Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
79 : Pemberesan


__ADS_3

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada urusan lain?" tanya Vina, dia pun jadinya adu tatap dengan suster tersebut.


Tapi dengan senyuman simpul yang tiba-tiba saja mengembang, suster gadungan ini pun tiba-tiba saja mengeluarkan sesuatu dari salah satu saku baju seragamnya.


'Dia mau mengeluarkan apa?' pikirnya.


KLEK....


Dan tibalah saatnya, dimana Dokter Jason pun datang juga.


Walaupun umur dari Dokter Jason terbilang sudah tidak muda lagi, namun wajahnya tetap saja menyiratkan pria tampan yang sudah jadi seorang ayah.


'Duda- Eh? Kenap aku malah punya pikiran seperti itu? Ya ampun, isi kepalaku benar-benar nakal semua.' Vina langsung memejamkan matanya, karena merasa kalau isi pikirannya selalu saja kotor.


"Oh, kau disini. Aku dari tadi mencarimu," kata Jason kepada suster tersebut.


Suster gadungan ini pun langsung menoleh ke belakang. "Ada apa ya dok?" tanyanya.


"Sebentar lagi akan ada operasi selanjutnya, aku ingin kau yang menemaniku jadi asistenku. Nona Vina, saya boleh meminjamnya kan?" satu pertanyaan di akhir ucapannya itu pun langsung di tunjukkan kepada Vina.


"Oh, silahkan. Aku tidak masalah, dia pasti punya banyak pekerjaan juga selain menemaniku kan?"


"Terima kasih atas pengertian anda Nona," dokter Jason pun membalasnya dengan senyuman tulus, membuat Vina tanpa sadar hatinya jadi meleleh.


'Dia memang cocok ya, jadi dokter. Pakaiannya rapi dan apalagi perannya adalah jadi seorang malaikat. Apakah aku harus bersyukur karena aku bisa ada di sini, dan bahkan aku juga di rawat oleh dia juga.' pikirnya.


"Tapi dok, saya belum melihat Nona makan, saya har-"


"Akan ada yang datang menemani menggantikanmu, tidak usah khawatir seperti itu, ayo, sekarang sudah hampir waktunya." jelas Jason membuat alasan yang tidak bisa di sangkal oleh suster gadungan ini, sebab mau bagaimanapun peran dari seorang perawat itu kan memang harus melayani masyarakat yang sedang sekarat, makannya dia pun tidak bisa menolaknya. "Nona, kami berdua permisi dulu." katanya, sebelum dia akhirnya membawa si penyusup itu keluar dengan sempurna.


"Iya, semoga operasinya lancar ya?" ucap Vina, memberikan doa dan dukungan kepada dokter Jason.


Dan Jason sendiri hanya tersenyum seraya menutup pintu kamar tersebut.


KLEK....


'Kenapa aku jadi bisa terjebak disini? Tugasku kan hanya memberikannya makan racun yang sudah aku bawa ini. Tapi aku harus apa tadi? Ikutan masuk dalam ruang operasi? Itu kan bukan keahlinku.' pikir perempuan ini, dia pun jadi cemas, kalau dirinya ketahuan, bahwa ia bukanlah orang yang sama dengan perempuan yang sudah dia kurung di dalam locker.


GREP....


Baru juga keluar, tiba-tiba saja kedua bahunya langsung di cengkram kuat oleh anak buah Delvin yang menyamar menjadi scurity.


Sedangkan dokter Jason, dia pun mengambil alat pendeteksi logam yang sempat dia bawa dan dia taruh di lantai.

__ADS_1


PIP..PIP..PIP...


Memberikan kode kepada anak buahnya Delvin, kalau ada barang yang di bawa oleh perempuan yang menyamar menjadi suster, scurity tersebut pun langsung menggeledah tubuh dari perempuan tersebut.


"Apa ya-" dan di saat itu juga, suster tersebut pun langsung mendapatkan suntikan obat bius dari Jason.


Dengan pergerakan mereka yang bekerja sama dengan mulus, mereka pun akhirnya bisa menangkap si pembuat masalah ini dengan sangat baik.


"Dapat." scurity ini mengeluarkan handphone, kalung yang memiliki alat pelacak, bahkan racun yang tersimpan di dalam kantong seragam.


Kebetulan ada kursi roda yang nganggur, mereka berdua pun langsung menempatkannya ke kursi roda tersebut dan membawanya pergi.


"Semoga sukses." bisik bodyguardnya Vina sambil memberikan salam hormat dua jadi kepada mereka berdua.


Mereka berdua pun membalas hormat itu dengan cara yang sama juga, dan akhirnya mereka berhasil membawanya pergi.


Dan seorang OB yang sedang berseluncur menggunakan sepatu roda itu, terlihat membawa sebuah nampan dengan satu mangkuk di atasnya.


"Ini, aku sudah mendapatkannya." kata OB ini.


"Bagus, kau bisa kembali ke tempatmu semula," kata pria ini, lalu dia pun membawanya masuk kedalam kamarnya Vina.


KLEK....


"Nona, seperti yang saya janjikan, ini sup dan makanan dari kakak saya yang tidak bisa saya makan, karena saya sendiri memang sedang tidak berselera untuk makan makanan ini." tutur pria ini kepada Vina.


Begitu sudah masuk, rantang dan sup yang sudah dia bawa itu, dia letakkan di atas meja makan yang ada di depannya Nona Vina.


Begitu di buka, seketika itu juga semerbak aroma wangi masakan rumahan, membuat Vian jadi benar-benar sangat kelaparan.


"Padahal ini terlihat sangat enak, kenapa tidak mau makan yang seperti ini sih? Kan bagus untuk tubuh." kata Vina.


Setelah dirinya mendapatkan kecelakaan dan mengalami tidur panjang selama sepuluh harian, dia pun secara spontan bisa mengerti bahasa mereka, entah itu bahasa inggris ataupun bahasa asli perancis.


Sangat aneh, tapi bagi Vina sendiri juga menakjubkan, karena itu adalah anugerah dari Tuhan yang tidak dia sangka.


"Tidak, saya kan sudah bilang, saya tidak bisa makan sayur yang terlihat pahit itu, dan setiap saya mencobanya, rasanya ingin muntah."


"Pahit?" Vina yang penasaran dengan masakan dari kakak dari laki-laki ini, dia pun mencoba untuk mencicipinya lebih dulu. "Enak begini, kenapa kau menganggap sayuran ini pahit?" Vina tiba-tiba saja jadi langsung terharu, karena makanan yang dibawakan oleh tetangganya ini justru sangat enak. "Kalau kau bersyukur, apa yang kau makan pasti akan jadi enak, tap ini sangat enak, apakah kakakmu itu koki? Rasanya memang menendang di mulutku ini." ungkap Vina dengan semua rasa yang sudah dia dapatkan dari sesuap tumis kangkung.


"Tidak, kakak saya bukan koki sih, tapi kakak saya ini justru hanya bekerja sebagai ayah rumah tangga." jawabnya dengan sangat lugas.


JDER....

__ADS_1


"Ha? Ayah rumah tangga?" Vina langsung melongo dengan jawaban tadi.


"Iya lah, kan ada Ibu rumah tangga, maka kakak saya ini adalah ayah rumah tangga."


"Berarti sudah menikah namun menjadi orang yang menggantikan Istri ya?" terka Vina.


"Iya."


'Ada juga ya yang seperti itu. Tapi beruntung juga ya, kalau ternyata kakaknya itu bisa masak seenak ini. Kalau membuka restoran pasti laku, apalagi kalau ada di desaku, pasti banyak orang yang datang.


Orang ini saja lumayan tampan, bagaimana dengan kakaknya ya? Kenapa aku jadi orang yang terus saja penasaran dengan orang lain ya? Sudah-sudah, aku harus sarapan Karena ini enak, aku sepertinya akan makan lebih banyak. Apalagi aku beberapa hari ini masih belum bisa makan dengan benar.' batin Vina, dia pun kembali mencoba memakan sesuap nasi bersama dengan lauk ikan dan dadar gulung.


"Karena saya sudah memberikan punya saya, saya akan kembali ke kamar saya."


"Eh tunggu, kenapa tidak makan bersama saja? Seringnya kalau makan bersama, akan jauh lebih enak. Jadi, mungkin saja kau akan suka dengan sayuran jika kita berdua mak-" terlalu bersemangat dalam mengajak orang ini untuk bicara panjang lebar, Vina pun jadi punya kesan kalau dirinya punya niat terselubung dalam menawarinya untuk makan bersama. "Ma-maksudku, aku tidak mungkin bisa menghabiskan semua ini, akan lebih baik jika bisa membantuku menghabiskannya, agar tidak mubazir." ralat Vina.


Bodyguard Vina ini pun langsung tersenyum simpul dengan ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh Nona Vina kepadanya cukuplah lucu, karena mengira ucapan pertamanya tadi adalah sebuah ajakan yang punya motif lain, tapi tiba-tia saja langsung di ralat dengan kalimat lain, membuatnya jadi merasa ada yang menggelitik di hatinya.


"Iya, saya tahu maksud anda. Tapi itu boleh di coba juga, karena selama ini saya terbiasa makan sendirian, jadi mungkin saja itu ada pengaruhnya dengan indera pengecap milik saya. Kalau begitu permisi ya." sahut pria ini, dia pun langsung menarik kursi kosong yang terletak di samping nakas, dan kemudian duduk di samping kanannya Nona Vina.


Karena ada dua sendok dan garpu, karena punya dua seri makanan yang berbeda, maka mereka berdua pun mencobanya bersama-sama.


"Coba wortel ini," memberikan wortel di atas sendok dari tetangganya itu. "Makan saja satu-satu. Atau jika masih saja terasa kurang enak, lebih baik tutup dengan setengah sendok nasi. Rasanya akan lebih berbeda." kata Vina, mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya tidak perlu di jelaskan lagi, sebab pria itu kesehariannya juga sama, makan dengan sayuran, daging, nasi, dan di tutup dengan makan buah-buahan, karena itulah rutinitas untuk memenuhi nutrisi pada tubuhnya agar bisa menjaga stamina.


Namun, karena disini yang menemaninya adalah orang asing yang harus dia jaga, dia pun tidak mempermasalahkannya, dan bahkan dia anggap sebagai hiburan, karena tingkahnya yang cukup lucu.


"Nyamm..." mencoba memasukkan suapan ke tiga yang sudah di campur dengan nasi putih.


"Nyam, ehmm..ini sangat enak, aku jadi rindu masakan mama aku. Kalau aku sudah bisa banyak bergerak, aku juga inginnya masak sendiri. Kan lebih enak kan ya, jika masak sendiri dan di makan sendiri."


"Benar, saya juga sering masak sendiri kok. Dan memang lebih nikmat, dan masakan kakak saya juga tidak kalah enak dengan yang ada di restoran." ungkapnya.


Vina yang akhirnya punya teman untuk bicara itu pun jadi tertawa geli. "Tapi aku belum tahu namamu, aku Verina, mereka memanggilku Vina." Vina pun mencoba berjabat tangan kepada pria itu.


Merasa asing karena kenalan sambil berjabat tangan, pria ini pun sempat bingung, tapi dia tetap harus membuat keputusan yang cepat.


"Jefron." jawabnya. "Dan anda bisa panggil saya Jef."


"Anu-"


'Anu? Bahasa apa itu?' Jefron tiba-tiba saja jadi bingung, karena mendengar kata anu.


"Kau bisa bicara informal denganku. Lagian aku lebih leluasa jika bisa sama-sama bicara santai." pinta Vina.

__ADS_1


'Oh, maksudnya begitu ya? Tapi jika aku melakukannya, akulah yang akan kena batunya oleh Tuan muda Elvano.' Namun karena Nona Vina sendiri adalah orang yang akan leluasa bicara dengannya jika dirinya bicara informal, dan mencoba untuk tidak membuat Nona Vina ini curiga, dia pun mencobanya. 'Baiklah, aku akan bertaruh, lakukan menjelaskannya kepada Tuan muda nanti, agar tidak ada kesalahpahaman. Lagi pula Tuan muda kan baik hati, semoga kebaikan hati itu masih ada di dalam tubuhnya, meskipun Tuan muda hilang ingatan.'


Bertaruh dalam keputusannya sendiri, Jef pun mengiyakannya.


__ADS_2