Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
100 : Permintaan


__ADS_3

"Ha? Kau kan bisa mengurusnya? Apa yang seperti ini saja aku harus melakukannya juga?"


Samar-sama suara milik Vano, terdengar di telinganya Vina.


'Vano? Dia bicara dengan siapa? Sampai cara bicaranya itu terdengar seperti sedang kesal?' Vina yang tadinya tidak sadar itu, perlahan membuka matanya, dan melihat punggung dari Vano yang saat ini duduk di seberang tempat tidurnya? 'Hah? Kenapa aku bisa tertidur di tempat tidur? Bukannya tadi aku sempat bertengkar dengan wanita lain ya?'


Merasa terusik dengan isi kepalanya yang begitu samar-sama untuk mengingat ingatannya secara utuh, apalagi soal masalah dirinya yang ternyata sudah ada di tempat tidur, dan di temani oleh Vano yang sedang menelepon seseorang, Vina pun bangun dari tempat tidurnya.


"Iya, sesuai rencana, buat dia terjebak dalam jebakan yang sudah aku buat. Awas saja kalau gagal, aku potong tanganmu itu."


DEG...


Vina langsung merasakan ngeri yang tidak bisa dia sembunyikan. 'Apa dia bicara hanya untuk mengancam saja kan? Itu cuman candaan saja kan?' batin Vina.


"Aku pikir, waktunya hanya sekitar 34 jam saja, aku berikan kau waktu segitu, dan bereskan. Aku sudah kirim aturan mainnya. Sudah dulu, sementara waktu, aku tidak bisa di hubungi. Jika ada apa-apa, katakan pada Delvin saja."


TUT.


Setelah bicara panjang lebar, Vano pun memutuskan panggilan tersebut.


"Hahh` Rencana kali ini harus bisa berhasil. Kalau tidak, bisa-bisa aku-" dan ketahuan!


Begitu Vano berbalik, Elvano langsung di hadapkan oleh Vina yang sudah terduduk sambil melepaskan ikat rambutnya, dan memisahkan rambut yang tersangkut di ikat rambut itu lalu di pakai kembali.


"A-apa kau mendengarnya?" tanya Vano dengan ekspresi wajahnya yang cukup canggung itu.


Vina melirik ke arah Vano, dan menjawab : "Aku hanya mendengar separuhnya saja. Itu juga urusanmu, jadi aku tidak peduli juga sih." jawab Vina dengan cepat.


Akan tetapi sayangnya, dia menjawab pertanyaannya Vano dengan cukup ketus. Membuat Elvano sendiri merasa cukup bersalah.


"Apa pipimu masih sakit? Aku tadi sudah mengolesi salep, jadi ak-"

__ADS_1


Belum selesai bicara, Vina langsung menyela. "Aku tidak mau di salahpahami oleh pacarmu, jadi apa kau mau kalau kau melepaskanku? Aku ingin pulang, sekarang juga." jawab Vina seraya menyentuh pipinya yang masih sakit itu.


Vano tertegun, ini memang sudah jadi konsekuensinya jika membawa perempuan lain di dalam hidupnya, padahal di samping itu semua kehidupan Elvano sendiri yang sebenarnya, justru lebih rumit dari pada yang terlihat.


Tapi, apakah itu sepadan dengan apa yang di hadapi oleh Vina hari ini?


Menjadi pelampiasan dari Veronica?


Demi meluruskan kesalahpahaman, Vano pun berusaha untuk menjelaskan, "Vina, dengar. Aku sudah bilang padamu, aku bahkan tidak ingat soal ingatanku dan diriku sendiri, jadi aku mana tahu kalau wanita yang datang ke rumah adalah pacarku atau bukan.


Di sini itu ada banyak penipu, kau tahu, di berita yang kau tonton akhir-akhir ini, angka kejahatan di kota itu banyak, dan apakah kau percaya dengan orang yang bahkan tidak kau kenal?


Mereka tidak sepertimu yang dari desa, mereka itu punya pikiran yang lebih licik, jadi tidak usah percaya dengannya, Vina." bujuk Vano.


Vina yang mendengarkan penjelasan dari pria di sampingnya itu pun jadi merenung.


Dia tidak tahu mana yang harus dia percaya.


Vano pun mengangguk paham. "Aku mengerti. Aku akan cari tiket untuk pulang, jadi kau tunggu saja kabar dariku." senyum Vano, dia pun mengiyakan permintaan dari Vina ini untuk pulang.


"Kita?" Vina bertanya dengan ekspresi bengong.


"Ya ialah, memangnya apa lagi? Kau dan aku, pulang." jawab Vano singkat.


"Kau benar-benar ingin pulang denganku?"


"Aku tidak punya tempat atau teman di sini, jadi ada baiknya pulang bersamamu kan?"


Vina pun jadinya bingung harus bagaimana, pasalnya Vano sendiri terlihat sudah cocok untuk hidup di negara ini, ketimbang harus ikut pulang bersamanya.


"Kau yakin tidak masalah? Aku pikir, orang yang kau sebut Delvin tadi, adalah temanmu. Jadi bukannya artinya ka-ahh...~" Vina tidak jadi bicara, ketika kepalanya tiba-tiba saja jadi merasa pusing, dengan kilatan memori yang cukup menyakitkan.

__ADS_1


"Kau kenapa?


"Aku tidak tahu, kepalaku tiba-tiba saja jadi sakit. Dan aku sepertinya samar-samar melihat wajah yang agak mirip denganmu di suatu tempat, dimana ya?" tapi karena semakin di pikir, dirinya malah jadi semakin pusing, Vano pun langsung memegang wajah Vina, dan menatapnya dengan cukup lekat.


"Hentikan. Jika kau tidak bisa ingat, lebih baik jangan di lanjutan, itu sama saja dengan menyiksa dirimu sendi, apa kau tahu?"


Dengan sipu malu di wajahnya, Vina menjawab : "Tapi aku penasaran, siapa orang yang wajahnya agak samar-samar ini, kenapa rasanya cukup familiar."


"Apa kau mau pingsan lagi?" pertanyaan dari Vano pun membuat Vina jadi terkejut.


"Pingsan? Aku kan orang yang tidak pernah sekalipun pingsan."


Kesal dengan sikap Vina yang agak menyebalkan ini, Vano pun menjauhkan tangannya dari wajahnya Vina dan menjawab : "Jika kau memaksa otakmu untuk berpikir keras, ada kemungkinan besar hal itu berdampak pada sistem syarafmu, karena jadi gelombang kejut yang langsung mematikan fungsi kesadaranmu secara singkat.


Makannya, aku sarankan agar kau tidak perlu memaksakan diri." penjelasan dari Vano pun di setujui oleh Vina.


"Tapi benar kan? Kalau Delvin itu temanmu?" kata Vina.


"Iya, dia teman kerja." jawab Vano dengan cepat. 'Aku pikir dia sudah ingat soal Delvin yang membawaku kembali ke negaraku sendiri. Untung saja aku tidak membuatnya bingung.


Tapi yang penting, sepertinya aku harus lebih hati-hati lagi. Melihat dia rasanya seperti semakin sensitif, aku pikir aku harus menyembunyikan latar belakangku lebih rapat lagi, agar dia tidak tahu kalau pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang di anggap remeh.


Yah, walaupun aku tidak tahu soal ingatanku sendiri, tapi semua pengetahuan soal aku siapa dan latar belakangku ini apa, aku sudah yakin untuk membereskan semua ini dengan lebih cepat lagi.


Aku sudah tidak bisa membiarkan Vina tinggal di sini lagi. Apalagi mengingat Arthur yang mulai bergerak lagi.' setelah memikirkan hal tersebut secara panjang dan lebar, Vano pun beranjak dari kamarnya Vina, dan membiarkan Vina sendirian. "Ini sudah sore, aku akan siapkan makanan untukmu."


Dan begitulah, Vina yang ada di posisi serba tidak tahu itu, hanya bisa merenungi nasibnya sendiri yang tidak tahu arah tujuannya sekarang ini apa.


'Sampai berapa lama lagi aku akan berada disini?' pikirnya.


Menoleh ke arah kiri, Vina seketika langsung di suguhi oleh pemandangan dari kota paris dengan jangkauan yang lebih luas.

__ADS_1


__ADS_2