
"Kalian berdua, sudah saya bilang agar kurang dari jam dua belas, untuk kembali ke sini. Tapi lihatlah, sekarang Nona Vina jadi seperti ini, kan?" tegur dokter ini kepada Elvano juga Vina.
Elvano yang salah, lantas terdiam. Dia sama sekali tidak mau adu debat dengan dokter pribadinya itu, yaitu Jason.
"Jadi kondisinya bagaimana?" tanya Elvano, dia tidak mau menggubris ucapan dari dokter tersebut.
Dokter ini menghela nafas sejenak, menyiapkan mentalnya dalam bicara dengan Tuan muda nya itu.
"Sebenarnya lukanya itu sudah hampir sembuh. Tapi karena apa yang terjadi tadi, membuat lukanya kembali terbuka. Kalau seperti ini, demi kesembuhan Nona, saya sarankan untuk tidak mengajaknya keluar lagi.
Ingatlah Tuan-" Dokter Jason pun memberikan sebuah kode dengan menunjuk ke arah lantai, yang artinya pekerjaan dari Elvano sebenarnya akan benar-benar mempengaruhi orang di sekitarnya.
Misalnya saja sekarang ini. Karena ada dua kubu yang sedang memperebutkan sekaligus mempertahankan tahta, maka tidak jarang kalau hal tersebut akan membuat orang-orang di sekitarnya akan ikutan terlibat, dan salah satunya adalah pertengkaran antara dua saudara kali ini.
Walaupun untuk Elvano yang kehilangan ingatan itu membuat Elvano sendiri tidak merasa kalau dirinya itu punya pekerjaan gelap, tapi tetap saja Elvano pun akan terus kepikiran.
"Vina, maafkan aku. Hahh..., aku tidak bisa menjaganya. Dia jadi terluka lagi karenaku," Elvano yang sudah berusaha untuk menjaga Vina, jadi merasa bersalah.
Disini, Elvano lah yang mengajak Vina pergi keluar, dan di sini pula yang membuat Vina kembali terluka adalah dirinya juga.
"Ini bukan salah anda, saya hanya memberikan peringatan saja, kalau di luar sana ada banyak bahaya yang mengintai.
Ingat? Di sini saja sudah banyak kejadian yang sudah berhasil di gagalkan, jadi sebaiknya itu jadi contoh untuk anda, agar ke depannya anda lebih berhati-hati lagi." penjelasan dari Dokter Jason pun membuat Elvano jadi paham betul, kalau sekarang dia setidaknya harus menahan dirinya sendiri untuk tidak terburu-buru membawa Vina keluar dengan alasan kasihan atau simpati, karena sudah di rumah sakit hampir setengah bulan lamanya.
"Aku mengerti. Aku sadar kalau aku salah. Tapi dia tidak apa-apa kan?" melirik ke arah Vina yang sudah terbaring, tapi dalam posisi miring.
"Saya hanya memberikan obat bius, jadi dia hanya tertidur saja. Nanti sore juga pasti bangun," jawabnya. "Karena pengobatannya sudah selesai, saya pergi dulu,"
KLEK...
Elvano kemudian berbalik dan berjalan mendekat ke arah Vina, dia tatap selama beberapa waktu, sebelum Vano kembali ke tempat tidurnya.
Di sana dia membuka pakaiannya, dan akhirnya memperlihatkan beberapa luka di bagian tubuhnya yang sudah mulai membaik. Tapi ternyata sekarang dirinya jadi punya luka lebam di bagian lengan tangan kanannya, berkat menahan kepalanya Vina tadi.
'Ternyata dia berulah lagi. Masih belum kapok dengan kejadian terakhir ya.
Hahh, dia memang kakak tapi orang yang cukup menyebalkan. Apalagi Abel, seharusnya dia lebih memilih orang sepertiku, tapi dia malah pilih kakakku sendiri. Sebenarnya apa yang ada di dalam kepala anak itu?' Elvano sangat bingung. Abel sebenarnya setara dengan Delvin, tapi yang membuatnya merasa aneh adalah kenapa orang seperti Abel malah lebih memilih bekerja di bawah kakinya Arthur?
__ADS_1
DRRTT...
DRRTTT....
Melihat ponselnya bergetar, Elvano pun langsung mengambilnya dari atas nakas, dan mengangkat si penelpon tersebut seraya berjalan ke arah jendela full glass yang mengarah ke arah taman, belakang rumah sakit tersebut.
"Delvin, apa kau sudah menemukan bukti terkait insiden ini?"
-"Sudah. Dari polisi, mereka mengatakan kalau supir ini mabuk, karena di dalam tubuhnya mengandung banyak alkohol yang belum lama di minum, serta beberapa sempel botol di dalam mobil. Tapi setelah di telusuri, yang salah itu bukan orangnya, melainkan mobilnya.
Saya menemukan lempengan IC didalam badan mobil. Ini artinya mobilnya di kendalikan dari jarak jauh."-
"Walaupun tebakanku sedikit melenceng, tapi pada akhirnya dalangnya juga pasti dia." jawab Elvano selepas menyimak penjelasan dari Delvin ini.
-"Jadi sekarang anda ingin saya melakukan apa?'-
"Kau fokus saja pada strategi pencegahan, dan kumpulkan tambahan beberapa anak buahmu untuk di tempatkan di rumah sakit ini. Kami berdua akan lebih fokus pada pemulihan lebih dulu, itu lebih baik ketimbang harus bekerja di bawah tekanan rasa sakit." kata Vano dengan menurunkan titah kepada Delvin.
-"Baik Tuan, saya akan menempatkan dua puluh orang di sana. Dan saya pastikan kalau anda bahkan tidak mengenal wajah-wajah mereka."-
"Hei, kau jadi anak buah keterlaluan juga ya? Tapi ya terserahmu saja, yang penting perketat keamanan di sini. Tidak aman, potong gaji." ancam Vano.
"Ya sudah, sana lakukan pekerjaanmu, aku mau istirahat dulu." setelah selesai bicara, Elvano langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Hanya saja, di samping Elvano sedang naik ke atas tempat tidur tanpa memakai pakaiannya, karena merasa sumuk, Vina yang sebenarnya masih bisa mendengar Elvano seperti baru saja menyuruh seseorang, hanya bisa diam dan menyimak saja.
'Delvin? Sebenarnya Elvano membahas soal apa? Dia punya anak buah? Apa itu artinya Delvin yang tadi Elvano panggil? Aku ingin tahu sebenarnya apa yang di bicarakan oleh mereka berdua. Tapi sepertinya itu tidak bisa. Obat bius ini, ternyata hanya membuatku mengantuk dan tidur saja, tanpa membuat rasa sakitku menghilang.
Licik, kenapa ku terus mendapatkan rasa sengsara ini ketimbang orang lain ya?' Vina yang sudah terkena obat bius itu pun hanya bisa diam saja.
_____________
PIPP------------
"Vina! Vin, bangun Vin! Kau jangan seperti ini! Kau itu masih punya keluarga di rumah yang akan terus menunggumu! Vina! Vina!" teriakan milik Elvano pun terus mengisi ketegangan di dalam kamar inap tersebut
Dan Elvano sendiri terus berteriak, memohon kepada seorang perempuan yang kini terbaring di atas ranjang pasien, dan kini ranjang tersebut sedang di hampiri oleh tiga orang suster dan satu dokter.
__ADS_1
"Naikkan lagi-" perintah dokter tersebut.
"Baik dok," suster ini pun menaikkan tegangan listrik pada alat pacu jantung yang di gunakan oleh dokter tersebut, untuk memacu jantung milik Vina yang berhenti, dan membuat monitor pengukur detak jantung itu, malah memperlihatkan garis hijau, merah yang begitu panjang.
"Jason! Kau harus menyelamatkannya! Jika bukan karena dia, aku juga tidak mungkin masih bisa hidup sampai detik ini!" racau Vano, tetap mencoba untuk mendesak dokter pribadinya itu untuk melakukan pekerjaan yang baik.
PIPP.-----------
Suara yang begitu menakutkan, terus terdengar.
Memang sangat mengganggu, tapi jika tidak ada itu, maka tidak tahu akan keajaiban macam apa yang akan datang pada Vina yang sedang dalam kondisi kritis itu.
BUKH....
Dada Vina pun langsung di pacu, tapi hasilnya masih sama.
BUKH....
Percobaan ketiga pun tetap tidak kunjung dapat, dan hal tersebut, membuat Elvano jadi semakin diam, dan diam.
Tapi sampai percobaan ke enam sekalipun, hasilnya sama.
PIP------------
"Jason! Dia harus hidup!" teriak Elvano kepada Jason, selaku dokternya.
"Maaf Tuan, saya sudah berusaha semampu kami untuk menyelamatkannya. Tapi-"
Mendengar kalimat yang begitu sangat berat, Elvano langsung berteriak, "Tidak! Vina!"
Elvano yang sedari tadi menjaga jarak dari tempat dimana Vina sedang ditangani oleh dokter tersebut, akhirnya sekarang dia berlari dan menghampiri Vina dengan wajah memelas, berharap kalau Vina bisa bangun. Tapi meskipun dirinya sudah memanggil namanya dengan begitu lantang, hasilnya rupanya hanya tinggal kenangan saja.
"Vin, Vina! Kau harus bangun Vina!"
__________
"Vina!" teriak Elvano dalam tidurnya.
__ADS_1
"Hah iya?! Apa!" dan teriakan di balas teriakan oleh si empu, membuat Elvano yang tadinya tertidur, seketika jadi bangun dan merubah posisinya jadi duduk, lalu menatap wajah Vina yang terlihat terkejut itu.