Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Rencana Besar Elvano


__ADS_3

Setiap manusia selalu memiliki rencana terbesarnya sendiri.


Ya, untuk beberapa alasan, rencana itu bisa terwujud berkat apa yang sudah di milikinya, terutama uang.


Dalam segala situasi, uang adalah segalanya, dan hal itu bisa mempermudah jalan dari tujuan hidupmu sendiri.


Meskipun tidak setiap masalah, atau pilihan itu di artikan harus dengan uang, tapi banyak yang beranggapan demikian.


Tentu saja, setiap orang memiliki nasibnya sendiri, dan diantara milyaran orang, ada banyak orang yang melakukan segalanya agar keinginannya terwujud, terlepas dia harus mengeluarkan banyak uang untuk mewujudkannya.


Dan dari banyaknya orang, Elvano adalah salah satu dari milyaran orang yang akan menciptakan pengalamannya sendiri untuk mengejar impiannya.


"Apa kau tahu impian dari seseorang yang sudah merasakan namanya cinta?" tiba-tiba Elvano berkata demikian.


'Hah?! Cinta?! Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan cinta Tuan muda bersama dengan wanita yang diinginkannya. Tapi apa hubungannya dengan Indonesia?' Jo semakin tertarik untuk mendengarkan cerita dari tuan muda nya lebih dari pada yang dia harapkan di awal dia dipanggil ke kantor Bos nya itu.


Senyumannya lantas berhenti, dia kembali berbalik melihat ke arah lukisan yang ada di belakangnya, dan detik itu juga, Elvano pun mengangkat tangannya, seakan dia meraih sebuah bintang, dia justru meraih impian yang tampak ada di dalam lukisan tersebut.


"Karena ini masalah moralitas yang di miliki wanita itu, makannya aku terpaksa membuat jalur lain untuk meminimalisir sisi pekerjaanku yang sebenarnya.


Asal kau tahu Jo, dilihat dari cara berpikirnya itu, pekerjaanku yang seperti ini di anggap sebagai pekerjaan yang haram." Elvano kembali menjelaskan, dan hal tersebut menciptakan situasi yang terasa simbolis dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Jo terus diam, berdiri sambil mendengarkan terus semua cerita dari rencana yang akan mereka berdua lakukan setengah tahun yang akan mendatang.


"Milyaran uang yang masuk ke dalam kantongku, sekalipun hal itu membuatku semakin kaya, itu terlihat tidak akan berarti untuknya, jika aku menggunakan uang ini untuk dirinya.

__ADS_1


Mau sekaya apapun, jika aku menggunakan uang haramku untuk menghidupnya, itu sama saja aku menjerumuskannya dalam dunia hitam," imbuhnya, dan Jo yang sedari tadi mendengarkannya, jadi semakin paham dengan maksud dari apa yang di katakan oleh majikannya itu.


"Tapi Tuan, jika mendengar cerita anda, apakah artinya anda akan meninggalkan posisi anda demi wanita yang anda kejar itu?" pertanyaan dari Jo cukup masuk akal, jika mau menuntut perasaan yang ingin membuat wanita yang dikejar oleh Bos nya itu terkesan dengan hasil usaha yang di buat oleh majikannya itu.


"Tidak, lagi pula aku juga sudah berjanji untuk meneruskan posisiku ini atas perintah dari Ayahku, aku sama sekali tidak akan pernah meninggalkan kalian.


Makannya, aku mempercayakan usaha sampinganku kepadamu, agar aku bisa mendapatkan hatinya." penjelasan yang di ucapkan oleh Elvano, di akhiri dengan tangan yang kemudian mengepal dengan erat, seolah keinginan itu benar-benar akan terwujud, atau lebih tepatnya cukup realistis kalau itu akan dia gapai dengan mudah.


Walaupun rencananya terdengar sempurna, tapi bukan berarti dia percaya kalau itu akan berjalan mulus.


"Tapi, apakah saya boleh tahu, siapakah wanita yang ingin anda tempatkan di sisi anda ke depannya?" akhirnya Jo pun bertanya ke intinya.


Elvano memutar tubuhnya ke belakang, mengambil garpu yang sempat dia tempatkan di mangkuk, dia pun langsung melempar ke arah Jo dengan secepat kilat.


WHUSSHH ...


KLEK ...


"Tuan, tugas untuk mengantarkan Nona Vina ke kampung halamannya, sudah saya selesaikan," suara milik Delvin pun menciptakan suasana di dalam kantor, tepat setelah garpu yang baru saja di lempar oleh Elvano, berhasil di tangkap oleh Delvin dengan begitu tangkasnya.


'Vina?' detik hati Jo, dia seperti merasa cukup familiar dengan nama itu, sebelum dia akhirnya kembali menatap wajah majikannya yang tampak senang dengan kedatangan dari satu-satu anak buahnya sekaligus tangan kanannya yang paling di percaya.


"Kalau begitu, lakukan tugasmu yang selanjutnya, Delvin. Kau belum menarik kembali semua anak buahmu dari sana kan?" tanya Elvano, tiba-tiba saja senyuman menawan tadi menghilang begitu saja dan tergantikan dengan ekspresi wajahnya yang begitu serius.


"Belum Tuan,"

__ADS_1


WHUSH ...


Delvin pun melempar garpu itu ke arah Jo, dan Jo yang tidak pernah berpikir itu di tunjukkan untuk tuan muda yang ada di belakangnya persis, dengan cekatan langsung menangkap garpu itu sebelum dia kembali mendapatkan luka dari dua pria yang terkenal dengan ketangkasannya dalam banyak hal.


'Tadi bakso, Nona Vina, dan sekarang, apalagi yang akan di katakan oleh Tuan untuk memberikan misi kepada Delvin?' Jo pun kembali di buat cukup penasaran.


"Perintah dariku, lakukan pengepungan di segala penjuru bandara di paris, retas sistem cctv untuk menemukan Veronica.


Aku baru saja mendapatkan informasi kalau Veronica berhasil lolos dari pengamatan anak buahku yang aku posisikan di tempat tinggalnya Abel.


Dia berhasil mengelabuiku, jadi lakukan tugasmu dengan baik, dan aku akan pergi mengurus Abel.


Dan kau Jo, pikirkan baik-baik apa yang aku beritahu tadi kepadamu." setelah bicara seperti itu kepada mereka berdua, Elvano pun menyudahi pembicaraan diantara mereka bertiga. "Sekarang bubar,"


"Baik Tuan," jawab Delvin dan Jo secara besamaan, dan di satu sisi lain Elvano langsung mengambil mantel coat berwarna hitam itu dan begitu dia memakainya, dia pun lebih dulu keluar dari kantornya dan di susul oleh kedua anak buahnya itu.


Dengan wajah seriusnya, dia pun bergumam, "Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh Vina seujung rambutpun,"


'Tuan begitu serius, apa ini artinya akan ada perang lagi?' pikir Jo, dia mau tidak mau harus memikirkan lebih banyak hal, karena kasus kali ini, membuat dirinya akan terseret dalam kehidupan pribadi milik tuan muda nya.


___________


"Oh, Tuan muda, apa yang membuat ada datang kemari?" tanya Abel terhadap satu-satunya tuan yang dia layani, yaitu Arthur.


Setelah lama tidak bertemu karena berbagai urusan yang ada pada dirinya, karena dia saat ini masih memegang posisi sebagai kepala keluarga, meskipun masih sementara, tapi karena dia ingin melihat kondisi dari Abel yang merupakan kaki tangan kanannya, dia pun menjenguknya.

__ADS_1


"Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu itu?" tanya Arthur, begitu wanita tadi pergi meninggalkan mereka berdua, kini di dalam kamar apartemen itu pun hanya tinggal dirinya dan juga Abel yang tampak harus mendapatkan pemulihan lebih banyak dari pada yang Arthur pikirkan.


__ADS_2