Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Rencana Elvano Untuk Masa Depan


__ADS_3

Malam kembali datang, setiap waktu yang berlalu hanya dipenuhi dengan pekerjaannya yang tidak pernah kunjung ada habisnya. 


Setelah kepergian Vina yang memilih untuk menolak semua perasaannya serta memutuskan untuk pulang ke negaranya sendiri, Elvano akhirnya kembail ke rutinitasnya. 


Ketika kegelapan datang, maka disitulah dia pun mengambil perannya sebagai seorang penguasa dunia malam. 


Sekalipun menjadi seorang Mafia, bukan berarti akan bekerja setiap di malam hari, tapi rutinitasnya yang mendominasi untuk membereskan semua masalahnya ketika malam datang, sudah jadi bagian dari sisi dalam hidupnya. 


Tidak ada satu orang pun yang menyangkal sosok Elvano sebagai Tuan mereka untuk memimpin mereka dalam menjalani kelompok mereka. 


“Tuan, anda sudah datang?” salah satu orang berseragam dengan setelan jas hitam, menjadi ciri khas untuknya untuk bekerja. 


Tentu saja, meskipun dia memakai setelan jas dan punya pekerjaan untuk membereskan semua masalah yang terkait organisasinya sebagai salah satu anggota mafia, tidak akan ada yang curiga tentangnya. 


Gedung pencakar langit, disertai dengan ratusan orang yang keluar masuk gedung Trav, adalah alasan terbaik yang membuat mereka tampak seperti seorang pekerja kantoran, sedangkan sisi sebenarnya dari gedung bertingkat itu sendiri, adalah markas mereka sebagai anggota organisasi Mafia bernama Black Crow. 


“Sudah lama ya?” sahut Elvano. Dia keluar dari mobilnya dan dalam sekejap mata, dia pun mendapatkan sambutan dari semua anak buahnya yang sudah berbaris di lobi kantor. 


“Tapi, Tuan Delvin ada dimana? Tidak seperti biasanya, Tuan Delvin selalu datang bersama dengan anda,” satu pertanyaan itu membuat banyak dari mereka pun turut penasaran dengan keberadaan dari tangan kanan sang Tuan muda Elvano yang tiba-tiba tidak muncul. 


Biasanya Delvin akan muncul setiap kali Tuan mudanya datang ke kantor, tapi ini baru pertama kalinya bagi mereka tidak melihat sosok Delvin yang biasanya sudah seperti ekor bagi Tuan muda mereka. 


“Dia sedang menjalankan tugas negara paling penting,” sahut Elvano. 


“Tugas negara? Tugas macam apa?” tanya salah satu dari mereka sekali lagi. 


Dengan dalih seperti tugas yang berhubungan dengan negara mereka, sebenarnya itu adalah kiasan yang dia berikan kepada mereka.


“Tugas membawa calon Istriku yang ingin pulang ke negaranya, jadi tidak salah kan, jika aku menyebutnya tugas negara?” balas Elvano dengan begitu entengnya, sampai-sampai semua orang yang ada di lobi itu, langsung diam membeku karena perkataan dari Bos mereka begitu mengejutkan. 


Sehingga salam hormat mereka yang akan mereka lakukan, jadi terhenti di tengah jalan. 


“Calon Istri?!” tanya mereka semua secara serentak. 


“Tentu saja,” jawab Elvano dengan nada sombongnya. 


Ya, dia begitu sombong, dengan senyumannya yang begitu lebar, dia melangkahkan kakinya di tengah-tengah barisan semua anak buahnya yang berbaris mengarah ke salah satu Lift yang akan dia naiki. 


‘Jangan-jangan Nona Veronica itu?! Tuan mau menikahi wanita seperti itu?!’ 


Secara serentak, satu nama yang ada di dalam pikiran mereka semua pun mengarah pada satu wanita yang selama ini dekat dengan Tuan muda mereka, yaitu Veronica. 


Mereka semua jelas tahu, karena mereka semua pernah secara bergantian pernah mengintai pergerakan dari keluarganya Veronica dan Veronica sendiri. Alasannya kala itu keluarga Veronica adalah salah satu keluarga yang menjadi target untuk dijadikan batu loncatan dari rencana Tuan mereka dalam menjalankan kerja sama. 


Maka dari itu, mereka semua jadi terkejut dengan kata calon Istri yang mereka dengar dari mulut majikan mereka. 


“T-tuan, Tuan tidak mungkin akan membuat Nona Veronica menjadi calon Istri Tuan kan? Padahal sampai beberapa hari yang lalu, Tuan berhasil membuat keluarganya hancur, tapi apakah anda akan tetap bersama dengan wanita itu?” 


“Iya Tuan, saya pikir anda itu tidak cocok sama sekali dengan wanita itu,” satu per satu dair mereka pun mulai mendukung dengan penilaian mereka yang sama-sama tidak suka jika Bos mereka malah akan menjalin hubungan lebih dalam lagi dengan wanita yang mereka semua kenal. 


“Menurut saya, anda sama sekali tidak cocok dengannya, lebih baik anda pikirkan lagi baik-baik deh. Keluarga yang sudah anda hancurkan dengan tangan anda, masa mau mempertahankan wanita seperti itu di sisi anda?”


“Saya tidak setuju juga Tuan,”


“Ada banyak wanita di luar sana, ken-”


Mendengar berbagai petisi yang berisi rasa protes mereka terhadapnya, Elvano pun jadinya terkekeh sendiri. 


“Hehehe, apakah kalian begitu takut dengan wanita seperti dia?” tanya Elvano, menyela pembicaraan mereka semua dengan kata-katanya yang begitu dingin. 


Seluruh anak buahnya pun mengangguk setuju. 


“Kami memang takut, jika wanita sepertinya masuk dalam kelompok kita, maka dari itu, kami tidak setuju,” usulnya dengan nada tegas dan lagi-lagi disetujui oleh teman-temannya juga. 


“Berarti kalian lebih takut dia ketimbang aku?” tanyanya lagi. 


“S-sepertinya benar begitu,” 


“Walaupun anda terkadang menakutkan, tapi akan lebih menakutkan jika wanita seperti Nona Veronica ada di sisi anda. Saya tidak akan pernah membayangkan, jika itu terjadi, kemungkinan besar akan ada kekacauan lebih besar ketimbang anda yang sempat menghilang selama satu bulan lebih,”


‘Perkataan nya memang ada benarnya, tapi sayang sekali, apa yang mereka tebak sama sekali tidak ada yang benar. 

__ADS_1


Sudahlah, biarkan mereka cemas sendiri. Lagi pula, orang yang aku maksud juga bukan dia.’ karena merasa lucu melihat kepanikan yang diperlihatkan oleh anak buahnya itu, Elvano pun membiarkannya begitu saja.


“Saya sangat tid-”


Melihat Tuan muda mereka sudah masuk ke dalam Lift, beberapa diantara mereka langsung menyela, “Eh Tuan?! Anda dengarkan permintaan kami dulu,” 


“Iya Tuan, jangan pergi dulu,”


Sangat menyenangkan melihat anak buahnya sangat panik dengan kesalahpahaman mereka terhadap perkataannya Elvano, mereka buru-buru ingin bicara lebih banyak lagi dengan Tuan mereka. 


“Jika aku tidak pergi, apa kalian mau menggantikan pekerjaanku?” balas Elvano dengan cepat, dan tidak lama setelah itu, kedua pintu lift itu pun tertutup juga, meninggalkan wajah-wajah yang sedang berekspresi memelas kepadanya. 


____________


TAP …TAP… TAP …


Setiap langkah yang dia ambil, membawanya pergi menyusuri koridor kantor dari markas yang dia kunjungi. 


Benar, setelah lebih dari satu bulan dia tidak pernah menjejakkan kakinya di lantai marmer hitam itu, dia pun sadar, bahwa setiap langkah yang dia lakukan, membuat satu demi satu langkah itu mendapatkan satu kenangan yang terus melintas di dalam kepalanya. 


Memorinya muncul, tapi dari banyaknya memori yang dia miliki, sama sekali tidak ada kenangan yang begitu indah untuk dia nggap sebagai kenangan selain mimpi buruk. 


Marmer hitam itu mewakili setiap aktivitas setiap orang yang pernah melewati koridor tersebut. 


Memertam, itulah nama yang dia ambil dari satu peristiwa yang pernah terjadi di koridor tersebut. 


Memerrtam adalah istilah dari merah marmer hitam. 


Pembunuhan pertama di kantornya itu, menjadi hari berdarah untuk pertama di saat Elvano menaiki posisi sebagai seorang kepala keluarga. Itulah yang membuat Elvano hanya mengingat kisah buruk setiap kali dia melintasi koridor tersebut, sebab sebanyak tiga puluh mayat, pernah menjadi penghuni koridor it. 


‘Tapi, apakah pantas, jika aku mengajak kaki sucinya itu menginjakkan kaki di tempat berdarah ini?’ tatapannya begitu sendu ketika dia melihat pemandangan dari gelapnya malam yang dingin itu, diwarnai dengan lautan gedung yang memperlihatkan kerlap kerlip lampu di bawah sana. 


Namun, meskipun arah tatapannya tertuju pada jendela full glass, tapi tidak dengan pikirannya yang mengarah pada satu orang yang ingin dia bawa untuk mengunjungi kantornya. 


“Dia pasti sudah sampai di Indonesia. Aku ingin bertanya, tapi- apakah dia mau menjawabnya?” tatap Elvano terhadap handphone yang dia baru saja dia keluarkan. 


Di sana dia sudah siap untuk menghubungi Delvin, untuk bertanya soal status dari misi yang Elvano berikan kepada Delvin untuk mengantar Vina pulang sampai ke rumah dengan selamat. 


Tapi, kendala yang dia miliki adalah dia tidak berani untuk mendengar suaranya Vina, sebab setiap suara yang dia dengar dari mulutnya Vina, ada kemungkinan besar untuk membuatnya terpengaruh untuk bertemu dengannya secara langsung. 


Maka dari itu, Elvano pun langsung mencari nomor seseorang dan menghubungi orang tersebut. 


-”Halo, Tuan?”-


“Hm, sesuai yang aku diskusikan kemarin malam, kerjakan proyeknya mulai minggu besok. Lalu satu tambahan lagi, buat dokumen terpisah mengenai proyek pembangunan rumah.”


-“Baik, saya akan melakukannya. Tapi untuk masalah proyek pembangunan rumah itu, memangnya anda ingin membuat rumah di mana?”-


“Aku ingin membangun satu rumah di Indonesia, apa kau bisa menyanggupi permintaanku untuk membuat rumah itu secepat mungkin?” balas Elvano, tiba-tiba punya rencana tidak terduga lainnya, hanya gara-gara mengingat Vina sudah ada di Indonesia. 


-“Tapi Tuan, apakah saya boleh tahu alasannya?”-


Mencoba untuk merilekskan pikirannya sejenak dengan menutup mata, Elvano pun menjawab dengan lugas, “Alasan ya? Cukup sederhana, karena aku ingin lebih dekat dengan seseorang. Aku ingin itu jadi tempat singgah aku ketika aku pergi ke sana, jadi aku pikir lebih baik membangun rumah di sana. 


Ah, tapi jangan lupa, syarat utamanya bawakan pekerja dari sini saja. Akan aku kirimkan desainnya setelah kau menemukan tanah yang tepat,”


-“Baiklah, saya akan berusaha menyanggupi perintah anda. Apakah ada yang lainnya?”-


“Untuk sementara itu dulu,”


KLEK …


Begitu sudah sampai di depan pintu kantornya, kedua pintu itu pun Elvano buka, dan terlihatlah, ruangan yang didominasi serba hitam, menjadi ciri khas dari kepribadiannya Elvano, setelah dia dengan sengaja mengubah desain dari interior kantornya. 


“Untuk tambahannya, aku akan kirimkan lewat email,”


-“Baik Tuan, akan saya laksanakan,”-


“Hm, dan satu lagi, bagaimana dengan situasi di rumah utama?” akhirnya Elvano pun bertanya soal kakaknya, yaitu Arthur. 


Karena sekarang ini posisi kepala keluarga Travers sedang di pegang oleh kakaknya, Elvano pun bertanya untuk menyelidiki situasinya, sebab mau bagaimana pun dia harus bertanggung jawab dengan semua keterlibatan dari Arthur setelah Elvano membuat keputusan yang memang cukup mencengangkan banyak orang. 

__ADS_1


-“Tuan Arthur mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, namun disini saya sama sekali tidak menemukan Abel. 


Saya khawatir jika orang itu ternyata diam-diam membuat rencana sendiri. 


Seperti yang pernah saya katakan, Ebel terlihat bukan seperti orang yang bisa di percaya. 


Saya kebetulan beberapa kali pernah mendengar kalau sebagian besar rencana direncanakan oleh anak itu, yang berarti ada kemungkinan besar, kalau akan ada lebih banyak tanggung jawab yang kelihatannya diberikan kepada Abel Tuan, ini cukup mengkhawatirkan.”-


Hanya dengan mendengarnya saja, Elvano pun jadi kepikiran lagi soal masalah Veronica yang di culik. 


‘Abel masih ada di rumahnya sendiri, karena aku sempat menembak kaki anak itu, jelas kalau dia tidak mungkin bisa banyak bergerak. 


Hanya saja, ada kemungkinan besar kalau dia mengerahkan orang lain dalam rencana yang dia buat secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kak Arthur. 


Sebenarnya dari mana Kak Arthur mendapatkan anak seperti itu?’ sebagai adik dari Arthur, meskipun sudah ada banyak sekali masalah yang dia alami karena perselisihannya dengan kakaknya sendiri, akan tetapi dia tidak bisa mengabaikan soal nasib dari kakaknya itu. 


Seperti dipermainkan oleh anak buahnya sendiri, itulah yang di khawatirkan oleh Elvano terhadap kakaknya sendiri. 


Memamng benar, dalam setiap kesempatan, jika dirinya berhadapan dengan Arthur, sang kakak, dia pasti akan memulai kat-kata buruk dengan kata ingin saling melenyapkan satu sama lain. 


Tapi sebenarnya itu hanyalah keinginan sesaat yang sesekali pudar dan digantikan dengan kenyataan dari ikatan mereka berdua yang sebenarnya. 


“Hah, agak menyebalkan juga jika harus mengurus anak itu. Kau awasi saja dulu, dan selalu kirimkan aku kabar setiap waktu,” perintahnya, lalu dia pun menutup teleponnya. 


Frustasi dengan nasibnya yang harus mengerjakan pekerjaan lebih dari pada yang seharusnya, Elvano pun mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap tajam sebuah foto keluarga yang terpajang dengan jelas di dalam kantor kerjanya. 


Sebuah pigura ukuran satu setengah meter dengan sosok dari keluarga Travers yang terdiri dari kedua orang tuanya dan juga kakaknya serta diri Elvano yang masih kecil berumur empat tahunan. 


Karena Ibunya meninggal setelah melahirkan Elvano, maka tentu saja foto itu adalah hasil dari editan, seolah diri Elvano pernah foto keluarga bersama dengan Ibu kandungnya dan juga ayah serta kakaknya juga. 


Ironis, semua gambaran itu sebenarnya sama sekali tidak pernah ada. 


“Vano, Vano, ayo selesaikan semua pekerjaan gelapmu secepatnya. Setelah itu, aku jadi bisa menyusul Vina ke Indonesia lagi,” gerutu Elvano dengan raut mukanya yang begitu serius. “Walaupun dia menolakku beberapa kali, yang jelas aku tidak pernah punya harapan kalau dia jauh dariku. Aku akan segera kembali ke sana dan mulai dari awal lagi untuk membuat hubungan baru dengannya. 


Hahaha, siap-sap saja Vin, aku akan memberitahumu seberapa tulusnya diriku untuk membuatmu jatuh ke tanganku. 


Dengan modal ini-” mengusap dagunya yang begitu bersih tanpa adanya jenggot, dia tersenyum penuh dengan kemenangan, “Dia sudah jelas akan lebih mudah untuk aku taklukan. 


Dia kan punya tipe ideal sepertiku, mana mungkin dia melewati kesempatan besar seperti ini. 


Memangnya ada pria lain selain aku yang sempurna dari atas sampai bawah?” ucap Elvano pada dirinya sendiri. “Jelas tidak ada, hanya aku, dan hanya kau yang harus aku dapakan! Vina, aku tdiak akan pernah menyerah untuk menjerat hatimu itu!”


“Tuan?” 


Kepergok oleh salah satu orang, Elvano yang sedang bersemangat bicara sendiri itu pun langsung berbalik. 


“H-hei! Apa kau tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu?!” protes Elvano, melihat salah satu anak buahnya yang langsung mematung, karena melihat diri Elvano yang beggitu menggebu dalam tujuan untuk mengambil hati seseorang. 


“Maaf Tuan, saya sudah berkali-kali mengetuk pintu, tapi karena ini mendesak, jadi saya terpaksa menerobos,” jawabnya dengan wajah cemas, karena dia berhadapan dengan Bos nya sendiri yang begitu semangat dalam membahas kisah kasih. 


Tidak ada pilihan lain karena sudah ketahuan olehnya, Elvano pun membiarkannya saja, 


“Apanya yang mendesak? Cepat katakan,” kata Elvano sangat menuntut penjelasan dengan cepat, singkat tapi juga padat. 


“Saya baru saja menerima laporan, kalau ada satu peti kemas yang jatuh ke laut, dan peti itu berisi pasokan senjata yang sedang dalam perjalanan ke dermaga,” penjelasan itu pun sukses membuat Elvano diam membisu dengan ekspresi wajahnya yang sangat serius. 


“Hei, aku membayarmu untuk mengerjakan bagian dari pekerjaanmu, jika kau bahkan tidak punya keputusan yang mumpuni soal pasokan senjata yang diselundupkan ke sini, mending angkat kaki saja dari sini selamanya.


Jangan sedikit-sedikit bertanya kepadaku. 


Soal senjata dan kebutuhan yang menunjang keberadaan kelompok kita, kau seharusnya bisa melakukannya sendiri, tapi beda cerita jika masalahnya soal menghadapi musuh, baru kau tanyakan kepadaku. Paham?!” tegas Elvano. 


Ditegur dengan raut muka yang begitu menakutkan, anak buahnya Elvano pun jadinya tersenyum canggung sambil menelan salivanya sendiri. 


“P-paham Tuan,” menyerah untuk menghadapi Tuan nya yang tampak marah. 


“Nah begitu! Jika kau tidak paham, untuk apa aku merekrutmu? Sana pergi, jangan ganggu kebahagiaan pikiranku,” usir Vano dengan terus terang sambil mengibas-ngibaskan tangannya, sebagia kode kepada anak buahnya itu. 


“Baik, saya permisi,” dengan gugup orang ini pun pergi dari sana. 


KLEK …

__ADS_1


Masih cemas jika ada orang yang datang lagi, Elvano masih mempertahankan sikap dan ekspresi wajahnya, lalu setelah satu menit berlalu, Elvano pun akhirnya bisa bernafas lega .


“Hahh …, mereka masih harus banyak belajar. Oh, tadi pikiranku sampai dimana ya?” gumam Elvano, mencoba mengingat kembali apa yang barusan dia bahas dengan dirinya sendiri. 


__ADS_2