Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia

Tetanggaku Tuan Mafia Amnesia
Adu Kekuatan


__ADS_3

"Tujuan kita sekarang akan pergi kemana?" bukan perkara yang mudah untuk melarikan diri dari kejaran dari seorang yang benar-benar ingin membunuhnya.


Butuh banyak sekali tenaga, pikiran, dan emosi untuk setiap pilihan yang harus di ambil. Oleh karena itu, Vina pun benar-benar bertanya, terutama soal bagaimana mereka akan lolos dari kejaran dari Abel itu.


"Ini berbeda dari rencana, tapi rencana plan A tetap harus berjalan. Untuk tujuan, akan di tentukan sendiri oleh orang itu, lalu untuk sekarang ini setidaknya kita harus pergi mencari truk kontainer," sahut Delvin, dia masih memiliki insting kalau bahaya yang besar akan terjadi. Dia harus bersiap untuk menghadapinya, tapi di satu sisi lain dia juga harus melindungi Vina. 'Kira-kira sekarang Tuan ada di mana? Sebaiknya Tuan sudah mendapatkan tempat untuk berlindung.' pikir Delvin.


"Kenapa kontainer? Apakah kita akan masuk dan ganti posisi dengan mobil lain untuk memanipulasinya?" satu pertanyaan berisi tebakan membuat Delvin mengatupkan mulutnya.


'Bagaimana dia bisa tahu?' detik hati Delvin. Padahal tidak ada satu pun yang berhubungan dengan Vina, tapi Vina sendiri justru terlihat seperti mengetahui beberapa hal yang seharusnya tidak di ketahui. "Itu benar. Tapi, dari mana kau tahu soal rencana itu?"


Dengan wajah malu-malu, Vina menjawab, "Kontainer kan berhubungan dengan kotak besar, bisa memuat mobil juga. Jadi aku hanya berpikir kalau truk itu digunakan untuk menyembunyikan kita. Ah~ Lagian aku memang pernah menonton film, dan kebetulan menggunakan cara seperti ini untuk lepas dari musuhnya yang mengejarnya," sebenarnya Vina sendiri juga memuat strategi meloloskan diri dari kejaran orang seperti sekarang ini di dalam novel yang dia buat untuk iseng-iseng belaka.


Hanya saja dia sendiri tidak tahu, ternyata strategi dari meloloskan diri yang pernah dia tonton, justru akan di gunakan oleh mereka berdua?


'Sebenarnya dia punya berapa banyak teman? Pasti tidak mudah untuk menyewa truk, dan harganya mahal. Orang kaya pada dasarnya memang beda, mereka bisa menghamburkan uang sesuka hati, sesuai keinginannya.


Tapi yang masih tidak aku mengerti, kenapa aku di buru, apa hubungannya dengan Vano dan penjahat seperti mereka, sampai menargetkanku?


'Apakah Vano membuat kesalahan kepada mereka?' sebenarnya banyak yang ingin Vina tanyakan. Tapi begitu melihat wajah Delvin, dia tahu kalau dia tidak akan mendapatkan jawaban dengan mudah. Delvin ingin menyembunyikan rahasianya sendiri darinya. 'Walaupun aku ingin berpikir kalau alasan dia ingin merahasiakannya dariku untuk kebaikanku. Tapi tetap saja, di dalam hatiku ada yang menjanggal. Aku jadi seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun, padahal aku sendiri terlibat dengan perselisihan mereka.'


Di tengah-tengah Vina sedang berpikir keras, Delvin tiba-tiba saja angkat suara. "Pegangan yang erat!"


"Apa?!" Vina yang panik, segera berpegangan pada pegangan tangan yang letaknya ada di atas pintu mobil, setelah itu Delvin tiba-tiba membanting stir ke arah kanan. Lalu terlihatlah, kalau dari arah kanan ada satu mobil yang hendak menabrak mobil mereka. "Delvin! Apa kita akan mati?"


"Tidak! Makannya aku menyuruhmu berpegangan tangan untuk menyiapkan mentalmu juga," tidak dapat di pungkiri, begitu ada mobil datang dari arah kanan mereka, Delvin langsung banting stir ke arah kanan. Dengan di bantu rem yang di pijak dengan kuat, sampai derit ban mobil yang bergesekan dengan aspal, saat itu juga mobilnya langsung ngedrift dan berhenti sesaat, sebelum akhirnya Delvin langsung memundurkan mobilnya di detik-detik saat mobil sedan hitam itu menabraknya.


BRAKK..!


"I-itu tadi," Vina hampir sepenuhnya tidak ingin percaya dengan apa yang dia lihat di depannya itu, sebab untuk pertama kalinya dia harus melihat ada orang yang benar-benar ingin membunuhnya. Betapa menyakitkannya itu, karena rupanya kehidupannya yang sebelum ini begitu damai, rupanya ada yang menginginkan nyawanya melayang? "A-apa o-orang yang ada di dalamnya langsung meninggal di tempat?"


"Apa kau bisa berhenti bertanya? Kau menganggu konsentrasiku," jawab Delvin dengan ketus.


DEG...

__ADS_1


"Maaf," Insiden yang menyangkut nyawa, kembali mendatanginya. Mulutnya ingin sekali bisa diam, tapi pikirannya terus menuntut untuk bertanya kepada Delvin secara terus, dan terus untuk mendapatkan jawaban.


'Akhirnya dia diam juga.' detiK hati Delvin, merasa puas melihat wanita yang ada di sampingnya itu bisa diam juga.


BRAKK...


"Kyaa...!" dengan sangat mengejutkan, belakang mobil mereka langsung di seruduk oleh mobil milik Delvin.


"Hahaha, mati kalian," ucap Abel di dalam mobilnya. Karena dia berhasil membuat mobilnya Delvin berhenti untuk sesaat gara-gara menghindari tabrakan yang di lakukan oleh anak buahnya tadi, alhasil Abel pun bisa memberikan balasan kepada mobilnya Delvin dengan cara menyeruduk.


BRRMMM.....


"Jangan-jangan kita terpojok?!" gumam Vina. Dia tidak bisa fokus untuk melihat ke jalan, apalagi untuk melihat ke belakang, dimana pria yang pernah menculiknya itu ternyata kembali hadir di dalam kehidupannya, spontan saja hal tersebut membuat Vina mendapatkan kilatan dari memorinya yang sempat hilang.


"Vina! Kau ingat suaraku?! Kau ada ada di dalam kan?! Keluarlah, aku ingin bertemu denganmu!" teriak Abel, membuat kehebohan semakin menjadi-jadi.


Delvin yang tidak menggubris apa yang di ucapkan oleh Abel tadi, berusaha untuk kabur dari sana.


"Suara tadi-""


"Tapi suara tadi- suaranya ... dia yang pernah menculikku! Dia orang yang menculikku kan? Aku sudah ingat! D-dia-" meracau tidak karuan, Delvin jadi ikutan panik juga, karena di saat yang bersamaan mobilnya tidak bisa bergerak sedikitpun dari sana, akibat ban mobilnya kena selip.


"Vina, mau turun atau tidak, atau kau ingin aku kembali membawamu bersamaku? Kau ingin aku menjemputmu kan?" teriak Abel.


Vina langsung menjawab, "Tidak! Aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau ikut denganmu, ka-kare-"


"Tidak mau? Lalu apa artinya saat kita tidur bersama waktu itu? Apa kau mau lari dari tanggung jawabmu? Begitu ya? Karena kau akhirnya punya pria lain, kau jadinya meninggalkanku?!" teriak Abel sekali lagi, membuat kesalahpahaman yang tidak pernah Vina bayangkan, sukses menjadikan suasana di sekitar mereka jadi semakin panas.


'Apa?' Vina sudah tidak bisa berpikir dengan kepala dingin. Dia sudah merasa seperti ada satu cambukan yang langsung melukai tubuhnya, akibat dia harus mendengar kata tabu yang tidak seharusnya keluar dari mulut orang lain, karena Vina berpikir diantara mereka tdiak memiliki hubungan apapun.


"Kau jangan terpengaruh dengan ucapannya, dia bohong kepadamu untuk mengacaukan pikiranmu," jelas Delvin, berusaha untuk membuat Vina tidak terpengaruh dengan omong kosongnya Abel.


Vina yang masih di landa keterkejutannya itu, bertanya dengan penuh penekanan, "Kau tahu dari mana dia bohong? Waktu itu aku di culik dalam kondisi pingsan, dan aku sama sekali tidak ingat apa yang sudah dia lakukan kepadaku saat aku pingsan, Delvin! Kau tidak tahu soal aku! Aku perempuan, betapa bodohnya saat aku tidak tahu apapun soal apa yang membuat aku jadi terlibat masalah ini bersama dengan kalian!" teriak Vina, dia benar-benar sudah lelah, dia tidak tahu dirinya akan berakhir masih hidup atau tidak, tapi di sini dia sangat ingin bisa punya kehidupan seperti semula yang tidak memiliki masalah apapun, dan apalagi perselisihan yang membuatnya harus bertaruh dengan satu-satunya nyawa yang dimilikinya. "Sangat tidak adil, kenapa aku harus terlibat semua ini?!"

__ADS_1


"Vina!"


"Diam! Diam! Diam! Aku tidak mau mendengar namaku di panggil terus!" bentak Vina, sampai Abel yang ada di belakang sana, juga mendengar jawaban yang di ucapkan oleh Vina.


'Tidak bisa seperti ini terus, kalau tidak, bisa-bisa Vina akan nekat melakukan hal lain yang bisa saja meperburuk situasi.' mulai terpojok dengan kondisi dari mobilnya yang tidak bisa bergerak sama sekali, berkat mobil bagian belakang sedikit terangkat gara-gara serudukan yang di lakukan oleh mobilnya Abel, Delvin pun jadinya mengambil keputusan untuk memundurkan mobilnya.


Karena mobil yang di pakai Delvin punya sistem penggerak FWD yang memungkinkan roda depan bisa bergerak, mobilnya pun mampu mendorong balik mobilnya Abel ke belakang.


BRRMMMM......


"Delvin, aku tidak akan membiarkanmu punya kesempatan kabur dariku!" Abel yang begitu menikmati permainan mereka bertiga, langsung bersemangat untuk mendorong balik mobilnya Delvin, agar tidak bisa pergi kemana-mana, karena mobilnya Delvin sendiri sudah terjebak di antara dua mobil yang membuatnya tidak mampu untuk kabur.


"AKKHH!" teriak Vina, mulai histeris sendiri karena mobil mereka berdua saling adu kekuatan, sehingga asap tebal berwarna putih pun mulai menyelimuti mereka semua.


"Vina! Kalau kau tidak mau turun, aku akan terus menyeruduk mobil kalian berdua!" ancam Abel dengan senyuman bangga.


Vina terkejut dengan ancaman itu, dan apalagi saat harus melihat suasana diantara mereka yang semakin panas, Vina sendiri jadi seperti sudah berhasil di sudutkan untuk membuat pilihan untuk menyerah.


Pasalnya, jika tidak menyerahkan diri, yang ada mereka berdua akan segera mati penyek di dalam mobil, sebab adu kekuatan mobil seperti ini, seperti tidak akan ada ujungnya, dan bisa-bisa berakhir dengan buruk.


"Aku-" Vina terjerat dalam situasinya sendiri yang membuatnya tidak bisa menghentikan air mata ketakutannya.


"Jangan-" Delvin menolak keras apa yang akan di putuskan oleh Vina, jika Vina ingin menyerah.


"Tapi aku tidak mau kita berdua mati! Apa-"


"Sekalipun kau memilih untuk menyerahkan diri, tidak menjamin kau dan aku selamat," peringatnya.


BRRRMMMMM......


"Tapi aku takut! Mobil ini- m-mobilnya takut meledak! Kalau di paksakan terus seperti ini!" marah Vina dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Aku hitung sampai tiga! Tidak keluar, aku tubruk kalian agar jadi satu dengan mobil kalian berdua!" ucap Abel, kembali membuat suasana semakin runyam. "Satu! Dua! Ti-"

__ADS_1


BRAKK...!


__ADS_2