Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
49 : Ancaman Keras Arthur


__ADS_3

“Apa kau punya pikiran yang sama denganku?” bisik salah satu anak buah Arthur yang merasa curiga sekaligus perasaan yang tidak aman jika dirinya harus bekerja sama di bawah pimpinan Arthur itu. 


Dan temannya itu pun memberikan sebuah anggukan kecil sebagai jawaban kalau dirinya juga memiliki pikiran yang sama dengannya. 


“Haish, ternyata dia orang yang keras kepala juga, seandainya aku membawa lebih banyak orang, aku tidak mungkin harus mengorbankan Bossy itu. 


Tapi demi Vina, aku harus tetap menyelamatkannya. Entah apapun yang terjadi, pahlawanku itu harus aku kembalikan secepatnya ke negara asalnya.” gerutu Elvano seraya mengisi kembali pelurunya dengan menggunakan magazine yang baru. “Jika bukan karena menyelamatkanku, tidak mungkin dia akan di culik seperti ini. Entah bagaimana kondisinya sekarang, aku harus cepat,” imbuh ELvano sekali lagi. 


Mendengar hal itu, kedua saudara kembar ini pun akhirnya saling menatap mata mereka satu sama lain. 


‘Tuan muda kedua, walaupun Tuan Elvano adik dari Tuan Arthur, tapi memang benar, jika dari pada harus bekerja di bawah Tuan muda pertama, aku rasa lebih bagus untuk bekerja di bawah Tuan muda kedua.


Karena semua ucapan yang tidak diucapkan secara terang-terangan itu, menyiratkan kalau jika aku terus bekerja di bawah tangan Tuan muda Arthur, imbas dari nyawa nyawa kita berdua akan berakibat lebih buruk dari sekedar kematian kami berdua, yaitu nenek kami juga akan terkena dampaknya juga. 


Bukan berarti bisa mati untuk keluarga, tidak akan membuat keluarga aman, justru sebaliknya. Lebih baik aku harus menanggung resiko ini lebih dulu, ketimbang harus mendapatkan penyesalan di kemudian hari.’ pikir pria ini, kaka dari saudara kembarnya yang sedang memperhatikan teman-temannya yang nampak memilih untuk terus melanjutkan pekerjaan mereka di bawah tangan Tuan muda pertama. 


“Kira-kira kita harus bagaimana? Karena aku yakin, sekalipun kita bisa melawan Tuan muda kedua, tapi kemenangan itu aku yakin bukan berada di pihak kita. 


Lihat saja, jika mendiang Tuan besar saja menyerahkan jabatannya kepada Tuan muda kedua, bukankah artinya Tuan muda kedua lebih banyak keunggulan dan memiliki banyak peluang untuk bisa memimpin anggotanya ketimbang Tuan muda pertama? Inilah yang aku ragukan dari dulu saat kita ditawari pekerjaan bagus oleh temanmu itu, ternyata bekerja di bawah tuan muda pertama yang bahkan tidak mendapatkan apapun. 


“Hah, jaga ucapanmu itu, bukannya dulu kau terus menyombongkan diri karena bisa bekerja di bawah Tuan muda pertama? Tapi giliran hak waris keluarga jatuh ke tangan adik dari Tuan muda Arthur, kau sekarang mulai memihaknya? 


Walaupun aku ingin mengatakan kalau pandanganmu tentang Tuan muda Elvano selalu saja naif dari dulu, tapi melihat apa yang terjadi sekarang, kau sebaiknya harus lebih teliti dalam menilai orang. 


Berkat kita yang bekarja di bawa Tuan muda Arthur, sekarang nenek kita yang kena Imbasnya, ya kan?” jelasnya dengan panjang lebar.


“Hei, kalian berdua, apa kalian benar-benar ingin berganti majikan?” sampai suara bisikan kecil tiba-tiba saja datang dari arah luar dinding yang menyatu dengan bingkai jendela yang sudah pecah itu, kedua saudara kembar itu pun segera saling melirik. 


“Siapa di sana?” sahut laki-laki ini dengan nada yang cukup lirih juga, selaku dari kakak dari saudaranya itu. 


“Aku adalah asisten dari Tuan muda Elvano, jika kalian benar-benar ingin membuat diri kalian berguna jika ingin ganti majikan, maka kau harus membuktikan ketulusan dan keseriusan kalian. 


Ini bukan menyangkut soal kepercayaan juga, melainkan menuntut kinerja saja. 


Jika kalian berdua paham dengan apa yang aku maksud ini, tugas kalian berdua cukup mudah. 

__ADS_1


Bawa pergi wanita yang di sekap oleh Tuan muda Arthur itu sampai keluar dari perbatasan, di sana ada anak buahku yang sudah menunggu dengan menyamar. 


Itu jika mau, kalau tidak mau, aku akan membereskan kalian sekarang juga,” papar Delvin dengan panjang lebar, seraya sudah bersiap dengan senjatanya sendiri yang sudah Delvin pegang dengan kedua tangannya itu. “Jawab, iya atau tidak- aku hitung sampai tiga, satu-” 


Tiba-tiba saja diberikan pilihan yang begitu mendadak, sontak kedua kakak beradik itu langsung saling bertukar anggukan.


Delvin yang sempat mengintip atas jawaban dari kedua bersaudara itu, seketika itu juga, Delvin pun langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menodongkan pistolnya ke arah mereka berdua. 


KLAKKK….


“...!” terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Delvin secara mendadak itu, karena tiba-tiba saja kedua senjatanya itu ditodongkan ke arah mereka berdua, mereka berdua pun serentak jadinya melotot, tepat di saat Delvin tanpa sungkan, tiba-tiba sudah menarik pemicunya. 


DORR….


“Akkhh…!”


“Delvin,” panggil Arthur dengan ekspresi wajahnya yang cukup dingin itu. ‘Padahal aku sudah mengerahkan banyak orang untuk mengepung mereka berdua di luar, tapi jika dia sampai bisa masuk ke sini, berarti artinya dia sudah berhasil mengalahkan mereka?’


Mengerti akan maksud dari kedatangan Delvin yang mendadak itu, padahal sudah sempat di cegat oleh anak buahnya, Arthur pun jadi merasa ragu untuk melanjutkan aksi dari menyingkirkan Elvano, jika keadaannya saja sudah seperti yang terjadi beberapa minggu lalu itu. 


“Elvano, karena dari awal aku sudah tahu apa tujuanmu itu datang kesini-” ucapannya itu langsung di sela oleh reaksi dari peliharaannya Elvano yang mengerang dengan geraman yang cukup ganas itu. 


“Grrhh…!” Serigala milik Elvano langsung mengerang hebat ketika dia merasakan adanya sesuatu yang janggal.


DORR….DORR…


CTANG…


Sedangkan di saat yang bersamaan, tembakan dari Delvin langsung mengenai sebuah pipa besi, karena targetnya tiba-tiba bisa menghindari bidikannya. 


“Apa kau pikir aku tidak menyiapkan hal yang seperti ini?” begitu Arthur mengeluarkan sebuah alat detonator bom yang sempat tersimpan di dalam saku jas yang di pakainya itu, Delvin, Elvano, dan semua anak buah dari Arthur pun segera membelalakkan matanya. 


Tepatnya, mereka seketika sama-sama terkejut, karena tidak tahu rencana lain yang dimiliki oleh Arthur itu benar-benar cukup gila. 


Hanya karena seorang wanita yang diculik dari negara lain, karena merupakan orang yang berhasil membuat Elvano selamat dari ambang kematian, di saat itu juga seakan kematian itu harus di lempar balik dari Elvano ke Verina. 

__ADS_1


‘Sejak kapan Tuan memasang bom? Tidak mungkin Tuan memasangnya sendiri, tapi sangat jelas, kalau tidak ada satu orang pun yang sama sekali membawa barang mencurigakan ke sini, tapi itu-’ batin kakak dari saudara kembarnya itu.


‘Vina!’ Elvano, begitu dia melihat kakaknya sendiri mengeluarkan alat remot control dari sebuah bom yang bisa langsung Arthur tekan sekarang juga, membuat Elvano jadi mengeraskan rahangnya dengan cukup erat. 


Bagaimana bisa, nasib dari Verina yang sudah melakukan banyak kebaikan kepadanya, harus berakhir dengan kematian yang seharusnya tidak didapatkan oleh wanita itu, hanya karena pernah menyelamatkannya?


Apakah nasib menjadi seorang manusia yang memiliki perbedaan status yang cukup tinggi, membuat banyak orang menganggap kalau orang dari kalangan bawah hanyalah sebuah serangga yang bisa disingkirkan semudah membalikkan telapak tangan?


“Berikan pilihanmu, adikku? Kau mau memberikan posisimu itu kepadaku atau tidak? Tentunya harus sekarang juga,” imbuh Arthur. Jika tangan kirinya memegang detonator bom, maka tangan kanannya itu dia sudah memegang senjatanya. “Turunkan senjatamu-” tambah Arthur, sebagai syarat agar Elvano bisa kalah dengan mudah. 


Tentu, jika diri Arthur tidak membuat rencana penuh siasat seperti itu, Arthur pun sadar jika mereka berdua bertarung secara fisik, maka dirinyalah yang jelas akan kalah dari Elvano. 


Tapi jika rencana ini tidak disisipi dengan siasat seperti itu, maka tidak akan ada yang namanya Elvano tersudutkan. 


“Tuan, jangan dengarkan ucapannya,” ucap Delvin, dia yang sempat melihat adanya dua orang yang hendak menyerangnya, segera Delvin bereskan dengan pukulan serta tendangan. 


BUKH…BUKH…


“Akhh..!” erang orang yang sempat hampir menyerang Delvin, tapi Delvin lebih dulu mengatasi serangan itu dengan lebih dulu menyerangnya, tentunya.


 


“GRRRHH…” sedangkan serigalanya terus mengerang dengan sangat geram, karena Arthur memberikan ancaman kepada majikan dari Bossy itu sendiri. “Auuuhh…!” lolongan dari Bossy pun jadi semakin membuat tempat tersebut menjadi lebih tegang. 


‘Walaupun aku jadi harus terpaksa mengancammu seperti ini, tapi ini jauh lebih berguna daripada aku harus mundur dari pertarungan ini.’ pikir Arthur. 


“Dasar kakak yang licik, kau melakukan ancaman kepada adikmu sendiri hanya karena takut kau tidak bisa mengalahkanku, makannya mau melakukan cara seperti ini kepadaku, ya kan?”


“Itulah gunanya menjadi manusia tapi punya otak, harus melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang paling diinginkan. Meskipun kau bicara untuk memprovokasiku seperti itu, aku tidak akan kena, karena selagi kau terus bicara hal yang tidak berguna, aku sudah menekan tombol ini.” seringai Arthur, saat jari jempolnya itu akhirnya menekan tombol merah yang sudah membuat jari jempolnya itu terus merasakan gatal ingin menekannya dalam waktu dekat. 


Melihat hal tersebut, Delvin pun segera menodongkan senjatanya ke arah Arthur, bahkan Elvano yang sudah memasang ekspresi wajahnya yang cukup seram itu, segera memberikan tembakan bertubi-tubi ke arah Arthur. 


DORR…


DORR….

__ADS_1


“Kau, memang seharusnya tidak ada di sini. Kau itu seharusnya ada di rumah sakit jiwa saja, Arthur!” pekik Elvano dengan kemarahannya. 


__ADS_2