Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
65 : Kebohongan


__ADS_3

“Wah, ini sudah mulai sembuh, tapi tetap saja anda kalau mau tidur atau bergerak, harus tetap hati-hati, karena lukanya bisa terbuka kembali,” peringat suster ini kepada Vina. 


“Berarti apakah dia bisa aku ajak keluar?” tanya Vano, dia sedang berdiri di belakang Vina yang kebetulan, memang sedang ditinjau semua luka yang perlahan akan membekas di kulitnya itu. 


“Tuan, sebaiknya anda jaga pandangan anda, lihat Nona, dia sudah malu setengah mati,” sela suster ini kepada Vano. 


Vano yang tiba-tiba saja diberikan peringatan kecil dari perawat tersebut, langsung menatapnya dengan tatapan yang cukup dingin. Tapi meski begitu, suster tersebut tetap berani menatapnya, karena bagaimanapun sesama perempuan harus saling melindungi sekaligus menjaga. 


Begitu tatapan matanya beralih ke arah Vina yang masih menundukkan kepalanya ke bawah, Vano pun segera berbalik, dan memilih berbaring di tempat tidurnya sendiri.


“Aku sudah kembali ke tempatku, kau bisa jawab kan?” kaa Vano, dia masih menunggu jawaban dari suster tersebut. 


“Untuk kondisi fisik memang sudah mulai membaik, bahkan besok sudah bisa diajak keluar, tapi bukan berarti pulang. Tapi kembali lagi pada Nona, apakah dia mau atau tidak?” ucapnya lagi. 


Vina yang di berikan pertanyaan demikian, lantas melirik kembali ke tempat dimana Vano sedang berbaring, dan saat ini pria itu sedang memunggunginya. 


‘Kenapa dia tidak menjawabnya?’ batin Vano, mencoba bermain handphone nya sendiri. 


“Terserah kau saja, aku bisa di sini terus sampai sembuh, atau-” ralat, ucapannya langsung Vina potong, begitu dia menyadari kalau dia baru saja mengatakan kalau dia akan ada di rumah sakit sampai sembuh?


Konyol! Biaya rumah sakit itu mahal, dan bahkan sampai detik ini saja, Vina seketika jadi bingung sendiri apa yang harus dia lakukan atas nasibnya yang sama sekali tidak punya uang untuk membayar biaya perobatannya. 


“Nona? Anda kenapa?” tanya suster ini sembari sedikit membungkukkan tubuhnya ke samping kanannya Vina, karena melihat wanita yang sedang dia rawat itu, tiba-tiba saja diam membisu sambil menundukkan kepalanya. 


‘Kenapa tiba-tiba dia jadi diam?’ Vano yang penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepada Vina, lantas dia pun menoleh ke belakang, dan melihat kepala Vina yang semakin menunduk ke bawah. “Vin? Kau kenapa? Apa ada yang sakit?” 


Vano pun jadinya bangkit, karena Vina yang terus terdiam itu. 


“Non? Anda tidak apa-apa? Atau lukanya sakit lagi?” suster ini pun jadi ikut khawatir. 


Tapi, Vina yang sebenarnya memang merasakan sakit di punggungnya, hanya diam dengan sebuah gelengan kepala. 


“Vin, kau jangan buat orang khawatir lagi, katakan, kenapa kau diam saja?” ucap Vano kepada Vina. “Kau, coba panggilkan dokter, dia itu suka memendam rasa sakit, buat Jason per-”

__ADS_1


“Tidak perlu,” kata Vina, tiba-tiba saja menyela ucapannya Vano yang hendak menyuruh perawat tersebut untuk membawa dokter Jason kepada Vina. 


“Terus kau kenapa? Kau jadi semakin aneh, katakan saja, aku di sini.” ucap Vano, membujuk Vina untuk bicara dengan terus terang. 


“Aku ingin pulang saja,” Vina pada akhirnya menjawab ucapannya Vano dengan hal yang cukup mengejutkan. 


Vano yang merasa itu adalah sesuatu yang mustahil, mengingat kondisi wanita di depannya itu masih belum benar-benar pulih, Vano pun semakin mengernyitkan matanya. 


“Pulang? Kau dengar tadi apa yang dikatakannya, kalau kau bisa keluar dari sini, tapi bukan berarti benar-benar bisa pulang. Kau masih butuh perawatan.” jelas Vano dengan panjang lebar. 


Vina semakin memeluk tubuhnya yang belum memakai pakaiannya itu sambil menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidurnya dan berkata : “Tapi aku mau pulang. Tempat ini memang indah, tapi ini bukan tempat dimana aku seharusnya tinggal. Bagaimana dengan kondisi kedua orang tuaku? Dan- aku tidak tahu harus bagaimana membayar biaya rumah sakit. 


Apalagi kau bilang, kalau aku di rawat sudah sampai sebelas hari, dan aku bahkan tinggal di kamar sebagus ini, bagaimana aku bisa membayar biaya perawatanku?


Apakah aku harus menjual ginjalku agar aku bisa membayarnya?” oceh Vina, dia pun memberitahukan keluhan yang dia rasakan serta Vina pikirkan selama dia akhirnya bisa sadar dari komanya. 


Suster dan Vano sendiri, dia saling pandang satu sama lain untuk beberapa detik, sampai Vano memberikan kode kepada perawat itu dengan gelengan kepala, untuk tidak memberitahukan identitas sebenarnya Elvano kepada Vina. 


Kau tidak tahu ya? Jika ketahuan ada orang dari negara lain yang diculik ke negara ini, dan jika korban itu mengalami luka, orang itu tidak akan dikenakan biaya apapun. Lagi pula apa gunanya punya duta dari negaramu?” jelas Elvano, kalau Vina mendapatkan bantuan dari duta besar indonesia, karena merupakan korban dari kasus penculikan. 


Padahal kalimat manis yang di bumbui kebohongan. 


“Begitu ya? Aku tidak tahu kalau ada peraturan seperti itu disini.” 


Vina berhasil di bohongi dengan mudahnya. Melihat hal itu, Vano pun dalam diam tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil membohongi wanita ini, agar tidak merengek pulang, karena bagaimanapun Vina masih belum sembuh, dan Elvano sendiri berusaha untuk mempertanggungjawabkan perbuatan dari saudara kandungnya yang sudah kelewatan itu, dengan cara ini, sekaligus ke depannya, Elvano sudah berjanji pada dirinya kalau dia akan melindungi Vina. 


“Berarti bagaimana dengan tawaranku? Kau besok mau pergi atau tidak?” tanya Vano. 


Vina yang terpukau dengan menara Eiffe yang ada di depan sana, hanya memberikan anggukan sesaat. “Iya,”


Vano dan perawat tersebut pun tersenyum. Tanpa ada drama panjang, Vina berhasil di bujuk dengan mudah. 


Padahal sebenarnya-

__ADS_1


______________


“Tuan Delvin, ini rincian biayanya,” tempat registrasi, Delvin yang sedang menelepon dengan seseorang, langsung menoleh ke belakang, dan langsung disuguhkan dengan lembaran kertas soal biaya rumah sakit untuk perawatan Verina selama hampi setengah bulan ini. 


Delvin yang teliti itu pun membacanya dengan cepat. “Baru segini?”


“Ya?”


“Biayanya hanya baru segini?” tanya Delvin, seraya menutup teleponnya. 


“Iya-, apakah ada yang salah?”


“Tidak, aku hanya terkejut kalau biaya rumah sakitnya tidak sampai lima ratus juta.” jawab Delvin dengan gamblang, membuat semua orang di sekitar yang tidak sengaja berpapasan, langsung melongo. 


Lima ratus juta memang bagi mereka bukan seberapa, tapi begitu mendengar Delvin seperti meremehkan jumlah itu, mereka pun di buat jadi sadar, kalau Delvin bukan orang sembarangan. 


“Bayar pakai ini.” Delvin mengeluarkan kartu debit. “Lain kali, kalau mau nagih kepadaku, saat pasiennya benar-benar sudah sembuh, itu lebih baik, daripada terus bayar berkali-kali,” Imbuh Delvin.


Mendengar hal tersebut, perawat itu pun langsung jadi gugup sendiri. “Baik, saya akan mengingatnya.” ucapnya, tapi wajahnya sangat memperlihatkan rasa khawatir, sebab meskipun Delvin nampak tampan dari atas sampai bawah, namun karena ekspresi serta tatapannya yang begitu dingin, dia pun jadinya merasa terintimidasi. “Kalau begitu, saya minta tanda tangan anda dulu.” 


Setelah Delvin tanda tangan dan mendapatkan kartu ATM nya lagi, Delvin pun kembali melanjutkan pembicaraannya dengan seseorang yang ada di ujung telepon. 


-”Kau yakin? Mau melakukan itu kepada Tuan?”-


“Tapi ini yang terbaik, agar semua ingatannya bisa cepat pulih.” jawab Delvin, dia langsung masuk ke dalam lift, dan segera menekan tombol nomor 1. “Jadi kit-”


“Ingatan siapa yang kau maksud itu? Apakah itu aku?” suara rendah, dan terdengar berat itu, seketika menyadarkan Delvin yang sedang bicara dengan temannya. 


Dan begitu Delvin menoleh ke arah belakang, dia pun langsung di hadapkan dengan Tuan mudanya.


‘Kenapa Tuan muda kembali memakai baju pasien?’ pikir Delvin, tidak menyangka, kalau orang yang sedang berdiri di pojokan dengan menghadap ke arah sudut lift, adalah Tuan nya sendiri. 


“Delvin, aku tanya kau itu seharusnya menjawabnya, apa kau sedang membahas soal masalahku?” tekan Vano, dia tidak puas hati jika anak buahnya tidak segera menjawab pertanyaannya dengan cepat. 

__ADS_1


__ADS_2