
Di dalam sebuah kamar, seorang pria kini sedang berbaring diatas tempat tidurnya.
Dia adalah Abel, yang kini justru sedang menyendiri di dalam kamar yang diberikan oleh Elvano sebagai tempat pengurungan diri Abel.
Dalam diamnya, dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna kelabu.
Sangat kontras dengan kamar miliknya yang ada di rumah di apartemennya.
‘Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana sekarang, tapi-’ menutup dirinya di bawah selimut tebal, Abel pun mengeluarkan sebuah kertas yang berisi sebuah gambar.
Gambar itu memperlihatkan seorang wanita yang sedang terbaring di tempat tidur dengan begitu lelapnya.
‘Vina, kau cukup menarik untuk aku jadikan sebagai mainan dalam lingkaran masalah, aku yakin Veronica sudah sampai di indonesia. Kau harus bawa wanita itu ke tempat lain jauh dari rumahnya, ingat itu, Veronica.’ pikir Abel, dia sungguh tidak bisa lepas dari pandangannya untuk menatap Vina dari foto yang dia pegang itu.
Foto itu sebenarnya dia ambil ketika dia pertama kali menculik Vina, dan dia letakkan di dalam kamar yang ada di jet pribadi.
__________
Flashback 2 minggu yang lalu.
Hari dimana anak buahnya Abel berhasil menemukan Veronica dan membawanya ke rumahnya Abel.
“Vina, ya itu Vina! Pasti wanita itulah yang sudah merebut hatinya Elvano dariku!” ucap Veronica dengan tegas.
Dia berhasil menebak dari hasil permainan tebak-tebakan yang dilakukan oleh Abel kepadanya.
“Kau memang pintar, bahkan aku belum menceritakan ciri-cirinya, tapi kau benar-benar tahu ya, siapa wanita yang aku maksu itu,” puji Abel atas prestasi yang dibuat oleh Veronica kepadanya.
“Jadi apa yang ingin kau lakukan terhadapku? Kau berhasil menculikku, berarti tidak lain karena kau ingin mempergunakanku, ya kan?” tanya Veronica, menebak dengan pasti apa yang diinginkan oleh Abel kepadanya.
Abel tertawa, dia senang karena cara berpikir Veronica benar-benar sesuai dengan harapannya, dengan kata lain Veronica benar-benar cukup bisa dia gunakan sebagai pionnya untuk dia gunakan dalam rencana yang sudah dia pikirkan sebelum ini.
“Ya, kau benar, aku memang ingin menggunakanmu dalam rencanaku. Tentu saja, kau akan punya konsekuensi tersendiri, tapi apa di satu sisi kau bisa membalaskan dendammu terhadap Vina, karena dia berhasil merebut Elvano darimu,” kata Abel. Karena dia tidak bisa berjalan, sebab kondisi kakinya, dia pun hanya bisa bicara dari tempat tidurnya saja.
“Gara-gara Vina, Elvano jadi membuat aku seperti ini, jadi aku tidak akan mempermasalahkannya. Katakan saja apa rencana yang harus aku lakukan agar aku bisa membalaskan dendamku terhadap wanita licik itu!”
Mata penuh dengan dendam, ketika Abel melihat sorotan mata yang di miliki oleh Veronica benar-benar begitu membara, hal itu semakin membuat Abel suka dengan hasil yang akan dia dapatkan jika menggunakan wanita di depannya itu.
Oleh karena itu, dengan senang hati, Abel pun memberikan penjelasan kepada Veronica soal rencana yang harus Veronica lakukan agar bisa mencapai tujuannya itu.
“Pertama, satu minggu lagi kau harus pergi ke Indonesia, menyamarlah menjadi orang lain dengan cara menyusup ke truk, aku akan mempersiapkan orangnya,”
__ADS_1
“Indonesia? Oh, jadi wanita itu dari negara yang seperti itu ya? Pantas saja, dia punya wajah jelek seperti itu, akan aku lakukan, jadi katakan apa lagi,” timpal Veronica dengan semangat.
“Kedua, kau tidak akan naik pesawat menjadi dengan cara menjadi seorang penumpang, melainkan kau akan masuk ke bagasi pesawat, jadi tubuhmu harus menyesuaikan tempa ya~” kata Abel dengan akhir kata menggunakan sebuah senyuman.
“I-iya lah,” terpaksa mengiyakannya.
“Karena aku akan menyuap seseorang, jadi kau tidak perlu khawatir soal keamanannya.
Yang paling penting, kau hanya perlu bertahan saja, karena jarak tempuh yang harus kau lakukan itu cukup jauh, paling tidak sampai dua puluh jam,”
“Apa?!” pekik Veronica, saking terkejutnya dengan jumlah waktu yang tidak bisa di bilang sedikit itu. “Itu, nggak salah Dua puluh jam?”
“Lebih tepatnya untuk sampai ke bandara di Indonesia, kau perlu sekitar dua puluh satu jam penuh, belum lagi untuk mencapai ke desa, jadi kira-kira kau perlu waktu dua hari lebih agar sampai ke lokasi,” seolah tidak ada beban dalam menjelaskan soal jatah waktu yang harus ditempuh Veronica ke Indonesia, Abel hanya memasang senyuman lebarnya yang membuat Veronica cukup muak, karena dia merasa dipermainkan.
“Gila, bisa-bisa aku mati di perjalanan. Kau tahu, di bagasi itu dingin, dan tidak ada yang bisa aku lakukan karena pergerakanku cukup sedikit.” ucap Veronica, dia sedikit mengeluhkan kemungkinan yang terjadi di masa depan.
“Hahaha, apa kau percaya begitu saja, menyuruhmu untuk pergi ke Indonesia sampai ke rumahnya?”
“Ka-kau, kau berbohong?”
“Hahaha, makanya jangan terlalu dibawa serius juga. Dari pada menggunakanmu untuk memancing Vina langsung, mending aku menyuruh orang lain yang lebih kompeten, dan kau hanya tinggal menunggu Vina di suatu tempat dan membalaskan dendammu itu. Setelah itu, barulah kau bawa dia kepadaku, itulah yang aku maksud.
Tapi tentu saja, kau harus tetap pergi ke Indonesia, sebagai gantinya lokasi yang akan kau tempati untuk menunggu Vina ada, pembicaraan selanjutnya, supir yang akan mengantarmu dengan truck sampah nanti yang akan memberitahumu lebih detail,”
“Hmm, kau hanya perlu bertahan sampai ke Indonesia, karena untuk pergi kesana, tidak akan mudah, apalagi karena kita masih di negara ini, maka masih banyak mata yang mengawasi kita, makannya aku menyuruhmu untuk berhati-hati,”
_________
Flashback Off
Kembali kemasa kini, Abel yang masih ada di dalam sebuah kamar, hanya berbaring sambil menunggu kesembuhan dari kakinya itu.
“Tuan, sesuai perintah, mereka semua sekarang sudah pergi dari rumah, semua cctv sudah dilumpuhkan, dan para pelayan sudah berhasil kami lumpuhkan,” tiba-tiba seseorang dari luar, datang dan membukakan pintu kamar tersebut untuk membebaskan Abel dari kurungan.
KLEK …
“Kau datang tepat waktu, Jion,” sapa Abel terhadap satu-satunya anak buah yang berhasil menyusup ke kediaman dari rumah pribadinya Elvano. ‘Tidak sia-sia aku menanamkan alat pelacak di dalam gips yang aku pakai.’ pikir Abel.
Karena sudah bebas, dia pun keluar dari kamar itu.
Tapi, saat dia keluar untuk menjelajahi tempat yang dia tempati, seketika wajahnya langsung tercengang.
__ADS_1
“Jion, kita ada dimana? Aku pikir aku ditempatkan di rumah pribadinya yang ada di lokasi itu,” sekilas Abel menyesal karena dia salah perkiraan.
Awalnya dia berpikir kalau dia akan di sekap di markas, yang mana di atas gedung sendiri ada rumah pribadi yang satu paket dengan helipad, atau setidaknya ada di kediaman Elvano yang dijadikan tempat Vina sempat menginap, ataupun berada di kediaman utama keluarga Travers.
Tapi semua tebakannya salah kaprah, karena dia rupanya ada di salah satu pulau pribadi milik Elvano, dimana pulau itu hanya ada satu Villa yang tidak digunakan, jadi cukup kosong, tapi masih bagus, dan Abel rupanya di tempatkan di tempat paling jauh dari dunia luar!
“Maaf, tapi tebakan anda salah, dan itulah sebabnya saya memerlukan waktu yang sedikit lama untuk sampai di sini.
Saya menggunakan kapal speed boat untuk sampai kesini, dan paling tidak memerlukan satu sampai satu jam.
Lain hal jika menggunakan helikopter, itu hanya perlu sepuluh menit untuk sampai di kota.” penjelasan dari Jion sungguh ironis, dia datang dengan sia-sia hanya untuk membawa kembali Tuan nya itu.
Mengacak rambutnya frustasi, Abel angkat bicara, “Ya sudahlah, walaupun salah kaprah, tapi tidak apa-apalah, yang penting aku jadi tahu kalau ada masalah lain yang sedang dihadapi dua Tuan muda itu, ya kan?”
Jion mengangguk setuju.
“Untuk sementara waktu, Arthur, dan Elvano akan fokus pada masalah keluarga mereka, di satu sisi aku akan menangani wanita itu.
Jion, siapkan penyamaran, kita akan pergi ke Indonesia lagi, menyusul Veronica yang akan membawa Vina kepadaku,” sesuai rencana, selagi dua Arthur dan Elvano sibuk dengan urusannya sendiri, Abel pun mengurus tujuannya yang ingin mendapatkan Vina sebagai bahan provokasinya Elvano, yang benar-benar sungguhan melindungi wanita desa itu dengan sepenuh hati.
“Baik. Kalau begitu, ayo,” sebagai seorang bodyguard pribadinya Abel, Jion pun sudah merentangkan kedua tangannya dan mendekatkan tubuhnya ke sisi nya Abel.
“Apa?” tanyanya.
“Anda kan tidak bisa jalan dengan benar, ya akan saya gendong,”
“Kau mau aku seperti Tuan putri yang digendong pangeran?” balas Abel detik itu juga.
“Punggung?” tanya Jion singkat.
“Ya, harusnya itu belakang, bukan depan,” dan dengan senang hati Jion pun sedikit membungkukkan tubuhnya dan dia pun akhirnya menahan berat badan milik dari Abel, karena dia harus menggendong tuannya itu pergi keluar dari Villa itu. “Untung kau bisa sepertiku, gercep terus, kalau tidak aku pasti sudah menempatkanmu di posisi sebagai anak buah bagian nomor 4,”
Nomor 4 adalah kelompok yang di peruntukan untuk posisi paling rendah dalam tingkatan status di dalam jajaran kelompok yang Abel buat.
“Saya belum menyiapkan makanan untuk anda, jadi saya harap anda bawa makanan yang sempat disiapkan pelayan. Kebetulan sudah saya tempatkan di tempat nasi box,” Jion pun pergi menuju dapur, dimana beberapa pelayan yang ada di situ sudah tergeletak, dan tepat di atas meja ada nasi box yang sudah tertata rapi bersamaan dengan kantong, jadi hanya tinggal di bawa bersamaan dengan air.
“Jangan-jangan kau menyewa speedboat orang lain ya?” terka Abel dengan perasaan sedikit terkejut.
“Maaf, saya lupa anda menempatkan speedboat anda di mana, jadi mau tidak mau, saya menyewa milik orang lain, dan makannya, karena hanya memilih secara acak, jadi saya tidak memikirkan soal makanan untuk anda makan dalam perjalanan,” jawab Jion dengan menyesal.
Dia anak yang penurut, karena dia adalah anak yang dipungut Abel di jalanan.
__ADS_1
Dari pada itu, Jion sama sekali tidak punya ekspresi wajah yang menggambarkan perasaannya, sama seperti Delvin, jadi sama-sama seperti bicara pada sebuah tembok yang datar.
‘J-jadi begitu ya? Sial amat aku hari ini.’ detik hati Abel dengan senyuman masamnya.