
Arthur menatap semua orang secara bergantian.
Tidak ada yang bisa dia lakukan saat dia saat ini sudah jadi pusat perhatian oleh semua orang di sana, karena sudah ada banyak orang yang tahu, kalau posisi kepala keluarga Travers di alihkan kepadanya, dan itu pun hanya satu bulan saja.
'Hah, sudahlah. Aku benci mengakui ini, setidaknya karena wanita udik itu, meskipun usahaku untuk membunuh Elvano dan wanita itu tetap saja gagal dan sia-sia, setidaknya aku bisa mencicipi untuk menjadi seorang pemimpin.
Yah, walaupun aku tetap tidak puas, tapi mau bagaimanapun, selagi aku mendapatkan posisi ini, aku harus membuat rencana lain.'
Matanya kemudian menjadi gelap karena banyaknya yang Arthur pikirkan.
Dia dengan tenang mencoba untuk melewati segala kemungkinan dalam setiap perkiraan yang ada.
Sampai tidak lama setelah itu, sebuah ketukan pintu, berhasil menarik segala pikiran mereka semua yang tampak tegang.
Tok ...Tok... Tok ...
"Permisi Tuan, ini saya Teo,"
Salah satu pekerja yang memang sudah bekerja cukup lama di mansion Travers, datang untuk menemui Arthur.
Arthur yang tidak punya pilihan lain, karena Teo adalah seorang yang tidak bekerja setia untuk Travers, sekaligus tidak pernah memihak antara Arthur ataupun Elvano, akhirnya memberikan akses masuk.
"Masuklah," sahut Arthur dengan tampang serius, arah pandangannya pun tertuju pada pintu yang terletak di depan sana persis.
Semua anak buah Arthur yang ada di dalam ruang kerja, langsung berdiri tegak dan memberikan jalan, setelah mendapatkan kode dari Tuan Arthur mereka.
Pintu kayu berwarna coklat itu pun terbuka dengan perlahan oleh salah satu anak buah Arthur, dan kemudian seorang pria paruh baya datang bersama dengan satu asistennya yang masih muda dengan memeluk sebuah berkas.
Tidak, bukan satu orang saja, melainkan tiga orang.
Semua mata membelalak, karena apa yang di bawa mereka, cukup membuat mereka semua diam membisu.
__ADS_1
"Tuan, saya datang untuk memberikan berkas yang harus anda kerjakan, dan di tandatangani oleh anda," kata Teo, dia berjalan memimpin ketiga anak buahnya itu.
'Itu banyak sekali!' satu pikiran dari orang pertama salah satu anak buahnya Arthur pun datang juga.
'Aku baru pertama kali melihatnya! Apa itu benar-benar berkas yang harus di kerjakan oleh Tuan muda pertama sendirian?'
'Tidak masuk akal, itu terlalu banyak!'
banyak dari mereka yang memasang wajah khawatir sekaligus terkejut, karena tidak akan menyangka, kalau di hari pertama dimana Tuan muda pertama mereka mendapatkan posisi sebaai kepala keluarga, malah harus di hadapi dengan kertas yang terlihat seperti kertas ujian.
"Kami permisi, saya dan asisten saya sudah membawakan dokumen yang sudah tersusun sesuai dengan batas waktu yang harus anda prioritaskan agar bisa di selesaikan lebih dulu," jelas Teo, memberikan kode kepada ketiga asistennya, mereka bertiga pun meletakkan ribuan kertas seperti makalah dari ratusan murid di perkuliahan.
BRUK ...
"Kau meremehkanku ya?" tanya Arthur, dia tidak suka dengan bagian penjelasan oleh Teo yang mengatakan, semua dokumen sudah di susun sesuai dengan batas waktu, itu seolah untuk memberitahukan kepadanya, kalau Arthur adalah orang yang harus mendapatkan pelajaran pertama dalam menyelesaikan masalah matematika.
"Tidak Tuan muda, saya hanya menyampaikan apa yang biasanya saya sampaikan kepada Tuan muda kedua," Teo yang merasa kalau majikannya tersinggung itu, akhirnya mendapatkan alasan yang cukup masuk akal untuk di terima oleh banyak orang di sana.
"Aku ingin sendiri, jadi keluarlah,"
"Baik Tuan," semua orang di sana membungkuk dan undur diri dengan sangat sopan, meninggalkan Tuan muda kedua mereka.
KLEK ...
Kepergian mereka semua, akhirnya bisa menciptakan keheningan untuk berpikir jernih.
Arthur menatap semua tumpukan kertas itu.
Ada tatapan rasa kecewa, tapi dia seharusnya tidak terpengaruh oleh emosinya saat ini. Sampai sekarang, Arthur adalah satu-satunya orang yang benar-benar memiliki ambisi untuk mendapatkan posisi sebagai seorang kepala keluarga.
Meskipun dia harus di hadapi dengan banyak kertas yang berisi soal perjanjian yang jelas, berkaitan besar dengan pekerjaannya, Arthur pun dengan tenang mencoba untuk memahami dan mengerjakannya satu per satu.
__ADS_1
"Tambang emas-" Arthur mengatakan hal yang sudah pasti, di dalam salah satu kalimat dalam kontrak yang sedang dia baca itu. 'Mendapatkan keuntungan 70% dari hasil penambangan? Ini bahkan belum lama dikerjakan, tapi pendapatan bersihnya sudah sebanyak ini?!'
Arthur terkejut dengan perjanjian kontrak sekaligus rincian penghasilan dari pertambangan emas yang di kelola oleh Travers dengan beberapa penanam saham lainnya.
'Jika seperti ini, berarti keuangan Travers sedang meningkat, kan? Kalau begitu, aku akan memperpanjang kontraknya, biarkan uangnya mengalir terus kesini, dan secara tidak langsung, juga membuat aku kaya raya.' senang bisa melihat jumlah uang yang cukup menguntungkan, perpanjangan kontrak itu pun di sah kan oleh Arthur dengan tandatangannya sendiri.
Dan begitulah, Arthur pun mencoba untuk bisa menyelesaikan pekerjaan di balik layar?!
Menjadi hari pertama sebagai hari percobaan, Arthur mencoba untuk melakukan yang terbaik.
Dari pagi, bahkan sampai malam. Para pelayan yang begitu perhatian kepada tuan muda pertama, memberikannya makan dan camilan, setiap beberapa jam sekali.
__________
Berbeda dengan Arthur yang bekerja dan berhadapan dengan ribuan kertas, Elvano justru berduaan dengan wanita yang dia taksir?
Memang benar, seseorang yang dari awal sudah berhasil menjadikan hati Elvano di tumbuhi bunga dari musim semi.
Siapa lagi kalau bukan Vina?
Wanita yang berhasil menyelamatkan nyawanya sebanyak dua kali, sekaligus memberikan kenyamanan yang entah berapa kali di lakukan oleh Vina kepadanya.
Itu adalah sebuah berkah yang tidak bisa di balas oleh apapun selain satu hal, yaitu hatinya.
'Untung saja kau masih berada di sini, jadi aku masih bisa melihatmu kapanpun yang aku inginkan.' pikir Elvano, dia awalnya ingin sekali menyentuh rambutnya Vina yang berwarna hitam itu untuk di sisipkan ke belakang daun telinga.
Tapi karena dia tahu akan mendapatkan sebuah penolakan, maka dari itu, dia pun mengurungkan niatnya itu.
'Duduk berdua seperti ini juga begitu mengasyikan. Apakah ke depannya aku bisa melakukan ini bersamanya? Aku benar-benar berharap kalau itu terjadi.' pikirnya lagi, dan dia pun benar-benar menyetujui hatinya untuk mencoba dan terus mencoba, merayu wanita yang berhasil menarik perhatiannya selama ini.
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" salah satu alisnya terangkat, ketika matanya terus menemukan wajah pria yang ada di depannya itu, malah terus menatapnya dengan sangat terang-terangan.
__ADS_1