
'Bagaimana? Bagaimana ini?! Aku jika aku menuruti perkataan dari dia, yang ada bukannya aku akan jadi pembunuh?' Vina masih bergelut dengan keputusannya sendiri. 'Aku benar-benar jadi bingung. Walaupun aku tidak tertangkap polisi, tapi tetap saja dosa itu yang menanggungnya ada pada diriku terus. Aku tiadk mau menanggung dosa sebesar itu, tapi bagaimana dengan kedua orang tuaku?'
Semakin Vina berpikir, dia pun jadi semakin terjerat dalam keputusan yang masih belum bisa dia ambil itu.
'Apa tidak ada solusi lain?' di tekan dalam situasi yang cukup rumit di dalam keadaan tangan yang benar-benar masih saja sakit, Vina sungguh ingin menyerah.
Tapi apa hidupnya akan berakhir dengan putus asa?
'Aku harus percaya siapa? Jika aku menurutinya, bukan berarti dia akan membiarkanku lolos juga, kan? Ucapan dari mulut seorang penjahat pada dasarnya memang tidak isa di percaya, dan aku sedang mengahadapi kesulitan itu.
Hanya saja, aku tidak mau kedua orang tuaku juga jadi korban juga dalam kasus ini.
Di saat seperti ini, justru aku jadi punya pilihan, kalau aku lebih baik menjadi satu-satunya orang yang bisa berkorban, ketimbang harus melihat kedua orang tuaku yang tidak tahu apapun soal masalah ini, malah ikut terseret.' pikir Vina.
Vina masih saja belum bisa memilih dengan leluasa, dia sangat bingung, dan meskipun dia sangat kesal dengan dua orang yang dia kenal itu, sayangnya dia lebih percaya kepada mereka berdua ketimbang harus memutuskan keputusannya secara mandiri.
"Apa tidak ada solusi lain? Eh? Tunggu, orang itu kan kakaknya Elvano, dan Elvano sendiri mengatakan kalau masalah antara dirinya dengan kakaknya sendiri sudah di selesaikan.
Apa itu artinya bisa saja kedua orang tuaku saat ini sudah tidak berarti lagi untuk di jadikan sandera?" punya satu kesimpulan yang berisikan informasi yang belum lama ini dia dapat, Vina pun jadi seperti punya harapan untuk mendapatkan solusi terbaik untuk masalah kedua orang tuanya itu.
____________
"Masalah apa lagi? Kenapa kau baru mengatakannya kepadaku jika itu memang menyangkut soal kedua orang tuanya Vina?" tanya Elvano dengan tatapan penuh selidik.
Padahal biasanya, untuk alasan apapun, sekalipun Elvano sedang tidur sekalipun, Delvin akan memberitahu situasi terkini yang berisi informasi penting kepadanya, tanpa peduli Elvano sedang melakukan apa.
"Karena anda terlihat tidur lebih lelap dari pada biasanya, saya jadi tidak berani untuk membangunkan anda," jawab Delvin, dia pun mengatakan alasannya sendiri kenapa dia tidak membangunkan Tuan muda.
Semenjak dimana kasus internal di antara mereka semua mulai memanas, apalagi saat mengetahui Vina terlibat dalam permasalahan kelompok mereka, Tuan muda Elvano pada dasarnya sama sekali belum pernah bisa tidur nyenyak.
'Semenjak pulang kesini setelah mendengar kabar bahwa wanita itu di culik, Tuan pada dasarnya memang sudah tidak pernah bisa tidur nyenyak sampai detik ini.
Tapi semua itu tidak untuk malam tadi, Tuan terlihat sangat nyenyak, padahal tidur di samping wanita itu. Makannya aku tidak bisa membangunkan Tuan muda.
__ADS_1
Tapi sepertinya walaupun aku mengatakan itu berdasarkan sesuai dengan keyakinanku, di mata Tuan pasti akan tetap di anggap sebagai masalah juga, karena ini juga informasi penting yang berkaitan dengan Vina itu sendiri.' Delvin jadi diam, dia menunggu respon macam apa yang akan keluar dari mulut yang suka memutuskan pilihan dengan seenaknya itu.
"Nyenyak? Bahkan jika itu nyenyak sampai membuatku mimpi soal masa lalu, apa kau masih saja tidak berani untuk membangunkanku, Delvin?" tanya Elvano dengan tegas. Dia menekankan kata membangunkan, karena mau dari segi apa diri Elvano sedang melakukan apa, dia harus tetap mendapatkan informasi terbaru secepat mungkin.
Mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan kesehariannya sebelum dirinya mendapatkan kecelakaan yang membuat dirinya kehilangan ingatan, tubuh dan kebiasaannya sama sekali tidak ingin mendapatkan perubahan seperti itu.
"Maaf, untuk ke depannya saya pasti akan memberikan informasi anda secepatnya, entah apa yang anda lakukan," lalu Delvin sendiri, menjawab dengan menekankan kalimat `entah apa` kepada Tuan muda nya, bertujuan memberikan kode keras kalau Tuan muda nya sedang melakukan di luar pekerjaan dan berhubungan dengan jati diri dan pribadi Tuannya sendiri, Delvin tidak akan segan untuk menghancurkan momen entah itu buruk maupun indah itu terhadap Tuan muda nya tersebut.
Elvano yang menyadari bagian tertentu dalam ucapannya Delvin, langsung menyela, "Kecuali saat aku melakukan itu, atau yang berhubungan dengan itu, kau tidak boleh menggangguku, kau harus cari solusi sendiri,"
Pada akhirnya Elvano jadi memberikan pengecualian itu kepada Delvin.
Delvin tersenyum lebar, pada akhirnya dia pun mendapatkan pengecualian darinya, kalau tidak di berikan kode lebih dulu.
"Jadi katakan saja, apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya Vina? Apa maksudnya dia di culik?"
"Ya, sesuai dengan perkiraan dari Tuan, mereka berdua memang di culik.
Tapi karena anak buah saya berhasil membuat lima langkah lebih dulu untuk mengantisipasi soal masalah penculikan ini, kedua orang tuanya berhasil selamat, tapi tidak dengan kedua anak buah saya yang harus rela jadi sandera, karena menggantikan posisi mereka berdua." jelas Delvin.
"Iya, tapi masalahnya adalah banyak dari kami semua yang menolak soal keputusan anda yang akan memberikan kesempatan kepada Tuan Arthur untuk menggantikan posisi anda itu. Meskipun hanya satu bulan, tapi tetap saja pasti nanti akan ada pengaruhnya." Delvin tetap bersikeras memperingatkan Tuan muda soal keputusannya itu.
"Aku bisa mengaturnya. Aku sudah punya ini-" Elvano menjawab sambil menunjuk kepalanya sendiri, "Aku sudah mulai mendapatkan ingatanku lagi. Lalu aku benar-benar tidak mau mengulanginya lagi, aku tetap akan memberikan dia kesempatan, satu bulan.
Tapi jika ada gerak gerik yang mencurigakan, aku akan segera menarik kembali posisinya.
Selama cincin itu ada di tanganku dia sama sekali tidak akan bisa melakukan apapun dengan bebas." penjelasan dari Elvano pun berhasil membuat Delvin tidak mampu untuk menolaknya lagi.
"Jika keputusan anda sudah bulat, saya akan memberitahu ke semua orang soal masalah ini, agar bisa mengantisipasi te-"
"Terima kasih dengan kerja kerasmu selama ini, tapi itu tidak perlu. Karena aku sudah memberikan detailnya kepada beberapa orang saja.
Aku tahu kau sempat begadang juga karena menangani Vina sendirian saat itu, jadi yang kau lakukan sekarang hanya istirahat saja. Tubuhmu sudah mulai ada di ambang batasmu, jadi aku tidak mau melihatmu sakit dan memperburuk kinerjamu ke depannya," pungkas Elvano.
__ADS_1
Perkataannya itu pun memberikan dampak kepada Delvin yang langsung memasang wajah terkejutnya, karena rupanya Tuan majikannya itu, meskipun merepotkan, tapi masih mampu untuk memperhatikan orang lain di sekitarnya.
"Sana masuk ke kamarmu," Elvano malah mendorong tubuh Delvin untuk pergi ke dalam kamar pasien yang letaknya ada disebelah kamar inap miliknya Vina persis.
Tentu saja, di sana tidak hanya mereka berdua saja yang ada di sana untuk berjaga, tapi ada beberapa anak buahnya yang lain sudah siap dengan posisinya masing-masing.
"Lalu Tuan sendiri mau pergi kemana?" tanyanya.
"Aku lapar, jadi aku mau masak, jangan ganggu aku, kau fokuskan saja istirahatmu itu, besok baru kita mulai rapat baru, jadi jangan sia-siakan waktu yang aku berikan kepadamu," lanjut Elvano.
Delvin yang tidak bisa menolak perintah dari sang Tuan majikan, dengan berat hati mengiyakan tawarannya itu untuk beristirahat.
"Tapi mereka bisa menggantikan anda masak, anda kan bisa duduk dan menunggu saja?"
"Apa gunanya aku menunggu, jika Vina sedang ingin sendirian dan aku tidak boleh mengusiknya. Jadi dari pada aku tidur ataupun bengong dengan rasa bosan, mending aku masak," setelah bicara seperti itu, Elvano pun pergi menuju dapur yang tidak jauh dari sana, sebab di lantai tersebut memang ada dapur tersendiri, atas dasar permintaannya yang ingin bisa masak, tanpa perlu keluar atau pulang ke rumah.
_____________
Di samping itu, Abel yang terkena peluru akibat pertarungan terakhir antara dirinya dengan Elvano, membuat salah satu kakinya saat ini harus di perban, dan dirinya pun harus istirahat karena masalah itu.
"Bosan, kenapa juga harus berkelahi dengan anak itu di waktu yang tidak tepat seperti itu," gumam Abel. Karena dia untuk sementara waktu tidak bisa berjalan, dia pun bekerja di atas tempat tidurnya.
Namun, meskipun dirinya saat ini berada di atas tempat tidur, tapi kejahatannya tetap saja merajalela, dan salah satunya adalah dengan menculik seorang wanita.
Wanita yang di culik oleh anak buahnya Abel pun sekarang sudah ada di depan tempat tidurnya persis, dengan kepala di tutup dengan kain hitam, dan kedua tangan serta kaki yang terikat dengan sangat kencang, wanita itu pun sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Sebenarnya siapa yang melakukan ini kepadaku?!" teriaknya, dia adalah Veronica, kekasih Elvano sampai suatu hari, Elvano memutuskan hubungannya secara sepihak dengannya, dan di susul dengan kondisi keluarganya yang berada di ujung kehancuran, berkat bisnis yang di kelola oleh Ayahnya, berhasil di runtuhkan oleh seseorang, lalu perceraian yang terjadi antara kedua orang tuanya, Veronica pun jadi seorang wanita yang sangat sensitif lebih dari sebelumnya.
"Walaupun kau di culik, suaramu ternyata tetap saja keras seperti itu ya? Pantas saja Elvano memutuskan hubungan denganmu," sindiran yang di buat oleh Abel pun berhasil membuat Veronica jadi bungkam.
"Kau- arghh! Kau pasti komplotan dari orang yang menghancurkan keluargaku kan?! Ngaku!" jerit Veronica, dia benar-benar stress sendiri, karena kehidupannya sudah cukup hancur, dan sekarang dirinya malah di culik oleh orang yang tdiak Veronica kenali.
"Itu, sedikit meleset Nona Veronica," sahut Abel dengan senyuman puas, karena bisa melihat setidaknya satu pertunjukan dari wanita yang sudah mulai menggila itu.
__ADS_1
'Sebenarnya siapa dia ini? Kenapa masu menculik orang sepertiku? Apakah ini juga ada hubungannya dengan Elvano?' pikir Veronica.