Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Mall


__ADS_3

"Jika aku datang sendirian, aku tidak akan mendengar apapun dari mereka, tapi karena penampilanmu saja yang cukup mencolok, jadi mereka pun berusaha untuk membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan aku.


Jelas, aku yang tidak suka ini dan itu, kalah penampilan." Ungkap Vina dengan raut wajah yang terlihat sedih.


Ya, tentu saja sedih. Dikatai jelek secara terang-terangan dan di dengar oleh pria super model ini, siapa yang tidak merasa minder ketika semua perkataan yang merujuk untuk menghina Vina, pada akhirnya ada benarnya, bahwa Vina memang tidak cocok dengan pria seperti Vano.


Dan sekarang saja, perlahan nyalinya untuk berjalan dengan percaya diri dengan bule di sampingnya, jadi semakin menciut.


Sampai, karena Vina melamun dengan deretan apa yang sudah terjadi dalam beberapa jam ini, dia jadi tidak begitu memperhatikan jalan, dimana dia sedang melewati gang yang hanya punya lebar dua meter itu. Gang yang di lalui antara pejalan kaki, dan motor secara bersama-sama.


Vano yang sempat melihat di depan mereka akan ada motor yang lewat, tapi Vina justru berjalan di tengah jalan, cepat-cepat, Vano pun langsung meraih bahu kanannya Vina dan menariknya ke dalam pelukannya.


BRUKK....


"Tadi ada motor, apa kau terus melamun sepanjang jalan tadi?" tanya Vano terhadap Vina yang kini wajahnya sudah ada di depan dada bidang milik Vano.


'K-keras, seberapa besar dia berolahraga sampai punya otot keras seperti ini? D-dan aromanya, aromanya kenapa enak sekali sih? Aneh, jagan-jangan inilah feromon milik dari pria tampan.


Kalau seperti ini, malam nanti aku benar-benar tidak akan bisa tidur nih.' pikir Vina, merasakan wajahnya benar-benar merasa ada permukaan lembut, kenyal karena menghantam kulit, tapi punya tekstur keras yang cukup menggugah selera dari instingnya sebagai wanita. "Kau tadi bilang apa?" Akhirnya Vina pun bertanya, karena baru menyadari kalau Vano barusan bertanya, tapi Vina sendiri tidak tahu apa yang di tanyakan nya.


Sambil mendongak ke atas, dan melihat wajah Vano dari bawah ternyata benar-benar memiliki proporsi wajah yang cukup tampan dan sempurna untuk di katakan sebagai sebuah pahatan paling indah di dunia, membuat wajah Vina akhirnya tersipu juga.


Sedangkan Vano, dia yang sedang menunduk ke bawah, akhirnya menemui wajah Vina yang tersipu itu, dan memperlihatkan wajah polos yang benar-benar di miliki dari seorang gadis desa yang terlihat tidak tahu apapun soal menyoal dunia luar selain terus berada di dunianya sendiri tanpa mau berubah.


"Tidak jadi, kau tadi hanya hampir saja di serempet seseorang gara-gara kau melamun." jawab Vano, dia pun melepaskan pelukan itu.


Pelukan yang sebenarnya membuatnya jadi terasa memabukkan karena samar-samar aroma manis yang masih tersisa, apalagi di tambah dengan tubuh mereka berdua yang sempat berpelukan seperti tadi, hal tersebut jadi semakin membuat Elvano terasa gila, gila karena dia merasakan adanya kelembutan yang sempat menyapa area perutnya.


Sebuah kelembutan dari dua buah dada yang cukup manis itu.


Tentu, terlihat manis, sebab Vano pernah untuk pertama kalinya melihat Vina keluar dari kamar mandi hanya bermodalkan handuk saja, yang bahkan tidak di lilit dengan benar, selain di balut ke tubuh, tapi dua ujung handuknya hanya di pegang saja.

__ADS_1


"O-oh, terima kasih sudah menyelamatkanku." jawab Vina dengan gugup, karena lagi-lagi mereka berdua jadi pusat perhatian para pejalan kaki.


_____________


Di dalam mall, Vano yang akhirnya bisa masuk kedalam mall yang cukup dingin, karena punya mesin pendingin yang bisa menyelimuti seluruh sudut dari lantai satu sampai tujuh, membuatnya langsung mendongak ke atas.


Vano melihat di atas sana ada atap yang terbuat dari kaca, sehingga dia akan tahu apa yang terjadi di luar sana itu sedang cerah atau hujan.


Tidak hanya itu saja, selain banyaknya kedai dan toko yang menjual barang dagangan mereka, hal yang paling menyita perhatian dari Vano adalah aroma kopi yang cukup kuat, dan terasa manis itu.


"Apa kau lapar?" Akhirnya suara milik Vina berhasil menarik seluruh pikiran Vano sesaat tadi.


"Tidak terlalu."


KRUYUKK....


Vina seketika tersenyum miring. "Kenapa tidak jujur saja sih? Kau mau makan apa? Nanti aku yang belikan," Kata Vina kepada Vano. Lagi-lagi membuat Vano merasa seperti pria yang tidak berguna karena di urus oleh gadis kecil ini, dan menggunakan uang pribadi dari perempuan ini pula.


"Daripada berdiri dan bingung, mending duduk dulu kan?" Ucapnya, sehingga Vano pun tidak jadi bicara apapun selain mengikuti kemana arah Vina membawanya pergi, yaitu ke tempat duduk yang terletak di tengah-tengah lorong dari mall tersebut, yang mana kedua sisi baik kanan dan kiri, sama-sama memperlihatkan etalase dari toko.


Dan tempat yang mereka duduki, tepat berada di depan toko pakaian serta produk kecantikan.


"Kau tidak mau pergi kesana?"


"Aku mending beli pakaian lewat online atau menjahitnya langsung. Lagian uangku tidak kuat untuk beli pakaian di sana, padahal bahan terlihat biasa saja." jawab Vina, dia sekarang sedang merapikan isi dari tas yang Vina bawa.


Vano, dia hanya menontonnya saja dari tempat dia duduk.


'Sebenarnya aku ingin membelikannya, tapi aku bahkan tidak punya uang sepeserpun. Hah, memalukan sekali aku ini.' pikir Vano. Dia yang tadinya duduk saling bersandar satu sama lain, tiba-tiba saja Vina sudah tidak ada di belakangnya. "Vin?" panggil Vano, dia celingukan, dan melihat Vina ada di depan sebuah toko roti, dan tengah membungkuk sambil melihat-lihat roti yang rupanya memiliki aroma kopi.


Ya di sanalah tempat asal dari kopi yang dari tadi mengganggu aroma penciumannya.

__ADS_1


"Beli dua ya pak."


"Baik Non." Kata sang koki, dia pun mengambilkan dua bungkus roti bentuk cangkang kerang, tapi di dalamnya sebenarnya ada rasa coklat yang lumer di mulut. "Totalnya tiga puluh ribu."


Itu sudah termasuk dengan air yang sempat Vina ambil.


Tidak lama setelah itu, Vina pergi membayar dan kembali ke tempat dia duduk tadi.


"Nih." menyodorkan dua bungkus roti untuk Vano.


Tapi Vano mengambil satu saja, padahal niat Vina sendiri adalah memberikan kedua roti itu kepada pria tersebut.


"Kenapa kau mengambilnya satu? Ini, dua-dunya untukmu. Dan ini minumannya." Akhirnya Vina pun memberikan semua yang ia beli untuk pria tersebut.


"Tidak, jika aku mengambil semuanya, lantas kau makan apa?"


Vina menghela nafas panjang, kembali duduk di tempatnya tadi, dia menjawab : "Aku membelinya karena kau kelihatannya suka dengan kopi, jadi aku membelikannya untukmu. Jadi makan saja sampai habis,"


"Lalu kau sendiri?"


"Aku tidak makan atau minuman berkafaein. Soal makan, aku bisa membelinya di lantai bawah, disana ada yang jual nasi kuning, aku bisa makan itu." jawabnya.


Vanao pun jadi tidak tega makan sendirian, ketika Vina tidak bisa makan roti yang harganya jelas memang mahal itu.


Tapi, jika tidak di makan, juga ujung-ujungnya akan mubazir, dan akan jadi sia-sia, ketika Vina lah yang membeli roti tersebut dengan uang pribadinya sendiri.


'Dengan seperti ini, aku jadi tahu dia tidak bisa minum dan makan apa. Walaupun aku jelas benar-benar seperti orang yang tidak bisa di andalkan.


Padahal niatnya aku ingin ikut untuk menemaninya, sekalian ingin pergi melihat-lihat kota, tapi yang ada, justru aku membebaninya lebih dari pada sebelumnya.


Vina, aku janji, saat aku mendapatkan kembali ingatanku, dan aku tahu siapa sebenarnya aku, aku akan memberikan semua yang tidak bisa aku belikan untukmu.' kata hati Vano, seraya memakan roti pemberian dari Vina.

__ADS_1


__ADS_2