
"Wah, gila kau Vin, darimana kau bisa dapat pacar setampan dia?" tanya Intan kepada Vina.
Karena desakan dari banyak orang di sana agar Vano masuk kedalam juga, Vina pun akhirnya menyerah dengan keberadaan dari Vano yang lagi-lagi berhasil menarik perhatian dari semua orang yang ada di sana.
Maka dari itu, Vano yang seharusnya ada di tempatnya, sekarang sedang mengambil makanan yang di suguhkan oleh penjaga makanan.
Setelah selesai mengambil makanan yang dia mau, walaupun tidak tahu seperti apa rasanya, Vano pun menyeret tempat duduk yang masih kosong untuk di pindahkan ke sebelahnya Vina.
DREEKK...
Suara derit dari kaki kursi dengan lantai pun berbunyi, menimbulkan efek dari mereka yang segera mengalihkan perhatian mereka semua kepada Vano yang akhirnya membuka maskernya, dan memperlihatkan wajahnya yang cukup tampan.
Ketika Vano sedang tersenyum, justru Vina malah langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, karena saking malunya.
"Vin, apa kau sudah makan?" tanya Vano dengan begitu entengnya, seolah Vano sedang mengkhawatirkan Vina yang sudah tersipu malu itu, padahal di dalam hati Vano, dia sedang berbicara sendiri, 'Hahaha, aku akhirnya menang, ya kan? Jalan-jalan sambil mengerjai dia, ternyata memang semenyenangkan ini.'
"Sudah, makan saja sampai habis, kalau bisa, dengan piringnya sekalian," ketus Vina, dia berusaha untuk mengontrol raut mukanya itu, agar tidak terus mempermalukan dirinya sendiri karena ketahuan suka.
Meskipun hal itu sudah tidak ada gunanya lagi untuk Vano, karena dia sendiri tahu kalau Vina ini adalah perempuan normal, polos yang lemah dengan wajah tampnnya.
"Masa begitu, kau tega, aku makan beling seperti ini juga?" rungut Vano, lagi-lagi bisa berakting dengan cukup sempurna.
"A-anu, apa aku boleh tahu, siapa namanya?" Intan yang penasaran itu pun akhirnya angkat bicara untuk bertanya langsung kepada Vano yang hendak makan itu.
"Aku Vano, Elvano," menerima uluran tangan dari Intan untuk berjabat tangan.
"Oh, aku Intan, teman sekolahnya Vina," jawab Intan, tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Vano yang punya wajah rupawan.
Tentu saja, sebenarnya tidak hanya dia saja yang terpesona, tapi semua perempuan yang lewat pun sama-sama terhanyut dalam iklim musim semi yang di buat oleh Vano ini.
"Intan, ya. Nama yang bagus, kalau kau?" Vano pun beralih pada satu teman Vina lainnya.
Dan terjadilah suasana di sana menjadi cukup canggung, karena mau tidak mau, kedua temannya itu pun kebingungan setelah mengajak Vano untuk ikut duduk bersama dengan mereka. Sampai Vina yang merupakan tersangka dari kasus ini, jadinya terdiam selian bermain handphone dan bercermin dengan menggunakan kamera.
"Vano, kau sebenarnya berasal dari mana?"
"Y aampun, aku jelas dari planet bumi, masa dari luar angkasa?" ledek Vano atas pertanyaan dari Intan itu.
"Pfft, ternyata kau bisa bercanda juga, yang di maksud Intan itu, kau berasal dari negara mana?"
"Aku asli lokal,"
"Hahaha, masa sih? Kami bertiga sama sekali tidak percaya kalau kau orang lokal, padahal aksen bicaranya saja sangat khas kau berasal dari luar nageri." balas salah satu teman Vina yang lainnya.
"Mungkin karena kedua orang tuaku menuntutku untuk sering berkomunikasi dengan bahasa Inggris, makannya logat dan aksen bicaraku ini jadi bercampur aduk. Apa yang seperti itu masih ingin di pertanyakan juga?"
__ADS_1
Tidak enak untuk terus menanyakan asal Vano dari mana, mereka bertiga pun terdiam sejenak.
"Itu bisa jadi sih, tapi lebih dari pada itu, apa kami bertiga boleh tahu sejak kapan kau kenal dengan Vina? Padahal aku pikir Vina bukan orang yang bisa pacaran,"
Mendengar kalau Vina sedang diremehkan oleh salah satu temannya itu, Vano pun menjawab dengan begitu menantang. "Sejak dia jadi pahlawan dalam hidupku, aku sudah memutuskan untuk bisa lebih mengenalnya. Apa jawabanku bisa memuaskan rasa penasaran kalian?"
'A-apa lagi yang di bicarakan oleh anak ini?! Kenapa malah terdengar seperti sedang menembakku secara tidak langsung?' pekik Vina, tidak menyangka kalau Vano benar-benar menjawab pertanyaan dari salah satu temannya dengan kalimat yang begitu membuat orang seketika langsung salah paham.
'Vina, dia dari mana bisa mendapatkan pria setampan itu? Bahkan lebih tampan dari suamiku ini.' pikir si pengantin wanita, saat sudut matanya menemukan Vano yang terlihat sedang menatap Vina dengan tatapan lembut dan mulut yang nampak sedang tertawa dan berakhir dengan senyuman lembut.
Sontak, dia yang sedang menikahi pria yang sudah lebih dari tiga tahun mencintainya itu, pandangannya terus saja tertuju pada keberadaan dari Vano.
PLAK...
"Aduh..., kenapa kau malah memukulku begitu keras?" protes Vano dengan tindakan Vina barusan.
"Ih, Vano, kenapa kau bicara seperti itu? Aku malu tahu?" ucap Vina sambil menutup separuh wajah bagian bawahnya itu dengan telapak tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya yang tidak bisa diam itu, lansgung menepuk keras lengan Vano yang nampak kekar itu.
"Apanya yang harus di malukan? Biarkan teman-temanmu ini tahu kalau kita berdua ini ada hub-"
Seketika itu juga mulut Vano langsung di jejal dengan pisang kecil.
"Jangan banyak bicara lagi, makan itu, dan tutup mulutmu." ketus Vina, berhasil membuat Vano bungkam dengan pisang sudah masuk kedalam mulutnya.
"Hahaha, Vina. Padajal aku masih ngin mendengar dia bicara, kenapa malah menyumpal mulutnya sih? Lagi pula apa yang membuatmu harus malu? Bangga dong, ternyata teman kita ini bisa punya pacar bule, hebat tahu, aku saja iri," ucap Intan dengan senyumannya itu.
'Rasakan, malu sendiri kan itu?' pikir Vano, dia pun memakan pisang yang di buat jadi sumpalan mulutnya oleh Vina tadi.
"Anu pacarmu ini, apa aku bisa minta foto bareng?" sampai salah satu tamu undangan dari pihak mempelai pengantin pria, tiba-tiba saja datang di tengah pembicaraan mereka berlima yang begitu hangat.
"Lebih baik jangan tanya aku, tapi tanya pada orangnya langsung." jawab Vina, sebenarnya tidak suka, karena wanita yang sedang bicara dengannya tadi itu, berpenampilan seksi, sampai rok panjang itu, ternyata memiliki belahan rok yang cukup panjang sampai akhirnya memperlihatkan pahanya yang begitu putih dan mulus.
"Apa- aku bisa minta foto bersama denganmu?" tanya wanita ini dengan ragu.
Vano yang melihat Vina terlihat begitu enggan untuk melihat wanita cantik yang baru saja datang pada mereka semua, Vano pun segera menghabiskan pisang dari Vina, minum dan langsung menjawab : "Maaf, tidak bisa. Karena aku tidak ingin fotoku malah disalahgunakan olehmu,"
"B-begitu ya, maaf-" dengan mulut sedikit mleyot karena gagal mendapatkan foto dengan Vano, wanita ini pun pergi dari sana.
"Ya ampun, dia berani sekali ya, ingin minta fotomu? Sebenarnya dia itu ciri-ciri perempuan yang sedang jomblo, jadi memang bisa di salah gunakan untuk ajang pamer dengan teman-temannya." bisik teman Vina itu kepada mereka semua.
"Yang di katakan nya benar, aku juga punya pikiran seperti itu. Tapi karena Vano sendiri kelihatannya sangat peka, jadi sekarang sudah tidak ada masalah lagi, ya kan?" ucap Intan, mewakili mereka bertiga.
Setelah kejadian itu, akhirnya tidak ada satu orang pun yang berani mendekat.
________
__ADS_1
Vano, yang awalnya hanya ingin ikut-ikutan saja, tapi malah jadi ikut kondangan juga, walaupun dia tidak memberikan apapun, karena dia sendiri tidak tahu acaranya itu bagaimana, dia jadi terpaksa ikut menunggu bersama dengan Vina, sebab pengantinnya belum datang.
"Vin, apakah masih lama?" Vano pun akhirnya bertanya, karena jam sudah menunjukkan jam siang.
Apakah kondangan itu memerlukan waktu sampai berjam-jam seperti itu?
"Entah, aku juga tidak tahu. Kalau mau pulang, jalan kaki saja sendiri," timpal Vina, masih saja suka bermain dengan handphone nya ketimbang bicara dengan temannya sendiri yang sedang menonton pernikahan yang ada di depan sana.
"Kau, padahal yang sedang pegang kunci motornya itu aku, kau yakin mau berkata seperti itu kepadaku?" seringai Vano sambil memperlihatkan kunci motor milik Vina sebenarnya ada di tangannya.
"Vano, apa kau puas? Aku bukan bermaksud untuk menolak membawamu pergi denganku, tapi aku benar-benar kerepotan, setiap aku membawamu pergi.
Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku itu tidak pintar bicara, tapi aku harus menghadapi semua tanggapan dari orang lain yang bertanya kepadaku," jelas Vina, dia pun jadinya bicara menjelaskan situasinya sendiri dengan nada berbisik kepada Vano.
"Kenapa kau harus terganggu? Kau kan hanya tinggal senyum saja, dan semua orang pasti akan langsung diam dan tidak tanya lagi, karena langsung tahu maksudnya, ya kan?" bisik Vano, merespon ucapan dari Vina, seraya melirik ke arah sepasang pengantin yang akhirnya datang.
Hal itu pun membuat Vano jadi bisa melihat secara langsung adat budaya yang di gunakan di daerahnya Vina, ternyata menggunakan kebaya.
Bagi Vano, karena yang menjadi pengantin perempuan di make up dengan bagus, maka punya wajah yang cantik, tapi jelas, Vano sendiri hanya diam ketika dia melihat ke arah pengantin pria, karena menurutnya, biasa-biasa saja.
Hanya saja, ketika sudut mata Vano melihat ke arah Vina yang sedang menatap sepasang pengantin itu, terbesit di dalam hatinya, kalau Vina kelihatannya juga terlihat iri.
Tapi apa yang bisa diperbuat oleh Vano?
Sebagai pria asing yang tidak mempunyai ingatan apapun, Vano pun tidak bisa berbuat apapun selain ikutan menonton resepsi pernikahan itu sampai sesi foto-foto pun berlangsung.
Dan seperti yang di harapkan, saat sesi foto berlangsung, Vano pun jadi ikut juga, membuat kontras yang cukup besar diantara mereka semua, karena Vano adalah satu-satunya orang yang punya tinggi tubuh yang cukup membuat orang-orang seperti melihat seorang raksasa.
"Ayo lebih dekat lagi, dan pacar dari mbak di sampingnya, menghadap kesini," ucap sang fotografer, memberikan arahan kepada mereka agar bisa mendapatkan posisi yang pas untuk mereka semua, agar bisa mendapatkan foot yang bagus.
'G-gila, aku tidak akan bisa melupakan ini. Gara-gara dia ikut sesi foto dan berdiri di sampingku, aku bahkan jadi punya harapan kalau nantinya dia jadi pengantin suamiku. Ya ampun, Vina, kau mikir apaan lagi?' sambil mencoba untuk tersenyum, Vina pun berusaha untuk menahan diri untuk tidak membuat ekspresi wajah yang lain.
Dan begitu sudah siap semua, sang fotografer pun mengambil gambar mereka dengan kamera.
CKREK...
___________
Di sisi lain, seorang pria berambut coklat ini, karena rambutnya itu memang aslinya berwarna coklat, dia saat ini sedang duduk di dalam mobil yang ia sewa.
Sebuah senyuman lebar pun terukir di bibir tebalnya, seraya melihat handphone nya yang memperlihatkan beberapa foto yang membuatnya cukup puas untuk misinya hari ini.
Misi dimana dirinya saat ini akhirnya berhasil melacak keberadaan dari Elvano dan juga Verina.
"Ternyata, dia ada di sini. Enak juga dia, apa dia pikir aku tidak bisa menemukan keberadaannya?" gumam Abel, dia pun mengirimkan beberapa foto yang sudah dia kumpulkan itu ke nomor milik dari majikannya. "Sebaiknya kau bersiap Tuan muda kedua, karena mulai sekarang aku akan mengintaimu termasuk wanita yang ada di sampingmu itu." gumam Abel.
__ADS_1
Karena Abel sendiri sudah tahu keberadaan dari Vano tinggal, dia pun pergi dari sana, karena dia yakin, kalau sasaran dari Tuan muda pertamanya itu, tidak akan pergi dari sana.