Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Penyesalan Dalam Diamnya.


__ADS_3

Dor …


Dor …


Dor …


“Kyaa! Lari!” banyak dari mereka yang langsung lari berhamburan keluar untuk menyelamatkan dirinya dari para orang-orang yang tampak justru seperti sedang membantai?


Bukan, itu hanyalah tembakan peringatan agar semua orang bisa pergi dari sana. 


“Hei, ini menyenangkan. Kita bisa bermain seperti ini untuk menakut-nakuti mereka,” kata pria berjas hitam ini kepada temannya. 


“Iya, lumayan juga, jika kita seperti ini, maka banyak orang yang akan takut kepada kita, ya kan?” balasnya. 


Senyuman mereka yang mengembang sangat menyita perhatian seseorang yang dari tadi mengintai di salah satu gedung pencakar langit. 


“Ah ya ampun, ternyata, dari mereka semua sama sekali tidak ada yang aku kenali,” gumam Delvin, dia adalah orang yang sekarang sedang mengintai pergerakan dari anak buah seseorang yang menyamar seakan adalah anak buahnya Tuan muda Elvano itu sendiri.


“Jadi apa yang ingin anda lakukan kepada orang-orang yang ada di depan sana?” tanya wanita ini, dia adalah rekan salah satu dari anak buahnya Delvin juga. Digunakan sebagai asisten, pekerjaan kali ini benar-benar membuatnya cukup kerepotan. 


“Yang pertama, ini perintah. Daripada menghadapi mereka satu per satu, lebih baik seperti ini.


Tembak semua orang yang terlibat dalam kasus ini dengan obat bius. Ah, tapi kalau bisa lakukan kerja sama agar dalangnya tidak menyadari keberadaan dari anak buahnya sendiri yang kian menyusut karena kita menuclik mereka semua, apakah kalian paham?” ucap Delvin lewat komunikasi radio dengan para anak buah Delvin yang setia. 


-“Baik Tuan, kami akan segera berpencar,”- Jawabnya. 


-“Saya juga akan melakukannya,”-


-“Dengan penyamaran kami sebagai warga sipil, mereka tidak akan mengetahui identitas kami.”-


-”Serahkan kepada kami. Akan kami pastikan semuanya beres dan berjalan mulus, anda hanya perlu duduk di tempat sambil mengamati Cctv saja.”-


Jawab mereka satu per satu. 


Delvin yang menjadi komandan untuk mengerahkan pasukannya itu pun hanya tersenyum sambil melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya itu. 


“Diana, kau tidak perlu melakukan apapun, selain mengamati pergerakan mereka semua dari atas sini.” perintah Delvin. 


“Ah, baik Tuan,” jawabnya dengan singkat. Dia sedikit canggung karena Delvin yang tiba-tiba saja tersenyum, padahal Delvin itu tipe orang yang sangat jarang tersenyum. “Apakah dengan begini, masalah ini bisa di minimalisir?”


“Hm, setidaknya begitu,” jawab Delvin tanpa mengalihkan pandangannya lagi dari komputernya. 


“Apa Tuan muda baik-baik saja, di penjara?” tanyanya. 


“Dia sangat baik, sampai masih punya waktu luang untuk olahraga selama setengah jam,” sahutnya. 


“Begitu ya? Padahal banyak yang begitu mengkhawatirkan Tuan muda, tapi jika Tuan muda saja masih bisa beraktivitas seperti biasa seperti itu, saya juga akan melakukannya! Demi Tuan muda, mendapatkan cinta di masa depan, saya akan membantu semaksimal mungkin pekerjaan saya agar masalah ini bisa segera teratasi!” semangat Diana dalam mencari peruntungannya dalam hal pekerjaan dan mengabdi pada Tuan muda. 

__ADS_1


“Itu semangat yang bagus, Diana, berikan semangatmu pada yang lain, agar masalah ini terselesaikan dalam satu hari penuh,” Delvin pun mendukung Diana yang sedang semangat itu, karena meskipun dia sedikit jijik saat mendengar kata Cinta, tapi dia tidak boleh egois kepada anak buahnya sendiri. 


“Terima kasih, Tuan!” dengan semangatnya yang sudah membawa, Diana pun menghubungi empat orang temannya, dan mencari lokasi mereka berempat sambil memperhatikan wilayah yang ada di bawahnya. 


Tentu saja, dengan bantuan menggunakan drone, dia pun berhasil menguasai wilayah kota di distrik 14 sampai 11 untuk dia jadikan sebagai wilayah permainan, tangkap dan culik. 


“Ya, benar, permainan tangkap dan culik di mulai! Kalian semua, dengarkan perintahku, aku akan memberitahu setiap lokasi orang yang harus kalian tembak bius,” menggunakan kacamata VR, dia berhasil menguasai game sesungguhnya sendirian. 


Sedangkan Delvin, setelah dia mengatur pertahanan dan penyerangan di tangannya Diana, Delvin pun mengerjakan pekerjaan lain, untuk menemukan tuan Arthur. 


__________


Banyak yang terjadi antara Arthur, Delvin ,Elvano, Abel, untuk menangani permasalahan mereka. 


Namun, karena Elvano sudah terfokus untuk membereskan masalahnya yang berkaitan dengan nama keluarganya, dia pun jadi sempat melupakan kasusnya Veronica yang hendak mengincar Vina. 


Sekarang, di hari selasa pagi yang cerah, Vina lagi-lagi mendapatkan undangan dari temannya untuk kondangan karena adanya sesi pernikahan dari teman sekolahnya dulu. 


Dan kali ini, dia perlu pergi kesana, walaupun pergi sendirian. 


“Vin, kau kesini sendirian?” tanya temannya Vina ini, dia adalah Nita. 


“Yah, memangnya kenapa kalau sendirian? Ini, selamat ya, aku cuman bisa kasih ini saja.” jawab Vina sambil memberikan kado untuk Nita, sebagai tuan rumah dari acara tersebut. 


“Tapi aku dengar, waktu itu kau punya kekasih bule, kemana dia?”


Tentu saja, tidak ada yang salah dengan perkataannya itu, tapi dia melupakan kalau dia dirumorkan pacaran dengan seorang bule, dan orangnya adalah Elvano itu sendiri. 


“Tapi kekasih? Dia hanya seorang teman, Nit, dia bukan kekasihku,” imbuh Vina, dia mencoba untuk menyangkal, memberikan sebuah alasan yang kelihatannya tidak akan berguna, karena dia melihat Nita yang tiba-tiba memperlihatkan layar handphone nya ke arahnya dan di sana ada sebuah foto yang diam-diam diambil saat Elvano sedang melirik ke arah Vina terus. 


“Lalu apa ini? Dia terus melirikmu, kau beruntung Vin, ada orang yang menyukaimu. Mungkin saja akhir tahun ini adalah akhir dari masa jomblomu,” kta Nita, sambil memimpin Vina pergi ke salah satu kursi untuk Vina duduki. 


‘Besar ya? Kapan aku punya banyak uang untuk biaya pernikahan yang seperti ini? Aku ingin tanya, tapi entar di kira apa, lagi.’ menghindari pertanyaan yang lebih buruk dari apa yang sedang dia pikirkan barusan, Vina hanya tersenyum saja, sebagai akhir dari pembicaraan mereka berdua?


“Oh ya Vin,” Nita kembali memulai percakapannya, “Kenapa nomormu yang lama tidak aktif?”


“Handphoneku hilang, jadi aku pakai nomor baru,” jawab Vina dengan cepat, tanpa memberitahu yang sebenarnya kalau handphone nya hilang ada cerita yang lebih panjang dari itu saja. 


“Oh,” celingukan kesana kemari, tiba-tiba Nita pergi dari sana dan menyambut tamu yang lain, “Aku pergi dulu ya Vin, ada tamu lagi,”


“Iya, santai saja,” jawab Vina dengan senyumannya. 


Senyuman paksa yang cukup melelahkan. 


Ya, bahkan sampai lelahnya, tangan kanannya sempat gemetar, karena dia sedikit menahan rasa sakit yang masih dia rasakan. 


Masih ada efek samping dari tangannya yang sempat patah itu, makannya dia harus berhati-hati menggunakan tangannya itu. 

__ADS_1


‘Untung masih muda, setidaknya patah tulangku tidak terlalu lama sembuhnya.’ batinnya. 


Melihat ada pisang di meja, Vina langsung mengambilnya tanpa sungkan sedikitpun. 


“Putri uling? Kecil, imut, dan kulit pisangnya saja bersih seperti ini,” punya makanan Favoritnya, dia pun makan sampai tiga buah pisang, dan tidak lama setelah itu, dia dihidangkan sebuah makanan dari salah satu orang suruhannya Nita. 


“Vina, ini maan dulu, bukannya kau belum mengambil makananmu?” tanya Intan, dialah orang yang duduk sebagai pramusaji. 


“Kau- ada disini?”


“Iya lah, dari pada nganggur di rumah, mending aku bantu disini,” jawab Intan, temannya Vina juga. “Vin, apa kabarmu? Kau hampir dua setengah bulan tidak ada kabar apapun,”


JLEB …


“Ya, kabarku baik,” Vina jadi tersenyum tawar.


“Oh ya, dimana pacarmu yang ganteng itu? Kau tidak pergi bersama dengannya?” Intan sungguh kepo, dia ingin tahu segalanya yang berkaitan dengan Elvano. 


“Dia harus kembali ke negaranya untuk kerja, jadi aku kesini sendirian,” jawab Vina, dia menerima piring itu dan akhirnya makan. 


Intan yang tidak ada pekerjaan lain, karena tempatnya sudah di gantikan oleh orang lain, duduk di sebelahnya Vina. 


“Yah, sayang sekali, padahal aku ingin melihatnya lagi,” sesal Intan, padahal ingin bicara lebih banyak lagi dengan pria yang pernah dibawa oleh Vina beberapa bulan yang lalu. 


Tapi apa boleh buat, pria itu kini sudah ada di negara tempat Elvano tinggal, yaitu di paris. 


‘Aku juga sebenarnya ingin melihatnya. Tapi apa boleh buat, aku kan sudah menolak cintanya, dan memilih untuk pulang kesini, jadi aku tidak ada hubungannya lagi dengan orang itu.’ pikir Vina. 


Ada rasa penyesalan. Tapi sayangnya rasa sesal itu hanya terjadi karena dia membuang seorang yang tampan, baik, tapi dia sendiri tidak tahu pekerjaan asi dari Elvano, bahkan dia sendiri sama sekali tidak tahu apapun soal Elvano, maka dari itu, dia memutuskan secara sepihak saja, tawaran yang diberikan oleh Elvano kepadanya. 


“Tapi kau masih punya nomornya, kan?” tanya Intan, sungguh dia ingin sekali dekat dengan Elvano juga. 


“Tidak. Aku kan kehilangan handphone aku, jadi aku ya, tidak tahu nomor kontaknya,”


“Lah~” Intan merungut, dia sedih dengan jawabannya Vina yang begitu membagongkan. “Kan ada tuh, bisa di simpan di akun emailmu, kenapa kau- maksudku itu, sayang sekali, kau jadi tidak berhubungan dengan dia lagi,” jelas Intan. “Tapi, jika dia merindukanmu, dia kan masih ingat dengan rumahmu. Jadi ya, sepertinya hanya tinggal menunggunya saja, kan?” imbuhnya. 


“Yah, itu bisa juga sih. Tapi aku sendiri tidak menganggap kalau dia itu pacarku. Dia itu teman, sekedar teman, ok?” jelas Vina, mencoba untuk meyakinkan kepada temannya yang satu itu, kalau dia sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Elvano lagi, apa lagi setelah dia memutuskan hubungan dengannya. 


“Sayang sekali, padahal lumayan loh. Haish ..” Intan jadi sebal sendiri, karena keinginannya untuk bisa berkenalan dengan Elvano untuk yang kedua kalinya, gagal total. 


“Hei, merumpi apa lagi ini? Aku kok tidak di ajak?” Nita kembali dengan senyuman cerah di wajahnya. 


Pernikahannya besok, jadi hari ini jelas dia masih memiliki banyak waktu luang untuk sekedar mengobrol dengan Vina dan juga Intan sebagai teman sekelasnya. 


“Ya, kami merumpi soal pria yang aku ceritakan itu loh Nit, si Elvano. Gara-gara handphone nya hilang, jadinya kan tidak bisa di hubungi lagi, sayang sekali kan Nit?” sahut Intan kepada Nita. 


Nita tersenyum lemah, melihat ekspresi wajah Vina yang tampak sedih juga. 

__ADS_1


‘Aku ingin segera pulang. Kenapa aku tiba-tiba jadi ingin BAB ya?’ itulah yang sedang dirasakan oleh Vina saat ini. 


__ADS_2