Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
85 : Kata Hati?


__ADS_3

Menunggu Apakah kalian pernah merasakan bagaimana rasanya menunggu seseorang.


beberapa orang diantaranya punya persepsi kalau menunggu dikaitkan dengan kata setia. Tapi yang namanya manusia mereka akan punya pikiran yang pasti berbeda, sebab pasti ada orang yang berpikir kalau menunggu adalah perilaku yang bodoh.


Dan perbedaan persepsi itu membuat banyak orang beranggapan kalau menunggu adalah….


________


"Tindakan yang cukup bodoh karena membuang waktu." Kumang Vina dan dia adalah salah satu orang yang suka menunggu Padahal dia sendiri pasti akan merasa bosan jika harus menunggu seseorang yang tidak pasti apakah orang yang ditunggu itu akan datang atau tidak.


Entah gerangan Apa yang terjadi pada dirinya dia tiba-tiba ingin sekali menunggu kehadiran dari pria yang selalu memperhatikannya. Bukankah itu adalah tindakan yang cukup bodoh karena mengharapkan sesuatu yang membuat dirinya terlihat cukup rakus ingin mendapatkan perhatian lebih dari pria itu.


Kurang lebih dia sudah menunggu selama 2 jam. Dia selalu berpindah tempat, yang tadinya berada di Rooftop, dia duduk sendirian di tengah koridor yang berhadapan langsung dengan dinding kaca yang cukup besar, dan bisa memperlihatkan sudut kota Paris.


Dia sebenarnya cukup bosan karena dia tidak bisa pergi jauh dan hanya tetap berada di tempat yang sama setiap hari dan ini sudah kurang lebih 1 minggu.


"Mungkin saja Elvano sedang bersenang-senang di luar sana. Lagi pula tampangnya saja bisa menjadi pusat perhatian banyak perempuan di luar sana. Jadi aku tidak mau berharap terlalu berlebihan seperti ini, karena kalau tidak diriku akan merasa sakit hati." dan dua hal hati dari Vina itu pun terdengar oleh seseorang yang saat ini sedang bersembunyi di salah satu dinding di koridor tersebut.


Karena sekarang sudah jam 09.00 malam Vina yang sudah lelah untuk menunggu dia pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan perlahan melewati koridor yang nampak gelap itu.


Tap…Tap…Tap….


"Rasanya serem juga ya berjalan sendirian di rumah sakit seperti ini. Aku baru pertama kali mengalaminya. 


Seandainya aku punya handphone, aku pasti bisa lebih santai. 


Tidak ada yang bisa aku lakukan di rumah sakit seperti ini, aku benar-benar sangat merasa bosan sedangkan Elvano, dia harus bekerja dan aku akan di sendirian. Jika seperti ini terus aku lama-lama jadi merindukan rumah." Vina terus bicara sendirian tanpa henti namun dibalik itu semua ada seseorang yang perlahan mulai melangkahkan kakinya mengikuti kemana Vina pergi.


Setelah melewati lorong yang gelap sepi sunyi dan diiringi dengan bau antiseptik yang cukup kuat, Vina akhirnya bisa sampai di depan kamarnya.


'kenapa aku merasa kalau ada seseorang yang diam-diam berjalan mengikutiku ya?' instingnya terus mengatakan kalau dia dalam bahaya maka dari itu hatinya menjadi merasa cemas karena dia sedang sendirian.


tap tap tap tap tap


Suara dari telapak sepatu yang bergesekan dengan lantai marmer rumah sakit membuat suasana yang tadinya sunyi perlahan jadi semakin tegang. 

__ADS_1


Hal itu cukup membuktikan bahwa di luar Kamarnya sekarang ada seseorang yang sedang berjalan.


'Aduh ini siapa lagi? Semoga saja dia tidak datang ke sini. Tapi kenapa aku tetap merasa takut? Bagaimana ini?' jantungnya mulai berdetak kencang, kedua kakinya pun tidak bisa menopang tubuhnya dengan benar saking gemetaran karena ketakutan itu sedang melanda dirinya sendiri. 'Vina tenang Vina kau harus tenang agar tidak ceroboh, pintunya harus dikunci.' 


Otaknya terus berkata demikian agar segera mengunci pintu kamarnya. Tetapi bertolak belakang dengan kondisi tubuhnya yang tidak mendukung, membuat dia kalah cepat dengan orang misterius itu yang tiba-tiba saja mendorong pintunya dengan kuat.


"Siapa ya?" tanya Vina.


"Hei Vina buka pintunya! Ini aku, kau mau aku tidur di luar apa?" 


Suara milik alvano yang Terdengar cukup menenangkan itu akhirnya menjadikan hati Vina jadi sangat lega.


Tapi sayangnya dia harus mewaspadai sesuatu. 


Ini adalah tahun era digital, semua teknologi sudah sangat maju, bahkan suara Elvano yang seperti itu, bisa saja memang sengaja digunakan untuk memanipulasi dirinya. Mmaka dari itu Vina pun benar-benar tidak percaya kalau orang yang sedang mendorong pintunya ini adalah benar-benar Elvano yang asli.


"Vin! Vina buka pintunya. Ini gelap tahu, ini menakutkan, kenapa kau tidak membuka pintunya Vina kau dengarkan?" ucapnya panas secara terus-menerus.


"Aku dengar tapi aku tidak mau membuka pintu ini untukmu." balas Vina dia masih tidak percaya kalau yang ada di luar pintu ini adalah Elvano.


"Kenapa Vin memangnya aku ada salah apakah karena aku pulang terlambat makanya aku seperti ini?"


tapi kenyataan tapi kenyataannya mereka berdua dari hari ke hari seperti bukan dua orang asing yang lagi dia juga merasa lebih dari sekedar teman.


'Tidak-tidak, aku tidak mau khayalan dari diri ku ini membuat aku merasa berharap untuk bisa menyukai Elvano dan sebaliknya.' Vina terus terpengaruh dengan pikirannya sendiri membuat pertahanannya untuk menahan bintang itu agar tidak terbuka mulai berkurang.


"Vina cobalah biarkan aku masuk. Ah ini sakit sekali." Elvano tiba-tiba saja merintih kesakitan.


'Sakit? Dia kenapa?' Vina yang terlanjur terbujuk karena tidak tega mendengarkan rasa sakit yang keluar dari mulut pria itu, akhirnya dia pun membuka pintu tersebut.


Itu adalah kesalahan terbesarnya dalam mengambil keputusannya sendiri.


Klek…


Begitu pintu itu terbuka, Vina langsung dihadapkan dengan Elvano yang tiba-tiba saja menerobos masuk dengan langkah sempoyongan.

__ADS_1


Dan langkah itu yang cepat begitu dia langsung menemukan Vina. 


BRUK…


Seketika Vina langsung membulat, ketika Vina langsung membulatkan matanya dengan sempurna saat tubuh elvano tiba-tiba saja menerjang tubuhnya.


'Ini benar-benar Fano kan dia bukan orang lain yang sedang menyamar menjadi seorang Elvano?' batin Vina Entah dari mana dia punya pikiran kalau orang-orang di sekitarnya sedang menyamar menjadi orang lain, terutama pria ini.


"Vina Vina! Kau jangan pernah tinggalkan aku Vin, aku sangat membutuhkanmu dan kau juga sangat membutuhkan aku." Racau Elvano dalam pelukannya Vina.


Vina yang tidak mengerti apa maksud dari perkataan pria ini dia langsung menyahutnya, "Apa maksudmu? Membutuhkan apa? Aku tidak membutuhkan sesuatu yang membuat aku harus tetap berada di sisimu." 


"Ternyata ucapanmu kejam sekali ya kau dan aku itu saling membutuhkan tahu." ucap Vano sekali lagi.


Perkataannya lagi-lagii membuat Vina jadi semakin kebingungan, dia harus apa?


Dan tubuhnya pun benar-benar merasa sangat berat karena dia harus menopang tubuh Elvano agar pria ini tidak jatuh ke lantai karena sekalinya jatuh ke lantai dia tidak bisa mengangkatnya.


'Ehmm…ini aroma alkohol. Apakah dia mabuk? tapi untuk apa dia mabuk? Aku tidak tahu ternyata dia bisa mabuk seperti ini. Tapi sepertinya dia punya beban hidup yang berat tanpa dia sadari' gumam Vina dalam hati, dia merasa bersimpati. 'Tapi tunggu dulu, aku harus memeriksa apakah dia memakai topeng atau tidak, jika tidak berarti dia asli, kalau ia berarti dia adalah orang yang sengaja agar bisa masuk ke kamarku.'


Setelah diraba wajahnya, Vina pun tidak mendapatkan hal yang aneh pada wajahnya Vano itu. Tapi apa yang Vina lakukan itu, tangan Elvano pun tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya Vina.


"Eh Vano…tunggu-tunggu ini sakit tahu."


Vina mencoba untuk mendorong tubuh Alvano, karena tiba-tiba saja tangannya dicengkram dengan cukup kuat. Dan itu cukup menyakitkan sampai pergelangan tangannya sebenarnya sudah memerah.


Tapi bukannya bisa membuat mereka berdua mendapatkan jarak untuk saling menjauh Alvano justru semakin menjauh, Alvano justru semakin memeluk Vina.


Dan wajah milik Elvano lantas mendarat di salah satu bahunya Vina, itu cukup menggelikan sampai Vina sendiri langsung meringis geli.


dan tiba-tiba saatnya Vina spontan langsung mengeluarkan desisan kecil.


"Elvano tunggu, kau mau apa?"


"Aku bilang jangan pergi, kau jangan membuat aku jauh darimu." pinta Elvano menjawab pertanyaan dari Vina tadi.

__ADS_1


DEG….


Mendengar ungkapan dari alvano yang sedang mabuk ini Vina merasa hatinya mulai berdesir. 'Apakah aku tidak salah mendengar? Ya mungkin saja dia bisa mengatakannya sekarang dan besok dia sudah lupa apa yang dia katakan barusan kepadaku. Vina Jangan berharap terlalu tinggi ucapan itu hanyalah pemanis yang bisa berubah menjadi pahit dalam detik itu juga.'


__ADS_2