Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Keraguan


__ADS_3

Berbagai masalah harus dihadapi. Tapi ada juga beberapa masalah yang tidak bisa di hadapi sendirian. 


Vina, lagi-lagi Vina. Intinya, semenjak dirinya terlibat dalam konspirasi permasalah internal yang dimiliki oleh Elvano, membuat dia jadi memiliki banyak pengalaman baru. 


Tentu saja, diantara insiden yang hampir merenggut nyawanya, karena Arthur suka sekali menargetkan diri Vina dalam tujuan untuk menjadikannya tumbal, secara tidak langsung hal tersebut menciptakan sebuah hubungan, yang mana hubungan antara dirinya dengan Elvano, perlahan menjadi lebih dekat. 


Sebagai seorang yang mengalami masa jomblo selama dua puluh tiga tahun lamanya, jelas pengalaman dimana dia mendapatkan perhatian yang begitu besar dari seorang pria, bahkan merupakan pria yang cukup asing, sukses menarik perhatian dan juga perasaan pada diri Vina untuk merasakan perasaan dari musim semi dari seseorang yang mulai mengerti akan cinta. 


Namun, berkat status antara dirinya juga Elvano cukup besar, hal tersebut juga menjadi atu penghalang untuk Vina sendiri. 


‘Sampai kapan? Jika aku tertidur, berarti aku tidur berdua dengan dia?’ sejujurnya hatinya benar-benar tidak karuan sama sekali, apalagi jantung yang seakan ingin meledak saat itu juga. ‘Apa ini tidak apa-apa? Tapi sepertinya jika hal ini terus di biarkan, bisa-bisa aku akan kena gagal jantung.’


Namun, pelukan itu benar-benar menciptakan kehangatan yang cukup berbeda dari selimut yang biasa dia pakai. 


Raut wajahnya kian diam, dan sorotan matanya kian meredup seiring waktu berlalu. 


Vina kian bingung dengan perasaannya sendiri. Sungguh, dia sangat berharap kalau waktu bisa cepat berlalu, dan bisa membuatnya pulang ke rumah lagi. 


“Elvano, singkirkan tanganmu,” pinta Vinda sambil mencolek-colek ujung tangan dari pria tersebut “Ini berat, aku jadi tidak nyaman,”


Keheningan itu cukup menyebalkan, dan Vina sama sekali tidak bisa tahan dengan keheningan tersebut, apalagi situasinya, sekarang dirinya berduaan dengan sang Tuan muda. 


“Elvano, jika mau tidur, lakukanlah di dalam kamarmu, jangan disini,” pernyataannya memang ditujukan untuk mengusir Elvano dari kamarnya, hanya saja ada satu permasalahan yang harus dia hadapi, yaitu sayangnya sang Tuan muda itu sendiri sama sekali tidak bangun, sehingga terus membuat Vina seperti merasa tercekik sendiri.


__________


Delvin, semenjak siang, dia terus berada di dalam kamar. Selain menyusun strategi untuk menjatuhkan posisi kakaknya sang Tuan muda Arthur, jika Arthur akan membuat satu pasukan khusus yang di dirikan atas namanya, saat itu juga Delvin juga sedang menyadap pembicaraan antara majikannya itu bersama dengan Vina. 


“Tuan, apa anda tidak mau makan? Saya ada bawakan makanan untuk anda,” tegur salah satu pelayannya Delvin yang saat ini sedang membawakan makan sore untuk Delvin. 


“Masuk saja,” kata Delvin dengan singkat, tapi juga terkesan seperti orang yang cukup menaruh perhatian kecil, sehingga si pelayan tersebut pun sama sekali tidak begitu terkejut, karena tetap saja ada rasa trauma ketika mereka harus diperlihatkan sang Tuan muda mereka bernama Elvano, mampu menciptakan situasi yang cukup mencengangkan layaknya medan perang. 


Sungguh, itu akan menjadi pengalaman terbaik yang tidak mampu di lupakan begitu saja. 


“Apa Tuan muda sama sekali tidak keluar dari kamar Nona Vina?” tebak Delvin kepada pelayan perempuan tersebut. 


“Betul Tuan, ini sudah lebih dari dua jam untuk sekedar berbicara berdua dengan Nona. Apakah anda ingin me-”


“Tidak. Tidak perlu memanggilnya, kau hanya perlu awasi pergerakan mereka berdua dan laporkan aku secara bisa berkala,” perintah Delvin terhadap pelayan tersebut.


Wajah pelayan tersebut tampak khawatir dengan keputusan dari Delvin.

__ADS_1


Namun, karena dia tidak bisa untuk tidak menurutinya, pada akhirnya pelayan tersebut pun segera pamit dari sana.


"Kalau begitu saya permisi," meskipun enggan, dia harus tetap melakukannya.


KLEK...


"Tuan~" tatapan matanya berubah jadi sendu. Delvin sebenarnya adalah yang bisa di bilang orang yang cukup penyabar, karena dia mampu untuk menahan semua sikap maupun keputusan yang harus dia lakukan atas dasar pilihan dari Tuan muda nya. "Apa anda benar-benar menganggap kalau wanita spesial? Yang membuat anda penuh dengan perasaan untuk begitu peduli dari pada yang seharusnya?"


Delvin yang masih duduk di atas tempat tidur itu, memandangi laptop nya, dan melihat dari kejauhan rekaman cctv dimana Tuan muda nya ternyata tengah berbaring bersama dengan Vina.


___________


Kegelapan, selalu menjadi momok yang menyiratkan ketakutan, rasa sepi, juga kesendirian.


Tidak di pungkiri, bahwa untuk menghadapi kegelapan itu sendiri, seakan sama saja dengan menghadapi sebuah kejahatan.


Benar, kegelapan lebih mendominasi sebagai sebuah kejahatan.


Tapi, tidak sepenuhnya begitu. Sebab ada banyak dari mereka, kegelapan lebih cenderung bahwa situasi tersebut, justru berkaitan dengan pintu hati yang belum terbuka.


Ruangan yang gelap, dan lembab, menciptakan rasa dingin yang mampu membuat tubuhnya merasakan sensasi untuk merasakan sejuk yang masih bisa dia tahan.


"Sebenarnya, ini dimana?" suara itu keluar dari mulutnya, ketika matanya menemukan semua tempat di sekitarnya, justru cukup gelap, seakan dia berada di dimensi lain. 'Aku pikir aku tadi tidur, tapi kenapa aku ada di sini?'


Selain gelap, dingin, juga cukup sepi.


"Aku memang menyukai ketenangan, dan sepi ini, tapi aku benci rasa dingin. Ini mempengaruhi perutku.


Setiap kali aku merasa tidak nyaman, perutku akan sakit," Vina, dia pun merasa cukup tersiksa dengan situasinya sendiri. "Atau aku sudah mati?"


Di saat Vina sedang berpikir keras dia sekarang berada di mana, tiba-tiba saja Vina samar-samar mendengar suara tawa.


"Hahaha, jangan lakukan itu, geli~"


Vina langsung menarik perhatiannya untuk lebih memperhatikan lagi suara yang baru saja dia dengar itu.


"Ternyata kau cukup sensitif ya, bagaimana kalau di sini?"


Tiba-tiba suara milik seorang pria, terdengar juga setelah suara gelak tawa dari seorang perempuan.


Siapa, Vina sendiri tidak tahu.

__ADS_1


Vina menoleh ke samping kanan dan kirinya, sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menemukan jalan untuk keluar dari dalam kegelapan itu.


"Hahaha, jangan itu! J-jangan Ah~ Tunggu, jangan lakukan itu,"


'Kenapa suaranya semakin aneh? Tapi suaranya juga kenapa rasanya sangat aku kenal ya?' terdorong dengan rasa penasarannya itu, Vina mencoba untuk mengambil langkah pertamanya.


Setidaknya dia punya keinginan untuk pergi dari tempat dia berdiri tadi.


Satu, dua langkah dia ambil, dia terus melangkah seperti orang yang tidak tahu arah tujuannya, karena hanya berisi dengan kegelapan saja.


"Jangan kenapa? Ini kan sudah akan jadi tempatku bernaung dalam rasa suci milikmu,"


Vina yang mendengar itu, sama sekali tidak paham apa artinya. 'Banyak persepsi yang mengangguku. Tapi tetap saja, ini menganggu. Kenapa aku terus mendengar suara perempuan dan laki-laki? Apa mereka mau menghinaku dengan suara yang terdengar mesra itu?!'


"Apa aku tidak bisa memfilter ucapannmu? Itu memalukan!"


"Sudah seperti ini, kenapa kau masih saja malu? Lihat aku,"


Tepat di satu langkah terakhirnya, Vina tiba-tiba saja di hadapi dengan sebuah cahaya yang cukup terang.


'Ukh, kenapa silau sekali?' Saking terangnya, Vina pun sampai mengangkat lengan tangannya itu untuk menghalangi cahaya yang silau itu.


"Tentu saja malu! I-ini, ini kan pertama kalinya untukku?"


'Pertama kali untuk apanya? Kenapa kata-katanya sangat ambigu sekali?' pikir Vina.


Setelah dia merasa kalau cahayanya sudah mulai pudar, tiba-tiba Vina mendapati dirinya ada di suatu tempat, yaitu sebuah kamar mewah yang memperlihatkan kesan romantis dengan nuansa warna merah, yang menghiasi kamar yang di cat dengan dominan warna putih semua.


Begitu Vina membuka matanya dan mencoba mencerna baik-baik dia ada di mana, Vina seketika langsung membuka matanya dengan lebar.


"Tapi, bukannya momen inilah yang kau nantikan selama ini karena pasti kau sangat menginginkan aku?" suara yang begitu rendah dengan nada penuh godaan, mulai menyahut suara milik dari seorang wanita yang masih memakai gaun pengantin.


Tatapan matanya lembut, akan tetapi senyuman simpul itu seolah memiliki makna yang lebih dalam.


Dari pada mendengar kalau pria itu mengatakan kalau wanita yang baru saja di nikahinya adalah orang yang sudah menantikan malam pertama, sebenarnya hal itu adalah kebalikannya.


Vina terkejut, dia tidak tahu mengapa hal ini terjadi, tapi apa yang sekarang ada di depan matanya, Vina justru merasa kalau mimpinya kali ini cukuplah keterlaluan.


'B-bagaimana aku bisa mimpi kalau aku dan dia menikah dan mau menjalani malam pertama seperti ini?!' pikir Vina dengan ekspresi tercengang.


Dia cukup terkejut, karena dia tidak habis pikir kalau dia saat ini harus melihat pria yang sedang merangkak di atas kasur, sedang mencoba merayu dirinya yang sudah cukup kelabakan, karena ekspresi wajah dari pria yang tidak lain adalah Elvano, cukup menyiratkan seperti seekor serigala yang kelaparan.

__ADS_1


'Sebenarnya candaan macam apa ini?!' teriak Vina dengan sepenuh hatinya.


__ADS_2