Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Ciuman yang di renggut.


__ADS_3

Bagaikan dua hati yang akan terpisah jauh, Vina pun jadinya memandang bintang tersebut dengan tatapan sendu, karena dia merasa berat, jika harus di tinggal oleh Vano.


"Uhuk..uhuk..., uhuk," merasakan tenggorokannya tiba-tiba saja gatal, Vina langsung kembali bangun dan pergi untuk membeli air minum dari salah satu pedagang yang menjual air minu. "Uhukk..uhuk.., kenapa rasanya segatal ini sih?" protes Vina, dia harus melangkahkan kakinya dengan sedikit lebih cepat. "P-pak, beli air minumnya, yang ini," kata Vina, mengambil air minum dalam botol kecil.


"Tiga ribuan neng," jawab pria paruh baya ini.


Dengan cepat-cepat, Vina pun memberikan uang lima ribu rupiah dan segera menerima kembaliannya. "Uhukk...uhuk...," tanpa sungkan lagi, Vina yang merasa cukup tersiksa dengan rasa gatal yang cukup mengganggu tenggorokannya itu, dia segera minum air itu sampai tinggal separuh. "Uhukk..uhukk," masih terbatuk, dia segera minum lagi.


GLUK...GLUK...GLUK...


Vina pun akhirnya meminumnya sampai habis. Hanya saja, ketika Vina hendak membuang botol yang sudah menjadi sampah itu, Vina pun melihat seekor anak kucing yang sedang bermain rumput sendirian.


"Meong..meong," anak kucing itu terus bergerak lincah di sebuah rumput yang sedikit tinggi, karena menganggap kalau ujung dari bunga yang kecil itu adalah mainannya.


'Kenapa tidak ada yang memperhatikan kucing yang kurus itu sih? Ugh...!' Vina yang merasa trenyuh dengan keberadaan kucing itu, dia pun langsung menghampiri kucing tersebut.


"Meong~" kucing berwarna orange ini tetap fokus pada mainannya dengan wajah polosnya itu.


'Anghh~ Kenapa ada kucing sendirian di sini? Induknya kemana coba? Sampai sekurus ini, apa tidak ada yang memberinya makan?' gerutu vina dalam hatinya.


Dia yang peduli dengan kucing itu, segera mengeluarkan sosis yang dia bawa, membukanya dan memberikannya kepada kucing kecil itu.


"Ini," menyodorkan sosis yang sudah dia buka.


"Meong, meong~" merasa ada usikan di belakang kepalanya, kucing ini pun akhirnya menyadari keberadaan dari makanan yang di berikan oleh vina kepadanya "Meong~"


"Ini, buatmu," kata Vina, tiba-tiba saja rasanya ingin sekali menangis, karena kucing kecil itu cukup kotor, kurus, dan bahkan ia tidak tahu apakah hari ini kucing orange ini sudah makan atau belum, sampai sosis yang di berikan kepada si empus tersebut, sedikit demi sedikit di makan.


"Meong, meong,"


Sambil berjongkok di depan kucing itu, Vina pun terus memandangi hewan kecil tersebut.


Sungguh, terlihat cukup menyedihkan, saat harus bertahan hidup sendirian di tengah-tengah lautan manusia yang tidak memiliki kepedulian. Perjuangannya tidaklah mudah, tapi meskipun begitu, kucing itu masih memiliki tenaga kecil untuk bisa bermain sendiri.


Trenyuh dengan kondisi dari kucing tersebut, Vina pun perlahan jadi tidak bisa menahan tangisnya, hal itu pun membuat beberapa orang yang menyadari Vina sedang berjongkok sambil di temani kucing dengan memberi kucing itu makan, menjadikan mereka memiliki kesan sendiri bahwa Vina baru saja putus.

__ADS_1


"Hiks, kenapa kau menyedihkan sekali? Kau yang masih kecil saja bisa bertahan, tapi kenapa aku masih tidak bisa sepertimu?" gumam Vina, sedang membandingkan nasib kucing itu dengan nasib Vina sendiri.


"Meong~"


"Kau memang tahu apa yang aku rasakan ya?" gerutu Vina.


"Meong. Meong~"


Air matanya pun benar-benar mengalir, membasahi pipinya, ketika dia harus melihat kenyataan pahit dari kucing kecil yang terus tegar di bawah tekanan penderitaan tidak ada yang mau merawatnya.


Sampai tangisnya itu tiba-tiba saja terhenti, ketika di belakangnya persis ada satu orang yang sedang berjalan ke arahnya.


TAP....TAP....TAP.....


Dan karena itu pula, lamunan dari Vina seketika langsung pudar, setelah dia mendengar bisikan-bisikan kecil yang jelas masih bisa Vina dengar dengan cukup jelas.


"Owh, tingginya dia,"


"Wah, bahkan punya penampilan sekeren itu, dia pasti dari orang yang cukup kaya,"


Ucapan dari perasaan kagum yang begitu familiar untuk Vina sendiri, segera membuat Vina akhirnya menemukan biang keroknya.


"...!" Vina seketika membulatkan kedua pasang matanya seperti mau keluar, saat sepasang matanya yang berharga itu kembali di perlihatkan sosok yang menyegarkan matanya.


Seorang pria lagi, yang terlihat bukan berasal dari tempatnya juga.


Entah dari asal mana, tapi Vina jujur merasa kalau laki-laki yang ada di depan sana itu cukup tampan, sekalipun menggunakan masker berwarna hitam, untuk menutupi wajahnya itu.


'Tapi t-tunggu! Kenapa dia tiba-tiba berjalan ke arahku?!' Vina yang mulai kelabakan, dia segera menoleh ke samping kanan dan kiri, serta belakang, untuk melihat apakah ada orang lain yang sebenarnya ingin ditemui oleh pria berperawakan tinggi layaknya model majalah itu?


Namun, setiap waktu yang berlalu itu, justru membuat keberadaan dari jarak diantara mereka berdua langsung terkikis dan terus terkikis.


Sampai akhirnya saat Vina sama sekali tidak menemukan adanya orang yang cocok untuk di temui oleh laki-laki asing yang baru saja datang itu, sepasang kaki yang berbalut dengan sepatu boots berwarna hitam, celana jeans, kaos putih yang di padukan dengan jaket jeans itu akhirnya justru berhenti tepat di depannya persis.


Sosoknya yang tinggi itu pun berhasil menarik perhatian semua orang di sana, termasuk Vina yang sedang duduk itu, dia pun harus ekstra keras untuk mendongak ke atas, agar dia bisa melihat secara keseluruhan dari orang di depannya itu.

__ADS_1


"A-ada apa ya? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Vina dengan perasaan khawatir, gugup di campur dengan rasa malu yang kembali mendatanginya dengan sengaja itu.


Lalu pria ini pun berjongkok di depan Vina persis, membungkukkan tubuhnya tepat ke depan Vina persis, masker yang di pakai oleh pria ini pun langsung di buka.


Tepat di saat Vina membulatkan matanya, sepersekian detik itu pula, Vina tiba-tiba langsung mendapatkan hadiah kejutan yang membuat Vina seketika memfokuskan dirinya untuk melihat wajah dari pria yang sedang tersenyum manis ke arahnya.


"Prwit~"


Satu siulan demi satu siulan langsung mengisi tengah-tengah keramaian itu, ketika Vina yang tiba-tiba mendapatkan kejutan yang cukup mencengangkan.


"Wow~ Itu sangat romantis sekali! Bagaimana bisa mereka berdua berciuman secara terang-terangan?!"


"Wah, seharusnya aku tadi mengambil videonya,"


"Cie-cie, cium lagi!"


"Ayo cium lagi!"


Sorak sorai dari semua orang yang ada di sana pun benar-benar untuk mendukung pria asing yang baru saja memberikan kecupan singkat tepat di bibir nya Vina persis.


"Cium~ Cium~ Cium~"


Semua orang langsung mengatakan untuk membuat Vina kembali berciuman lagi dengan pria yang baru saja datang itu.


'S-sebenarnya siapa dia ini?! Kenapa dia malah merebut ciuman pertamaku?!' pekik Vina, dia seketika langsung berdiri sambil mengusap bibirnya itu menggunakan lengan panjangnya dengan cukup kasar.


Berharap kalau sisa dari kecupan yang masih terasa di bibirnya Vina itu bisa menghilang ketika itu juga. Akan tetapi rupanya hal itu tidak bertahan lama, sebab pria tidak di kenal yang tadi berjongkok itu, sekarang sudah berdiri, dan lagi-lagi memberikan sebuah senyuman manis penuh mautnya itu, pria tersebut seketika mencengkram leher Vina dan membuat Vina pun seketika langsung kena tarik ke depan.


BRUKK...


Tubuh yang seketika saling berbenturan itu, kemudian di susul dengan ciptaan dari ciuman yang lebih mendalam dari pada yang pertama tadi.


CUP...


"Wow! Aku tidak akan membiarkan ini lewat begitu saja!"

__ADS_1


Satu dua orang dan lebih banyak lagi, seketika itu mereka saling mengambil gambar Vina bersama dengan laki-laki lain itu.


__ADS_2