Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
61 : Perasaan Derita Hati


__ADS_3

Hingga Vina sempat melihat adanya remot di atas nakas yang masih bisa Vina jangkau untuk dia ambil.


Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, Vina pun memencet beberapa tombol yang ada di situ, yang mana awalnya dia mengira kalau itu adalah remot untuk menyalakan televisi, hingga Vina secara sengaja menekan salah satu tombol di remot itu, dan begitu Vina tekan, tiba-tiba saja tirai lebar dan besar yang awalnya menutupi jendela full glass itu, terbuka secara otomatis. 


Dan di saat itulah, Vina langsung membelalakkan matanya, begitu sepasang matanya itu melihat pemandangan paling menakjubkan yang pernah ada, dan itu adalah pemandangan dari bangunan paling bersejarah di paris, menara Eiffel. 


KLEK….


Di saat yang bersamaan pula, Pintu kamarnya pun terbuka dan Vano lah yang tiba-tiba saja masuk dengan membawa nampan berisi beberapa sajian makanan serta jus buah. 


“Waktunya makan malam,” ucap Vano. 


“Kenapa aku bisa ada di sini? Itu menara Eiffel betulan?” saking tidak percaya dengan apa yang Vina lihat itu, dia langsung bertanya kepada Vano sambil menunjuk bangunan yang nampak mencolok itu, karena di malam yang sedang dalam kondisi hujan yang cukup deras, dia masih bisa melihat bangunan itu berdiri dengan megah karena bersanding dengan lampu-lampu yang begitu eksotis memanjakan matanya. 


Vano yang melihat betapa penasaran sekaligus tidak percayanya Vina dengan pemandangan itu, justru meresponnya dengan sebuah senyuman dan berkata : “Jika kau sudah bisa keluar dari rumah sakit, aku akan mengajakmu pergi ke sana.”


“T-tapi itu-” ucapannya langsung terpotong begitu dia melihat bubur yang nampak masih hangat sudah di sodorkan di depannya persis dengan bantuan dari meja portable. ‘Kenapa orang sakit harus makan bubur sih?’ batin Vina, dia pun tidak jadi bicara kepada Vano karena ekspresi dari tatapan mata Vano saja benar-benar memperlihatkan kalau apa yang barusan di tawarkan Vano kepadanya, akan di kabulkan, jika Ashera sendiri benar-benar bisa sembuh dan sudah di izinkan untuk keluar dari rumah sakit. 


“Aku akan pergi membawamu kesana, biar kau bisa melihatnya dengan lebih dekat lagi,” ucapnya lagi. 


“Iya- terima kasih,” jawab Vina dengan malu-malu, karena Vano sungguh, kenapa pria yang bahkan punya jutaan pesona ini datang kepadanya dan memberikan perhatian penuh kepadanya seperti itu?


Hanya saja, saat Vina sudah memegang sendok dan hendak bergerak untuk mengambil bubur yang di bawakan oleh Vano untuknya, tanpa sengaja Vina langsung menjatuhkannya. 


“Akh…” rintih Vina, dan sendok kecil yang bahkan sebenarnya setara untuk mengambil puding itu, akhirnya terjatuh juga. 

__ADS_1


KLANG….


Tangannya begitu gemetar, dan untuk menggerakkan jarinya saja saat itu, dia sangat kesakitan, berbanding saat tadi dirinya memegang remot, rasa sakit itu benar-benar cukup menyiksa. 


“Seharusnya aku lebih peka,” kata Vano, dia mengambil sendok yang sempat terjatuh ke atas meja, dan segera mengelapnya dengan tisu, sampai akhirnya Vano lah yang menyuapi Vina bubur itu. 


Vina awalnya ragu, karena di suapi oleh pria yang dia anggap masih saja asing, sekalipun dia tahu pria ini siapa. 


“Ahhh.”


“Aku bisa makan sendiri,” sela Vina.


“Tapi kau bahkan sudah menjatuhkan sendok ini, kenapa kau begitu keras kepala? Tinggal A, buka mulutmu,” bujuk Vano sekali lagi, membuat vina benar-benar cukup malu dengan sikap yang di tunjukkan Vano kepadanya. 


“Nyamm…, ke-kenapa ini sangat enak? Biasanya bubur kan hanya hambar dan sedikit asin saja?” tanya Vina dengan raut muka sedih. 


Baginya ini pertama kalinya bisa merasakan bubur dengan varian rasa daging yang cukup nendang di dalam mulutnya. Bahkan sampai ada sayuran yang terasa juga, Vina pun tidak bisa berkata apapun lagi atas rasa bubur yang di bawakan oleh Vano kepadanya. 


“Apa ini pertama kalinya untukmu?” tanya Vano dengan nada lembut. 


Vina yang merasa kesepian karena entah bagaimana bisa berada di negeri asing. Meskipun dirinya saat ini benar-benar di temani oleh Vano, tapi merasakan kehangatan yang bisa dia rasakan setelah sekian lama tidak Vina rasakan selama dalam posisi penyekapan, hal tersebut pun membuat Vina tanpa sadar langsung tersentuh sendiri. 


Dia menundukkan kepalanya dan menangis dengan sesenggukan sambil menjawab : “Iya,”  sebagai kalimat kalau dirinya memang sungguh merasakan rasa yang begitu nikmat setelah selama ini mulutnya tidak mendapatkan asupan makanan yang benar-benar di anggap sebagai nutrisi untuk tubuhnya. 


Maka dari itu, tubuh Vina pun benar-benar dalam kondisi berat badan yang bisa di anggap begitu kurus, karena hanya berbobot kurang dari empat puluh saja. 

__ADS_1


“Hiks, ma-maaf, maaf aku menangis di depanmu,” kata Vina, dia merasa malu serta bersalah karena menangis di hadapan Vano seperti itu. 


Vano yang hendak angkat bicara itu pun, langsung terjerat dengan tangisan Vina yang mana tangisannya saja benar-benar begitu sesenggukan, seolah benar, ya…, Vina menderita karenanya. 


Satu minggu di kurung, dan sepuluh hari dalam kondisi tertidur, betapa beratnya situasi yang dimiliki Vina ini, karena harus menerima kenyataan pahit kalau dia ada di negeri yang sangat asing, dan tidak kenal siapapun bahkan tidak bisa mengerti apapun yang semua orang katakan kepada Vina.


Siapa yang akan tahan di situasi seperti itu selain harus percaya pada diri sendiri untuk terus bertahan, agar setidaknya bisa hidup?


Tapi, bahkan sampai detik Vina sudah berhasil Vano selamatkan, ujung-ujungnya, Vano pun diselamatkan kembali oleh Vina. 


Vano, dalam dadanya yang begitu terasa sesak melihat Vina menagis seperti itu, dia pun hanya bisa diam dan menaruh kembali sendok itu di atas mangkuk bubur sambil menunggu Vina untuk menangis sampai hati Vina merasa baikkan. 


“Hiks, hiks…, maaf, entah kenapa aku tidak bisa mengen-hiks dalikan tang hiks, tangisanku ini.” ucap Vina dengan suara paraunya, karena harus menahan diri agar tangisannya tidak pecah seperti anak kecil yang menangis kejer karena permintaannya tidak di kabulkan. 


Vina sungguh merasa cukup malu, tapi sayangnya tubuh, hati, dan mentalnya itu akhirnya tidak bisa di ajak kerja sama, sehingga pada akhirnya Vina pun dengan sendirinya tangisannya pun pecah juga. 


“Vina-” Vano yang tidak tega hanya menontonnya saja, dia segera berdiri dan memeluk Vina dalam dekapannya yang paling hangat itu. 


Vina yang tiba-tiba saja mendapatkan pelukan itu, seketika langsung merespon pelukannya itu dan akhirnya tangisannya bertambah keras, sampai air matanya itu membasahi baju pasien yang sengaja Vano pakai, agar dia tidak terkesan seperti orang yang peduli dengan penampilan, apalagi statusnya dirinya juga masih jadi seorang pasien juga, karena harus memulihkan tubuhnya juga. 


Bisa mendekap tubuh Vina yang benar-benar kurus itu, serta nampak sangat rapuh, Vano pun sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan melindungi Vina dalam berbagai kondisi, entah dalam keadaan apapun. 


‘Sebagai balasanmu karena sudah menyelamatkanku, sudah sepantasnya aku juga melindungimu dari segala macam hal. Walaupun ini terkesan terlambat, tapi setidaknya aku masih diberikan kesempatan oleh Tuhan kalau kau masih di berikan kehidupan agar aku bisa menebus jasa yang sudah kau perlihatkan kepadaku, Vina.’ pikir Vano sambil mengusap ujung kepalanya Vina. 


__ADS_1


__ADS_2