
TAP...TAP...TAP....
Langkah demi langkah Abel ambil. Berjalan di tengah koridor hotel, pria tampan keturunan campuran dari aisa dan eropa ini, lantas berjalan menghampiri salah satu lift, dan di sana, dia langsung di sapa oleh salah satu pelayan eksklusif nya.
"Tuan, mobil anda sudah ada di depan lobi, dan ini kunci anda," kata pria ini, seraya memberikan kunci mobil.
Abel, dengan memakai pakaian yang cukup biasa, agar tidak begitu menarik perhatian banyak orang saat akan pergi keluar, dia pun mengambil kunci itu dari tangan si pelayan dan segera masuk kedalam lift yang akhirnya datang terbuka.
TINGG...
Sambil menatapnya dengan rasa kagum, karena dia sendiri terpesona dengan wajah tampannya itu, pelayan ini akhirnya menundukkan kepalanya dan berkata : "Hatai-hati di jalan Tuan, semoga perjalanan anda menyenangkan,"
Abel hanya memperhatikan pelayan itu dalam diam, sampai akhirnya pintu lift tertutup, barulah Abel angkat suara : "Menyenangkan? Hm..., itu bisa jadi menyenangkan kau aku bisa segera menemukan wanita itu," gumam Abel, memakai kacamata hitamnya, begitu lift akhirnya sampai di lantai satu, Abel pun keluar dan segera menuju mobil berwarna abu yang sudah di siapkan oleh pihak hotel.
Tentu saja, dengan membayar harga yang cukup mahal, Abel bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan, dan semua itu demi satu tujuannya, yaitu bisa menemukan Verina.
"Aku akan menemukanmu, Elvano," dengan seringaian tipisnya, Abel akhirnya masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya berdasarkan lokasi yang sudah Abel masukkan kedalam gps.
__________
Di siang hari itu, di kediaman dari tempat tinggal baru Vano.
Karena melihat Vina terlihat lebih rapi dari biasanya, pagi itu Vano pun menghampiri perempuan yang sedang memakai sepatunya, dan memang menandakan kalau Vina akan pergi.
"Kau mau pergi?" tanya Vano dengan polos. Dengan penampilannya yang begitu sederhana, dengan satu setel pakaian murah yang sudah membalut tubuh penuh dengan godaan itu, Vano benar-benar seperti pemuda bodoh.
Dan kesan itu di dapatkannya karena pada dasarnya, Vano sama sekali tidak merapikan rambutnya, dan hanya menyisirnya biasa saja.
Jadi penampilannya pun cukup untuk diberikan satu kesan manis yang cukup mendalam, bagi Vina sendiri.
'Kalau dia sedikit merapikan rambutnya dengan minyak rambut, mungkin saja dia akan terlihat begitu dewasa. Tapi, yah..karena aku menyebut kata dewasa, aku jadi penasaran, sebenarnya dia ini umurnya berapa?' namun, begitu Vina terus memperhatikan pria jangkung yang sedang berdiri di sampingnya itu, tiba-tiba kilatan dari memori miliknya soal kejadian beberapa hari lalu, dimana mereka berdua tanpa sengaja jadi saling mendapatkan kesempatan untuk saling menyentuh, muka Vina seketika jadi sedikit memerah. 'Haduh, jangan ketahuan. Jangan sampai ketahuan kalau aku sekarang tiba-tiba saja sedang memikirkan kejadian waktu itu,' pikir Vina.
__ADS_1
Dia dengan berusaha keras, sedang menyembunyikan pikiran nakal nya.
Namun, sebenarnya usaha milik Vina itu cukuplah sia-sia, sebab Vano yang pada dasarnya mampu menilai orang dari penampilan serta sikapnya saja, membuat Vano sudah paham betul.
Apalagi dengan kasus yang sedang di dapatkan oleh Vina ini, tentu, Vano mampu untuk mengetahui kira-kira pikiran macam apa yang sedang berada di dalam otak kecil perempuan ini.
"Kau tidak menjawabku?" tanyanya.
"A-aku, aku mau kondangan," jawab vina dengan gugup.
Suaranya, dan aroma maskulin yang cukup memikat itu memang sungguh, berhasil membuat Vina dalam masalah besar, kalau dia memang lemah terhadap sosok dari Vano ini.
"Kondangan?" salah satu alis Vano pun terangkat, karena dia masih tidak paham dengan maksud dari apa yang di katakan oleh Vina tadi. "Memangnya kondangan tiu apa?"
"Hah? Masa tidak tahu?"
Dengan senyuman simpulnya, Vano pun menjawab : "Kalau aku tahu, aku mana mungkin bertanya padamu," katanya.
"Tapi bisa saja kau sedang pura-pura tidak tahu, ya kan?" tuding Vina, dia memang tidak begitu mempercayai semua yang keluar dari mulutnya Vano itu.
"Lagi pula, kenapa tidak ajak aku?"
Dengan rahang mulai mengeras, Vina pun menjawab : "Jika aku mengajakmu, nanti apa jadinya?!"
"Jadi sepasang kan?" goda Vano dengan senyuman lebarnya.
Tapi respon Vina sendiri, dia langsung menggelengkan kepalanya. 'Kau mau pamer wajah? Tidak, aku tidak mau pergi denganmu, karena jika aku membawamu pergi bersamaku, yang ada aku akan di interogasi oleh temna-temnaku,' pikir Vina.
Dia ingin pergi ke tempat temannya sedang menggelar sebuah acara pernikahan. Namun masalahnya itu, jika dirinya membawa pria ini bersamanya, yang ada Vina akan menjadi bahan perbincangan banyak orang, apalagi nanti sudah ada janjian untuk berangkat bersama dengan teman-temannya.
'Aku sudah mengalaminya, membawa dia bersamaku, dan aku membiarkannya saja. Aku coba menganggap kalau dia adalah pacarku. Tapi yang ada aku justru tidak kuat menahan godaannya. Baik dari godaan dia, maupun pengaruh dari keberadaan dari Vano ini.' Vina pun benar-benar menggelengkan kepalanya, dia sangat tidak mau apa yang sudah pernah terjadi, kembali terjadi, karena kali ini adalah pertemuan yang lebih penting dari pada sebelumnya.
__ADS_1
"Vina, aku ingin sekalian pergi jalan-jalan juga, kau yakin tidak mau membawaku juga? Asal kau tahu, aku sudah bisa naik motor," kata Vano, mulai merayu Vina yang sebenarnya sudah bersiap untuk berangkat.
"Apa?" tanya Vina dengan wajah terkejutnya. "Aku tidak percaya,"
Sebuah senyuman penuh bangga tersungging di bibir seksinya.
_____________
Di pertemuan acara kondangan.
"Vina, pria yang mengantarmu itu, kenapa tidak di bawa kesini sekalian?" bisik temannya Vina, yaitu Intan.
"Kenapa? Dia kan tidak kondangan, lagi pula aku disini hanya sebentar saja," jawab Vina seraya menyeruput air mineral dalam bentuk gelas.
"Cie Vina, dia pacarmu ya? Walaupun maskernya tidak di buka, tapi jelas dia pasti laki-laki yang tampan," kata teman Vina yang lainnya.
"Bukan, dia bukan pacarku, hanya sekedar tetangga saja," sahut Vina, dia mulai panik, karena di dalam hatinya saja, dia sebenarnya ingin menganggap pria yang ada di atas motornya itu adalah kekasihnya.
Tapi, sepertinya semua itu tidak bisa di lakukan, karena mau bagaimanapun, Vina bukan orang yang akan mengambil kesempatan dengan tujuan seperti itu, apalagi terhadap orang yang sedang mengalami Amnesia.
Vina sangat tidak mungkin memanfaatkannya sampai sejauh itu, karena ia tidak mau menanggung beban yang lebih besar dengan pria yang tetap saja dia anggap sebagai sosok yang cukup misterius itu.
"Tetangga atau tetangga khusus?" ledek Intan.
Intan terus senyum-senyum ke arah Vina, karena Vina yang selalu nya suka sendiri dan tidak memiliki minat terhadap apapun, apalagi saat membahas pria di saat mereka rata-rata sudah punya pacar dan Vina masih belum punya pacar, sehingga Vina tidak pernah memiliki ceritanya sendiri, melihat sekarang Vina justru di antar oleh seorang pria bule yang cukup macho itu, jelas itu menjadi suatu berita yang cukup menghebohkan untuk mereka.
"Vin, kenapa tidak jawab? Hayo, jangan-jangan setelah Andrian menikah, selanjutnya giliranmu yang menikah," kata teman dari Vina yang satu lagi, membuat Vina jadi semakin terpojok sendiri dengan ucapan mereka semua.
BLUSH....
"Mbak, kenapa pacarnya tidak di bawa kesini sekalian? Kasihan loh, panasan," kata seorang ibu-ibu, dia yang menjadi Tuan rumah dimana Vina saat ini kondangan ke acara anaknya itu.
__ADS_1
"Iya mbak, masa pacarnya panas-panasan, bawa kesini saja," ucap yang lainnya.
'Haduh! Kenapa jadi seperti ini?! Mau kondangan dengan tenang saja, rasanya sulit. Tuh kan, pada akhirnya aku juga yang dipersulit gara-gara dia.' pikir Vina, dia pada akhirnya menyerah dengan semua kondisi miliknya, yang benar-benar di tuntut untuk membawa Vano untuk masuk kedalam tenda tempat dimana acara dari resepsi pernikahan dair temannya Vina berada.