Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
57 : Tidur panjang


__ADS_3

Dari satu menjadi dua jam, begitu dua jam berlalu, tiga sampai akhirnya delapan jam pun terlewati.


Demi bisa mengetahui kondisi terkini, Vano terus menunggu dan menunggu.


Meskipun tubuh itu lelah, tidak ada yang lebih lelah dari memikirkan orang yang benar-benar mempertaruhkan nyawanya kepadanya.


Delvin yang baru saja selesai mengurus data diri untuk identitas Vina, lagi-lagi saat dia kembali, dia harus melihat Tuan muda nya yang terus saja duduk menunggu para dokter yang melakukan tindakan operasi darurat untuk Vina.


"Tuan, dari pada anda ketiduran di sini, lebih baik anda istirahat di dalam kamar anda," bujuk Delvin, dia sudah berdiri di sampingnya Tuan muda.


Elvano yang memang sempat dalam posisi tidur dengan kondisi duduk, dengan buru-buru dia segera membuka kelopak matanya, dan melihat ke arah Delvin yang akhirnya kembali, dengan pakaiannya yang lebih santai.


"Kau nampak lebih normal jika memakai pakaian seperti itu," sahut Vano, tidak menjawab ucapannya Delvin tadi.


"'Tuan-" Delvin menuntut sebuah jawaban kepada Vano.


"Tidak, kau saja yang pergi istirahat di sana, aku akan tetap di sini menunggu mereka selesai operasi," akhirnya Vano pun menjawab ucapannya Delvin.


Tidak seperti sebelumnya, dimana Elvano sempat memasang ekspresi wajahnya yang cukup seram, maka tidak dengan kali ini. Ekspresi wajah pria normal yang nampak putus asa karena seseorang, membuat Delvin melihat Tuan muda nya ini benar-benar terlihat cukup menyedihkan.


Baru juga membahas permasalah istirahat, tiba-tiba lampu peringatan di atas pintu yang tadinya berwarna merah, sudah berubah menjadi hijau, yang artinya kalau operasi itu sudah selesai.


KLEK....


"Apa wanita yang anda bawa benar-benar tidak ada kedua orang tuanya?" tanya pria ini, Jason bertanya langsung kepada Elvano, sebab Elvano sendirilah yang membawa Vina kepadanya untuk segera mendapatkan pengobatan.


Vano yang sedikit terpegun dengan pertanyaan dari Jason sendiri, langsung menghampirinya, dan menjawab : "Kedua orang tuanya sedang tidak ada di sini, akulah yang bertanggung jawab atas wanita itu. Jadi katakan saja keadaan sebenarnya kepadaku," pinta Vano kepada dokter tersebut.


Sambil melepaskan kacamatanya, dokter ini pun sempat menghela nafas sejenak dan menjawab : "Ada kabar baik dan kabar buruk, mana dulu yang ingin anda dengar?"


"Kabar buruk," tukas Elvano dengan tidak sabaran.

__ADS_1


Mendapatkan tuntutan untuk menjawab detik itu juga, dia pun berkata sebaliknya, : "Kabar baiknya wanita itu sudah berhasil kami operasi, dan bisa pulih dalam kurun waktu satu sampai dua bulan, tapi kabar buruknya anda harus menunggu sampai dia siuman. Dalam arti jangka waktu yang tidak bisa di tentukan,"


"Apa maksudmu dia koma?! Kenapa? Padahal dia tidak terlihat sep-"


Dengan cepat, dokter ini pun menyela sebelum Tuan muda Vano ini marah-marah. "A-anggap saja seperti itu. Tapi kasusnya ini di sebabkan demamnya yang terlalu tinggi, saya tidak tahu sudah berapa lama pasien ini menahan demamnya sampai setinggi itu dengan terus mempertahankan keasadarannya.


Tapi melihat dari situasinya, sepertinya nona yang anda bawa itu akhirnya mau mengakhiri kesadaran yang selama ini terus di jaga, karena tekanan dari sekelilingnya yang tidak bisa membuatnya percaya untuk kehilangan kesadaranya, akhirnya terpecah karena bisa bertemu dengan orang yang di rasa aman, dan itu pada anda."


"Kau mengatakan hal yang berbelit." marah Vano kepada dokter tersebut.


Delvin yang harus ekstra memiliki kesabaran lima kali lipat dari pada umumnya, langsung menyela : "'Maksud dia, karena Vina dalam posisi di tekan oleh Tuan muda pertama, makannya dia berusaha untuk mempertahankan kesadarannya untuk menghindari hal yang lebih buruk.


Tapi setelah bertemu anda, dia akhirnya bisa bernafas lega karena ada yang menyelamatkannya." jelas Delvin kepada Tuan muda nya itu.


"Hmm..." Vano pun memasang wajah berpikir.


Ternyata ada juga yang bisa menganggapnya kalau dirinya benar-benar adalah seorang penyelamatnya, ketika banyak yang menganggapnya bukanlah orang baik di mata anak buahnya sendiri.


"Jadi apa kau tidak tahu sampai seberapa lama dia akan tidur seperti itu?" tanya Vano, seraya menepis ujung rambut Vina yang sempat menempel di bibir.


"Maaf, saya sendiri tidak bisa memprediksinya." jawabnya dengan ekspresi wajah menyesal.


"Bawa dia ke kamar inap milikku," perintahnya sambil menatapnya dengan begitu lekat terhadap kondisi Vina itu.


Delvin, kedua perawat itu serta dokter tersebut pun langsung saling melirik satu sama lain, dan langsung membungkukkan sebagai tanda hormat bahwa mereka akan menuruti semua perkataan dari Elvano sendiri.


'Sebenarnya apakah hubungan Tuan muda bersama dengan perempuan ini lebih dari pada yang terlihat?' pikir dokter ini, benar-benar penasaran dengan hubungan dari Tuan muda Elvano dengan gadis asing yang baru pertama kali ia lihat.


'Vina- semoga kau bisa cepat sadar. Kedua orang tuamu pasti sudah sangat mencemaskanmu.' kata hati Vano melihat kondisi dari Vina.


Padahal sampai satu minggu yang lalu saja, Vina nampak baik-baik saja, walaupun Vano sendiri tahu kalau ekspresi saat mereka berdua akan pergi dan berpisah dengan Vina, Vina sempat memasang ekspresi wajah yang begitu masam, tapi Vano yang terus berkata kalau Vina akan baik-baik saja, malah berakhir seperti ini.

__ADS_1


'Jika saja aku tidak langsung pergi, aku tidak mungkin melihatmu dalam kondisi seperti ini. Bagaimana caraku membalas kebaikanku kepadamu? Kau bahkan bukanlah orang yang materialistik, tapi-' merasakan hatinya ikut sakit saat ingin mengatakan dari perasaan miliknya yang benar-benar aneh serta sakit, Vano pun dia termenung melihat Vina yang sedang di pindahkan untuk di tempatkan di dalam kamar inap milik Vano.


Alasan Vano memutuskan hal tersebut sebenarnya tidak lain karena dia sendiri memang ingin agar Vina bisa terus dia lihat secara langsung, dan setidaknya ada yang menjaganya, tanpa membuat Vano keluar masuk kamar lain.


Tapi, saat itu juga Vano pun sadar kalau niatnya itu melebihi pikiran itu sendiri. Sebab jika mengikutkan perasaannya sendiri, Vano memang mengharapkan agar Vina tidak jauh dari sisinya.


Itulah yang sedang Vano rasakan terhadap Vina, ketika dia harus diperlihatkan kilatan dari memorinya beberapa waktu lalu, memori dimana Vina justru rela membuat tubuhnya menjadi tameng untuknya, dan berharap kalau Vano tidak lagi terluka karena musuh-musuhnya.


'Seberapa banyak Arthur menyiksamu?' pikir Vano.


Kedatangan dari Vano, Delvin, dua orang perawat yang sedang memindahkan seorang pasien wanita, serta dokter ternama yang ada di rumah sakit tersebut, seketika itu juga sukses menarik perhatian beberapa perawat serta petugas keamanan yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka semua.


"Dia siapa?"


"Dokter Jason sampai mengantarkan pasien tersebut bersama dengan pria itu, jangan-jangan mereka bertiga benar-benar orang penting,"


"Ya tuhan, kenapa ada pria setampan dia? Tapi wanita itu? Apa dia kekasihnya?"


Satu per satu dari mereka semua terus memperhatikan rombongan tersebut dengan rasa penasaran mereka yang cukup tinggi, pasalnya mereka memang baru pertama kali melihat kedatangan dari Elvano serta Delvin ke rumah sakit tersebut.


'Kekasih? Mereka menganggap kalau Vina ini adalah kekasihku? Padahal di balik ucapannya itu, mereka pasti sedang berkata lain.' Pikir Vano lagi, menerka kalau apa yang sedang di pikirkan soal wajah Vina yang memang tidak secantik mereka, menjadi persoalan yang tidak bisa di katakan secara gamblang oleh mereka, karena tentu saja, aura hitam milik Vano yang tiba-tiba saja keluar itu, seketika membuat sebagian besar dari mereka langsung mundur, karena saking takutnya dengan aura Elvano yang cukup mengintimidasi.


Delvin yang menyadari sikap, ekspresi serta aura membunuh milik dari Tuannya tiba-tiba saja keluar, membuat Delvin berbisik. "Tuan, kenapa anda tiba-tiba menekan mereka dengan aura membunuh anda?"


Di tanyai seperti itu oleh Delvin, Elvano pun langsung menjawab : "Aku tidak suka mereka. Mereka pasti antara mulut, serta satu tatapan itu pasti menumbuhkan kesan buruk di dalam pikiran mereka, soal Vina,"


Mendengar hal tersebut, Delvin langsung menghela nafas dengan kasar. "Padahal dari pada anda membuang tenaga anda untuk mengintimidasi mereka dengan aura anda, bukannya lebih baik fokus saja Vina?"


Di berikan saran yang cukup masuk akal, Vano pun langsung mengerjapkan matanya dan menjawabnya dengan lugas : "Benar juga, untung saja kau mengingatkanku."


Dengan saran yang di berikan oleh Delvin kepadanya, dalam seketika ekspresi wajahnya yang tadinya begitu dingin, tiba-tiba saja langsung melembut, membuat mereka yang sadar dengan ekspresi wajah Vano yang tiba-tiba berubah lembut seperti malaikat, sontak mereka jadi tidak bisa berani bicara apapun lagi, selain kalau Vano dan pasien yang terus Vano tatap itu punya hubungan lebih dari pada yang terlihat.

__ADS_1


__ADS_2