Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Amarah Elvano


__ADS_3

Sejenak, kamar itu menjadi hening, tapi tidak lama setelah itu, suara tawa itu memenuhi ruangan tersebut.


"Aku akui, kau memang pintar sekali memuji orang, aku akan menerima julukan itu dengan senang hati, setidaknya ternyata aku punya sosok berbeda dalam diriku ini yang terlihat seperti manusia," oceh Abel, dia tertawa sampai sudut matanya sempat mengalirkan air matanya.


Meskipun tawa itu tidak bertahan lama, tapi Abel cukup puas dengan wanita yang dia culik itu, karena tidak tampak rasa takut ataupun gelisah yang terlihat di wajah cantiknya itu.


"Apa kau punya pacar?"


"Hahaha, kau bahkan bisa bertanya seperti itu kepadaku? Aku sama sekali tidak punya pacar. Karena menurutku, pacaran itu tidak lebih adalah sarana untuk saling memanfaatkan, dan begitu sudah tahu sifat dari kekasihmu sendiri, suatu saat nanti pasti ada waktu untuk berubah pikiran ketika menginginkan hubungan yang lebih serius.


Aku tidak suka jika yang sudah menempel denganku, tiba-tiba mundur dan pergi, jadi sebelum itu terjadi aku pikir lebih baik eksekusi langsung tanpa jeda waktu, sampai akhirnya bisa terikat tanpa bisa membuatnya kabur dari genggamanku.


Membuang-buang waktu dengan PDKT itu bukan tipeku, kau tahu itu? Lagi pula di sini bukannya sudah ada contohnya? Dan orang itu sekarang sedang duduk terikat di kursi tepat di depanku ini," jawaban Abel yang begitu panjang lebar, dan membuat Veronica tersinggung juga, akhirnya kembali membuat Abel merasakan kebahagiaan, bisa bicara dengan wanita yang bisa satu frekuensi dengannya.


"Aku tahu, kau sedang menyindirku. Tapi-"


"Kembali soal tawaranku, jika kau mau menerimanya, aku akan membuatmu tinggal di sini juga. Tapi jangan pernah berharap kau akan bebas, karena semua orang di sini adalah anak buahku, jadi kau tidak akan bisa berkutik tanpa seizinku!"


Melihat aura wajah Abel tiba-tiba berubah menjadi begitu gelap dan dingin, di dukung dengan ekspresi wajahnya yang sangat datar, Veronica seketika jadi merasa merinding.


'Sebenarnya balas dendam macam apa yang akan di rencanakan oleh Abel dengan menggunakanku?' pikir Veronica.


"Jadi, apakah kau punya pikiran untuk menerima tawaranku ini, atau tidak?" tanya Abel, seketika saja ekspresi wajahnya jadi berubah seperti biasa lagi.


"Aku ..."


______________


Setelah kejadian tempo hari yang membuat Vina harus menguras isi perutnya hanya karena obat yang dia makan membuatnya dalam bahaya, dia sekarang kembali ke kediaman dari rumahnya Elvano, namun di anggap sebagai rumahnya Delvin.


"Anu-" baru juga masuk ke dalam rumah, Vina tiba-tiba angkat bicara, sehingga kedua pria yang ada di depannya itu pun langsung menghentikan langkahnya, karena penasaran dengan apa yang ingin Vina katakan.


"Anu apa? Apa kau ingin anu-anu?" timpal Elvano, mengerjai Vina yang langsung kelihatan kalau pikirannya pergi ke luar mengarungi langit dan bumi, berkeliling tempat tapi punya satu tujuan yang mengarah ke satu hal.


Benar, ekspresi Vina memang pada dasarnya mudah di baca, oleh karena itu, Elvano pun jadi senang melihat Vina yang berhasil di kerjai hanya dengan ucapannya saja.


"J-jangan membuat kalimat aneh seperti itu kenapa?" Vina yang malu setengah mati, karena dia ketahuan apa yang sedang di pikirannya ketika mendengar ucapannya Elvano, terus menundukkan kepalanya ke bawah.


Delvin yang jenuh dengan majikannya sendiri yang punya gombalan maut satu gudang tanpa dasar, membuat wajah datar sambil menatap sang Tuan majikannya tersebut.


Mendapati peringatan dari Delvin, Elvano pun menyerah, tidak akan bicara dengan banyak godaan lagi kepada Vina, setidaknya untuk saat ini.


"Iya, iya. Jadi kau sebenarnya ingin bilang apa?"


"I-itu, aku tidak tah bagaimana aku harus minta tolong," gumam Vina.


Dia sudah memikirkannya semalaman, soal kedua orang tuanya, sampai dia sendiri benar-benar jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


"Minta tolong apa? Katakan saja, karena kau seperti ini gara-gara kami, kami akan segera membantu semua yang kau hadapi,"


"Delvin, apa kau lupa, bicara dengan sopan padanya," tekan Elvano kepada Delvin yang baru saja bicara dengan informal kepada Vina, sedangkan saat bicara dengannya, Delvin malah bicara dengan sopan.


"Tidak masalah, aku lebih leluasa jika bicara apa adanya denganku, lagian aku bukan siapa-siapa sampai harus bicara formal denganku. Karena jika bicara formal denganku, aku jadi merasa terbebani." sela Vina, dia sangat tahu diri dengan posisinya, jadi dia pun hanya bicara seadanya dan tidak berharap lebih pada apapun yang berkaitan dengan mereka berdua, mau memperlakukannya dengan sopan atau tidak, yang penting masih dalam batas wajar.


"Kalau pilihanmu seperti itu, aku akan bicara seperti biasanya saja," Delvin menjawab ucapannya Vina. "Jadi apa yang ingin kau katakan tadi?" lalu Delvin pun mulai menelisik alasan kenapa Vina tiba-tiba ingin minta tolong kepada mereka berdua.


'Anak ini, VIna jadinya seperti itu kan? Dasar Delvin ini, sama sekali tida punya sopan santun jika dengan orang lain, tapi jika denganku dia tetap pada pendiriannya untuk sopan denganku. Jadi orang sangat pilih-pilih sekali.' batin Elvano sambil diam-diam dia menatap wajah Delvin dengan serius, sampai Delvin sendiri merasakan tatapan itu dengan sangat jelas.


'Apa Tuan ingin melubangi wajahku dengan tatapan matanya itu?' detik hati Delvin.


"Kedua orang tuaku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku pada akhirnya bicara jujur dengan kalian, karena aku jujur, aku tidak bisa melakukan apapun sendirian ketika aku di ancam oleh kakak kamu Elvano, agar aku membunuhmu dengan tanganku sendiri.


Entah kalian berdua mau percaya atau tidak, aku hanya ingin berharap ada solusi yang baik, karena kedua orang tuaku di sandera olehnya.


Aku, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan, karena sampai aku memikirkannya semalaman tanpa bisa tidur, aku masih bimbang, aku tdiak mau tanganku di jadikan alat untuk membuatku memiliki dosa lebih besar, a-aku mohon, aku mohon selamatkan kedua orang tuaku.


Setelah ini, aku berjanji entah apa yang terjadi kepadaku, karena terlibat dengan masalah kalian berdua, aku tidak akan mengeluh, tapi setidaknya tolong selamatkan kedua orang tuaku!" Jelas Vina.


Begitu Vina berhasil bicara dengan terus terang kepada Elvano dan Delvin di depannya persis, Vina yang sudah putus asa karena dia sadar dengan kemampuannya yang tidak bisa mengatasi masalah kedua orang tuanya yang di culik, seketika langsung duduk duduk di lantai dan bersujud memohon kepada mereka berdua.


"Aku mohon, aku akan berusaha untuk tidak merengek, mengeluh atau marah-marah lagi, tapi tolong untuk kedua orang tuaku. Delvin, Elvano, aku mohon," ucap Vina lagi, seketika jadi membuat beban Delvin dan Elvano langsung bertambah.


Bukan beban kerja mereka, tapi beban soal hati nurani mereka berdua yang tiba-tiba saja melihat Vina yang selama ini protes, dan sering marah kepada mereka, tiba-tiba saja bersujud di depan mereka berdua, seakan orang yang paling menentukan soal nyawa adalah mereka berdua.


Padahal mereka bukan tuhan, tapi melihat Vina seperti itu, siapa yang hatinya tidak sedih jika orang itu masih memiliki akal waras dan hati nurani kepada lawan bicaranya yang selama ini menjadi dasar dari alasan mereka terus melindunginya?


"Aku sendiri, akulah yang menginginkan untuk bersujud di depanmu, aku ingin kau menolong kedua orang tuaku, jadi aku mohon, a- aku mohon," begitu Vina selesai bicara, tangis Vina pun pecah di posisi dia masih bersujud di depan Delvin dan Elvano. "Aku akan mela-"


"Berdiri-"


"Tidak, sebelum aku sel-" merasakan rasa sakit di tangan kanannya lagi, Vina pun diam dan menahan rintihannya sendiri.


Sedangkan Elvano yang tidak sudi mendapatkan sujud dari Vina, tiba-tiba saja dia jadi merasa geram sendiri.


"Vina, aku minta kau berdiri," perintah Elvano. Di balik ekspresi wajahnya yang sudah tampak bengis, matanya sudah memerah, karena dia tidak pernah tahu, rupanya di saat Vina bisa punya titik rasa putus asa yang tidak bisa di selesaikan sendiri, Vina malah bersujud di depannya.


Apa yang di lakukan leh Vina pun membuat Elvano seperti orang yang begitu kejam, menyuruh manusia, terutama wanita untuk sujud kepadanya?


Padahal dia bukan Tuhan, tapi Vina malah bersujud kepadanya?


Dia masih bukan siapa-siapanya Vina, masih sebatas orang asing yang harus bertanggung jawab dengan keterikatan mereka di posisi untuk melindungi Vina di dalam situasi permasalahan pribadi Elvano.


Tapi apa yang di perintahkan oleh Elvano agar Vina berdiri, sama sekali tidak di gubris oleh Vina yang tetap bersikukuh sujud di lantai.


"Vina, berdiri, Tuan tidak pernah menginginkanmu untuk bersujud seperti ini," lirih Delvin, dia sudah tahu kalau ketegangan dari sang Tuan muda, yang mana rahangnya sudah mulai mengeras, karena menahan amarahnya, maka di satu sisi harus ada orang yang memperlakukan Vina dengan lembut.

__ADS_1


Peran Delvin mencoba untuk membujuk Vina dengan pelan-pelan.


"Aku mo-" sampai akhirnya pada titik kesabaran Elvano sudah habis, Elvano pun langsung menaikkan nadanya.


"Aku suruh berdiri ya berdiri! Aku tidak pernah sekalipun memintamu untuk sujud di depan kakiku! Aku bukan Tuhanmu, kau punya tuhan sendiri kan?! Kalau kau minta bantuan, kau hanya tinggal mengatakannya saja kepada kita tanpa membuatmu bersujud seperti itu!


Akulah orang yang membawamu dalam derita ini, jadi untuk apa kau bersujud padaku Vin?!


Aku pikir kau wanita yang punya harga diri yang tinggi, kau seharusnya tidak sampai melakukan ini pada orang lain, bukannya kau masih menganggap aku ini sebagai orang asing!? Lalu apa-apaan dengan sikapmu yang seperti orang rendahan seperti itu?!


Padahal aku menganggapmu sebagai orang spesial, karena kaulah yang membuatku masih hidup sampai sekarang! Aku kecewa, ternyata kau bahkan punya pikiran seperti itu kepadaku!" bentak Elvano.


Akhirnya dia pun mengutarakan semua perasaan, kegelisahan yang selama ini dia rasakan, serta kesan yang dia miliki kepada Vina.


Semua dia beberkan dengan sangat lantang, sampai menggelegar ke seluruh penjuru rumah, dan membuat sebagian besar anak buah Elvano serta pelayan yang ada di dalam rumah sana langsung terkejut setengah mati, hingga membuat tubuh mereka pun secara tidak langsung tersentak dan sempat menggigil ketakutan.


Tidak ada yang berani bicara, hanya ada keheningan serta suara nafas dari Elvano yang tampak memburu, karena dia benar-benar memarahi Vina sejadi-jadinya, tanpa ampun sedikitpun.


Dia melakukan itu karena dia pada dasarnya jadi kecewa, keteguhan hati milik Vina akhirnya tumbang dan mendarat di tanah seperti buah yang sudah busuk.


"Vina, kau harus paham, kau manusia dan aku ini juga manusia, jadi jangan sekali-kalinya kau bersujud di depanku lagi! Ini perintah, kau harus berdiri sekarang!" amarah Elvano pun berakhir dengan keterdiamannya yang masih memasang wajah kesal.


Di satu sisi, Vina yang di bentak habis-habisan oleh Elvano, atau tepatnya oleh orang lain secara kasar, membuat nyali Vina seketika jadi menciut.


Dia tidak bisa bicara, meskipun dia ingin bicara untuk mengatakan sesuatu kepada Elvano.


Bahkan perintah yang di perintahkan kepadanya, sama sekali tidak bisa Vina turuti berkat tubuhnya yang langsung menggigil dan gemetar hebat karena saking takutnya.


Sepuluh detik berlalu, Elvano yang tadinya di kuasai oleh marah yang tidak bisa dia bendung sedikitpun, seketika langsung tersadar dengan sikapnya tadi yang membentak Vina dengan terus terang di dalam rumahnya, sampai di dengar oleh semua orang pula.


'Aku jadi takut, aku takut dengan suaranya. Kenapa pilihanku serba salah, kenapa?! Hiks..., hikss...' Vina yang tidak kuasa menahan tangisnya, berakhir menangis sesenggukan tanpa suara.


Ya, dia akhirnya jadi menahan tangisannya sendiri. Bahkan sampai ketakutannya terhadap suara bentakan dari Elvano yang benar-benar keras, membuat Vina jadi tidak bisa berdiri sesuai yang di inginkan oleh Elvano.


"V-vin, maaf, maaf aku tidak bermaksud untuk membentakmu seperti itu," Elvano jadi gagap, dia ragu, takut, dan tidak percaya diri untuk bicara membujuk Vina yang terdiam dengan tubuh gemetar seperti itu.


"Tuan, biar saya saja, anda istirahat saja dulu di kamar," pungkas Delvin, dia tahu kalau sekarang suasananya sedang dalam kondisi tang tidak bisa di kendalikan hanya sekedar minta maaf, serta perubahan emosi sang Tuan muda, karena semua itu tidak ada gunanya jika Vina sendiri masih syok seperti itu.


Elvano yang hendak menyentuh bahunya Vina pun, niat itu pun langsung dia urungkan dan berakhir dengan keterdiaman, selagi melihat Delvin yang pada akhirnya memapah Vina pergi tapi ujung-ujungnya langsung di bopong, karena kedua kakinya Vina yang lemas dan tidak mampu untuk berdiri itu.


"Tuan muda, baru kali ini aku melihatnya marah seperti itu," bisik salah satu anak buah Elvano yang berjaga di luar.


"Sama, aku juga. Tapi kemarahan dari Tuan muda juga demi kebaikan dari Nona sendiri. Tuan muda kedua memang berbeda dari Tuan muda pertama, makannya Tuan muda langsung membenci melihat ada yang bersujud di depannya, selagi orang itu adalah orang yang begitu di percaya, dan bahkan di perhatikan dengan baik," ungkapnya.


"Semoga saja Tuan muda bisa dapat maaf dari Nona. Kau tahu, semenjak ada Nona Vina di sini, ada banyak perubahan yang bisa kita lihat dengan jelas?" masih membahas soal Tuan muda mereka yang baru saja membentak Vina.


"Hmm, beliau jadi lebih aktif untuk bergerak dalam organisasi, hanya karena ingin membuat strategi mengalahkan Tuan muda pertama, sekaligus melindungi Nona dari segala ancaman yang ada,"

__ADS_1


"Tapi apa yang akan terjadi ke depannya? Kau pasti sudah tahu kan, kalau posisi dari kepala keluarga Travers akan di gantikan oleh Tuan muda pertama?" tiba-tiba mereka jadi membahas soal takhta tersebut.


Mereka berdua pun jadi terdiam dengan informasi yang sudah mereka dengar itu, benar-benar akan terjadi.


__ADS_2