau harus tahu diri, kau yang menyelamatkanku waktu itu, apa yang terjadi sekarang pada tubuhmu? Punggumu terluka, dan karena kejadian siang tadi, lukamu yang awalnya sudah membaik, jadi terbuka lagi, kenapa kau malah minta maaf padaku? Padahal akulah yang mengajakmu untuk keluar, dan hasilnya akulah yang membuatmu kembali terluka.
Sedangkan luka ini bukanlah apa-apa." bebel Vano, dia menegur apa yang di ucapkan oleh Vina ini salah, dan bahkan sama saja dengan penghinaan juga terhadapnya .
Namun perkataan yang keluar dari mulutnya Vano, nampak langsung menusuk hati Vina sendiri.
"M-maaf-"
"Vina, kau tidak usah mengatakan maaf, kau tidak salah apapun, mengerti?" kata Vano, kembali menegur perempuan yang terus saja mengatakan maaf.
Jujur saja dirinya cukup bosan jika mendengar kalimat yang berulang terus, dan salah satunya berasal dari perempuan ini.
"Kau harus bersiap." tiba-tiba saja Vano berkata seperti itu, membuat Vina kebingungan.
__ADS_1
"Bersiap untuk apa?" kernyit Vina, penasaran.
"Kau akan di periksa ulang, takutnya ada tulang patah, atau kau punya penyakit lain. Jika seperti itu kan setidaknya bisa di deteksi lebih dini, dan akan jauh lebih efektif untuk menyembuhkanmu." ungkap Vano, dia sudah memencet bel untuk memanggil dokter nya ke kamarnya.
"Tapi itu tidak perlu, aku tidak memil- eh..aku hanya ada maag, itu saja, dan punggung aku yang luka juga sudah di obati, jadi sudah tidak perlu mengecekkan ulang lagi." balas Vina, dia tidak ingin lebih merepotkan lagi dokter di sini, karena dia berpikir kalau dirinya adalah orang asing, dan tetap akan jadi orang asing yang tidak ada tempat di sini, jadi pastinya akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari pada warga lokal, ya kan?
____________
"Nona, silahkan berbaring di sini, kami akan mengecek kondisi tubuh anda sekarang juga." tanpa basa basi, dokter Jason sudah memberikan perintah kepada perawatnya itu untuk membantu Vina ganti dan sekarang masuk ke dalam mesin besar?
"T-tapi-"
"Nona, silahkan berbaring. Tidak akan ada yang terjadi apapun kepada anda, tidak apa-apa, ayo." bujuk suster ini, mengira kalau Vina takut masuk kedalam mesin raksasa itu.
Ya, sebenarnya memang takut sih, tapi yang lebih menakutkan itu adalah jika tahu kalau di dalam tubuhnya ada penyakit lain, mengingat selama ini dirinya tidak pernah sekalipun melakukan cek kesehatan.
Di balik dinding kaca, terlihat Vano malah mengibas-ngibaskan tangannya sebagai kode untuk Vina agar cepat berbaring.
"Tidak saking kan sus?"
"Tidak, anda seperti tidur baisa saja kok," senyuman ramah dari suster ini pun membuat Vina jadi terbuai.
"O-ok, aku akan tidur." VIna pun kahirnya mau mengiyakan yang di perintahkan oleh suster tersebut.
_____________
"Bagaimana dengan hasilnya?" tanya Vano kepada dokter pribadinya yang sudah selesai memeriksa kesehatan yang sudah di lakukan selama beberapa jam ini.
"Tuan, saya sudah memeriksanya, dan seperti hasil yang sebelumnya, Nona tidak memiliki kondisi apapun yang dikaitkan dengan masalah gagal jantung atau apapun itu.
Disini saya akan memberitahukan kepada anda lagi, kalau yang perlu di perhatikan hanyalah maag milik Nona dan luka yang ada di punggung anda." penjelasan dari Dokter Jason pun membuat Elvano jadi semakin di buat berpikir.
Elvano sengaja membuat Vina melaklukan pemeriksaan lengkap untuk mengetahui kalau mungkin saja ada yang salah di dalam tubuhnya, jadi untuk mengantisipasinya, Vano menyuruh Vina melakukan pemeriksaan.
'Kalau seperti itu, apakah yang ada di dalam mimpiku ini tidak akan benar-benar terjadi? Tapi kenapa hatiku merasa tidak nyaman sekali ya?' pikir Elvano. Dia masih saja kepikiran dengan buaian mimpi miliknya, yang terus dihantui dengan mimpi yang sangat dan sangat buruk.
Bagaimana tidak buruk, jika Vina malah meninggal di depan matanya?
__ADS_1
Orang yang sudah menjadi pahlawannya, dan orang itu malah meninggal karenanya?
'Itu tetap saja tidak boleh terjadi. Aku harus mencegah kalau Vina akan terluka lagi atau apapun itu, aku harus menjadi pelindungnya.' batin Vano dengan segenap hati dan perasaan.