Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
93 : Obat kematian?


__ADS_3

"Aku tidak percaya ternyata dia punya pikiran seperti itu. Ya sudah, yang penting sekarang Nona sudah di temukan, kita pindahkan ke bangsal tujuh yang ada di dalah gedung di dalam, biarkan dia lebih tenang dulu, karena di sana tidak ada jendela atau apapun selain pintu dan dinding yang sebenarnya sudah di hias, jadi dia tidak akan tahu kalau dia ada di dalam kamarnya."


"Dokter, itu sama saja dengan seperti mengurungnya di dalam penjara. Kenapa tidak di bius saja, biarkan dia istirahat di kamar inap yang lain, itu jauh lebih baik."


Jason langsung menepuk jidatnya sendiri, karena dia salah mengenali objek dari orang yang dia tangani itu bukanlah tersangka yang harus dia berikan hukuman, tapi adalah orang yang harus di berikan kasih sayang?


"Kau benar juga, aku malah menganggap kalau dia adalah salah satu objek untuk aku jadikan sebagai kelinci percobaan di ruang lab aku sendiri." ucapnya dengan serta merta.


"Itu tidak lucu, cepat kita pergi dari sini." pinta Jef.


Jason pun mengangguk setuju.


Mereka berdua pergi ke kamar inap yang lainnya, yang setidaknya tidak akan ada jendela yang besar seperti kamar sebelumnya, namun tetap memberikan kenyamanan untuk si penghuni.


____________


BRRMMMMM.........


"Tuan! Anda kenapa malah membuat diri anda bahaya sendiri?! Ini hujan es! Anda harus tahu, betapa licinnya jalanan saat ini!" kata Delvin, memberikan peringatan yang cukup tegas kepada sang Tuan muda yang begitu keras kepala serta punya rasa tekad yang cukup kuat untuk memacu adrenalin dalam mengendari mobil di bawah hujan es batu seperti itu.


"Tapi aku tidak bisa berdiam diri untuk menunggu sampai hujan reda Delvin! Kau tadi lihat sendiri kan? Kaca di dalam kamar itu sepenuhnya pecah semua, bagaimana kondisi Vina sekarang, aku bahkan tidak tahu, karena saluran komunikasinya putus total!" jawab Vano kepada Delvin dengan nada yang sedikit tinggi.


Delvin yang memang harus berada di sisi sang tuan muda dalam kondisi apapun, jadinya harus kena imbasnya juga, yaitu memacu adrenalin di bawah hujan es yang sedang lebat.


Meskipun body mobil dan kaca mobil yang di gunakan oleh Tuan muda adalah mobil anti peluru, tapi tetap saja, yang namanya berkendara di bawah hawa dingin dengan di selimuti es seperti ini, akan mendapatkan dampak bahaya, bagi diri sendiri maupun pengguna jalan yang lain.


"Tapi apakah harus mengebut seperti ini? Kata anda kan gunanya punya anak buah adalah mengerjakan pekerjaan lain yang tidak bisa di selesaikan oleh Tuan, jadi seharusnya anda itu tidak mudah panik seperti ini, karena anak buah anda itu bisa mengatasi permasalah dari Nona Vina."


"Kau ternyata cerewet seperti emak, emak ya, pokoknya aku tetap harus pergi dan sampai di rumah sakit dengan cepat." jawab Vano sekali lagi dengan cukup tegas.


Dia pun mengendari mobil dalam kecepatan kurang dari lima puluh kilometer per jam, dan di saat itulah, dia harus mengendari mobil dengan penuh perhitungan dan keseimbangan agar mobilnya tidak menabrak kendaraan lain yang sedang terpakir di tepi jalan.


"Tuan, saya mohon, Nona Vina pasti sudah di lindungi oleh Jef, dan apalagi tidak hanya ada satu atau dua orang yang berjaga di sana, jadi anda harus pelan-pelan, demi keselamatan anda." racau Delvin sekali lgi.


"Hih! Kalau bicara lagi, aku akan menambah kecepatannya lagi!" ancam Vano.


Meskipun dia punya sertifikat dalam kemenangan yang pernah dia dapatkan dalam turnamen balapan mobil lima tahun yang lalu, tapi karena dia punya trek yang berbeda, maka dari itu dia tetap harus punya perhitungan yang cukup kuat.


Dan Delvin yang tidak mau kecepatan mobil yang dia naiki itu di tambah, dia memilih untuk diam, bertahan, dan berdoa agar setidaknya mereka berdua selamat.


Atau sekalipun mendapatkan kecelakaan, Delvin berharap kalau sang Tuan muda lah yang akan selamat.


Dan dengan laju dari kecepatan mobil yang Vano gunakan, dia pun sampai di rumah sakit dalam kurung waktu kurang dari lima belas menit.


Ada banyak orang yang berkumpul di lobi, itulah yang dia lihat begitu emmasuki area halaman depan rumah sakit.


Tapi demi melindungi mobilnya sendiri dari hal bahaya lainnya, dia pun memarkirkannya di dalam ruang bawah tanah.


_____________


"Cepat, mana obat biusnya?!" Jason menuntut Jef untuk memberikannya obat bius, selagi Vina masih berada di tempat tidur, atau setidaknya sebelum wanita ini kabur, karena takut, gara-gara pandangannya terhadap mereka berdua saat ini sudah benar-benar berubah.

__ADS_1


"Kau mau apa?!" tanya Vina, dia pun akhirnya tersadar dari lamunannya sesaat tadi, karena sempat di gendong oleh Jef beberapa waktu tadi.


"Kami hanya ingin menenangkanmu saja Nona." jawab Jason.


"Menenangkan dalam artian aku akan di kirim ke alam baka ya?" tanyanya.


Jason dan Jef pun jadinya saling pandang satu sama lain.


Tapi mereka berdua sama sekali tidak ada yang berani untuk menjawab pertanyaannya Vina.


"Silahkan, asal kalau racun itu setidaknya membawa kematianku tanpa membuatku merasa sakit." Vina ternyata menerima saja apa yang akan di lakukan oleh Jason kepadanya.


Jason sendiri, demi membuat Vina kembali tersadar dan tidak terus meracau dengan persepsi yang salah besar itu, akhirnya terpaksa memberikan obat bius.


BRAK...


"Tunggu, apa yang-" namun Vano sendiri kalah cepat dengan apa yang di lakukan oleh Jason kepada Vina itu.


Dan Vina yang sempat mendengar suara seseorang yang cukup familiar, langsung menoleh ke arah kanan, dan melihat adanya seorang pria yang sudah lama tidak dia lihat selama satu minggu lebih ini.


"Va-no-" hanya saja, kalimat dari panggilannya itu, akhirnya berkahir dengan kesadarannya yang langsung menghilang.


BRUKKK....


"Vina!" Teriak Vano, dia berlari masuk kedalam kamar, dan melihat Vina yang tubuhnya langsung terbaring di atas tempat tidur. "Apa yang kau lakukan kepadanya? Dan tadi kau baru saja memberikan obat apa?" tanya Vano dengan ekspresi wajahnya yang cukup marah itu kepada Jason.


Jason dan Jef yang melihat betapa marahnya sang Tuan muda dalam memberikan pertanyaan yang di pertegas dengan alasan yang cukup kuat kepada mereka berdua, membuat mereka berdua langsung tersentak kaget.


"Ka-kami berdua hanya mencoba untuk memberikan Nona Vina ketenangan. Dan obat tadi juga hanya obat bius, tapi beliau mengira itu adalah obat kematian."


"Aduhh..."


Jason langsung memukul belakang kepalanya Jef, yang malah bicara melantur, lebih dari pada yang seharusnya di jelaskan seadanya.


"Apa? Kenapa dia sampai punya pikiran obat bius sebagai obat kematian? Jelaskan! Apa yang sebenarnya terjadi Kepada Vina!" teriak Vano, dia pun tidak puas hati dengan kondisi Vina sekarang yang terlihat seperti hanya memiliki raut muka penuh dengan kesedihan saja.


"Bukannya sudah cukup jelas, kalau Nona...," Jef merasa terjerat sendiri dengan ucapan yang ingin dia katakan kepada sang Tuan muda. "Karena Nona pasti tidak baik-baik saja saat di sekap oleh Tuan muda pertama, maka dari itulah Nona punya pikiran ingin mati?"


Vano geram, dia geram dengan apa yang barusan keluar dari mulutnya Jef. Tapi mau bagaimanapun dia tidak bisa marah kepada Jef, karena Jef sendiri tidak salah apapun.


"Vina-" Vano memanggil nama dari wanita ini dengan cukup lembut. Memejamkan matanya, Vano pun langsung duduk di samping tempat tidurnya Vina, setelah Delvin meletakkan kursi duduk itu ke belakangnya.


Setelahnya dia pun menemani perempuan itu dengan segenap hatinya, berharap kalau setelah Vina nanti sadar, Vano adalah satu-satunya orang yang di lihat oleh Vina sendiri.


_______________


"Apa ini yang kau bawa?"


BRUKK....


Suara serak dengan nada yang cukup rendah, tiba-tiba saja menyapa indera pendengaran dari seseorang yang di bawa oleh Abel dengan kondisi kepala tertutup oleh kantong kain berwarna hitam.

__ADS_1


"Iya Tuan, ini adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Tuan muda kedua pasti datang."


'Siapa? Dan apa yang mereka bicarakan?' pikir orang ini, dia adalah Vina.


Entah apa yang sudah terjadi kepadanya, Vina hanya bisa diam tanpa bisa banyak bicara serta untuk bergerak saja sebenarnya dia tidak bisa, karena tubuhnya yang benar-benar sangat lemas dan tidak bertenaga.


"Hm? Tapi seorang wanita? Memangnya apa hubungan antara wanita ini dengannya?" tanya pria ini, dia adalah Arthur, sang Tuan muda pertama dari keluarga Travers.


'Hubungan antara aku dengan siapa? Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku? Bukannya aku pergi keluar dari rumah untuk belanja ya? Tapi kenapa aku sudah bisa terikat seperti ini? Kaki, tangan, mulut dan mataku, aku tidak bisa melakukan apapun.' pikirnya. Vina perlahan mulai ketakutan dengan apa yang akan terjadi kepadanya itu.


"Coba kau buka," perintah dari Arthur kepada Abel, langsung di laksanakan oleh Abel sendiri.


Dengan gerakan yang cukup cepat, Abel langsung menarik kantong hitam yang sempat membungkus kepalanya Vina.


Begitu sudah di buka, maka terlihatlah wajah Vina yang nampak cukup penat itu.


"Ehmphh!" Vina sontak cukup ketakutan dengan perawakan dari orang-orang di sekitarnya yang terlihat besar juga tinggi, dan di tambah lagi mereka suka dengan berpakaian setelan jas hitam lengkap. 'Siapa mereka?! Kenapa aku ada di sini, sebenarnya apa alasan aku di culik kesini?'


"Wahh~" Arthur yang baru pertama kali melihat wajah perempuan dari Asia secara langsung, langsung terkagum, sampai Arthur akhirnya membungkukkan tubuhnya ke arah Vina dan memandang wajah Vina dengan cukup lekat. "Padahal tidak secantik mana, tapi kau bilang dia ada hubungannya dengan anak itu?"


Arthur pun bertanya kepada Abel, yang sudah bertugas untuk menyelidiki keberadaan dari Vano serta menjadi dalang dari penculikan Vina kali ini.


"Iya, kenapa saya harus membohongin anda? Dialah wanita yang sudah menyelamatkan Tuan muda, dan berkat itu juga Tuan muda kedua dan juga wanita ini, perlahan jadi lebih dekat.


Maka dari itu, saya pikir menculiknya adalah pilihan yang paling bagus untuk membuatnya datang sendiri kepada kita." penjelasan dari Abel pun langsung di terima dengan cukup baik oleh Arthur, sebab memang cukup masuk akal, agar Elvano datang menemuinya, tentu saja adalah dengan membuat sebuah umpan.


Dan umpan yang paling cocok itu, jelas adalah wanita yang ada di depannya ini.


"Hei, siapa namamu?"


"Verina, tapi dia biasa di panggil Vina."ucap Abel, mewakili Vina yang sebenarnya mulutnya di tutup dengan lakban, dan lebih dari pada itu, tentu saja kalau Vina tidak akan mengerti apa yang mereka berdua katakan.


"Vina ya~" Arthur pun memanggil nama itu dengan cukup lembut. Matanya yang bahkan ikutan melembut itu, tiba-tiba saja mampu untuk menarik perhatian dari Vina ini.


'Hmm? Wajahnya, ke-kenapa dia cukup familiar, dan bahkan kenapa aku rasa kalau dia mirip dengan Elvano?' meskipun Vina memang sama sekali tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan, akan tetapi melihat wajah dari Arthur agak mirip dengan pria yang Vina selamatkan sebelum ini, Vina pun seketika itu jadi cukup yakin, kalau pria di hadapannya ada hubungannya dengan Elvano.


GREP....


"Ekhh..!"


Tapi, sayangnya pertemuan diantara mereka berdua adalah awal dari siksaan untuk Vina sendiri. Karena di saat Vina sedang mencoba untuk menatap Arthur dengan tatapan yang cukup berani, tiba-tiba saja lehernya langsung di cekik kuat oleh Arthur.


"Ekhh! Ahkkhh! Ah!" ronta Vina dengan mata membulat dengan cukup sempurna.


Betapa menyakitkannya lehernya yang seketika langsung di cekik!


'L-leherku di cekik?! Apa salahku?! Ini sangat sakit!' teriak Vina dalam benaknya. Dia cukup tercengang dengan kondisi dari lehernya yang harus di cekik kuat oleh pria asing yang tidak Vina ketahui siapa dia.


"Hahaha, lihatlah ini, wajah menderita dari wajah jelek ini cukup menyenangkan juga untuk di lihat." hina Arthur dengan senyuman penuh kemenangan, karena dia akhirnya bisa membuat wanita yang bagi Arthur cukup merusak pemandangannya, jadi menderita dengan siksanya.


"Akhh! A-" suara Vina pun sama sekali tidak bisa keluar dengan jelas, akibat mulutnya yang masih tertutup rapat karena lakban yang mengikat sampai ke belakang kepalanya juga.

__ADS_1


"Teruslah berteriak bodoh! Inilah siksaan pertamamu karena kau sudah mengusik rencanaku untuk membunuh anak itu!" ucap Arthur dengan rasa bangga. Bisa melihat, dan menikmati tangannya yang dia gunakan untuk mencekik lehernya Vina, memiliki sensasi tersendiri yang tidak bisa dia ungkapkan lagi dengan kata-kata selain ekspresi wajahnya cukup bahagia.


'A-apa aku akan mati?! Tapi kenapa aku harus mendapatkan cekikan yang sangat menyakitkan seperti ini?' Vina masih terbaring di lantai kotor, tapi berkat lehernya yang di cekik dengan cukup kasar oleh Arthur, Vina pun jadinya memberontak seperti sekor ayam yang lehernya di sembelih. 'Ini sakit! Vano! Akhh! Aku tidak mau mati di sini! Di tempat asing seperti ini!' teriak Vina di dalam pikirannya yang paling dalam.


__ADS_2