Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Saingan Jalanan


__ADS_3

TAP...TAP...TAP...


"Kenapa kita buru-buru sekali sih?" Vina bertanya dengan situasi yang membuatnya jadi lumayan kewalahan dengan kebiasaan Delvin yang suka bergerak cepat.


"Seharusnya kita itu tidak berhenti bergerak seperti ini untuk mendengar semua keluhanmu tadi," sahut Delvin.


Karena Vira keseleo, beban berat yang harus di tanggung oleh Delvin pun jadi semakin besar, karena dia harus menggendong tubuhnya Vina.


'Bukannya kau dulu yang membuatku jadi orang yang paling penasaran? Lagi-lagi aku di salahkan, apakah aku ini memang benar-benar sangat merepotkannya?


Yah, mau di pikirkan pun aku sedang merepotkan dia, gara-gara aku, aku jadinya harus di gendong olehnya.' Vina yang sebenarnya tidak enak hati, hanya berekspresi wajah masam, dan berusaha untuk memeluk Delvin dari belakang dengan kuat, sebab pria yang sedang menggendong tubuhnya ini benar-benar seperti bukan manusia biasa.


Dari luar, Delvin memang tampak seperti orang kurus, dan terlihat biasa-biasa saja. Tapi jangan salah dengan penampilan luar yang memanipulasi matanya, sebab Vina benar-benar merasakan otot tubuh Delvin, di balik pakaiannya itu.


"Apa jika aku mati, semuanya akan berakhir?" tiba-tiba saja Vina malah bertanya demikian kepada Delvin yang begitu sensitif jika berkaitan dengan kata mati.


Delvin yang langsung terpancing dengan kalimat mati yang keluar dari mulutnya Vina, langsung mencubit pan*at nya Vina.


'Akhh! Dia mesum juga, malah mencubit pant*at aku.' merasa tersinggung dengan sikapnya Delvin yang tidak tanggung-tanggung itu.


"Walaupun kau mati, itu tidak membuat semua masalah yang dimiliki Tuanku berakhir," akhirnya Delvin pun menjawab ucapannya Vina yang sangat menyinggung kesehariannya Delvin yang selalu berkaitan dengan nyawa.


"Kenapa?" tanyanya lagi, dia benar-benar cukup penasaran dengan maksud dari tujuannya Delvin ini.


Delvin sempat menjeling ke arah samping kanan, memproses apakah dia harus menjawab pertanyaannya Vina itu atau tidak.


"Ingat, tidak perlu memberitahu kalau pekerjaanku ini seorang mafia. Bahkan setelah aku tahu, kalau aku ternyata adalah seorang mafia, aku pun langsung mengerti kalau pekerjaanku ini tidak ada baiknya untuk di dengar oleh Vina.


Kau bisa mengungkapkan aku ini adalah Tuanmu, tapi tidak dengan pekerjaanku."


Teringat dengan ucapan dari Tuan muda Elvano beberapa hari lalu, Delvin pun akhirnya menutup mulutnya rapat-rapat, untuk tidak memberitahukan identitas sebenarnya sang Tuan muda kedua.


'Baik Tuan muda maupun wanita ini, kalian berdua memang sama-sama merepotkan.' kata hati Delvin, lalu menjawab, "Ini bukan sesuatu yang pantas kau ketahui, lagi pula pada akhirnya kau tidak akan pernah bisa membantunya, jadi apa apa gunanya menjawab rasa penasaranmu itu?"

__ADS_1


'D-dia benar. Sebaiknya aku tidak perlu tahu, karena jika aku tahu permasalahan apa yang Elvano hadapi sekarang, itu tidak akan gunanya untukku, karena aku tidak bisa membantunya. Benar, sebaiknya aku menuruti apapun yang dia katakan.' sadar diri dengan posisinya sendiri, Vina pun terdiam dan tersenyum getir. "Aku tidak akan tanya lagi." katanya, sambil mengusap ujung kepalanya Delvin. "Tapi terima kasih, karena meskipun kau secara terang-terangan tidak suka aku, kau masih mau menolongku sampai detik ini."


Lantas, usapan kepala yang dilakukan oleh Vina kepada Delvin, membuat Delvin terperangah, "K-kau, kenapa kau mengusap kepalaku?!" tanya Delvin dengan tegas.


"Maaf, tapi aku ini sebenarnya suka mengusap kepala laki-laki, ada sensasi yang tidak bisa aku katakan." jelas Vina, masih mengusap kepalanya Delvin dengan perasaan gemas. "Rambutmu lembut ya? Tidak seperti aku. Entah sampai kapan rontokku akan hilang, apakah sampai aku menjadi botak, atau apa, aku bahkan sama sekali tidak tahu."


Sampai di tengah-tengah mereka berdua sedang mengungkapkan rasa perasaan mereka masing-masing dalam mengartikan sikap yang di lakukannya, tiba-tiba saja ada dua orang pelayan yang menghampirinya.


"Hahh. Tuan! Tunggu!" salah satu dari mereka berteriak, dan menyusul Delvin juga Vina.


"Mereka-" Delvin tidak bisa berkata apapun lagi, melihat kedua anak buahnya sedang berlari ke arahnya?


Vina khawatir, kalau orang itu adalah seorang musuh, tapi melihat ekspresi wajah Delvin yang tampak tenang, Vina pun akhirnya mencoba yakin kalau orang tersebut memang kenal dekat dengan Delvin.


Bahkan sampai menyebut Delvin Tuan?


Vina sama sekali tidak percaya, bahwa banyak orang di sekitarnya yang kemungkinan besar di panggil Tuan.


'Padahal dia sudah punya Tuan, tapi bahkan mereka juga memanggil Delvin ini Tuan? Orang luar negeri memang hebat-hebat ya?' pikir Vina, dia pun jadi merasa iri dengan mereka-mereka yang tampak bisa sukses.


"Ada apa?" tanya Delvin dengan singkat, tepat di saat mereka berdua akhirnya bisa menyusulnya.


Meskipun begitu, Delvin melihat betapa kedua anak buahnya itu bekerja keras demi bisa mencari keberadaannya.


"Hah, hah, akhirnya bisa menemukan anda. I-ini, ini kunci untuk mobil untuk anda, bawa Nona Vina pergi sesuai dengan apa yang sudah di siapkan oleh Tuan muda," jawabnya, seraya memberikan kunci mobil kepada Delvin.


Tapi karena Delvin sekarang sedang menggendong Vina, Vina lah yang memegang kunci mobil itu sendiri.


"Apa ini saja?" tanyanya.


Mereka berdua langsung mengangguk.


Delvin yang sudah mengerti dengan rencana lanjutan yang sudah di persiapkan oleh sang Tuan muda, pada akhirnya langsung pergi dari sana.

__ADS_1


___________


Tempat parkir bawah tanah.


"Tekan tombolnya, kita harus cari mobilnya," pinta Delvin, karena Vina lah yang memegang kunci mobilnya.


TITT...


Mobil sedan berwarna hitam pun menjadi pilihan mereka untuk Delvin gunakan sebagai sarana pelarian mereka berdua.


"Kita mau pergi kemana lagi?"


"Tempat yang jauh, setidaknya bisa membuatmu bersembunyi dengan baik dari mereka yang ingin mengincarmu," jawabnya dengan begitu lugas.


Vina mengangguk paham, sekalipun dia jadi merasa kurang enak melihat Delvin yang tampak begitu bekerja keras dalam misinya, untuk melindunginya dari para penjahat yang benar-benar mengincar nyawa Vina.


'Dia sampai membawaku seperti ini, sepertinya memang benar-benar cukup berbahaya.


'Bagaimana caraku untuk berterima kasih kepadanya? Walaupun itu perintah dari Elvano, tapi aku tatap merasa bersalah dan jadinya aku cukup menanggung beban yang cukup berat.


Apa yang bisa aku berikan kepadanya? Pekerjaannya ternyata cukup berat, dia sangat antusias sekali menolongku.' Vina benar-benar merasa cukup bersalah, tapi dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menebus Delvin yang mau menolongnya.


"Kenapa kau menatapku?" tanya Delvin, dan pertanyaannya itu pun membuat Vina langsung tersadar dari lamunannya sendiri. "Apa sebegitu tampannya aku, sampai kau pun terpesona dengan wajah seperti ini?"


"Eh? Wajah seperti ini apa maksudnya? Tampan seperti itu, jelas aku terpesona?"


Ups, Vina tanpa sengaja jadi mendorong dirinya sendiri untuk menjadi orang yang tidak tahu malu.


"Apa itu pujian?"


Vina yang masih menutup mulutnya sendiri karena dia sangat malu dengan ucapannya sendiri itu, hanya mengangguk.


Tanpa ekspresi wajah yang terlihat seperti orang yang sedang senang mendapatkan pujian, Delvin pun memberikan anggukan kecil dan menjawab, "Terima kasih,"

__ADS_1


'Apa? Hanya seperti itu saja, kenapa dia jadi berterima kasih seperti itu? Dia memang pria yang tidak terduga!' batin Vina.


Lalu setelah Vina memakai sabuk pengaman, mobil yang mereka berdua naiki pun jalan.


__ADS_2