
Dengan gerakan yang begitu lembut, tangan itu pun menyisir rambut panjang sebahu yang dimiliki oleh pasien yang sedang di rawatnya itu dengan sepenuh hati.
Namun meskipun suster tersebut melakukannya dengan gerakan yang cukup lembut, tapi ada yang sangat disayangkan, kalau rambut dengan panjang separuh pungguh itu ternyata tidak bisa bertahan di tempatnya, dengan kata lain banyak rambut yang rontok.
Hal itu pun membuat perhatiannya benar-benar terpaku pada banyaknya helaian rambut yang tertinggal di sisir yang ia pakai.
“Ada apa?” tanya Vina. Merasa kalau pergerakan dari suster yang sedang menyisir rambutnya itu benar-benar terhenti, Vina pun menoleh ke belakang, dan melihat ekspresi wajah suster tersebut yang nampak sempat melamun.
“Tidak, saya tiba-tiba saja kepikiran dengan hal lain. Oh ya, apakah rambut anda ingin saya ikat?” tanya suster ini kepada Vina.
Vina pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dan tidak lama setelah itu, rambut itu pun diikat dengan penuh perhatian juga.
Tapi lagi-lagi, suster ini pun jadi dibuat cukup khawatir dengan kondisi dari belakang tubuh Vina, dimana di pakaiannya itu pun tidak luput dari helaian rambut yang kian hari rambutnya tidak pernah berhenti untuk rontok, sehingga suster tersebut pun akan mencoba berbicara kepada seseorang yang paling bertanggung jawab.
“Lalu setelah ini apa yang harus aku lakukan?” tanya Vina. Tanpa di sangka, setelah sepuluh hari Vina mengalami tidur panjang karena demam yang cukup tinggi, Vina pun paham betul siapapun yang menjadi lawan bicaranya.
“Sekarang waktunya untuk melepaskan jahitan di punggung anda,” jawab suster ini, dia pun sudah mempersiapkan semua peralatan untuk melepaskan benang yang di gunakan untuk menjahit beberapa bagian kulit di punggung Vina.
Dengan raut wajah yang nampak terpaksa, Vina pun menganggukkan kepalanya seraya melepaskan kancing demi kancing yang menautkan kedua sisi dari pakaian pasien yang dia gunakan, hingga akhirnya tanpa basa basi lagi, Vina pun melepaskan pakaiannya itu.
‘’Ini memalukan-” ucap Vina dengan wajah malu-malu, seraya memegang pakaiannya untuk menutupi buah dadanya, dan rasa dingin itu pun pada akhirnya langsung menyentuh seluruh permukaan kulitnya.
Peka dengan kondisi dari pasiennya yang nampak menggigil kedinginan itu, dia segera mematikan AC yang terus menyala itu.
‘Dia peka sekali? Walaupun dia perempuan, tapi ini tetap saja memalukan.’ pikir Vina dengan kepala menunduk ke bawah.
“Saya mulai ya?”
“Ya,” jawab Vina dengan rasa takut tetap ada di dalam dadanya. ‘Aku takut. Tapi ngomong-ngomong, aku akan disini sampai kapan lagi? Bagaimana dengan kedua orang tuaku?’ pikir Vina.
__ADS_1
Meskipun wajahnya sering menyiratkan rasa bahagia karena bisa berada di negara yang begitu bagus dan sangat diidam-idamkan banyak orang, tapi nyatanya tidak dengan hatinya .
‘Tetap saja, aku ingin pulang. Ma- pa.., ah!’ seketika Vina langsung mencengkram tangannya itu ke seprei dengan cukup kuat sambil meringis kesakitan, karena rupanya tidak hanya ada dua atau tiga helai benang saja yang harus di lepas, tapi ada lumayan banyak, serta ada beberapa luka yang ternyata masih basah, gara-gara Vina sendiri terlalu banyak bergerak, jadi imbasnya luka yang seharusnya sudah mengering, tetap saja masih terlihat belum adanya kemajuan untuk sembuh.
“Nona, jika anda mau saya bisa menyuntikkan anda obat bius,” tawar suster ini, merasa miris saat mendengar desisan yang keluar dari mulutnya Vina.
Tapi Vina sendiri justru menolaknya dengan gelengan kepalanya, “Lanjutkan saja, aku tidak masalah jika tidak di bius, karena aku ingin merasakan sakit ini, setidaknya untuk mengingatkanku kalau aku pernah menggunakan hidupku untuk menolong orang lain,” jawab Vina dengan nada bergetar.
Sungguh, padahal dia bisa saja membius pasiennya itu, tapi melihat pasien yang dia layani benar-benar bersikeras untuk menolak tawarannya, suster ini pun hanya bisa mencoba untuk tegar, sebab luka yang sedang dia lihat itu bukanlah sekedar luka karena tergores batu, tapi juga adanya luka bakar karena batu yang panas sempat menimpa kulit dari Vina itu sendiri.
Tapi di tengah-tengah Vina sedang mendapatkan perawatan lanjutan untuk luka di punggungnya itu, Vano yang baru saja membuka pintu kamar miliknya itu, seketika langsung diam membisu.
“Akhh…,” rintih Vina dengan kepalan tangan yang semakin kuat.
“Nona, lebih baik saya bius anda, agar anda tidak menderita rasa sakit seperti ini.” ucap suster ini dengan wajah khawatirnya, karena terus saja mendengar rintihan dari rasa sakit yang keluar dari mulutnya Vina.
Tapi Vina tetap saja menggelengkan kepalanya tanda menolak permintaan dari suster tersebut.
“Kalau apa?” sela Vano saat itu juga. Dia yang tidak tega melihat Vina nampak sedang menahan rasa sakit karena benang jahitannya sedang di lepas oleh suster tersebut, langsung berjalan dengan cepat menghampiri Vina. “Kau tidak perlu keras kepala, apa kau ingin terus membuat orang khawatir dengan rintihanmu yang memilukan itu?” tanya Vano dengan nada sedikit kasar.
Vina yang terkejut dengan keberadaan dari Vano yang tiba-tiba muncul di hadapannya, seketika langsung berwajah pucat, karena di matanya tiba-tiba saja terbayang dengan kilatan wajah seseorang yang menyiksanya.
“Aku harap kau bisa menuruti perkataan suster, agar kau tidak terlihat menyed-” ucapannya Elvano seketika menghilang, ketika dia baru sadar kalau ekspresi wajah Vina yang menatap kepadanya, adalah ekspresi yang terlihat seperti sedang menahan ketakutannya. ‘Dia kenapa? Apakah ada yang salah saat aku tidak ada di sini?’ pikir Vano.
‘D-dia Vano kan? Tapi kenapa mataku tiba-tiba melihat kalau wajahnya adalah wajah orang lain yang mirip dengan seseorang? Apakah aku kehilangan ingatan yang seharusnya aku ingat?’ Vina yang tiba-tiba saja ketakutan dengan kedatangan dari Vano pun langsung kembali menundukkan kepalanya. “K-kau Vano kan?” tanya Vina dengan gugup.
“Kenapa kau tanya seperti itu? Aku memang Elvano, tetanggamu sendiri, apa ada sesuatu yang salah?” tanya Vano, dia pun mulai khawatir dengan apa yang sedang dia lihat saat ini.
‘Tetangga? Bahkan Tuan muda sampai mengatakan dirinya adalah tetangga dari Nona ini? Sebenarnya siapa Nona yang dibawa oleh Tuan muda ini?’ pikir suster ini, sebab identitas Vina sampai saat ini sama sekali tidak diketahui, bahkan Dokter Jason sendiri.
__ADS_1
Tapi selagi ada kesempatan untuk memberikan obat bius kepada pasiennya itu, selagi Tuan muda Vano sedang mengajak Vina untuk bicara, saat itu juga suster ini menyuntikan obat bius itu sendiri langsung ke dalam cairan infus.
Dia melakukannya bukan sekedar untuk membuat pasiennya itu tertidur, tapi juga menghindari kepanikan yang sudah mulai muncul di wajah si Vina itu sendiri.
“K-kau, tadi entah kenapa aku sempat merasa ka-kalau yang datang adalah seseorang yang mirip denganmu. Maaf, membuatmu jadi khawatir, a-aku hanya merasa kalau aku tiba-tiba jadi takut dengan sosoknya,” jawab Vina dengan tenggorokan terasa tercekik, sebab dia harus bicara dengan keberaniannya. “Aku…, tidak bisa mengingatnya…dengan jelas.”
Vano yang merasa tidak tega dengan perasaan takut yang sudah dimiliki vina terhadapnya, seketika langsung menggapai wajah Vina yang menunduk dan membuat Vina agar menatap ke arahnya. “Dengar, selama aku ada di dekatmu, tidak akan ada orang yang membuatmu jadi ketakutan.”
“Kenapa kau mengatakan selama ada di dekatku? Itu artinya apa?” tanya Vina dengan polos.
Menghela nafas dengan pelan, tatapan mata Vano yang biasanya selalu nampak tegas dan tajam, tiba-tiba saja menjadi sendu, dan berkata : “Karena aku akan terus berada di sampingmu, entah seberapa lama itu, aku akan tetap berada di sisimu Vina. Seharusnya kau mengerti maksudku,”
Vina hanya menatapnya dengan tatapan mata kosong.
Seolah kalau Vina nampak tidak paham dengan apa yang barusan Vano ucapkan, tanpa basa-basi lagi, Vano secara tiba-tiba langsung mendaratkan bibirnya ke bibirnya Vina.
CUP…
‘Hahh?! Tuan muda?’ suster ini langsung berbalik, saking terkejutnya.
“Kau seharusnya bisa mengerti soal apa yang aku lakukan tadi, ya kan?” tanya Vano dengan jawaban penuh harap kepada Vina.
Vina yang masih terkejut itu, matanya langsung membulat lebar, dan menatap Vano dengan cukup tegas, “T-tadi, tadi apa yang kau lakukan? Itu kan- itu- itu kan ciuman pertamaku?” taya Vina balik sambil memegangi bibirnya sendiri.
“Apa lagi? Inilah jawaban dari yang kau tanyakan tadi, aku akan terus berada di sisimu, itu saja.” jawab Vano, lagi-lagi mengatakan yang bagi Vina sendiri, itu adalah ucapan yang masih ambigu.
Tapi sayangnya, ketika Vina hendak angkat bicara lagi, dia harus menemui kesan pahit dirinya sendiri yang tiba-tiba saja mendapatkan rasa kantuk yang cukup luar biasa. ‘E-eh, kenapa aku merasa ngantuk? Bukannya tadi aku sudah tidur?’
Tanpa sepatah kalimat lagi, Vina yang tidak kuasa menahan rasa kantuk itu pun pada akhirnya langsung memejamkan matanya. Dan Vano sendiri, sebelum tubuh Vina ambruk ke arah belakang, salah satu tangannya langsung menangkap tubuh Vina yang sudah terkulai lemas itu dengan begitu cekatan.
__ADS_1
BRUK…
‘Yang tadi itu, kenapa rasanya sangat lembut?’ detik hati Vano, menatap sendu wajah Vina yag terlihat begitu damai.