Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Arthur >< Elvano


__ADS_3

"Arthur, apa kau sudah mempelajari semua materi buku besar?" tanya seorang pria muda awal tiga puluh tahunan kepada seorang anak kecil yang kini sedang memeluk sebuah tab.


Sambil bertanya, pria yang menyandang sebagai Ayah dari anak yang di panggil Arthur tersebut pun mengusap ujung kepalanya Arthur.


"Iya, Ayah. Aku sudah mulai belajar, jadi bisa di bilang aku masih belum sepenuhnya memahami soal keuangan." jawab anak ini dengan sipu malu di kedua pipinya.


Pria tersebut tersenyum bangga, walaupun anaknya baru menginjak usia delapan tahun, tapi soal prestasi sudah tidak bisa di ragukan lagi.


"Kalau kau bisa menguasai semua bidang dari politik, strategi, bela diri, tata krama, dan semua yang seharusnya kau ampu, kau bisa menjadi penerus Ayah," ucapannya pun membuat dampak yang besar kepada Arthur yang benar-benar mengincar untuk mengambil alih posisi sebagai kepala keluarga.


"Iya Ayah, aku akan berusaha lebih keras agar Ayah puas dengan semua prestasi yang aku dapatkan, dan bisa di akui oleh Ayah untuk menjadi penerus keluarga Travers," jawab Arthur dengan mata berbinar.


"Bagus, jadi laki-laki itu harus punya ambisi yang besar, Arthur pasti bisa melakukannya," ucapnya, menyemangati anaknya dengan caranya sendiri.


Namun, pembicaraan mereka berdua tiba-tiba saja langsung terpotong saat ada mobil mini listrik yang sedang mengebut.


"Kakak! Ayah! Minggir! Minggir!" teriak anak laki-laki yang ada di dalam mobil mini itu sambil merentangkan tangannya untuk memberikan kode kepada dua orang yang sedang berdiri di tengah koridor.


"E-Elvano! Kau ngapain main balapan mobil di dalam rumah?!" teriak sang ayah kepada anak keduanya yang begitu strong dalam berbagai hal.


"Ini menyenangkan! Jadi minggir!" teriak anak tersebut yang punya usia saat ini terpaut tiga tahun lebih muda dari kakaknya.


Dengan begitu gesitnya, anak laki-laki itu pun menaikkan kecepatan laju mobilnya ketika berhasil meluruskan lajunya di dam koridor rumahnya.


WHUSSHH... !


Alhasil kedua orang tersebut langsung minggir, dan membiarkan Elvano lewat sesuka hatinya.


Tapi, baru juga Elvano lewat, sekarang giliran anak buahnya yang lewat dan berlarian seperti di kejar hantu.


"Tuan muda! Jangan main mobil cepat-cepat, nanti anda kecelakaan bagaimana?!" teriak salah satu pelayan laki-laki kepada Elvano.


"Nah justru itu, jangan bicara sembarangan! Hyaaahhh!" jerit Elvano dengan rasa puas, karena mobil barunya berhasil membuat sebagian besar pelayan di rumah langsung berlari terbirit-birit untuk mengejar Tuan muda kedua. "Sini kalau bisa tangkap aku!"


"Tuan muda!"


Empat orang pelayan itu pun berlari dengan sekuat tenaga demi bisa menyusul sang Tuan muda. Sedangkan Arthur dan juga sang Ayah, hanya menatap kepergian mereka semua yang berhasil membuat keributan di pagi hari.


"Dia, bisanya hanya main-main saja," lirih Arthur dengan tatapan tidak puas hati, sebab di rumah yang seharusnya penuh dengan kedamaian, malah di hancurkan dengan tingkah satu orang yang tidak kenal tata krama.


"Bukannya kau dulu begitu, sukanya bermain?" timpal pria ini atas ucapan anaknya.


"Itu jelas berbeda, walaupun aku bermain, tapi aku kan bermain dengan elegan tidak seperti berandalan itu," lirik Arthur, melihat Elvano yang merupakan adik kecilnya itu, sudah berada di luar rumah, tapi tetap membuat semua orang banyak bergerak akibat tingkah dari Elvano yang susah di atur.


"Tuan muda, tolong perhatikan jalannya, di sana ada tangga yang mengarah ke bawah!" teriak salah satu orang pelayan lagi.


"Kan tinggal belok saja!" dengan wajah girang, tangan kecilnya itu pun dengan sangat cekatan langsung mengalihkan arah laju mobilnya sehingga langsung berbelok.


Lalu pria dari kedua anaknya itu menatap dengan seksama antara anak pertamanya dengan anak keduanya. "Apa kau membenci adikmu?"


"Bukan benci, tapi hanya kesal karena aku yang suka dengan ketenangan ini, malah punya anak yang suka membuat rusuh. Sebentar lagi aku akan masuk sekolah, jadi aku harus bersiap-siap untuk besok." perkataan Arthur yang terdengar serius itu membawa anak itu pergi dari sana, dan meninggalkan Ayahnya sendirian di sana.


Arthur dan Elvano, dua orang tersebut memiliki kepribadian yang cukup bertolak belakang. Mereka berdua adalah anak dari pasangan Jevanos dan juga Lidiyan, yang merupakan pasangan dari keluarga ternama bernama Travers.


Mereka di karuniai dua orang anak, setelah dua tahu menikah, dan anak pertama mereka adalah Arthur, lalu beberapa tahun kemudian barulah lahir anak laki-laki kedua mereka yang di beri nama Elvano.


Jika Arthur selalu serius untuk semua hal yang di kerjakan nya demi bisa di akui oleh banyak orang, bahwa dia akan menjadi orang yang akan meneruskan hak waris Travers dari sang Ayah, maka tidak dengan Elvano.


Elvano adalah anak dengan kepribadian yang cukup bebas.


Maka dari itu, ketika Arthur terus fokus pada pelajarannya, untuk menambah pengetahuannya sebagai seorang penerus, maka Elvano yang memiliki kemungkinan kecil untuk menjadi penerus, menjadi sosok yang suka bermain dan sangat bebas.


Meskipun begitu, dia tetap di perhatikan oleh pelayan, karena mau bagaimanapun Elvano adalah Tuan muda mereka semua juga.


___________

__ADS_1


Di dalam sebuah kelas, hari itu menjadi hari yang paling menentukan, karena pengumuman peringkat kelas akan di lakukan saat itu juga, dan di hadiri oleh Ayahnya dan juga adiknya.


"Yang menjadi peringkat pertama di semester pertama ini ini adalah Arthur!" seorang guru perempuan langsung memberikan senyuman disertai tepuk tangan untuk menambah kemeriahan pertemuan orang tua dan murid tersebut.


"Wah, Tuan. anak anda pintar ya, bisa mendapatkan peringkat satu terus." puji salah satu ibu dari anak murid yang lain.


"Makasih, dia memang anak yang pintar dan pengertian, sampai tidak di suruh belajar, dia belajar sendiri. Mungkin ini memang sudah jadi bakatnya, karena berasal dari keturunanku langsung,," jawab pria ini ini, dia adalah Ayahnya Arthur.


"Ayah~ Aku dapat peringat pertama~" Arthur melambaikan tangannya kepada Ayahnya.


Ayahnya hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangannya Arthur, meskipun dia sebenarnya sama sekali tidak suka dengan sikapnya Arthur yang seperti itu.


"Padahal tidak usah melambaikan tangannya seperti itu juga, memalukan saja." gumamnya.


"Ayah?" tanya Elvano, dia dengan jelas sempat melihat ekspresi wajah dari Ayahnya sendiri yang tampak begitu dingin.


______________


"Arthur, kau liburan nanti akan pergi kemana?"


Masih di usia delapan tahun, Arthur saat itu sudah merencanakan liburan akhir pekan, dan membuat teman-teman sekelasnya penasaran kepadanya.


Arthur yang senang karena menjadi pusat perhatian banyak orang, terutama para perempuan, hendak menjawab, "Aku akan libura-"


Arthur yang ingin menjawab pertanyaan para gadis-gadis itu, seketika langsung di kejutkan dengan tangisan dari anak lain yang ada di depan kelas mereka persis.


BUKH...


"Huwaahh! Elvano! Kau nakal!"


Tangisan yang keras itu pun membuat perhatian mereka semua jadi terpaku pada anak kecil yang menangis tersebut.


Lalu nama Elvano seketika menjadi topik panas saat itu, karena Elvano berhasil membuat anak sekelasnya terjatuh.


"Elvano! Apa yang kau lakukan pada teman sekelasmu?" tegur teman dari anak yang menangis tersebut.


"Kau mendorongku! Kau membuat aku jatuh!"


"Itu artinya kau sendiri yang tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhmu sendiri kan?" balas Elvano.


"Apa?!" tercengang dengan cara bicara Elvano yang benar-benar terdengar sama sekali tidak merasa bersalah.


"Kan kau sendiri yang menguji kesabaranku. kau mau menjegalku, jadi sekalian saja aku membalasmu. Tapi kau malah kesandung sendiri," timpal Elvano, membuat alasan yang lebih kuat lagi.


"Lihat itu, kak Arthur! Bagaimana kak Arthur punya adik senakal itu!" anak yang menjadi korban ini pun mengadu kepada Arthur yang kebetulan memang sedang duduk di depan kelasnya sendiri.


Arthur yang tadinya punya kehidupan yang cukup tenang, seketika jadi runyam karena pertengkaran yang terjadi antara adiknya itu dengan teman sekelasnya sendiri.


"Arthur, adikmu terkenal nakal, kenapa sifat kalian berdua berbeda sekali ya?"


Arthur yang tersinggung karena posisinya jadi pusat perhatian teman-temannya berkat Elvano yang mendorong temannya sendiri, langsung menjawab, "Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tapi berkat ada adikku itu, ibuku juga jadi meninggal karenanya."


"Apa?" semua orang langsung terkejut.


Elvano yang tidak menyangka akan mendengar pernyataan itu keluar dari mulut sang kakak, ekspresinya jadi mulai murung.


"Meninggal karena apa?" tanya salah satu temannya Arthur.


"Setelah adikku itu dilahirkan, Ibuku saat itu juga meninggal. Jadi jangan ungkit aku dengan dia, karen setiap kalian mengungkit nama dia di depanku, kalian sama saja mengingatkanku pada Ibuku yang sudah meninggal," penjelasan dari Arthur pun jadi buah pertama untuk jadi titik kebencian yang dimiliki oleh mereka semua terhadap Elvano.


Apalagi Arthur yang punya banyak prestasi, dan di kenal kebaikannya, membuat mereka semua banyak yang memihak kepadanya, dan sebaliknya untuk sisi Elvano yang pada akhirnya kena benci oleh banyak orang.


"Ternyata begitu, Elvano adalah pembunuh Ibunya Arthur~"


"Anak yang kejam, pantas saja jadi anak nakal sampai mau menyiksa teman sekelasnya sendiri."

__ADS_1


Dari situlah, Elvano pun jadi punya banyak orang yang membencinya. Lalu dari situlah, hubungan Elvano pun jadi dua orang asing yang tidak bisa di satukan lagi, meskipun mereka berdua adalah kakak beradik kandung.


"Kakak, kau bahkan bercerita hal yang tidak seperti itu kepada mereka?" tanya Elvano.


"Aku hanya bicara kebenarannya saja. Kau memang adikku, tapi keberadaanmu justru membuat Ibuku jadi meninggal." balas Arthur.


"Bagaimana ini, adududuh lututku berdarah! Elvano terkutuk! Kau harus bertanggung jawab!" jerit anak ini, seolah menjadi korban.


Vano yang marah pun membalas, "Untuk apa aku harus bertanggung jawab dengan kondisimu itu? Mungkin saja itu karma untukmu, karena kau mengambil mainan dari teman sebangkuku," lalu belum selesai bicara, Vano kembali berkata untuk sang kakak, "Dan kakak, memangnya kau akan pergi liburan kemana? Bukannya kakak punya PR yang ayah berikan tadi pagi, dan pengumpulannya besok?"


Mendapatkan ucapan yang begitu menyindirnya, Arthur pun jadi terdiam karena dia pada akhirnya tidak bisa membuat teman-temannya kagum ataupun penasaran lagi kepadanya.


____________


"Eh? Kenapa ada anak sekecil ini di kelas kita?" tanya anak muda ini kepada Elvano.


Kala itu di usianya yang baru sepuluh tahun, dia sudah menginjak kelas satu SMP, sedangkan sang kakak sudah menginjak satu SMA.


'Kecil? Mentang-mentang mereka punya badan gede bongsor, apa aku harus di banding-bandingkan seperti ini?' pikir Elvano, dia sedikit muak dengan tatapan mata kagum dari teman sekelasnya.


"Apa kau sudah punya pacar?"


"Apa hubungannya antara aku sudah punya pacar atau belum dengan kalian?" balas Vano.


"Ih, hanya tanya saja, kenapa tidak boleh?" sahutnya sambil mengacak rambutnya Elvano dengan perasaan gemas.


"Hentikan itu, aku tidak mau rambutku yang sudah rapi ini malah di acak lagi?!" baru juga dia menepis tangan temannya itu dari atas rambutnya, dan rambutnya baru Vano rapikan lagi, tapi sudah kembali acak-acakkan.


"Kau beruntung ya, punya wajah yang mendukung, meskipun tubuhmu kecil," ungkap anak ini.


"Hentikan itu, memangnya kenapa kalau aku punya tubuh kecil? Apakah masalah?" menepis tangan dari temannya itu dari atas kepalanya.


"Tentu saja jadi masalah dong, kalau kau rajin olahraga, dengan dan mengatur pola makan hidup sehat, kau bisa punya tubuh yang bagus seperti binaragawan, otot-otot yang berderet di perut membuatmu tampak lebih macho, dan banyak wanita yang suka dengan hal seperti itu." penjelasan dari temannya Vano ini pun membuat Elvano penasaran.


"Itu apa?"


Dengan seringaian jahat, temannya Vano ini pun memberikan bisikan berupa hasutan kecil. "Meskipun kau bodoh sekalipun, jika kau punya tubuh dan masa otot yang bagus, dengan tampangmu ini, kau bisa mengalahkan orang pintar sekalipun, seperti kakakmu itu. Aku tahu soal kakakmu, jadi buatlah perbedaan pada dirimu itu agar tidak seperti Arthur itu.


Kau tahu, kepintaran bukan dari segalanya, kau butuh kekuatan, dan soal otak bisa di atur secara perlahan, jadi aku pikir mending kau nikmati masa sekolahmu ketimbang harus lompat kelas terus, kau sama sekali tidak menikmati hidup jika kau seperti itu."


"Ada cara yang seperti itu pula?" toleh Vano, dia takjub dengan cara berpikir dari temannya tersebut.


"Tentu dong. Kalau kau menjadi dewasa di usia dini, itu sama sekali tidak menyenangkan, kau akan terikat dengan lebih banyak aturan, makannya aku sarankan agar kau yang merupakan anak dari keluarga Travers, hiduplah sesukamu.


Kau bilang kalau hak waris akan ada di tangan kakakmu kan? Maka itu artinya kau bisa bebas, lakukan yang kau mau, itulah yang aku maksud dengan hidup normal." Jelasnya lagi.


Berkat itu, Arthur yang mengejar banyak prestasi dan kepintaran di segala aspek, maka Elvano adalah orang yang justru menikmati masa remajanya dengan cara normal tanpa perlu mengejar-ngejar posisinya Arthur, yang begitu terobsesi dengan kesempurnaan.


Arthur lulus SMA di usia empat belas tahun, sedangkan Elvano lulus SMA di usia tujuh belas tahun, lalu melanjutkan kuliah di universitas yang berbeda, dan menjalani hidup mereka masing-masing dari sisi yang berbeda pula.


___________


Hinga di saat Elvano berusia 28 tahun, dan saat itu dia adalah orang yang suka sekali dengan balap liar, tiba-tiba saja mendapatkan durian runtuh.


'"Elvano~" panggil sang Ayah kepada anak keduanya yang baru saja pulang dan sudah mabuk, karena habis karoke tapi juga minum alkohol dan baru saja habis setengah botol.


Namun, karena kondisi dari Ayahnya yang memburuk karena penyakit, Elvano yang di suruh pulang sampai di jemput paksa, pada akhirnya jadi pulang dan menghadap Ayah nya sendiri.


"Ya, Elvano di sini, apakah Ayah akan meninggal?" tanya Elvano, dia otaknya sedikit tidak waras karena pengaruh dari alkohol.


"Kau benar-benar, tidak punya karakteristik jadi pria sejati ya?" sahut Ayahnya Vano. "Dan lagi, kau bahkan sama sekali tidak sopan kepada Ayahmu sendiri yang sedang sakit ini." imbuhnya dengan wajah tegas.


"Jadi ada apa? Kalau Ayah baik-baik saja, aku akan pergi," balas Elvano.


"Tunggu-" mencegat anaknya itu pergi dari kamarnya, pria ini pun berkata, "Ada yang ingin Ayah sampaikan, ini soal hak waris." katanya, mencoba untuk membujuk Elvano agar tidak pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Elvano yang masih separuh mabuk itu pun menoleh ke belakang dan memperhatikan wajah sang Ayah yang tampak pucat itu. Dia terdiam dan terus menatap wajah itu tanpa merasa penasaran sedikitpun.


"Kenapa tiba-tiba Ayah ingin membahas soal itu? Bukankah seharusnya masalah itu di bicarakan dengan kakak?" tukas Elvano.


__ADS_2