
"Hahh...., akhirnya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku."
Begitu dia melirik ke arah jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dia sudah waktunya untuk pulang. Tapi bukan pulang ke rumah, melainkan ke rumah sakit.
"Anda mau pergi ke rumah sakit lagi?" tanya Delvin. Dia yang baru saja masuk, begitu indera pendengarannya mendengar Tuan mudanya bicara sendiri, akhirnya menemukan majikannya itu sudah beranjak dari kursinya, dan sekarang sedang memakai sepatunya lagi.
Ada satu kebiasaan unik yang di miliki oleh Tuan muda nya itu, yaitu begitu Tuan muda tidak bisa di ganggu oleh siapapun, karena ingin fokus bekerja sendirian, maka sepatu yang di gunakan itu pun akan di lepas.
"Jelas lah, memangnya aku bisa pergi ke mana lagi selain rumah sakit? Tempat tinggalku sekarang kan ada di sana." jawabnya dengan cepat, dan tanpa basa-basi lagi, Vano berjalan keluar melewati Delvin yang bahkan masih berdiri di ambang pintu.
"Tapi pertemuan kali ini, Nona Vernika, dia sudah tahu soal anda yang sudah kembali ke sini. Dan meminta pertemuan dengan anda di restoran Mwarabell."
Vano yang hendak masuk kedalam lift, seketika jadi menghentikan langkah kakinya.
"Apa? Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia mengirimkan mata-mata untuk mencariku?" tanyanya.
"Tentu saja. Namanya juga sudah saling menjalin kasih dengan anda, tentu saja Nona Veronika akan melakukan segalanya demi bisa menemukan anda. Dan sekarang beliau sudah tahu anda berhasil selamat dari kecelakaan anda, jadi ada baiknya anda lebih dulu bertemu dengannya." papar Delvin.
Seperti mendapatkan hujan meteor, Vano pun jadinya terdiam.
'Sepertinya aku harus menyelesaikan satu orang itu dulu, baru aku bisa bebas.' pikirnya.
"Sebelum anda pergi, ini ada satu undangan untuk anda." Delvin pun memberikan undangan kepada Tuan muda Elvano.
"Undangan apa ini?'
"Karena Nona Veronika mendapatkan undangan untuk menghadiri Reuni sekolah, beliau menyuruh saya untuk memberitahukan ini soal anda yang harus menjadi pasangan beliau saat acara reuni nanti."
"Tanpa membicarakannya denganku secara langsung, dan dia mengirimkan undangan untukku juga, wanita yang tidak tahu diri sekali ya? Sini, aku akan mengembalikannya sekarang juga." Elvano pun merampas undangan yang menurutnya itu tidak berguna bersama dengan tas belanja yang terlihat berisi setelan jas untuknya.
"Tuan, apa anda benar-benar yakin ingin melakukan ini kepadanya?"
Elvano lagi-lagi jadi di buat tidak bisa pergi dari tempatnya, karena setiap kali Delvin membuka mulutnya, ma saat itu pula setiap ucapannya terus mengandung intensitas yang membuat orang semakin di buat penasaran.
"Delvin, kalau kau mau bicara, lebih bak bicara dengan jelas, apa yang kau khawatirkan jika aku memutus hubunganku dengan Veronika saat ini juga." Elvano yang sudah tidak punya kesabaran itu pun jadinya menuntut keras kepada Delvin untuk bicara terus terang kepadanya.
"Sebenarnya bukan ada masalah apapun sih, hanya saja selama ini anda kan jadi orang, yang mana saat berada di depan Nona Veronika, anda akan bersikap seperti orang bodoh."
JLEB....
Mendengar penjelasan Delvin yang sungguh menyakiti telinganya,
Bahkan Delvin sendiri saat menjelaskan alasannya itu, dia sama sekali tidak bisa menatap mata dari sang Tuan muda, karena dia sendiri ingin tertawa, tapi dia coba untuk dia tahan sebisa mungkin.
__ADS_1
"B-bodoh? Kau pasti hanya beralasan saja kan?" tanya Vano dengan ekspresi wajah yang cukup serius.
"Tuan, jika anda tidak percaya, bagaimana jika anda melihat rekaman milik anda?" Delvin pun mengeluarkan sebuah flashdisk kepada sang Tuan muda.
Delvin menyuruh sang Tuan muda untuk kembali ke ruang kerja.
Dan mulai dari saat itulah, Vano pun langsung mencoba membuka berbagai rekaman cctv yang ada di dalam flashdisk itu.
-------->>
Rekaman pertama.
"Vano, apa kau mau ini? Sepertinya cocok juga, apalagi kau kan punya tubuh sebagus ini." dengan manjanya, Veronika pun memperlihatkan Elvano sebuah pakaian jas berwarna pink kepada Vano.
"Apapun yang kau belikan, bagus-bagus, aku tidak masalah dengan apapun yang akan aku pakai, karena apapun yang aku gunakan, pasti akan terlihat keren juga kan?" jawab Elvano.
"Iya, makannya aku mengundangmu kesini, agar nanti kita bisa couple an." lalu Veronika pun langsung memeluk lengan tangan Elvano dengan cukup intim, sampai ketika tangan kanan Vernonika mengusap perutnya Vano, Vano hanya tersenyum dan mengiyakan saja apapun yang dikatakan oleh Veronika.
--------->>
Rekaman ke dua.
Di sebuah restoran.
"Ahh~" Vano dengan menurut malah menyuapi satu sendok ice cream ke dalam mulut Veronika.
CKREK....
Dan foto yang di ambil oleh Veronika sendiri adalah ketika tangannya Elvano menyuapi ice cream nya ke dalam mulutnya.
---------->>
Kembali ke kenyataan yang sebenarnya. Setelah melihat beberapa rekaman singkat, dan memperlihatkan dirinya sendiri degan bodohnya menuruti semua kemauan dari Veronika, Elvano pun jadinya langsung memasang wajah suram.
"Delvin, apa kau bisa menjelaskan kenapa aku bersikap seperti orang bodoh yang mau menuruti kemauannya?" Vano pun jadinya meminta penjelasan kepada Delvin, selaku orang yang menjadi saksi mata atas kesehariannya Elvano, selama dia belum hilang ingatan.
"Anda kan hanya ingin merampas kekayaan Nona ini secara diam-diam, dengan cara pendekatan seperti itu.
Dan karena kepolosan anda itu, anda bahkan sering kali di undang untuk makan bersama di rumahnya.
Di sini, kedua orang tuanya masih hidup, namun anda sebenarnya bersikap demikian untuk mencoba mencari celah agar bisa menyingkirkan mereka. Karena keluarga dari Nona Veronika, memiliki pertambangan batu kristal ilegal di satu tempat, dan memperkerjakan banyak orang dengan upah yang tidak layak.
Makannya, anda ingin mengambil alihnya dan caranya ya seperti itulah."
__ADS_1
"Hahhh? Kenapa aku sebelumnya pernah punya pikiran dungu seperti itu ya?"
"Anda yang mengatakan pada diri anda itu dungu ya," peringat Delvin kepada sang Tuan muda.
Tapi karena dia mendengar kata kristal, dia pun jadi bersemangat kembali.
"Tapi di sana memang ada pundi-pundi uang ya?" tanyanya.
"Iya, apakah anda ingin memutuskan hubungan ini dengan mendadak seperti ini?" tanya Delvin lagi, untuk mengkonfirmasi tujuan dari sang Tuan muda.
"Kalau seperti ini, aku harus melakukannya secara perlahan saja. Tapi bukan berarti aku akan santai-santai saja." Elvano langsung melirik ke arah Delvin, dengan makna yang makin lama di tatap maka makin banyak pula makna yang tersirat di dalam tatapan Elvano sendiri yang langsung di sadari oleh Delvin juga.
"...." Delvin yang hanya bisa diam itu, lantas menghela nafasnya dengan kasar.
"Begini, agar aku bisa mendapatkan tujuan utamaku yang tertunda itu, aku akan bekerja sama dengan beberapa menteri. Membuat kesepakatan, dan hanya dengan sekali sentuhan, aku bisa menang banyak." jelas Elvano.
Elvano lantas melihat berkas-berkas yang baru saja di kirim dari tab yang sering Delvin bawa ke laptop nya Elvano.
"Bahkan dari apa yang aku lihat, Istrinya ini adalah seorang yang sebenarnya cukup baik hati, sering mengadakan acara amal untuk anak yatim, namun dia tidak tahu soal kegiatan ilegal yang dilakukan suaminya.
Tapi ternyata diam-diam di belakangnya itu, suaminya juga pernah selingkuh, dan akhirnya punya anak di luar nikah.
Ini akan jadi kesempatan emas untukku. Ibunya Veronika ini tidak bersalah, aku akan membuat kesepakatan dengan menggunakan bukti valid itu kepadanya, bekerja sama dengan pemerintah, maka aku akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dengan banyak dukungan yang akan terus mengalir kepadaku.
Bagaimana?"
Delvin yang mendengar pernyataan dari sang Tuan muda dalam memperluas kekuasaannya dengan cara yang lebih bersahabat seperti itu, sontak Delvin jadi terkejut.
"Cara anda cukup bagus dan dermawan. Ini adalah cara yang lebih menawan, seperti cara yang di lakukan oleh Tuan besar sebelumnya." puji Delvin dengan serta merta.
Maka dari itu, meskipun keluarga Travers di kenal sebagai kelompok dunia bawah, karena selalu berurusan dengan hal ilegal maupun legal, dan sering berhadapan dengan segala penjahat dalam berbagai bidang yang tidak bisa di tangani oleh pemerintahan, maka dari itu tidak ada yang bisa protes dengan keberadaan dari keluarga Travers yang sudah terkenal ini, meskipun pasti ada banyak kerusuhan yang akan di buat oleh keluarga ini.
Apalagi seperti sekarang saja, sedang dalam kondisi yang tegang, karena Tuan besar atau ayah dari kedua anak laki-lakinya meninggal, maka hak waris itu pun sedang di pertahankan sekaligus di perebutkan antara Arthur dan Elvano.
BRAK....
Elvano yang kembali bersemangat berkat pemikirannya yang cukup cerdas itu, dia pun jadinya menggebrak meja kerjanya sendiri dan langsung bangun dari tempat duduknya.
"Ok, sekarang aku harus menemui Vina!"
"Veronika Tuan."
"Tapi setelah itu kan Vina, jadi apa bedanya itu?" timpal Vano dengan cepat.
__ADS_1
Delvin pun jadinya kehilangan kata-katanya berkat sikap Tuan muda Elvano yang cukup bar-bar itu.