
"Dalvin, apa kau lihat itu? D-dibelakang!" ucap Vina memberitahu situasi di belakang mobil kepada Delvin yang sedang mengebut itu.
Delvin melirik ke arah spion mobilnya, dan benar saja ada satu mobil yang ternyata sedang mengejarnya dengan kecepatan penuh.
Dengan kata lain, mobil itu memang benar-benar mencoba untuk mengincar mereka berdua.
"Heheh, ketemu juga kalian," kata Abel, merasa senang sekaligus bahagia, sebab mangsanya sudah ada di depan mata, sekarang hanya tinggal membereskannya saja. "Aku puji kalian berdua, karena bisa keluar dari jebakanku, yang seharusnya membuat kalian bisa menjadi mayat di dalam gedung itu. Dan sekarang kalian ingin kabur dariku? Ok, coba saja kalau bisa."
Setelah bicara seperti itu, Abel langsung mengalihkan roda gigi mobil ke nomor empat.
BRRMM....BRRMM....
Tidak perlu waktu yang lama, mobil yang di kendarai oleh Abel pun mencapai kecepatan di atas delapan puluh kilometer per jam dalam kurun waktu kurang dari dua detik, dan akhirnya melaju dengan cukup cepat, untuk mencapai keberadaan dari mobil yang sedang di kendarai oleh Delvin itu.
"Ayo, Delvin. Aku pastikan kalian berdua mati sekarang juga," kutuk Abel dengan senyuman yang kian mengembang.
Berbeda dari Abel yang tampak menikmati setiap waktu yang terbuang untuk mengejar Vina dan Delvin, maka lain hal dengan merkea berdua.
Delvin, dia dengan sikap tanpa memperlihatkan ekspresi takut ataupun terdesak, hanya mengikuti alur dari jalan raya yang harus dia lalui.
Tapi lain hal lagi dengan Vina yang benar-benar ketakutan setengah mati, sampai dia tidak mampu untuk menatap ke arah depan, saking takutnya karena bisa saja mereka berdua akan terlibat dalam kecelakaan.
'Dia benar-benar sangat ketakutan.' tatap Delvin terhadap reaksi yang di perlihatkan oleh Vina kepadanya.
"Apa dia sangat ingin membunuh kita berdua?" tanya Vina dengan tiba-tiba.
Delvin yang tadinya menatap ke arah Vina yang tampak sangat ketakutan itu, segera kembali menatap ke depan dan menjawab, "Ya. Selama misinya untuk menyingkirkan kita belum usai, dia akan terus mengejar kita, bahkan sampai ke ujung dunia,"
'Kenapa dia malah menjawab pertanyaan aku dengan setenang itu?! Apa dia benar-benar mampu bisa menyaingi orang itu?' pikir Vina. Dia sesekali mencoba untuk melihat ke arah spion mobil, dan benar saja, mobil yang di kendarai oleh Abel, kini kian lebih mendekat lagi ke arahnya. "Delvin, dia semakin mendekat!" panik Vina.
Apa yang dikatakan oleh Vina memang benar, dan apalagi saat Delvin mencoba mencari tahu apalagi yang selanjutnya akan di lakukan Abel kepadanya adalah akan menembak, Delvin pun langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
"Dia mau menembak!" kata Delvin dengan cepat.
__ADS_1
"Apa?!" Vina segera menundukkan kepalanya, dan satu dua tembakan pun terjadi.
DORR...
DORR..
CTANG...
Tapi rupanya semua tembakan itu berhasil di halau berkat body mobil yang di gunakan mereka berdua, adalah mobil anti peluru.
"Delvin! Ada truk!" pekik Vina, dengan kedatangan truk yang melaju hendak melewati mereka dari arah kanan ke kiri.
Karena resiko dari melanggar lampu lalu lintas adalah kecelakaan dengan kendaraan lain, Delvin dengan cekatan langsung mengambil keputusan yang sangat dramatis.
"Tch..." berdecih kesal, karena ada truk tronton yang lewat, sedangkan di belakang, Abel terus mengejarnya, Delvin pun langsung mengalihkan tuas gigi dari nomor lima ke nomor dua, menarik rem cakram dan masih sedikit menginjak rem kaki serta pedal gas, Delvin seketika membanting stir ke arah kanan.
"Delvin! Kau mau apa?!" pekik Vina dengan perasan sudah sangat gusar, sebab apa yang dilakukan oleh Delvin itu sama saja dengan pertaruhan bunuh diri.
TINN...!
BRRMMM....
"Hiiih...!" Vina memejamkan matanya dengan begitu kuat, saking tidak kuat melihat dirinya akan mati mengenaskan kelindas truk?
Itu bisa jadi, tapi ketika Vina benar-benar merasakan separuh sensasi mobil yang sedang ngedrift, perlahan Vina membuka matanya.
CKITT...
TINN...!
Beberapa suara klakson mobil pun langsung menjadi mengiring aktraksi Delvin dalam meloloskan diri dari kejarannya Abel.
"Hah~ K-kau gila Delvin! Bagaimana jika kita berdua tadi terlindas truk!" teriak Vina dengan wajah penuh dengan amarah.
__ADS_1
"Kalau terlindas, artinya takdir kita berdua hidup hanya sampai saat itu juga, Vina." jawaban Delvin yang begitu meremehkan nyawanya sendiri itu, membuat Vina jadi merinding sendiri.
'Bagaimana ada orang segila dia?! Seberapa banyak orang ini melakukan aktraksi ekstrim seperti ini?!' pikir Vina dengan tubuh kembali gemetar ketakutan, meskipun begitu sayangnya dia tetap harus menahan semua perasaan itu, karena sekarang memang bukan waktunya untuk mengeluh ingin turun atau apapun itu.
"Dengan kata lain, kau dan aku mati berdua di sini, itulah yang sudah di tulis pada takdir kita, jadi kenapa orang yang beberapa waktu lalu yakin akan mati, tiba-tiba ida takut mati?"
DEG...
Seperti di lempari sebuah petasan, Vina langsung tersinggung dengan ucapannya itu.
Namun, perasaan lega mereka berdua tidak bertahan lama.
DOROR...!
"Kyaaa.!" teriak Vina saking terkejutnya dengan tembakan yang dilancarkan oleh Abel tadi. "Aku jadi penasaran, sebenarnya pekerjaaan kalian yang suka bekerja seperti ini, di bayar berapa sih?"
Takut, tapi juga penasaran, Delvin yang baru pertama kali mendengar pertanyaan seperti itu dari orang lain dan orang itu sendiri adalah Vina, seketika membuat Delvin jadi melamun sesaat.
"Dia jadi pembunuh bayaran, sebenarnya berapa gaji orang seperti dia, atau kau-" Vina seketika tidak bisa bicara lagi, karena melihat ekspresi wajah Delvin yang tampak tegang? 'Apa aku menyinggung privasinya itu?'
Enggan untuk berdebat, Vina enggan untuk bicara lagi selain mencoba untuk menahan dirinya untuk tidak terus menjerit ataupun mengoceh.
'Aku salah, aku tidak seharusnya bertanya itu kan? Itu pasti sesuatu yang di rahasiakan. Tapi- tapi aku benar-benar penasaran! Sebenarnya gaji orang-orang seperti mereka berdua itu sebenarnya berapa!' teriak Vina dalam benak hatinya yang paling dalam.
"Tergantung tingkat kesulitannya."
Vina terdiam, dan langsung mengalihkan perhatiannya itu kepada Delvin yang tiba-tiba saja bicara lagi kepadanya. "Apa?"
Delvin menelan saliva nya terlebih dahulu, lalu dia menjelaskan, "Semakin tinggi tingkat kesulitannya, semakin tinggi juga bayarannya."
'Iya! Tapi berapa?!' batin Vina sudah tidak sabar lagi.
"Kalau di rupiahkan, sekita 215 juta per bulan,"
__ADS_1
"Hah?!" Vina langsung melongo, batapa besarnya jumlah yang di dapatkan dari seseorang yang di sebut sebagai tangan kanan dari sang Tuan muda Elvano. 'K-kalau gitu, dia orang kaya? T-tapi pekerjaan yang di lakukan oleh Delvin ini, termasuk halal kan? S-sedangkan pembunuh bayaran yang ada di belakang sana, haram?'