
"Brengsek kau," kutuk Abel, dia sudah dalam posisi tengkurap selepas dia berhasil melarikan diri sebelum dirinya kena tabrak oleh mobil lain.
'Ini kesempatan untuk lolos.' Delvin yang merasa terbantu dengan mobil yang tadi menyerang dengan menabrakkan mobilnya ke mobil miliknya Abel, akhirnya dengan leluasa Delvin bisa keluar dari situasi tersebut. "Vin, kita keluar!"
Delvin menggapai tangannya Vina, untuk segera keluar dari mobil, sebab tidak mungkin mereka berdua peri dengan mobil yang sudah rusak seperti itu, sekalipun memang bisa jalan.
Vina yang masih syok, hanya menuruti saja perkataannya Delvin, dan pergi dari sana.
CKITT.....
Rupanya ada satu mobil dengan warna yang sama yang tiba-tiba saja berhenti di depan mereka.
"Tuan, Nona, cepat masuk," pinta anak buahnya Elvano yang secara khusus di kerahkan untuk menyelamatkan dua orang tersebut dari bahaya yang di akibatkan oleh Abel.
'Baru juga sudah keluar, tapi sudah dapat bantuan dari temannya? Sebenarnya siapa dia ini? Rasanya aku seperti terlibat dalam ******* saja, dan sepertinya majikan yang dia layani memang bukan majikan biasa? Elvano? Majikannya? Apa dia seorang Tuan muda kaya raya?' mengabaikan semua pandangannya dari sosok Abel yang hendak mengejarnya, perhatiannya justru tertuju pada sebuah truk sampah yang baru saja lewat.
Matanya mencoba mengikuti sosok dari supir yang mengendarai truk sampah itu.
'Dia, apa itu Elvano?' detik hatinya.
"Cepat pergi dari sini sebelum anak buahnya datang," perintah Delvin kepada anak buahnya tersebut.
Ya ... anak buah sang Tuan muda majikan, sama saja dengan anak buahnya juga. Delvin mendapatkan posisinya karena dia adalah tangan kanannya sang Tuan muda kedua.
"Vina! Jadi kau memilih dia ya? Kalau begitu pergilah bersama dengan mereka ke alam baka!" setelah berkata seperti itu, tepat sebelum Delvin pergi dengan anak buahnya, Abel langsung mengangkat detonator bom setinggi-tingginya, sampai kedua mata mereka semua langsung membulat lebar, sebab rupanya ada skateboard yang bisa berjalan sendiri dan hendak mengikuti mobil yang hendak jadi pelarian mereka bertiga.
"Keluar dari mobil!" perintah Delvin, karena begitu skateboard itu berada di bawah mobil mereka, tamat sudah.
'Sepertinya hari ini akan jadi hidup dan matiku.' mengeluh dalam diam, Vina yang cukup lelah dengan semua kejadian yang menimpanya dalam satu waktu yang berurutan dan dengan durasi waktu yang cukup singkat, dia pun pasrah.
Tapi, sepertinya tidak dengan Delvin. Ketika Vina sudah lelah dan memilih untuk diam, Delvin dengan begitu antusias langsung memeluknya dan mendorongnya keluar dari mobil mereka sebelum akhirnya ledakan yang cukup keras, langsung mengisi keheningan yang baru saja di ciptakan beberapa saat itu.
BRUKK....
"Delvin? Kenapa kau sebegitu keras kepala sekali, ingin menyelamatkanku hanya karena sebuah perintah yang bisa membuatmu dalam bahaya lebih dari pada yang seharusnya?" tanya Vina dengan lirih, dia memegang pakaiannya Delvin dengan erat, dan bertanya soal alasan kepada pria tersebut.
Delvin yang masih dalam posisi memeluknya, menjawab, "Karena kau tanggung jawab yang harus aku kerjakan. Ini sudah jadi pekerjaanku, jadi mau apapun yang kau khawatirkan, tidak akan membuat aku berubah pikiran."
"Hoh~ Apa ini? Apa ini artinya cinta kalian berdua sudah sangat kuat ya? Lebih dalam dari pada kita berdua waktu itu saling bercinta?" dan akhirnya datanglah Abel, dia sudah berdiri di samping mereka berdua.
'Bercinta? A-aku dengan dia? Kita berdua bercinta?' isi kepalanya Vina pun berisi dengan khayalan imajinasi yang panas antara dirinya dengan Abel. "K-kita berdua, su... dah bercinta? K-kau ber ... canda! Aku tidak pernah bercinta ... pada siapapun! Kau hanya-"
Sayangnya ucapannya langsung di sela dengan kehadiran Abel yang tiba-tiba memperlihatkan handphone nya kepadanya.
-"Ahh~ aku lelah, sebentar, tunggu, berhenti dulu."-
__ADS_1
-"Berhenti katamu? Aku bahkan baru saja memulainya, Vina."-
DEG...
Lalu suara lenguhan milik seorang wanita, membuat Vina langsung mematung. Dia tidak ingin percaya dengan apa yang dia dengar, akana tetapi apa yang dikatakan oleh Abel, bisa saja terjadi tanpa Vina sadari.
'Apa artinya aku sudah tidak perawan lagi?' sebagai perempuan yang masih belum mengenal dunia luar yang begitu keras, Vina jelas langsung merasakan syok, dia tidak menyangka kalau dia dan pria tersebut sudah pernah bercinta?
Vira awalnya tidak terima dengan perkataannya, saking tidak terimanya, dia sudah mencengkram bajunya Delvin dengan kuat, sampai Delvin sendiri jadi khawatir kalau Vina terhasut dengan kebohongannya Abel itu.
'Nah begitu, kau adalah wanita polos, kau harus menjadi orang yang putus asa, Vina. Kau pasti syok, karena aku merenggut keperawananmu hanya berdasarkan ucapanku saja. Kau yang tidak memiliki pikiran yang luas, pasti akan langsung tersinggung.' Abel berusaha untuk menghasut Vina, tapi apakah akan berhasil?
Hanya dengan melihatnya saja, Abel sudah merasa yakin kalau Vina akan percaya dengan apa yang dia katakan dan dia perlihatkan itu.
Tapi ...
"Itu pasti bohong, kau hanya mencoba membohongiku kan?"
"Kenapa kau bilang aku bohong? lihat saja ini, ini kau dan ini aku, apa sudah sampai memperlihatkan video kita berdua, kau masih saja berpikir aku membohongimu?" papar Abel, masih berusaha untuk mengacaukan pikirannya Vina.
Vina menggertakkan giginya, dia sungguh dilema dengan semua perkataannya Abel itu.
DORR...!
Seketika pipinya Abel langsung kena goresan peluru yang di lancarkan oleh Delvin.
"Licik, kau membuat wajahku kena luka," bisik Abel, menyeka darah yang sempat merembes keluar dari luka yang dia dapatkan itu.
"Aku tidak percaya, pasti wanita itu wanita yang hanya menyamar jadi aku, jadi aku tidak peduli soal ancamanmu itu!" meskipun begitu, Vina sama sekali tidak berani untuk menontonnya langsung, makannya dia terus berada di pelukannya Delvin.
'Hoh~ Sejak kapan wanita kampungan ini jadi sedikit lebih pintar?' pikir Abel, dia langsung menjambak rambutnya Vina.
GREP......
Tapi Delvin yang lebih cekatan dalam hal kecepatan, berhasil melindungi rambutnya Vina dari Abel.
"Kau menantangku ya? Delvin?" ekspresi wajah Abel seketika jadi beringas, dia tidak suka melihat tangannya ada yang berani menyentuhnya, terutama Delvin.
Delvin yang hanya diam, langsung menarik tangannya Abel dan melepaskan pelukannya dari Vina.
"Jadi kau memang ingin bertarung denganku ya?" seringai Abel, lalu ekspresi wajahnya kembali menjadi datar.
Delvin langsung berdiri dan menarik tangannya Abel dengan kasar, tapi sebelum Abel kena tarik, Abel justru melemparkan handphone nya ke arah Vina.
BRUK...
__ADS_1
"Akhh!" rintih Vina begitu kepalanya kena lemparan hanphonenya Abel.
"Setidaknya tonton itu dulu," ledek Abel.
BUKH...
Abel berhasil menangkis serangan dari bogem mentah yang hendak mendarat di wajahnya Abel, tapi tidak dengan kakinya yang langsung di jegal oleh Delvin.
BRUK...
Abel terjatuh, tapi tangannya segera mencengkram tangannya Vina yang hendak berdiri itu hingga tubuh Vina akhirnya terjatuh ke dalam pelukannya, dan segera memberikan ancaman kepada Delvin, dengan menodongkan pisau belati kearah lehernya Vina.
"Lep-"
"Sudah seperti ini, apa kau masih saja ingin kabur dariku?" ancam Abel kepada Vina dan juga Delvin.
'Bagaimana ini?'
"Kalau kau memang ingin membunuhku, kalau begitu lakukan sekarang juga dengan cepat," pada akhirnya Vina merasa sudah pasrah, mengingat tenaga diantara mereka berdua benar-benar berbanding sangat jauh.
"Tidak bisa, justru aku ingin melihatmu mati dengan penderitaan, jadi jangan berharap kalau kau akan terbunuh dengan cepat, justru sebaliknya, aku akan melakukannya dengan sangat perlahan. Karena hanya mendengarkanmu memohon dan merintih sakit, itu lebih menyenangkan ketimbang hanya melihat kau berakhir dengan menjadi mayat dengan cepat." jawab Abel dengan cepat. "Hah, sudah seperti ini, kenapa kau tidak bergerak? Delvin? Apa kau takut kalau wanita yang seharusnya kau lindungi ini mati, dan membuat semua usahamu itu jadi sia-sia?"
Delvin yang tadinya begitu bingung harus bagaimana untuk menyelamatkan Vina dari tangan Abel, sekarang dia sudah terlihat pasrah.
Melihat hal tersebut, Vina jadi semakin sedih, kalau semua usahanya untuk kabur, apakah akan berakhir di sini? 'Apa dia akhirnya menyerah juga?'
Vina perlahan merasakan sakit di lehernya, berkat pisau belati yang kian menggores kulit tipisnya.
Vina meringis kesakitan, apakah akhirnya dia akan mati di tangan musuh? 'Kalau iya, aku ingin mati dengan cepat.' pikirnya.
"Kau akhirnya menyerah, bagus itu sesuai dengan keinginanku, Vina. Melihatmu dalam derita seperti ini, justru terlihat cukup menyenangkan." ucap Abel dengan nada berbisik.
"Ya, dan apakah kau sama sekali tidak pernah memikirkan konsekuensi ke depannya? Membunuhku, kau aritnya akan dapat dosa yang besar. Aku tidak tahu apapun soal dunia ini, tapi aku pikir seharusnya kau akan mendapatkan konsekuensi setiap yang kau lakukan, Abel. Terserah kau mau melakukan apa kepadaku," ungkap Vira, dengan tubuh yang jelas sudah cukup gemetar, dia berusaha semaksimal mungkin untuk mengangkat tangannya dan meraih wajahnya Abel.
Abel terkejut, dengan sentuhan tangan yang di tunjukkan oleh Vina kepadanya. 'Apa yang sedang dia lakukan?' matanya melirik ke arah tangan yang sedang mengusap wajahnya dengan sentuhan yang cukup lembut dan terasa manja.
"Apa kau tahu, walaupun aku sedang ketakutan, tapi aku tetap saja mengagumi wajahmu yang tampan, Abel. Hah, setidaknya aku bisa hidup setelah bisa menyentuh semua wajah-wajah seperti ini. Aku puas kok, silahkan jika kau ingin membunuhku, sekarang juga." pasrah dalam situasi yang sudah tidak bisa di ajak berkompromi, Vina pun hanya bisa mengulas senyuman lembut.
'Dia memang wanita yang aneh. Meskipun dia sesaat tadi membuatku terkejut, tapi tugasku untuk menyingkirkannya, tetap harus berjalan sesuai dengan rencana.' pikir Abel seraya menikmati usapan lembut yang di lakukan oleh Vina kepadanya.
Lalu semakin waktu berlalu, pisau belati itu pun semakin menekan kulitnya, dan semakin membuat derita dari rasa sakit itu akhirnya kembali dia dapatkan.
Vina meringis, tangannya mencengkram lengan kekarnya Abel, dan akhirnya secara perlahan darah pun merembes keluar.
'Yang penting aku harus puas, hidup dan bisa bicara dengan orang-orang seperti mereka. Walaupun hidupkan hanya akan berakhir seperti ini, aku harus merelakannya, karena takdirku memang sudah di tentukan oleh yang ada di atas.' memejamkan matanya dalam ketakutannya, Vina sudah cukup pasrah dengan kondisinya, dan ingin bisa lenyap dengan cepat sampai akhirnya sebuah tembakan langsung melesat dengan cepat ke arahnya.
__ADS_1
DORR...!