Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Niat Tujuan Hati Nurani Elvano


__ADS_3

Malam itu, setelah siang tadi Elvano berhasil membentak Vina untuk pertama kalinya, sekarang Elvano pun benar-benar tidak bisa beristirahat sama sekali.


Dia terus kepikiran dengan apa yang dia lakukan kepada VIna.


"Arrggh! Kenapa aku sampai kelepasan seperti itu? Aku memarahi Vina sampai tubuhnya gemetar ketakutan seperti itu kepadaku, ini benar-benar kesalahanku yang paling fatal!


pasti setelah ini, dia sama sekali tidak ingin melihat wajahku, ya kan?" Elvano benar-benar meracau sendirian di dalam kamarnya.


Bahkan salah satu orang pelayan yang ingin memberitahu soal makan malamnya yang sudah siap, hanya bisa berdiam diri di depan kamar sang Tuan muda, dan mencoba untuk berpikir ulang apakah dia akan mengganggu proses frustasi yang di miliki oleh sang Tuan muda?


"Argg! Sialan juga, gara-gara aku sama sekali tidak bisa mengontrol emosiku sendiri, hubunganku dengan Vina pasti akan benar-benar hancur sampai di sini." Elvano benar-benar merasa cukup frustasi. dia sudah seperti seorang Dewa yang terus berteriak sendirian di dalam kamarnya.


sebenarnya dia tidak ingin bicara seperti itu kepada Vina, tetapi karena Vina benar-benar membuat emosi ini semakin meningkat dan secara tidak langsung membuat dirinya memarahi Vina.


'Sekarang aku harus bagaimana?' batin Vano Dia kemudian melirik ke arah jam dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 06.30 malam yang artinya jam makan malam sudah sudah seharusnya berlangsung.


Sekaligus ini menjadi kesempatan yang baik untuk dirinya agar bisa meminta maaf secara langsung kepada Vina.


"kira-kira dia akan memaafkan aku apa tidak ya?" Vano masih saja tidak percaya kepada dirinya sendiri apakah permintaan maaf dirinya akan diterima dengan baik oleh Vina atau tidak.


Tapi dia mencoba untuk menghilangkan pikiran itu karena dia harus memikirkannya dengan kepala yang dingin. sebab jika tidak berkepala dingin yang ada dirinya akan susah sendiri, seperti yang sudah dia rasakan selama beberapa jam ini.


"Benar aku harus mencoba menyenangkan diri dari mungkin dengan mandi aku bisa berkepala dingin," ucap elvano dia mencoba untuk bicara pada dirinya sendiri.


Oleh karena itu, Elvano meminjamkan matanya, mencoba menata hatinya, serta coba untuk berpikiran secara rasional.


Sedangkan pelayanan sudah berdiri di luar pintu kamarnya sang Tuan muda Elvano, pada akhirnya mencoba untuk memberanikan dirinya untuk memanggil Tuan muda.


Tok...tok...tok...


sebuah ketukan pintu pun terdengar dan membuat perhatian elvano akhirnya teralihkan untuk menatap ke arah pintu tersebut.


"Tuan muda, maaf mengganggu Anda, tapi makan malamnya sudah siap," cari tahu pelayan tersebut kepada majikannya yang banyak di dalam kamar.

__ADS_1


"Nanti aku akan turun setelah mandi," jawab Elvano dengan singkat.


namun begitu saya tersebut hendak pergi dari sana Elvano tiba-tiba menghentikannya.


"Tunggu dulu jangan pergi," perintah elvano kepada pelayan tersebut.


"Ya Tuan apakah Anda memerlukan sesuatu?" tanyanya.


"Apakah Vina juga ikut makan bersama?" tentu saja karena atas dasar apa yang terjadi tadi siang, Elvano mencoba bertanya untuk memastikan, apakah Vina akan ikut makan malam bersama atau tidak.


lalu pelayan itu pun mencoba untuk menjawab sedemikian rupa agar tidak dimarahi sebagai pelampiasan selanjutnya dari Tuan muda karena tersebut, "Maaf, sebenarnya saya sudah mencoba untuk membujuknya agar mau makan bersama dengan anda, tetapi Nona muda sama sekali tidak ingin keluar dari kamarnya semenjak tadi siang."


Elvano terdiam sejenak. Dia mencoba memikirkan bagaimana caranya dirinya untuk bisa membujuk Vina, alih-alih makan bersama Sebenarnya dia mencoba untuk meminta maaf secara langsung kepada Vina.


"Ya sudahlah kau sekarang boleh pergi aku akan segera turun."


"Baik Tuan muda,"


sesuai dengan rencana Elvano sebelumnya, Dia pun akhirnya keluar dari komit dan langsung menuju ruang meja makan dia mengambil semua latihan bisa dia bawa lalu dia bawa menuju kamarnya Vina.


Pertama-tama Elvano mencoba menenangkan dirinya dengan menghela nafas panjang dan pelan, setelah itu dia pun mengangkat tangannya dan untuk pintunya.


Tok...tok...tok...


seperti taruhan untuk memenangkan sebuah lotre, akhirnya Elvano pun membuat langkah pertama untuk operasi sesi permintaan maafnya kepada Revina.


"Siapa?" suara yang begitu lirih, dan pelan namun masih bisa didengar oleh Elvano, contoh membuat elvano merasakan rasa sakit hati yang tidak bisa diungkapkan secara terus terang dengan sebuah kata-kata.


"Ini aku," Elvano menjawab seadanya, sebab dia tidak ingin berbicara lebih banyak di awal pembicaraan mereka."Apakah aku boleh masuk?"


Satu pertanyaan mohon dari Elvano lun keluar lagi untuk mengkonfirmasi apakah dirinya diperbolehkan masuk ke dalam kamarnya atau tidak


Sekaligus itu menjadi sebuah penentuan apakah dirinya diterima atau tidak.

__ADS_1


'Kenapa tidak direspon Apakah ini artinya aku tidak boleh masuk?' Elvano mulai berpikiran yang tidak-tidak tapi dia tetap memiliki harapan kalau dirinya boleh masuk ke dalam kamar.


Hanya saja sebagai keteguhan hatinya dia pun tetap berdiri di depan kamarnya Vina mencoba menunggu, menunggu, dan menunggu. Kali saja Vina mau berubah pikiran.


'Haduh, tanganku sudah mulai pegal, tapi benar-benar ingin mengatakan minta maaf aku sekarang. Aku tidak mau menunda-nunda tujuanku, karena itu sama sekali tidak baik.' pikir Elvano. "Vina kau ada di dalam kamar kan? Kau sedang tidak kenapa-kenapa kan?"


Elvano terus saja bertanya, di sungguh menjadi orang yang paling bisa untuk mengusik kehidupan orang lain sesuka hatinya.


Karena dari tadi Elvano tidak segera mendapatkan sebuah jawaban, Elvano dengan terpaksa memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya Vina tanpa izin.


"Vin, aku masuk ya?" tanya Elvano, lalu dengan satu tangan pemegang sebuah nampan yang membawa makanan untuk menyogok Vina, satu tangan lainnya pun tiap gunakan untuk membuka pintu kamar tersebut.


KLEK...


"Berhenti!" Vina secara tiba-tiba menjerit keras.


Sontak saja karena Vina tiba-tiba saja berteriak secara kencang, membuat Elvano pun jadi ikutan terkejut dan akhirnya nampan yang membawa makanan tersebut goyang, sampaj makanan yang dia bawa pun jatuh semua dan menciptakan sebuah keributan baru.


PRANG....


"Tuan muda! Apa yang sudah terjadi?"


Salah satu pelayan yang kebetulan berdiri tidak jauh dari tempat Tuan muda berdiri, bergegas pergi menghampiri majikannya, yang mana pakaian dari sang Tuan muda lun akhirnya kotor sebab kena tumpah makanan tersebut.


"Apa Tuan muda terluka?" tanyanya dengan rasa khawatir yang besar.


Elvano menjawab dengan cepat, "Tidak sama sekali, kau bersihkan saja lantainya, aku akan ganti baju, siapkan makanan yang baru juga,"


"Baik Tuan muda," mereka yang mendengar perintah itu tepat setelah mereka sampai di depan Tuan muda, langsung menjawab dengan serentak.


Setelah memberikan perintah tersebut, Elvano pun dengan berat hati menutup kembali pintu kamar, dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun.


'Apa dia benar-benar masih marah kepadaku?' batin Elvano, lalu berjalan pergi dari sana sambil di saksikan eh semua anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2