Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Berbeda


__ADS_3

"Vina-" nama panggilan itu di tunjukkan pada Vina.


'Kenapa akhir-akhir ini dia terus memanggilku? Sebentar dulu, dia terus mengunjungiku setiap saat, apa dia tidak punya pekerjaan yang seharusnya dia selesaikan? Gara-gara dia kan, aku jadi terseret ke semua masalah yang dia miliki?' Vina berpikiran demikian, termasuk dengan suara yang terus memanggil-manggil namanya.


"Vina- kau mendengarku kan?" suara milik Elvano terus saja mengalir, seperti air yang terus terbawa dan menyapa Vina.


'Bukannya dia terlalu mengkhawatirkanku? Tapi tunggu, kenapa aku merasa ada sepoi-sepoi angin yang menerpa tubuhku?' memiliki keingintahuan yang tinggi soal suhu udara yang entah kenapa tiba-tiba jadi berubah drastis, Vina pun perlahan membuka kelopak matanya.


SYUHH~


Sepoi-sepoi angin lembut, tiba-tiba saja datang.


Satu hal yang pertama kali Vina lihat setelah membuka kelopak matanya adalah dia justru melihat rahang milik seseorang yang tampak begitu tergaris dengan sangat jelas, serta surai hitam legam yang tampak berkilau, begitu cahaya matahari yang sedang cerah itu, terus berusaha untuk menembus semua celah dari dedaunan pohon rindang yang tumbuh di sehat dia tas mereka berdua?


Benar ... saking rindangnya, puluhan warna dari lembaran daun yang tercipta dan di tempatkan di berbagai posisi, berhasil menciptakan warna warni yang begitu kentara.


Namun, Vina tampaknya justru terpaku pada iris mata hitam milik dari seorang pria yang begitu dia kenal.


"Kau sudah bagun?" satu pertanyaan yang mengalir begitu saja dari mulut seksinya. Disusul dengan sorotan matanya yang menatapnya dengan begitu lembut, sudah pasti siapapun akan langsung terpikat pada mata tersebut, bahkan termasuk dengan Vina sendiri.


"Kenapa aku disini?" tanya balik Vina tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari menatap wajah rupawan bak dewa, dan bahkan tidak mampu di bandingkan dengan karya seni patung yang terkenal yang ada di museum bersejarah.


Ciptaan yang begitu indah, membawa nuansa harmoni yang tidak mampu untuk di sangkal, kalau tuhan memang menciptakan berbagai jenis ciptaannya sesuai dengan harkat dan martabatnya, dan hanya menyisakan sebagian kekurangan kecil dari segi sifat dan sikap.


"Kenapa kau tanya begitu? Kau kan dari tadi tertidur di pangkuanku?" pria bernama Elvano ini pun menyahut pertanyaan dari Vina yang terlihat bingung itu.


"Pasti ini mimpi, aku kan ada di tempat tidur dengan tangan terluka. Bahkan untuk membuka mataku saja, aku terasa sulit," balas Vina. Dia masih tidak begitu percaya dengan apa yang di katakan oleh Elvano tersebut. 'Tapi kalau ini mimpi, kenapa rasa sejuknya sangat nyata? Apa ada yang salah denganku?'


Vina benar-benar kebingungan, sampai pria yang tampak terus berekspresi kalem seakan begitu mengkhawatirkannya, mengatupkan mulutnya.


'Dia mau bicara apa?' Vina sedikit curiga.


"Apa yang kau katakan, Vina?" rupanya Elvano malah membalas dengan menyangkal ucapannya Vina tadi.


Mengangkat tangan kanannya ke arah wajah Vina, ujung jari telunjuk itu tiba-tiba saja menyentuh keningnya Vina, menepis dengan lembut helaian rambut yang terlihat menghalangi pandangannya Vina dengan penuh perasaan?


"Apa yang sedang kau lakukan ini? Kau sebenarnya terlihat sangat tidak cocok jika berbuat seperti ini," timpal Vina, seraya menepis tangannya Vano agar tidak menyentuh wajahnya, sebab itu seperti sedang memancing dari sebuah godaaan yang mampu merusak akal sehatnya Vina sendiri.

__ADS_1


Senyuman kecut langsung muncul, Vina yang melihat hal itu, jadi sedikit bersalah.


"Padahal aku hanya menginginkan yang ingin aku lakukan padamu," ungkap Elvano dengan terus terang.


'Pembicaraannya jadi semakin aneh, bahkan suasananya juga jadi terasa aneh juga. Sebenarnya apa yang ingin dia katakan sih? kenapa jadi muter-muter seperti ini?' pikirnya, dia menahan tangan kanannya Elvano yang hendak menyentuh wajahnya lagi. "Bahkan ketika kita tidak punya hubungan apapun, jangan membuat aku semakin suka denganmu gara-gara sikapmu yang seperti ini, Vano. Lagi pula, bukannya kau sudah punya kekasih? Kau tidak seharusnya di sini."


Namun, apa yang Vina lihat ketika mencoba memperhatikan ekspresi wajah Vano adalah, justru dia melihat ekspresi Elvano yang begitu bingung, seolah apa yang di ucapakan oleh Vina barusan adalah salah besar?


"Aku harus bangun," Vina mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.


BRUK...


Tapi, Vano yang sudah rela jadi tempat untuk memangku kepalanya Vina, justru tiba-tiba saja pria ini langsung menekan tubuhnya Vina agar tidak bangkit dari tempat berbaringnya itu.


Elvao segera mengernyitkan matanya, dan lantas dia pun menjawab dengan segera, "Vina, apa yang sebenarnya kau katakan tadi? Kekasih? Siapa yang mengatakan kalau aku punya kekasih? Sepertinya kau memang sakit, kau perlu aku bawa ke rumah sakit," papar Vano, malah sekarang dia mencoba menempatkan telapak tangannya di atas dahinya Vina.


"Waktu itu-" Vina sendri jadi bingung mau menjelaskannya dari mana, pasalnya dia sendiri belum tahu nama dari kekasihnya Elvano.


"Waktu itu kenapa?"


Setelah di berikan penjelasan singkat dari Vina, dan Elvano sendiri begitu memperhatikan apa yang di jawab oleh Vina, tiba-tiba dia mengatupkan mulutnya sebelum akhirnya dia pun menghela nafas panjang namun terdengar berat juga.


"Kenapa kau menghela nafas? Aku benar kan? Dia bahkan berteriak dan ngotot kalau aku ini selingkuhanmu,"


Ups, Vina malah jadi terkejut dengan mulutnya yang tidak langsung bisa dia kontrol untuk tidak mengadu soal bagian itu.


'Kalau seperti ini, aku jadi terdengar seperti orang yang sedang mengadu karena aku cemburu, ya kan?' batin Vina.


"Vin-" Elvano yang dari tadi terdiam, akhirnya kembali memanggil namanya dengan lirih?


Oh, itu bahkan terdengar seperti bisikan untuk memberikan peringatan kepada Vina, agar tidak bicara sembarangan?


"Apa? Benar kan? Jadi lepaskan tanganmu dari dahiku ini," pinta Vina, mencoba mendorong tangannya Vano yang kekar itu. Tapi sepertinya usahanya hanya jadi sia-sia saja.


"Sebenarnya apa yang salah dengan isi kepalamu itu?"


"Apa?" Vina semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka berdua yang kian tidak terhubung. "Apa maksudnya sih?"

__ADS_1


Bosan dengan topik yang tidak kunjung habis, dan kesabarannya juga sudah setipis tisu, Vina pun bangkit dari sana, tapi lagi-lagi tubuhnya di cegat kembali oleh Vano.


'Orang ini, apa dia keenakan karena pahanya bisa aku gunakan sebagai bantalku? Padahal pahanya saja keras begini, tapi memang agak nyaman. Heh, sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan ini sih? Dia itu laki-laki dan ku perempuan, tidak punya hubungan apapun, artinya tidak ada situasi yang mengharuskan kita dalam posisi seperti ini, kan?' pikirannya terus mencoba berceramah sendiri.


"Soal wanita yang kau anggap sebagai kekasihku itu kan sudah jadi bagian dari masa lalu, kenapa kau kembali mengungkitnya di saat aku sudah mulai melupakannya? Dari awal dia itu tidak penting selain kau, jadi jangan pernah bahas soal dia lagi, ditengah-tengah hubungan kita berdua." tentu saja, penjelasan dari Vano membuat Vina semakin pusing, karena dia sama sekali masih belum bisa mengerti.


"Hubungan apa? Kau hanyalah orang yang pernah aku selam-"


Di potong dengan sentuhan tangannya Vano yang tiba-tiba saja menyentuh perutnya, Vina langsung menatap wajah pria ini dengan ekspresi terkejut.


"Apa yang sedang kau lakukan dengan menyentuh perutku? Tidak sopan! Kau ini memang pria mesum," kernyit Vina dengan omelan penuh amarah, sehingga Vina yang sudah tidak tahan lagi untuk berbaring dengan kepala dipangku di atas pahanya Vano, langsung bangkit.


Tapi, baru juga separuh jalan, Vina langsung jatuh berbaring lagi ke tempat semula, akan tetapi tubuhnya langsung di tangkap oleh kedua tangannya Elvano.


GREPP....


"Sudah aku bilang, jangan bangkit, memangnya kau ini masih punya satu tubuh saja yang harus di jaga?" tegur Vano terhadap Vina yang sudah memasang ekspresi horor.


Ya, ekspresi horor yang menyiratkan keterkejutannya seakan dia baru saja melihat hantu.


Bagaimana tidak? Begitu Vina melihat ke arah perutnya, dia justru melihat perutnya buncit?!


"Apa?! K-kenapa?! Ha?! Ini, tidak mungkin! Ke-kenapa ... kenapa ini terjadi? Perutku buncit!" panik Vina, dia sangat terkejut melihat perutnya yang buncit, dan tampak gede seperti semangka yang di belah jadi dua. "J-jangan-jangan i-ini ... ini benar-benar ulahnya Abel?"


Mendengar nama Abel keluar dari mulutnya Vina, seketika raut muka Elvano berubah jadi begitu muram dan dingin, seperti seorang yang baru saja menemukan mangsa yang harus di buru.


"Abel? Kenapa tiba-tiba kau mengaitkan dengan kehamilanmu dengan Abel?"


DEG...


Perasaan yang begitu mengintimidasi itu sontak langsung menusuk ke Vina. "Dia bilang kalau aku saat aku di culik waktu itu, saat aku pingsan ... dia- dia dan aku- ... pernah tidur bersama, bahkan dia memperlihatkan Videonya kepadaku,""


GLUK....


Vina merasa seperti mendapatkan ancaman dengan aura milik Elvano yang cukup mengintimidasinya.


'Apa aku salah bicara? Tapi apa masalahnya? Dia tiba-tiba jadi terlihat sangat marah besar seperti itu.' gumam Vina dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2