Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
36 : Kesan yang masih tertinggal dalam hati


__ADS_3

"Vano, apa kau mau mencoba makan ini?" tanya Vina seraya menyodorkan satu mangkuk berisi ketupat, bihun, kerupuk bahkan ada banyak kuah yang di masukkan dengan banyaknya siwiran dari daging ayam.


Makanan yang tidak lain adalah soto itu, membuat Vano yang sedang menjemur pakaiannya sendiri, tiba-tiba jadi merasa lapar, sebab dirinya memang belum sarapan pagi.


"Kau yakin ini untukku?" tanya Vano seraya melihat nampan yang di bawa oleh Vina ini, benar-benar menyajikan mangkuk berisi soto, mangkuk kecil berisi sambal, serta tidak ketinggalan dengan gelas besar yang berisi air.


Dalam satu nampan, sudah berisi kebutuhan yang cukup komplit untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan itu.


"Ya iyalah. Aku baru beli, jadi mumpung masih panas, ini masih bagus untuk di makan. Lagian aku kan belum masak juga, jadi aku memang sengaja beli soto untuk keluargaku juga, nih makan. Atau mau makan bersama denganku?"


Tanpa pikir panjang lagi, Vano pun mengambil alih nampan itu, dan menjawab : "Makan di ruang ruang tamu rumahmu saja,"


"Kalau begitu, ayo," ajak Vina kepada Vano, agar pergi mengikutinya.


________


"Vin, apa yang sedang kau lakukan sampai naik meja?" tanya Vano. Suatu hari Vano memang ingin mandi, akan tetapi dia justru harus melihat pemandangan dimana di dalam kamarnya Vina, dia melihat wanita itu sedang naik ke atas meja sambil memegang tongkat yang memang terlihat tidak seberapa panjang.


Hanya saja, yang lebih parahnya itu, Vani justru harus melihat Vina yang tidak sekedar naik ke atas meja saja, melainkan juga naik ke atas tumpukan kursi yang di tata dengan sedemikan rupa, sampai akhirnya terlihat seperti sebuah menara.


"Aku ingin mengganti lampu kamarku. Malam tadi sebenarnya sudah mati, jadi aku ganti sekarang," jawab Vina dengan posisi kaki sudah menjinjit-jinjit.


"Vina, kau kan bisa memanggilku, aku pasti akan membantumu. Kau tahu tidak seberapa berbahayanya ini, apalagi tidak ada yang memegangi kursinya, bagaimana jika kau jatuh?"


"Kalau begitu jangan bicara seperti itu, ucapan itu doa. Lagi pula, tadi kau kan masih tidur molor, aku mana mungkin membangunkanmu." jawab Vina detik itu pula.


JLEB....


Ucapan dari Vina ini pun tiba-tiba seperti sebuah pisau tajam yang menggores jantungnya, karena ucapannya benar-benar tepat sasaran.


Diri Vano sesaat tadi memang sempat tidur, bahkan jika di katakan molor itu memang benar adanya sebab air liurnya pun memang sempat membasahi pipinya juga.


"Tapi tetap saja, ini berbahaya, kalau ada apa-apa, siapa yang ru-"


"Diamlah, semakin banyak bicara, itu mengganggu konsentrasiku," sela Vina dengan cepat, hingga Vano benar-benar berhasil di buat diam untuk beberapa saat.


"Ok-ok, lagian aku kan sudah ada di sini, biarkan aku saja yang melakukannya. Jadi turun, sebelum aku memaksamu turun loh," kata Vano, dia pun bicara lagi, membuat sebuah debatan yang cukup menganggu konsentrasinya Vina saat itu juga.


"Tidak usah, ini sudah tinggal sedikit lagi," jawabnya.


Dan begitu sudah mendapatkan lampunya, tepat di ujung tongkat kayu yang dia modifikasi dengan sedemikian rupa, untuk bisa di gunakan sebagai alat pelepas dan pemasang lampu, tiba-tiba saja lampu bohlam itu langsung terjatuh.


PRAKK...


"Tuh kan? Jatuh, itu baru lampunya, kalau selanjutnya itu kau, bagiamana?" bebel Vano, seperti emak-emak yang khawatir kepada anaknya yang bandel, karena susah di atur.


"Ya setidaknya jangan bicara seperti itu kenapa?" keluh Vina, dia tidak ingin mendapatkan musibah juga hanya karena ada satu orang yang baru saja mengatakan hal terburuk untuknya.

__ADS_1


Itu sangat tidak menyenangkan, sekaligus membuat Vina pun jadi takut juga.


Namun, karena sekarang di bawah ada Vano yang datang untuk memegangi kursinya, Vina pun akhirnya terbantu juga, dan dia pun segera mengganti lampu kamarnya dengan yang baru.


Karena plafonnya benar-benar tinggi, bahkan sampai empat meter lebih, Vina pun benar-benar merasa cukup kesulitan dengan kondisinya yang ada saat ini, dimana lampu barunya bisa mencapai ke lubang lamu yang ada di atas sana, Vina terpaksa berjinjit lagi.


Tentunya, setelah berhasil memasangnya dengan cukup sempurna, Vina yang hendak turun itu pun tiba-tiba salah satu kakinya merasakan keram, yang membuat posisi dari telapak kaki kanannya terus dalam posisi lurus.


Sehingga, saking sakitnya, dia jadi lupa kalau dirinya masih berada di atas.


"E-eh, Vin, jangan terlalu banyak bergerak," panik Vano melihat Vina yang terus bergerak, padahal masih berada di tingkatan dari kursi ke dua paling tinggi. "Berbahaya Vin, jangan banyak bergerak,"


"T-tapi ini kakiku sakit, tunggu sebentar, tahan dulu kursinya, aku akan turun dul-" belum selesai bicara dengan benar, Vina pun kehilangan keseimbangannya, dan akhirnya Vina pun terjatuh.


BRAKK....


Vina yang terlanjur hampir jatuh dari kursi itu, Vano pun memilih untuk segera melepaskan cengkraman dari kaki bangku itu, dan memutuskan untuk menangkap tubuh Vina yang hampir terjatuh itu.


BRUKK.....


'Eh, kenapa aku tidak merasa sakit?' pikir Vina, merasa terheran sendiri kenapa tubuhnya yang baru saja jatuh, justru tidak membuatnya merasakan sakit atau apapun itu yang berhubungan dengan rasa sakit di tubuh.


"Hahh, sudah aku bilang kan, biar aku yang mengurusnya, kenapa kau itu keras kepala? Bagaimana jika aku tidak ada di sini, apa yang akan terjadi padamu nanti? Pastu tulangmu pada patah, kau mengerti?! Paham kan kalau aku disini bisa jadi orang yang bisa membantumu, jadi tidak usah sok kuat, sok bisa, atau nanti dirimu sendiri yang rugi," bebel Evano kepada Vina.


Vina yang syok berat dengan apa yang terjadi barusan, dan tiba-tiba langsung di hujani dengan rentetan kalimat penuh amarah dari Elvano, sontak saja Vina pun jadi merasa ketakutan.


Vano yang ikut tersentak kaget dengan tangisan Vina yang begitu tiba-tiba, Vano pun jadinya kelabakan tidak tahu bagaimana harus menenangkan perempuan yang sedang menangis.


"M-maaf, aku bukan bermaksud memarahimu. Aku hanya kesal sendiri saja, karena aku merasa tidak berguna dan kau selalu melakukan semuanya sendiri, padahal aku disini kan bisa membantu pekerjaanmu juga." jelas Vano, dia pun jadi merasa bersalah dengan ucapan miliknya yang sebelumnya.


"Tapi sama saja kau marahnya pada akhirnya dilampiaskan padaku, hikss...hiks..turun, turunkan aku!" pekik Vina, merasa malu, takut, juga marah, dia tidak tahu perasaan mana yang lebih dominan karena semuanya terasa mengesalkan dirinya.


"Aku minta maaf," kata Vano dengan wajah memelas, dia pun menurunkan tubuh Vina yang begitu ringan itu.


Tapi Vina yang keburu terbawa emosinya sendiri yang tidak bisa dia kontrol itu, sontak langsung membuat Vina langsung merebahkan diri di atas tempat tidur itu dengan posisi telungkup, dan memilih untuk diam tidak bicara apapun kepada Vano.


Padahal ia sadar kalau Vano bermaksud untuk menasehatinya, karena marah ucapannya sama sekali tidak di dengar oleh Vina, dan akhirnya kecelakaan hampir membuat Vina bisa saja jatuh sampai patah tulang, tapi Vina yang merasa tidak terima dengan ucapannya itu, jadi menangis tersedu-sedu.


Pada akhirnya Vina pun merasa kalau apa yang ia katakan tadi adalah kebenaran. Ya, perempuan selalu mengharapkan kalau ucapannya itu di anggap benar, sekalipun sudah membuat kesalahan, tapi kembali ke aturan pertama, Vina ingin ucapannya tadi itu benar.


___________


Momen kembali tergantikan dimana Vano sedang di dalam rumah, sedang mengobati luka yang masih ada di tubuhnya.


"Akhh..., ternyata masih sakit saja," rintih Vano atas rasa sakit yang ia miliki di beberapa bagian tubuhnya itu. "Mungkin kalau aku bisa ke dokter, aku bisa mendapatkan pengobatan lebih lengkap dari pada ini.


Tapi aku bahkan sama sekali tidak punya uang untuk biayanya. Akh..., sialan, sakit juga. Untung saja aku ini laki-laki dewasa, alhasil aku tidak menangis. Apa jadinya kalau pria tulen sepertiku menangis karena luka seperti ini? Vina pasti akan mengejekku," ucap Vano pada dirinya sendiri. Tangannya pun tidak luput untuk memberikan salep ke atas luka yang benar-benar sudah mulai menutup itu.

__ADS_1


Mendengar Vano berkata demikian, Vina yang sebenarnya ada di luar rumah, hanya terdiam sejenak dan akhirnya dia pun memilih untuk pergi dari sana.


Sampai esok harinya, apa yang sempat dikatakan oleh Vano sendirian itu, tiba-tiba saja seorang bu Bidan yang pernah datang saat Vano masih terbaring tidak sadarkan diri, kembali datang.


"Halo, sepertinya anda sudah lebih baikan dari pada sebelumnya, ya?" wanita ini pun berjalan sambil tersenyum, dan akhirnya masuk kedalam rumah yang di huni oleh Vano itu.


"Kamu siapa?" tanya Vano dengan polosnya.


"Aku sebenarnya bidan, tapi juga seorang dokter di rumah sakit besar juga. Bagaimana kondisi lukamu? Apa ada keluhan lain?"


"Ya, kadang-kadang kepalaku serasa pusing,"


"Apa anda ingat dengan identitas anda?" tanya wanita ini, karena tidak ada kursi di sana, dia pun duduk di depan kasur yang di letakkan di lantai beralas tikar yang besar.


"Tidak, tepatnya sih lupa ingatan. Jadi saat aku tiba-tiba merasa ada kejadian familiar, kepalaku akhirnya pusing dan sakit." jawab Vano. 'Apa Vina yang menghubunginya untuk membantu pemulihanku?' pikir Vano. 'Sebentar, jika melihat seorang bidan tiba-tiba datang kesini, apa artinya saat kemarin aku bicara sendirian, ucapanku di dengar oleh Vina?'


"Coba, aku ingin melihat lukamu." pinta bu bidan ini.


Vano dengan menurutnya, akhirnya langsung membuka pakaiannya dan memperlihatkan beberapa perban dan plester yang tertempel di beberapa bagian tubuhnya yang terluka itu.


"Mungin sedikit lancang, tapi tubuh anda cukup bagus, artinya anda pasti banyak sekali menghabiskan rutinitas anda untuk berolahraga." ucapnya dengan maksud basa-basi.


Vano yang tadinya merasa terusik dengan permintaan dari wanita ini, karena di suruh untuk memperlihatkan luka yang artinya harus memperlihatkan tubuhnya juga, akhirnya kewaspadaan yang sempat Vano dapatkan karena merasa curiga kepada bidan ini, berangsur berkurang, karena dia melihat adanya cincin pernikahan yang tersemat di jari manis sebelah kiri.


Ya, Vano berharap kalau itu bukan sesuatu yang membuat wanita itu tertarik kepadanya.


"Lalu jika mendengar anda bicara, aksen anda lebih dominan ke bahasa Inggris, tapi karena anda kehilangan ingatan anda, apa anda mau saya beritahu sesuatu?" tutur wanita ini, sekaligus memancing Vano untuk mengikuti arah pembiciaraannya.


Vano yang melihat bidan itu terlihat mengharapkan jawaban iya dengan cepat, Vano pun menjawabnya : "Ya, silahkan beritahu aku sesuatu yang tidak aku sadari,"


"Sebenarnya walaupun anda fasih bicara bahasa indonesia, tapi terkadang ada beberapa kata yang menunjukkan kosa kata dari bahasa perancis yang di paksakan di gunakan dalam bahasa indonesa, jadi kira-kira seperti itulah, anda sepertinya berasal dari negara yang itu. Atau karena faktor lain, saya tidak begitu tahu," jelas bidan ini, akhirnya membuka fakta baru dan petunjuk baru kepada Vano.


Vano yang mendengar ucapnnya dengan seksama, terlihat kalau Vano pun sepertinya mulai berpikiran yang sama, dan menimbang-nimbang soal identitasnya sendiri.


"Ngomong-ngomong, apa menurut pendapat anda soal Vina?"


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Vano dengan tatapan mata penuh selidik.


"Tidak perlu memaksa jika tidak ingin menjawabnya, tidak wajib di jawab kok," kata bidan ini, dia pun melihat luka dan beberapa kali mencoba menkan luka-luka itu, untuk memastikan kira-kira seberapa proses percepatan kesembuhan yang sudah berlangsung pada tubuh Vano itu?


Karena Vano merasa itu bukan pertanyaan yang sulit untuk di jawab, Vano pun menjawab : "Dia baik. Bahkan di saat aku hanya bisa membebani kehidupannya, karena mau menghidupi orang asing sepertiku, dia tetap mau membantuku. Kalau saja ingatanku pulih, dan tahu aku punya identitas seperti apa, aku akan langsung menebus kebaikannya.


Walaupun dia orang yang terlihat tidak mudah bergaul, tapi melihat dia tekun untuk mencari pendapatan, aku tetap merasa salut dan berharap aku bisa membantunya juga," jelas Vano dengan panjang lear.


"...." Vina yang berada di depan rumah, hanya diam ambil mendengar pendapat Vano tentangnya.


Dan begitu mendengar dimana dirinya di puji seperti itu, hatinya pun tiba-tiba saja berbunga-bunga.

__ADS_1


Padahal hanya sekedar pujian saja, tapi mendengarnya saja bisa membuatnya begitu bahagia, ia sangat yakin kalau dirinya memang mengharapkan kalimat cantik itu keluar dari mulut Vano yang seksi itu.


__ADS_2