Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
69 : Kotoran


__ADS_3

Satu tujuan utama yang mereka berdua kunjungi adalah menara Eiffel itu sendiri.


Vina pun sangat suka dengan pemandangan yang ada di daerah sana, sangatlah indah, walaupun kenyataannya kota paris prancis tidak seindah dari ekpektasinya, sebab beberapa tempat, Vina sempat melihat adanya tikus-tikus yang berlalu lalang di sekitar gang-gang kecil.


"Apakah paris memang seperti ini?" tanya Vina.


"Tidak sesuai dengan ekspektasimu ya?" tanya Vano, sudut matanya melirik ke arah Vina yang terus melihat ke arah jendela mobil. "Banyak yang beranggapan kalau paris adalah kota nomor satu yang harus di kunjungi untuk bulan madu, tapi nyatanya di balik julukan kalau negara ini punya eksistensi karena keindahan menara Eiffel, maka tidak dengan keadaan sebenarnya kota ini.


Kau tanya karena kau dari tadi melihat tikus kan?"


"Ah..., iya. Aku memang melihat itu, tapi apakah pemerintah tidak bisa memusnahkannya?"


"Mau memusnahkannya bagaimana jika penduduk mereka lebih banyak tiga kali lipat dari penduduk manusia?" sahut Vano dengan terus terang.


"Apa?!" Vina langsung melotot ketika dia harus terkejut karena ucapannya Elvano yang sangat terdengar di luar nalar.


"Dengar ya, tidak hanya negara ini saja yang punya penduduk yang di luar nalar, tapi Australia juga punya. Kau tahu kangguru? Populasi kangguru di sana justru melampaui penduduk manusia itu sendiri, jadi jangan heran, jika kau harus mendengar kalau kau harus hidup berdampingan dengan hewan seperti itu, terutama tikus." penjelasan dari Vano memang masuk akal.


Ok, bagi Vina kangguru lebih lumayan bagus, tapi kalau berhadapan dengan kangguru, Vina jadi tertawa sendiri, ketika dirinya pernah menonton aksi kocak seorang manusia yang menyelamatkan peliharaannya dari kangguru dan harus adu tinju.


Tapi ternyata ada hal yang kurang bagus, yaitu tikus.


Itu adalah musuh bebuyutan manusia, kecil, gerakan lincah, dan ternyata populasinya lebih banyak? Di kota yang terkenal dengan romantis nya, karena ada menara Eiffel?


Vina pun jadinya mulai merinding sendiri dengan pikiran itu.


"Apa kita bisa pulang saja sekarang? Aku takutnya, tikus-tikus itu berkeliaran di jal-" belum apa-apa, Vina dan Elvano langsung di kejutkan dengan kehadiran seekor kucing jalanan yang tiba-tiba saja menyerobot melewati jalan untuk mengejar tikus besar.

__ADS_1


"Meoww..!"


CKITT...!


"Hiii! Itu hampir saja!" tekan Verina, dia sangat tercengang dengan kejadian barusan. "Kau tidak menabrak kucing, kan?" tanyanya dengan wajah cemas.


"Tidak." jawab Vano dengan singkat, namun matanya kemudian melirik ke arah lengan tangan kanannya, dimana tangan kanannya sekarang sedang di cengkram kuat oleh Vina, karena masalah tadi.


"Syukurlah, masa mau jalan-jalan di kota, harus waspada dengan tikus, dan juga- pencopet?" Vina yang menyadari dengan jelas adanya seorang wanita yang baru saja di jambret, tapi tidak di sadari oleh si korban, lantas raut mukanya jadi sedih.


"Tidak sesuai dengan ekspektasimu kan ya? Disini banyak sekali gelandangan, kriminal pun tinggi, karena mengikuti inflasi perkembangan industri. Tempat tinggal di sini enam kali lipat lebih mahal ketimbang di negaramu, jadi wajah kalau ada banyak orang yang lebih suka jadi gelandangan, karena mereka jadi tidak terbebani pajak atau apapun itu." jelas Vano lagi, membuka lembaran baru terhadap persepsi yang di miliki oleh Vina.


"Iya sih. Kota ini cantik, tapi mending pulang saja ke rumah sakit, lagi pula aku sudah melihat menara Eiffel dari dekat, tadi." ungkap Vina.


Dia yang takut dengan segala hal yang berbau asing, membuatnya enggan untuk melanjutkan perjalanannya.


"Bagaimana jika sebelum itu kita makan dulu?" tawar Vano.


"Kau mau makan apa?" tanya Vano lagi.


"Chicken, kalau ada saos tomat pasti enak, tapi akan lebih enak lagi kalau ada nasi. Itu saja sih, aku ingin ada rasa gurih, asin dan daging yang enak." jelasnya.


"Kalau begitu kita pergi ke restoran yang ada di sana saja," senyuman singkat itu terlukis dibibirnya, dan menunjuk ke arah satu gedung bertingkat empat yang cukup mewah.


Tidak perlu waktu yang lama untuk sampai di restoran tujuannya, akan tetapi begitu mereka berdua turun, Vina yang langsung saja turun dari mobil, tiba-tiba saja peristiwa yang paling mengesalkan adalah ketika Vina tiba-tiba saja dijatuhi kotoran buru.


****...

__ADS_1


"Huwaahhh...." Vina yang sudah malu setengah mati, akhirnya langsung jongkok sambil menyembunyikan wajahnya di dalam tumpukan tangannya .


"Vin! Ada apa?" Vano yang baru juga keluar, langsung berlari ke arah samping kanan mobilnya, dan sudah melihat Vina yang sudah berjongkok dengan isak tangis yang terdengar tidak begitu serius.


"Aku harus bagaimana ini?," jawab Vina, tidak berani untuk menatap lawan bicaranya itu, saking takut serta malu, sebab ada banyak orang yang berlalu lalang dan akhirnya memperhatikan mereka berdua.


"Hahaha, ada yang kena kotoran burung."


"Kasihan sekali dia, tidak jadi kencan."


"Apa kalian bisa diam? Jangan menertawakan orang yang terkena musibah. Seandainya kalian sendiri yang mengalaminya, apakah kalian akan senang kalau orang lain malah menertawakanmu di saat sedang kesusahan?" tiba-tiba saja seorang pejalan kaki yang tidak sengaja lewat itu langsung menegur para anak muda yang sempat menertawai Vina. "Buar-bubar." katanya.


'Kan, ini cukup memalukan. Kenapa hari ini sial sekali? Paris tidak sesuai dengan ekpektasiku. Banyak orang yang bahkan menatapku dengan tatapan heran. Apakah karena aku tidak cantik atau karena aku orang luar?' Vina pun jadinya sedih, dia tidak tahu harus bagaimana lagi dalam menghadapi orang baru.


Vano yang baru saja turun, dia pun mencoba untuk mencari tahu.


'Vina,' Vano jadi merasa bersimpati kepada Vina, karena sekarang perempuan itu malah terus berjongkok, karena saking malunya baru saja di tertawakan oleh orang lain.


Karena dia sudah tahu apa yang terjadi, Vano pun memberikan teks pesan singkat kepada Delvin untuk mengerjakan sesuatu sekarang juga.


//Delvin, cari salah satu salon terdekat dari tempatku berada, dan suruh kosongkan tempatnya.// pesan teks singkat pun di kirim kepada Delvin.


Delvin yang baru saja berganti pakaian di suatu tempat, langsung mendapatkan notifikasi dari Tuan muda. 'Salon? Apa ini maksudnya Tuan ingin mendandani perempuan itu?' pikir Delvin, lalu dia pun membalas pesan tersebut.


//Baik, akan sayalakukan.//


"Tuan, apa ada keperluan lain yang bisa saya lakukan untuk anda?" tanya perempuan ini, dia sebenarnya adalah anak buahnya Delvin, tapi karena bekerjanya di luar dengan berpura-pura menjadi warga biasa, makannya Delvin pun menyuruhnya untuk mengantarkan baju serta barang-barang yang mendukung penyamarannya Delvin.

__ADS_1


"Tidak ada, kau bisa lakukan aktivitas seperti biasa, tapi sebelum itu, kau antar aku ke salon Ltsuxx."


"Baik." jawab perempuan ini. Dia pun melepaskan kain yang menutup matanya, sebab Delvin berganti pakaian dalam mobil juga.


__ADS_2