
Kegelapan selalu berdampingan dengan rasa yang dingin.
Apakah aku bisa hidup di bawah kegelapan yang di iringi dengan rasa sakit, dingin, serta sepi yang terus menyelimuti?
Harapan yang sederhana, ingin hidup.
______________
Vina POV
Hidup selalu saja tidak sesuai dengan ekspektasi.
Maka dari itu, meskipun banyak dari mereka yang memiliki harapan, tapi jika hanya mengandalkan harapan saja, apa yang di inginkan itu tidak akan mampu untuk di wujudkan.
Dan walaupun terwujud sekalipun, apakah akan sesuai dengan ekspektasi yang di inginkannya?
Pasti akan ada alasan dari setiap yang harus di hadapi dan di terima.
Jadi,....
Apakah salah satunya adalah aku?
Apakah aku harus menerima perlakuan dari hidup yang terasa tidak adil ini?
Dingin, sepi, sakit..
Tubuhku yang tak kuasa untuk menahan rasa sakit dan dingin yang saling menyatu dalam tubuh yang kian lemah ini, membuatku tidak mampu untuk mengeluarkan suaraku selain kedipan mata yang masih bisa aku gerakkan.
"Vano-" lirihku. Bahkan mulutku yang sungguh, terasa kering, sakit, dan gatal di saat yang bersamaan, membuat apa yang aku ucapkan, bahkan aku tidak tahu apakah aku mengucapkan kosa kata yang benar atau tidak.
Sungguh miris, padahal aku hanya ingin hidup dalam kedamaian, tapi entah kenapa, diriku justru berada di titik harus menghadapi setelah masa dari waktuku yang damai sudah habis sampai entah beberapa hari yang lalu aku tiba-tiba saja di culik oleh orang yang pernah menciumku di muka umum.
Mungkin, memang benar. Kalau menyelamatkan seseorang pasti akan jadi suatu pertanda untukku, antara apakah aku akan mendapatkan keberuntungan atau kesialan.
Dan mulai dari dihari dimana aku di culik, itulah tanda dari kalau kartu keberuntunganku sudah habis di bawa bersama dengan Vano lagi, alhasil aku akhirnya harus mendapatkan kesialan sampai di titik ini.
Di titik, aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup untuk beberapa hari ke depan, atau mati setelah aku menghembuskan nafas terakhirku.
Apa salahku?
"Vina, bagaimana rasanya bisa mandi dan segar kembali?"
Suara yang begitu familiar itu membuatku tiba-tiba saja mengulas senyum yang cukup lembut. Aku berhasil membuat kepalaku di sisi bayangan dimana Vano bertanya kepadaku apa aku terasa sudah merasa segar kembali setelah mandi?
Mungkin saja karena demamku yang tinggi, aku bahkan sampai punya imajinasi bahwa yang bertanya adalah benar-benar Elvano, padahal itu adalah buah dari harapanku yang ingin bisa terwujud saja.
__ADS_1
Sungguh miris bukan?
"Benar-benar wanita jelek dan jorok, bagaimana bisa ada wanita sejelek ini di sini sih?"
Ucapan yang berisi kalimat sindiran itu pun menyeruak masuk kedalam gendang telingaku.
Aku tidak tahu apa yang di ucapkan nya, karena memakai bahasa asing yang bahkan tidak aku mengerti sama sekali.
"Kenapa Tuan muda tidak menyingkirkannya saja sih? Ini benar-benar mengganggu, bahkan aku lebih suka memandikan buaya sekaligus membersihkan kandangnya ketimbang tempat ini dan harus bertemu dengan wanita jelek itu,"
Ah, entahlah apa yang mereka bicarakan, karena aku tidak tahu apa yang mereka katakan, aku pun hanya bisa terdiam sambil berimajinasi bersama dengan Vano.
Yah, entah aku kedepannya akan di siksa kembali atau akan menghadapi kematianku, aku hanya berharap kalau imajinasiku bisa sampai ke Vano. Berharap kalau aku bisa bersama dan bergandengan tangan dengan Vano.
Ya, Elvano. Nama yang begitu indah, keren seperti orangnya. Aku tidak bisa lagi mengungkapkan perasaanku dengan deretan pujian, karena aku sudah kehabisan kata-kata untuk memuji orang itu.
"Hei, mending kita bangunkan dia saja, agar dia membantu. Enak saja terus tertidur di sini sedangkan kita malah bekerja membersihkan muntahannya, bukannya ini sangat tidak adil!"
PLAK...
"Akhh!" tanpa sadar aku mengeluarkan rasa sakitku, karena tiba-tiba saja ada yang memukul kedua kakiku.
Tapi aku yang masih memejamkan matanya, tidak tahu barang apa yang barusan di gunakan untuk memukul kakiku.
"Hei, bangun!" teriaknya sambil mencoba menusuk-nusuk kaki, perut ataupun tanganku dengan ujung dari alat pel?
"Ih, ini manusia atau kuda nil sih? Susah sekali membangunkan dia."
Merasa kesal denganku, karena aku tidak kunjung bangun, dia pun akhirnya memukulku dengan ujung dari tongkat alat pel.
PLAK...PLAK....
Dengan sekuat tenaga dari tenagaku yang tersisa ini, aku pun akhirnya mencoba untuk membuka mataku, dan melihat ada dua orang yang sedang berdiri menatapku dengan tatapan yang begitu bengis.
Itu adalah tatapan penuh dengan kemarahan.
Tapi, apa alasan dari mereka berdua menjadi terlihat marah kepadaku? Padahal aku sama sekali tidak tahu mereka berdua, dan baru kali ini juga aku melihatnya.
"Oh, matamu beraninya matamu melotot kearahku, mau aku tusuk ha?!" tegas wanita ini kepadaku sambil menunjuk kedua jarinya ke mataku.
Melihat hal itu, aku pun langsung menggelengkan kepalanya dan segera menundukkan kepalaku.
"Hei, apa dia bisu? Kenapa tidak menjawab apa yang kita katakan?"
Hah, aku sebenarnya ingin sekali tertawa karena terlihat kalau mereka berdua seperti keheranan karena aku tidak bicara.
__ADS_1
Aku bisa bicara, tapi bahkan karena aku tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan, bukannya lebih baik agar aku tutup mulutku saja?
"Itu bisa jadi sih. Tapi meskipun bisu, mana mungkin dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan?" ucap wanita berambut coklat pendek itu kepada rekannya.
Aku yang sempat curi-curi pandangannya, melihat kalau sepertinya mereka berdua sedang membuat rencana kepadaku.
Apa itu aku sendiri tidak tahu, sampai tiba-tiba saja aku di lempari kain pel oleh salah satu dari mereka.
"Hei, kau pel sendiri sana, itu bekas muntahanmu sendiri, apa kau mengerti?!" ucapannya yang begitu menuntut itu di barengi dengan rambutku yang kembali di jambak.
Aku sebenarnya sudah merasa sangat sakit, karena rambutku berulang kali di jambak.
Padahal rambutku sangat rontok, tapi mereka, apa mereka sebegitu sukanya dengan rambutku sampai terus menjambakku?
Ini sangat sakit, tapi aku harus menahannya agar aku setidaknya bisa menghemat tenagaku dari pada aku harus berteriak.
_______
Normal POV
Vina pun terus terdiam dengan ekspresi wajah yang jelas sangat menderita, karena merasakan rasa sakit yang cukup menyiksa.
"Hei, sudah, jangan sampai Tuan muda tahu bahwa kita juga menyiksanya seperti itu. Yang penting buat dia mengerjakan pekerjaannya itu, untuk mengepel." peringat wanita ini kepada temannya itu.
"Sudahlah, aku juga sudah merasa jijik untuk menyentuh rambutnya yang benar-benar lepek dan bau. Uhh, aku harus segera cuci tangan," mengeluh dengan aroma bau di tangannya.
Meskipun dirinya sudah memakai sarung tangan karet, tetapi dia tidak bisa untuk menganggap kalau tangannya itu higenis dari aroma atau apapun yang bersangkutan dengan tubuhnya Vina.
Dan begitulah, Vina pun di tinggal pergi oleh mereka berdua dan meninggalkan alat pel sudah berada di tangannya.
"Apa aku harus mengepel muntahanku sendiri? Aku bahkan merasa jijik." ucap Vina.
Saking jijiknya, bahkan hanya dengan sekali menatapnya, rasa mualnya pun kambuh.
"Hueekk~ Huekk~ Huekk~"
Vina benar-benar sangat menderita di sana. Walaupun tidak di ikat di atas dengan tubuh menggantung, tapi akibat dari dirinya yang sudah lama di ikat dengan posisi menggantung, bahkan untuk memegang kain pel dengan erat pun dia tidak bisa, apalagi kakinya yang merasa kebas.
"Aku ingin keluar, ahh. Kalau aku memang di takdirkan mati di sini, lebih baik aku mati sekarang saja." gumam Vina, dan mualnya pun kambuh lagi, karena rupanya yang membuat aromanya begitu menyeruak kuat dan hebat, adalah karena kain pel itu sempat sudah di gunakan untuk mengepel di sana.
Karena itu, dengan cepat, Vina pun melempar alat pel itu jauh-jauh.
KLEK....
Tapi, melihat begitu di saat yang bersamaan kedua orang wanita tadi sudah kembali dan melihat Vina yang melemparkan alat pel itu, sontak salah satau dari mereka langsung marah.
__ADS_1
"Kau! Bukannya membersihkannya tapi malah membuangnya! Kau lihat! Berkat kau itu, lantainya malah jadi lebih kotor!" pekik wanita berambut pendek ini kepada Vina, sampai-sampai rahangnya Vina pun benar-benar di cengkram dengan sangat kuat.
"Ukhh....," Vina mengernyitkan matanya, betapa sakitnya rahangnya itu di cengkram, sampai ia merasa cukup was-was, kalau rahangnya bisa saja bergeser.