
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak punya maksud apapun. Hanya saja, saat aku melihatmu dalam keadaan terluka separah itu, bukankah artinya kau sedang di kejar-kejar oleh seseorang? Jangan di pikirkan, apapun yang akan kau lakukan, kau akan terus mendapatkan kemenangan, jadi jaga dirimu baik-baik," jawab Vina dengan senyuman mencibir menghiasi bibirnya yang kering itu. "Doaku akan terus menyertaimu, dan Delvin, terima kasih atas bantuanmu juga, aku jadi tidak was-was lagi dengan masalahku," imbuh Vina, seraya menatap wajah Delvin yang nampak terlihat dingin itu.
Tapi, semua ketegangan di wajah tampan itu seketika sirna dengan sebuah senyuman miring yang begitu meracuni otak Vina.
"Ini kebaikan dariku karena kau sudah merawat temanku, jadi tidak masalah. Dan ngomong-ngomong, soal biaya perawatan serta biaya hidup yang sudah kau berikan kepadanya, aku sudah mentrasferkan uang padamu, jadi dengan seperti ini, kita tidak ada lagi hutang, ya kan?"
"T-trasfer?" Verina langsung membulatkan matanya, dia dengan buru-buru mencari handphonenya yang bersembunyi di balik bantalnya, dan ketika dia cek, ada sejumlah uang yang cukup banyak, dan itu lebih dari dua puluh juta? "I-ini`" Vina kehilangan kata-katanya saat dia menatap Vano dan Delvin, ingin menyebutkan uang yang masuk itu baginya, terlalu besar.
"Itu balasanku karena kau dan keluargamu sudah mengizinkanku tinggal sementara di sini, kau harusnya senang, ya kan? Bukannya kau ingin sekali bisa beli perhiasan, mendekor kamar dan beli kasur yang nyaman untukmu?" goda Vano dengan sengaja.
BLUSHH....
'Kenapa dia selalu saja bisa membaca pikiranku sih?' Vina seketika malu, karena apa yang di katakan oleh Vano ini memang benar adanya. "T-tapi ini kan bukannya terlalu banyak?" melepaskan pelukannya sambil memperhatikan layar handphone nya lagi yang benar-benar menampilkan sebuah akun dari rekening bank miliknya, dan di sana ada angkat yang begitu banyak.
"Terima saja, bagiku ini bahkan bukan seberapa, karena mengingat kau sudah menyelamatkan nyawaku, itu adalah jasa yang sebenarnya tidak bisa di bandingkan dengan uang," jawab Vano.
Vina merenung, ternyata setelah dirinya menyelamatkan pria ini, sampai dia harus merelakan uangnya untuk biaya pengobatan Vano, justru dirinya mampu mendapatkan balasan yang begitu banyak seperti itu.
Dia sebenarnya cukup senang, karena bisa mendapatkan uang sebanyak itu, tetapi ada satu kejanggalan pada dirinya saat kedua pria ini akan segera pergi meninggalkannya.
Entah apa yang janggal, tetap saja hatinya merasa tidak tenang.
Namun, karena dia tidak ingin membuat Vano khawatir kepadanya, dia pun segera mengucapkan terima kasih kepada Vano, juga Delvin.
"Aku juga berterima kasih," ucapnya dengan senyuman kecut menghiasi bibirnya.
Sangat tidak rela pria ini pergi, padahal sudah cukup nyaman, namun apa daya, kedua orang di depannya itu jelas pasti orang yang cukup sibuk.
"Delvin, mana handphonemu," pinta Vano kepada Delvin.
__ADS_1
Delvin pun hanya diam sambil menyerahkan handphone miliknya ke Vano, dan Vano sendiri, dia segera mengambilnya, lalu dengan cepat dia pun mengetikan sebuah nomor ke handphonenya Delvin.
TING...
"Itu nomor anak ini, sementara jika ada apa-apa, atau mungkin saja rindu aku, kau bisa menghubunginya lebih dulu," ucap Vano dengan senyuman manis yang begitu menggoda.
'Oh, jadi nomor orang dari luar negeri seperti ini?' pikir Vina, dia baru pertama kali bisa mendapatkan nomor asing. Vina pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda paham. 'Tapi, memangnya boleh menghubungi Delvin yang nampaknya adalah orang paling sibuk?'
Seolah Delvin paham maksud dari tatapannya Vina, Delvin pun memejamkan matanya sesaat dan menjawab : "Kau bisa menghubungi kapanpun. Tapi karena perbedaan waktu diantara kita, jelas di jam pagi di sini sama saja dengan jam malam di sana," ucapnya sambil memberitahu kalau kemungkinan untuk saling menghubungi akan kecil, karena perbedaan waktu negara mereka berdua yang cukup signifikan.
"Iya, aku akan menghubungimu di saat-saat perlu saja kok, jadi aku tidak akan mengganggu waktu kerjamu," sahut Vina, mulai menyimpan nomor asing itu kedalam kontak handphonenya.
Vano yang mendengar hal itu, langsung menyela saat itu juga, "Tidak usah ragu jika ingin menghubungi kami, lagian pekerjaan dia itu cukup santai, bahkan sambil duduk juga, pekerjaannya bisa selesai dengan cepat," kata Vano, malah bicara dengan di bumbui kebohongan yang cukup besar, karena Delvin ini pekerjaannya bukan sekedar duduk saja, tapi juga harus bergerak ke sana dan kesini samil mewaspadai semua orang yang dia temui setiap saatnya.
"T-tapi kan, tetap saja yang namanya sedang bekerja, aku itu tidak boleh mengganggu." tekan Vina, karena dia adalah orang yang cukup patuh dan sopan dalam segala hal yang menurutnya memang harus diperhatikan dengan sedemikian rupa, agar tidak terlalu mengganggu orang-orang yang dia kenal, dia pun jadi di anggap seperti orang patuh.
Vano dan Delvin pun jadi terkekeh sendiri mendengar jawabannya itu.
"Pfft, itu terserahmu, tapi aku harap kau melupakanku, kalau urusanku sudah selesai, aku akan kembali mengunjungimu, boleh kan?"
BLUSHH....
"H-hiks..huwaa..., kenapa kau malah berkata seperti itu?! Padahal kau orang pertama yang bisa bicara padaku dengan leluasa seperti itu, tapi kau pergi secepat ini? T-tidak masalah sih, tapi kenapa rasanya berat?" oceh Vina, dia pun merasa aneh dengan dirinya sendiri, karena merasa dirinya sangat tidak merelakan Vano yang pergi dari rumahnya secepat ini. "T-tapi tunggu, aku ingin mengembalikan sesuatu yang sempat aku ambil,"
Karena kakinya sedikit lemas, gara-gara dia tidak tahan dengan kedua orang pria di depannya itu, alhasil dia pun merangkak ke salah satu lemari empat pintu yang ada di kamarnya itu.
Melihat tingkah dari Vina itu, Vano segera menutup mulutnya sendiri sambil menahan tawa karena lucu, tapi juga rasa sedih karena harus berpisah dengan perempuan yang menurutnya itu memang begitu lucu itu.
"Memangnya apa yang sempat kau ambil dariku?" tanya Vano, dia berusaha untuk mengganti kata-katanya yang sempat ingin mengatakan pencuri kepada Vina, meskipun hanya sekedar kalimat candaan saja. Tapi dia segera meralatnya agar tidak merusak suasana haru milik perempuan ini.
Vina lantas membuka salah satu pintu itu, dan mengambil kotak kecil, tanpa perlu membukanya, Vina pun menyerahkan kotak tersebut kepada Vano.
__ADS_1
Dan begitu Vano buka, seketika itu juga Vano dan Delvin langsung membelalakkan matanya.
Sebuah jam tangan mewah dan juga satu cincin dengan kristal berwarna biru navy, namun di dalamnya tersemat sebuah ukiran dari simbol keluarga milik Elvano dalam bentuk ular juga burung elang, hal tersebut pun benar-benar menjadi sebuah bukti kalau kedua barang terutama cincin itu cukuplah penting serta berharga.
"A-aku bukan mencurinya darimu, tapi hanya menyimpankannya untukmu," sela Vina agar kedua orang di depannya tersebut tidak salah paham padanya.
"Aku percaya, tapi aku hanya tidak tahu rupanya kau menyimpan kedua barang ini untukku, Delvin, transfer dia uang lagi sebagai balas jasanya, karena mau menyimpan barang ini untukku," perintah Vano kepada Delvin.
"Ok,"
"Tunggu!"
Vina yang tidak suka dengan perlakukan berlebihan seperti itu, dia pun dengan segera langsung berdiri dan mencengkram tangan Delvin yang hendak mengetikkan angka pada layar handphone untuk menyematkan nominal uang yang akan di transfer lagi kepadanya.
Vano seketika jadi sedikit terkejut dengan tindakan Vina yang tiba-tiba saja memeluk tangannya Delvin itu.
"Hanya seperti itu, tidak usah memberikanku uang lagi, aku akan jadi merasa keberatan untuk menerimanya, lebih baik gunakan untuk biaya tiket pesawat kalian. Harganya pasti mahal, lebih dari sepuluh juta, untuk satu kali penerbangan yang jauh, jadi tidak usah ya, aku sudah lebih dari cukup dengan yang sudah kalian berikan," tutur Vina, benar-benar tidak mau menerima beban tambahan lagi dari mereka berdua.
Delvin melirik ke arah Vano, ingin menunggu jawaban macam apa yang akan di berikan oleh Vano dengan penolakan dari Vina ini.
"Kirimkan saja," perintah Vano sekali lagi, tidak ingin perintah yang sudah dia ucapkan itu, di tunda-tunda lagi.
Dengan segera, Delvin pun mengetukkan ujung permukaan jarinya ke layar handphonenya.
TUK...
Tidak seberapa lama kemudian, ketukan dari jari milik Delvin yang sudah menyentuh layar itu, seketika dering dari notif handphone milik Vina kembali berbunyi.
TING....
Dan uang sebesar dua puluh juta, kembali masuk kedalam rekeningnya.
__ADS_1
Tentu saja, uang sebanyak empat puluh juta pada akhirnya masuk kedalam rekening bank nya.
"Yahh~ Kenapa kalian berdua berlebihan sekali sih? Apa karena uang kalian begitu banyak, makannya uang sebesar ini begitu mudah bagi kalian untuk di berikan kepadaku? Padahal aku sama sekali tidak meminta lebih seperti ini," keluh Vina. Dia benar-benar berat hati mendapatkan uang yang sedemikian besar, layaknya dia baru saja mendapatkan durian runtuh saat tidak tahu kalau pohon yang di sampingnya itu adalah pohon durian.