Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Tamu tidak di undang


__ADS_3

'A-apa ini? Kenapa aku malah jadi jatuh ke atas pangkuannya?!' Verina yang terkejut dengan posisinya saat ini, dia pun buru-buru untuk bangkit dari atas pangkuannya Vano.


Tapi, di saat ingin bangkit, tangannya lagi-lagi di tarik oleh Vano, sehingga pant*atnya itu pun kembali mendarat di atas pangkuannya Vano.


Perasaan dari jantung miliknya itu pun seketika jadi berdebar.


Bagaikan baru saja berlari maraton, itulah yang dia rasakan saat ini, nafas yang terasa tercekat, dan debaran jantung yang tidak bisa Vina kontrol dengan mudah, membuatnya jadi kewalahan, sekaligus tidak tahu harus apa, karena gara-gara Vano ini, dirinya saat ini pun benar-benar memperlihatkan sikapnya yang mulai salah tingkah sendiri.


Di tengah-tengah diri Vina yang jomblo, tapi harus di suguhkan dengan posisi yang cukup membuat orang yang melihatnya bisa salah paham, Vina sungguh, dia sudah malu setengah mati.


"Vano, apa yang mau kau lakukan kali ini?" tanya Vina, memejamkan matanya seraya menghembuskan nafasnya dengan panjang dan perlahan, mencoba untuk menata hatinya yang sudah tidak karuan. 'Ngomong-ngomong ini apa? Kenapa rasanya ada yang menekan pan*at ku dengan kuat? Ya ampun, tolonglah jangan buat akal sehatku menghilang gara-gara aku pertama kalinya merasakan sesuatu yang besar di sana. Tidak, tahan, anggap saja sedang duduk di atas bola.' pikir Vina saat itu juga.


"Tetaplah di sini," pinta Vano, pandangannya terus terpaku pada Vina yang sudah menunduk, karena tidak mampu untuk menatap wajah Vano yang terus menatap ke arahnya.


"Jadi apa yang tadi itu hanya pura-pura?" tanya Vina, menuntut jawaban kepada Vano yang baru saja mengerjainya.


Bukan baru pertama kali sih, tapi sudah berkali-kali.


"Apa kau tidak suka jika aku terus mengerjaimu?" senyum Vano, dia dalam diam memuji Vina yang bisa menahan diri untuk tidak menyerang balik atau apapun itu untuk membalas perbuatan Vano terhadapnya tadi.


"Ya iyalah, siapa yang suka di kerjai seperti itu? Kalau perutmu sakit betulan, baru tahu rasa," cetus Vina, dia masih tidak puas hati dengan sikap Vano terhadapnya karena seenaknya mempermainkan perasaannya, seperti saat ini saja, dia tidak bisa melakukan apapun, di samping dia sudah tergoda, tapi di satu sisi lagi dia juga merasa kesal dengan tindakan dari Vano ini.


Vano, dia hanya meresponnya dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat sama sekali, sampai tiba-tiba saja, sebuah ketukan pintu pun datang.


TOK...TOK...TOK...

__ADS_1


"...!" terkejut bukan main, karena Vina sendiri merasa tidak ada langkah kaki sepatu atau apapun dari luar yang mengartikan ada orang yang datang, Vina pun buru-buru bangkit dari pangkuannya. "Siapa?" tanya Vina.


'Sial, gara-gara ada orang datang, aku tidak bisa memangku Vina lebih lama lagi," batin Vano, padahal sebentar lagi dia ingin mengerjai Vina lagi di tengah posisinya yang lumayan int*tim itu.


Tapi semua harapannya harus Vano tarik kembali setelah kedatangan tamu tidak di undang itu.


KLEK....


Begitu Vina membuka pintunya, dia justru di hadapkan dengan seorang laki-laki asing.


"Kamu siapa?" satu pertanyaan yang langsung terlintas dan segera keluar dari mulutnya Vina, setelah dia melihat seorang pria asing berambut pirang ini.


"Vina~ Siapa yang datang?" tanya Vano, dia berusaha untuk berdiri, dan setelah berdiri, tepat di saat Vina sedikit bergeser untuk memberikan ruang bagi Vano dan sang tamu untuk saling bertemu, seketika Vano terdiam, sedangkan pria yang tidak lain adalah Delvin, dia segera menatap sang majikannya itu dari atas sampai ke bawah dengan begitu cermat, berharap, kalau pria yang dia cari itu, adalah laki-laki yang ada di depannya itu.


Setelah kedatangan dari tamu yang tidak Vina ketahui itu ingin bertemu langsung dengan Vano, Vina pun akhirnya mengizinkannya masuk dan segera pergi dari sana, untuk menyiapkan suguhan pada sang tamu asing itu.


"Vina, siapa yang datang itu? Kenapa wajahnya lagi-lagi asing seperti orang luar negeri?" tanya Ibunya Vina, dia membantu Vina untuk menyiapkan dua cangkir teh, sedangkan Vina sedang membuka dua bungkus biskuit, karena dia memang sama sekali tidak memiliki hidangan mewah untuk menyuguhkan pada tamu asing yang terlihat sama-sama dari orang luar Indonesia.


"Aku juga tidak tahu, namanya Delvin, dan dia bilang kalau dia adalah temannya Vano," sahut Vina.


"Begitu ya, berarti kalau seperti ini, Vano bisa pulang dengan temannya itu, dong," kata Ibu nya Vina lagi.


Mendengar hal tersebut, Vina pun jadi sedikit menundukkan kepalanya ke bawah.


Di dalam hatinya yang terdalam itu, terbesit rasa sedih, jika Vano benar-benar pergi dari sini. Karena sejujurnya Vina sudah merasa nyaman, sebab sudah ada teman bicara yang bisa di ajak bercanda, walaupun itu mengganggu mentalnya sebagai perempuan normal.

__ADS_1


Tapi, mau bagaimanapun dirinya tidak boleh egois, jadi mau tidak mau dirinya harus merelakan apa yang sudah membuatnya nyaman, karena dirinya sama sekali tidak memiliki hak untuk mencegat pria itu.


"Vin, teh nya sudah siap," ucapnya, langsung menarik semua lamunan milik Vina.


"Hmm," dehem Vina, dia pun segera menaruh semua makanan dan minuman itu di atas nampan, dan pergi ke rumah sebelah untuk diberikan kepada tamu nya Elvano.


Karena rumahnya yang begitu dekat, Vina pun tidak begitu mempermasalahkan dirinya yang harus pergi ke rumah sebelah untuk mengantarkan makanan dan teh yang dia bawa itu.


Sampai, ketika dirinya ada di depan pintu rumah yang Vano tinggali, dirinya pun sempat mendengar pembicaraan dari mereka berdua.


"Apa anda sama sekali tidak ingat dengan diri anda sendiri?" tanya Delvin, dialah sang tamu tidak di undang.


"Kalau aku ingat, aku juga tidak mungkin tanya kau itu siapa," jawab Vano dengan singkat.


Mendengar jawaban tersebut, Delvin pun menatap sang majikannya itu dengan tatapan datar, dan memperhatikan laki-laki di depannya itu dengan begitu serius, sampai sudut matanya secara tidak sengaja melihat ada kotak obat yang tergeletak di samping tempat tidur.


'Tuan muda, dia tinggal di tempat seperti ini?' sekalian memperhatikan lingkungan sekitar dari area rumah yang di tinggali oleh Bos nya itu, Delvin pun sama sekali tidak percaya kalau Bos nya itu bisa tinggal di tempat yang cukup sangat sederhana, sampai mau tinggal di suasana ruang yang terasa cukup menyeramkan dan serasa tidak layak huni, sebab langit-langitnya ada sarang laba-laba, serta plafon rumah yang terbuat dari anyaman bambu, itu sangat bertolak belakang dengan rumah mewah milik dari Elvano ini sendiri. "Benar juga sih, tapi apa anda selama ini nyaman tinggal di tempat seperti ini?"


"Ya, berkat Vina tadi, suatu kehormatan juga aku benar-benar masih hidup sampai sekarang. Karena terlambat sedikit saja, sebenarnya aku pasti sudah masuk ke alam lain." jawab Vano.


"Jadi, apakah anda mau ikut dengan saya jika saya menceritakan semua yang harus anda ketahui agar masalah ini bisa cepat di selesaikan?" Delvin yang sebenarnya tidak sabar untuk membawa majikannya itu pergi dari Indonesia, karena ada kemungkinan besar ada orang yang akan tahu lokasinya, langsung bicara pada intinya kepada Tuan muda nya itu.


Vano yang masih mencurigai kedatangan Delvin itu pun terus saja memperhatikan Delvin dengan begitu seksama.


"Tergantung juga. Jika aku merasa kalau ucapannya itu adalah kebohongan belaka, maka aku tidak akan segan untuk membuatmu babak belur, jadi beritahu aku dulu, keputusannya ada di akhir pembicaraan kita ini." jelas Vano, menyetujui usulan dari Delvin yang menjadi satu-satunya petunjuk untuk mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2