Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Jalan berdua


__ADS_3

'Rasanya ini salah! Kenapa justru aku yang membonceng laki-laki ini?' Dengan tubuhnya yang kurus itu, Vina pun benar-benar membawa Vano di boncengannya.


Berbanding terbalik dengan Vano yang punya tubuh tinggi juga lumayan besar, Vina yang kurs itu jadi terpaksa harus punya konsentrasi yang cukup tinggi untuk membawanya.


Dan sudah lebih dari setengah jam dirinya membonceng pria itu di belakang motornya.


"Jadi ini kota yang kau maksud?" Tanya Vano sambil celingukan ke kanan dan ke kiri. Dia melihat kota yang mereka berdua kunjungi terlihat biasa-biasa saja, tidak ada gedung tinggi apapun yang biasanya dia tonton di televisi.


"Iya, kenapa?" tanya Vina detik itu juga, karena saking penasarannya, kenapa Vano bertanya hal yang menurut Vina sendiri itu, sudah jelas.


"Tidak seperti yang di TV." jawab Vano singkat, dia masih saja terus memperhatikan sekitar jalan yang dia lalui bersama dengan Ashera, sungguh, menurut Vano, kota yang sempat Vano harapkan ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.


"Apa kau kecewa? Karena tidak seindah seperti kota yang ada di televisi?" tanyanya lagi, dia yang kini sedang fokus berkonsentrasi untuk menyetir, matanya terus fokus untuk melirik ke kanan, kiri, dan depan, demi keselamatan mereka berdua.


"Untuk apa aku kecewa? Yang penting kan kalau kau bilang kota, berarti daerah ini benar-benar kota. Hanya tidak ada gedung pencakar langit, bukan berarti kota." Jawabnya. Karena kota yang dia harapkan tidak seperti yang dia bayangkan, tapi itu tidak masalah untuknya, karena yang paling Vano harapkan saat ini adalah bisa duduk berdekatan dengan Vina yang begitu strong ini.


Bagaimana tidak strong, jika dengan tubuh sekurus, sekecil itu, ternyata masih mampu untuk membawa mereka berdua pergi dengan jarak yang cukup jauh.


Vina yang hanya sekedar mendengarkan saja, hanya diam, dan beralih untuk kembali berkonsentrasi ke jalan yang akan dia lalui.


"Tapi apa kau benar-benar tahu tempat yang harus kau tuju?" Tanyanya lagi, karena Vano sebenarnya cukup ragu dengan ingatan dari Vina ini dalam hal sebagai navigasi.


Sebab mau bagaimanapun, melihat wajah dari wanita di depannya ini, dia merasa kalau Vina ini bukanlah orang yang cukup pintar.


Hanya sekedar insting saja, tapi setiap insting yang dia rasakan, itu selalu masuk dalam kebenaran.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak hapal jalan." Jawab Vina dengan lugas tanpa alasan apapun yang di buat-buat.


"Apa?" Terkejut Vano dengan jawabannya. "Jangan bilang dari tadi muter-muter kita nyasar?" tanyanya lagi, sampai kepalanya pun segera dia dekatkan dengan kepalanya Vina dan bertanya tepat di samping kepala Vina persis.


"Kau pikir aku ini tidak punya otak? Aku pakai GPS. Aku punya navigasi dari sistem google maps, dan aku menyambungkannya dengan earphone nirkabel, jadi meskipun aku terlihat seperti orang yang bisa nyasar kapanpun dan di manapun, aku masih bisa terbantu dengan navigasi. Lagi pula dari tadi aku juag sedang mendengarkan arahan dari sistem," Jawabnya lagi, dan setelah melihat adanya tempat pengisian ulang bahan bakar motornya, Vina pun mampir.


"Ohh, begitu, ternyata kau lumayan cerdas juga, bisa menjawab pertanyaanku, juga bisa konsentrasi untuk mendengar arahan dari sistem navigasi." puji Vano kepada Vina.


"Hmm, makasih pujiannnya," ketus Vina, dia pun segera mengantri, untuk mendapatkan jatahnya di saat yang sudah di tentukan menurut urutan yang ada.


Meskipun harus mengantri panjang, dia tidak begitu mempermasalahkannya, sebab ada orang yang sekarang justru menemaninya.


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau tidak di rumah saja, pergi pakai motor seperti ini itu panas." tutur Vina, dia sebenarnya menyayangkan bule di belakangnya itu ikutan pergi dengannya, karena hari ini cukuplah terik.


Vina menoleh ke samping kirinya, dan melihat Vano sudah turun dari motor, sehingga Vina pun jadi merasa ringan, karena tidak ada lagi beban yang harus dia bawa.


"Yah, hanya saja kau itu sebenarnya lebih cocok untuk pakai mobil kelas mewah paling wah, ketimbang harus naik motor denganku sampai panas-panasan seperti ini. Pasti mengganggu, ya kan?"


"Jika saja aku ingat siapa diriku, dan menemukan kenyataan kalau aku orang kaya, aku pasti akan membawa mobilku kesini dan naik bersamamu, ok. Dan lagian bisa naik motor denganmu, untukku itu, justru tidak masalah sama sekali, jadi tidak usah mengkhayal apapun lagi, fokus saja dengan tujuanmu, dan aku disini ingin ikut denganmu, juga karena aku ingin menemanimu pergi, apa semua alasan yang aku katakan ini masih kurang untukmu?" jelas Vano dengan panjang lebar.


"Maaf, aku egois. Nanti saat aku sudah beli semua keperluanku, kita akan ngadem ke mall." tutur Vina.


Di balik helm berwarna hitam yang di pakaian, serta masker berwarna putih yang menutupi sebagian wajah tampannya itu, dia tersenyum lebar untuk ucapan Vina sesaat tadi.


"Selanjutnya." ucap petugas SPBU, dan Vina pun terus menarik gas motornya dengan pelan, sampai akhirnya mendapatkan gilirannya.

__ADS_1


"Siapa dia?"


"Wih, dia tinggi sekali."


"Pasti wajahnya tampan tuh."


Para gadis sekolah yang sedang menunggu temannya mendapatkan giliran pengisian bensin pada motornya, terus melirik ke arah Elvano.


Tentu saja, walaupun Elvano memakai pakaian yang murah, dengan menggunakan pakaian hoodie, dan di tambah dengan jaket milik Vina yang memang punya yang besar, sehingga bisa di pakai oleh Vano, serta sepatu pinjaman milik ayahnya Vina, yang hanya itulah satu-satunya barang yang membuatnya mahal, tetap saja, tidak bisa menutupi aura menawan dari pria berdarah eropa ini.


Hanya dengan berdiri saja, dia berhasil menarik perhatian semua orang yang sedang mengantri di SPBU, bahkan para perempuan yang naik mobil pun, sama-sama melirik ke arahnya.


"Selamat, kau bisa jadi artis dadakan di sini." Tiba-tiba saja Vina sudah ada di samping Vano, dengan sebuah ucapan selamat kepadanya.


"Haha, aku terima ucapanmu."


"Cepat naik." pinta Vina, menyuruh Vano untuk naik, bonceng ke motornya lagi.


Melihat Vano justru duduk membonceng motor dengan seorang perempuan, mereka semua langsung memasang wajah tercengang.


"P-padahal dia sama sekali tidak pantas untuk bonceng motornya."


"Iya, aku juga berpikir seperti itu, tapi mungkin saja laki-laki itu kekasih dari perempuan itu." dua orang wanita yang ada di dalam mobil ini pun jadi merasa kecewa, karena rupanya pria yang begitu punya tubuh ideal itu, sudah punya seseorang.


"Eh, jangan kecewa seperti itu kenapa? Walaupun tubuhnya bagus, tapi kau juga tidak tahu dia punya wajah yang bagus atau tidak, ya kan? Jangan di pikirkan, lagian masih banyak pria di dunia ini, cari yang cocok dan sesuai denganmu itu." ucapnya kepada temannya itu, yang terlihat memasang wajah kecewanya.

__ADS_1


__ADS_2