
"Umph...!" Vina pun mulai memberontak dengan ciuman itu, karena disini dia benar-benar merasa cukup di rugikan oleh pria ini.
GREP...
Namun, lengan yang begitu kuat itu terus menahan di belakang pinggangnya Vina, yang mana hal itu pun membuat Vina tidak mampu untuk menghentikan aksi dari pria ini kalau salah satu kakinya tidak langsung dia injak.
BUAKH...
"Akhh..!" pria yang sebenarnya Abel ini pun akhirnya merintih sakit atas kondisi dari salah satu kakinya yang baru saja di injak oleh Vina.
"Hahaha, pacarnya marah tuh, tapi lumayan, bisa dapat foto yang bagus seperti ini,"
Semua orang pun ada yang tertawa juga ada yang terkejut, sebab Vina yang justru membalas ciuman tadi dengan serangan maut di salah satu kakinya Abel.
'Phuih, kenapa aku bisa-bisanya di cium oleh orang ini? Aku tahu dia punya wajah yang mempesona, tapi kenapa ini harus terjadi kepadaku? Kenapa? Mereka juga sudah mengambil gambar saat aku di cium paksa seperti tadi, pasti tidak lama lagi fotoku akan beredar di medsos,' pikir Vina. Dia sekarang pun jadi merasa cemas, karena akibat dari tindakan spontan yang di lakukan oleh orang asing ini, sekarang dia akan menjadi orang yang cukup Viral, gara-gara ciuman di muka umum secara langsung. "Kau- sebenarnya siapa kau?!" tanya Vina dengan penuh penekanan, seraya menarik tangan dari laki-laki ini untuk pergi menjauh dari keramaian.
Abel yang akhirnya bisa bertemu dengan Vina secara langsung seperti ini, dia pun jadi senang, karena setidaknya dia sudah mendapatkan Vina.
_______________
"Huh? Aku tidak menyangka sudah mulai gelap seperti ini," ucap Vano, begitu dia melihat langit benar-benar sudah mulai memerah, dan jam dinding yang di pajang di salah satu dinding pun menunjukkan pukul enam sore.
Delvin yang mendengar ucapan dari Tuan majikannya itu mengatakan langit sudah sore, dia pun menilik jam tangannya. "Sudah waktunya makan malam, anda mau makan apa? Biar aku yang belikan," kata Delvin, dia pun bangkit dari tempat duduknya, merapikan jaket serta pakaian yang dia kenakan itu, dan bersiap untuk pergi dari sana untuk membeli makanan.
"Entahlah, biasanya Vina yang antarkan makanan untukku," jawab Vano, dia pun menghabiskan biskuit yang ada di dalam toples itu, sehingga perutnya saat ini sudah separuh kenyang.
"Jadi anda benar-benar menumpang tanpa melakukan apapun?" tanya Delvin, ingin tahu kebenarannya.
"Hmm, aku kan belum sembuh, lagi pula aku tidak punya apa-apa," jawab Vano dengan cepat, seraya mencelupkan biskuit itu kedalam air teh dan memakannya.
Delvin yang melihat tingkah dari Bos nya itu, langsung mengernyitkan matanya.
Sikap yang sedang di tunjukkan oleh Vano itu karena dia memang meniru kebiasaan dari Vina yang suka makan biskuit tapi di celupkan ke dalam air.
"Kalau begitu, aku akan mengatur semua keperluan anda juga beserta dengan biaya pengeluaran yang dikeluarkan oleh wanita itu kepada anda, jadi aku harap besok pagi kita berangkat pergi ke korea," kata Delvin seraya mencoba mencari tiket pesawat penerbangan menuju korea.
"Apa? Kenapa aku harus pergi ke korea?"
"Anda perlu perawatan lebih intensif, agar pemulihan tubuh anda lebih cepat dari ini, lagi pula bukankah anda hanya di rawat seadanya saja dari seorang dokter di desa ini?" tebak Delvin.
Seperti seorang pengamat, Delvin pun benar-benar tahu apa yang sudah di lalui oleh Elvan itu memang, selain menjadi seorang yang hidup dalam kesederhanaan, tapi yang lebih penting lagi adalah pengobatan yang di dapatkan oleh majikannya itu kurang bagus, jadi sebisa mungkin Delvin harus segera membawa pergi majikannya itu dari tempat kumuh seperti ini.
__ADS_1
Elvano pun tidak bisa menyangkalnya, memang benar, kalau pengobatan yang dia dapatkan cukuplah sederhana, karena kemungkinan yang paling pasti, tentu saja karena Vina tidak memiliki uang untuk membiayai pengobatannya di rumah sakit besar.
"Iya sih, tapi kau datang kesini pakai apa?" tanya Vano.
"Pakai mobil, tapi mobilnya aku parkirkan di depan rumah orang lain," jawab Delvin, dia pun mengeluarkan amplop di dalam tas yang dia bawa itu, untuk menilik uang yang dia miliki sebanyak apa, karena dia menukarkan uang indonesia, tidak begitu banyak, yaitu hanya dua puluh juta saja.
Elvano yang akhirnya bisa melihat uang banyak dari dalam amplop yang dikeluarkan oleh Delvin, dia pun langsung bangkit dari atas tempat tidurnya, berjalan ke arah Delvin, dia segera menjambret uang milik Delvin ini.
"T-tuan?! Itu-"
"Kau mengatakan kalau kau adalah anak buahku, berarti uangmu juga jadi uangku, ya kan?" tanya Vano, seraya menilik gepokan uang di dalam amplop itu ternyata cukup tebal.
Seketika tatapan dari Delvin pun jadi raut muka yang begitu datar, walaupun Tuan mudanya itu memang hilang ingatan, bukan berarti mempengaruhi perangai yang di miliki oleh Tuan muda kedua ini.
"Itu benar," jawab Delvin, sebenarnya tidak begitu ikhlas memberikan uang miliknya yang sudah di tukar dengan rupiah, sebab dia malas menukarnya lagi sampai harus membuat dirinya menunggu lama di dalam bank.
Tok....Tok...Tok...
Suara pintu pintu pun terdengar, Delvin lantas menoleh ke belakang dan membukakan pintunya, sampai seorang wanita paruh baya sudah berdiri di depan pintu.
"Vano, apa ini temanmu?" tanya Ibunya Vina seraya menatap Delvin dari atas sampai bawah.
Delvin membungkukkan tubuhnya ke depan Ibu nya Vina sambil bersalaman.
"Tinggi sepertimu, ya?" tanya Ibunya Vina, karena jarang-jarang bisa nemu laki-laki yang cukup tinggi seperti dua orang di depannya itu. "Apa kalian berdua sudah lapar? Kebetulan makanannya sudah selesai di masak, jadi ayo sekalian makan malam bersama," ucapnya, memberikan tawaran kepada mereka berdua.
Delvin pun memandang ke arah sang Tuan muda, dengan maksud apakah dirinya harus menerima tawarannya juga?
"Iya, makasih ya Tante, kami berdua akan makan juga," Vano dengan riangnya, justru langsung merangkul lengan Delvin dan membawanya keluar dari rumah kecil itu menuju rumah sebelah.
Hanya saja, ketika mereka berdua pergi masuk kedalam rumah yang di tinggali oleh Vina, Delvin maupun Vano, mereka berdua sama sekali tidak melihat keberadaan dari perempuan tersebut.
"Tante, Vina dimana?" tanya Vano.
"Dia pergi, sore tadi, katanya mau beli martabak manis," jawabnya, sambil mengambil beberapa piring bersih dan sendok, untuk diberikan kepada dua orang tersebut.
Vano pun terdiam, dia sedikit khawatir dengan kepergian dari Vina itu, karena pergi tanpa pamit?
Ya, itu wajar, karena mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apapun, jadi mau Vina pergi kemana, Vano pun tidak harus diberitahu.
Namun, Vano hanya merasa kalau kepergiannya yang tanpa mengatakan apapun kepadanya, seperti karena ingin menghindar.
__ADS_1
'Apa jangan-jangan dia dengar pembicaraan kita beberapa waktu lalu?' tanya Vano dalam hati.
Dia lantas melirik ke arah Delvin yang nampak sedang memperhatikan daging sapi yang di rendang itu, serta tumis kangkung, juga ada sop dengan isian bakso.
"Delvin, sini makan, kau pasti lelah dalam perjalanan kesini kan?" tutur Ayahnya Vina yang sudah makan lebih dulu.
"Iya, terima kasih," kata Delvin dengan keraguan di wajahnya, sebab dia memang baru pertama kali bisa makan di kampung, dan bahkan bukan di rumahnya sendiri, melainkan rumah orang lain seperti ini.
'Berarti apakah Vina sudah pergi sejak lama?' pikiran Vano pun tidak bisa teralihkan dari memikirkan Vina, sebab sudah jam enam sore lebih, tapi Vina bahkan belum pulang.
"Apalagi yang kau lamunkan? Sini makan," perintah ibu nya Vina lagi, karena melihat Vano yang terus melamun.
"Tapi Vina?" sahut Vano.
"Dia nanti juga pulang kok," jawabnya.
"Apa memangnya pernah seperti ini?" tanya Vano lagi, karena dia merasa masih belum percaya.
"Iya, kalau dia berangkatnya sore-sore, kadang memang pulangnya sedikit malam, memangnya ada apa?" tanya Ibunya Vina lagi.
"Tidak, aku hanya khawatir, ini kan sudah mulai malam, tapi dia belum pulang," jawab Vano dengan cepat.
Tapi karena tidak mau membuat kedua orang tua Vina khawatir karena ucapannya, Vano pun mengambil kursi di sebelah Ayahnya Vina, sedangkan Delvin mengambil kursi di sampingnya ibu nya Vina.
Dan malam itu pun, menjadi malam pertama bagi mereka untuk makan bersama seperti sebuah keluarga.
'Jadi Tuan muda makan-makanan seperti ini?' Delvin masih melihat makanan yang ada di depannya persis. Delvin merasa itu memang cukup baru, selain itu Delvin pun benar-benar masih merasa asing dengan suasana di dalam ruang makan itu, sebab walaupun makanannya tidak terlihat mewah, meja dan kursi yang tidak begitu bagus, karena berbanding terbalik dengan rumah milik Delvin sendiri, tapi kesan dari rumah yang cukup hangat itu pun benar-benar berhasil menyentuh hatinya yang paling dalam.
BRRMM.....
Sampai suara kenalpot sepeda motor yang cukup familiar, berhasil menarik perhatian dari Vano, kalau Vina akhirnya pulang.
KLEK...
Tanpa sepatah kata, Vina masuk kedalam rumah lalu meletakkan makanan yang berhasil di belinya.
"Ini martabaknya," kata Vina singkat, sebelum dia pergi masuk kedalam kamar mandi.
Vano yang merasa penasaran itu, segera membuka kotak berisi martabak yang masih panas, tapi tidak dengan kedua orang tuanya Vina serta Vano yang sedang penasaran dengan makanan yang di beli Vina, Delvin justru sedang memperhatikan gerak-gerik dari Vina yang terlihat mencurigakan itu.
'Sepertinya dia baru saja menangis, hmm, ternyata daging sapi ini bisa di buat dengan cara seperti ini. Rempah-rempahnya cukup kuat, dan dagingnya pun cukup empuk.' sempat teralihkan dengan rendang sapi yang baru saja dia cicipi, Delvin pun sudah punya niat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada perempuan tadi, karena dia merasa perlu melakukan sesuatu kepadanya, sebab mau bagaimanapun karena Vina sudah menyelamatkan nyawa dari Tuan muda keduanya, Delvin pun sudah punya inisiatif untuk membalas jasanya itu.
__ADS_1