
"Apa? 215 juta? Itu bisa untuk but rumah, atau beli tanah yang sudah ada rumahnya." Vina kagum, tapi dia tidak bisa selamanya kagum, sebab di belakang mereka berdua saat ini benar-benar terlhat ada mobil yang tadi.
DORR....
DORR....
"Hiih! Apa dia tidak memikirkan orang lain? Kenapa harus menembak di tempat umum?" protes Vina terhadap apa yang di lakukan oleh Abel kepadanya. "Delvin, bagaimana kalau ketemu polisi? Apa nanti kita juga akan di tangkap dan di masukkan kedalam penjara?" tanya Vina.
Sekalipun saat ini tubuhnya gemetar karena ketakutan, tapi dia tetap mencoba untuk mengalihkan pikirannya untuk tidak terus takut.
"Kalau di tangkap, teman-temanku akan segera mengurusnya," jawaban yang terdengar begitu sederhana, tapi memiliki makna yang cukup mendalam.
Tepatnya Delvin punya banyak anak buah yang bisa membantunya setiap saat, bahkan termasuk dengan polisi kota, sebenarnya posisinya itu bisa membuat polisi kota tidak menggugatnya, karena status dari keluarga Travers sendiri punya hubungan dengan para polisi kota, sehingga tidak ada satu pun yang akan mempermasalahkannya.
Bahkan, sebenarnya pemerintah kota prancis sendiri, sama sekali tidak bisa mengusik keluarga Travers, maka dari itu bisa di katakan kalau kekacauan yang mereka sebabkan tidak akan di tuntut, karena Travers sendiri akan mengganti biaya rugi semua kekacauan yang di sebabkan oleh mereka.
'Begitu ya? Dia pasti punya banyak relasi yang bisa membantunya jika sedang dalam posisi masa sulit'
Vira memperlihatkan ekspresi berpikirnya.
DORR...
CTANG....
"..." dan sudut matanya pun tiba-tiba saja melihat ada kantong kresek yang belum dia buang itu. Senjata mematikan yang membuat orang lain akan merasakan trauma besar yang tidak bisa di lupakan. "Aku tahu!"
"Tahu apa? Hei, kau mau apa?" tanya Delvin, penasaran.
Vina mengambil kantong kresek hitam yang tadinya tergeletak di bawah, lalu dengan sengaja Vina pun membuka kaca jendelanya.
Seketika angin dari luar langsung masuk ke dalam.
"Vin, itu bahaya!" tegur Delvin.
"Tapi aku harus memberikan dia balasan, setidaknya satu kali!" tegas Vina, tidak pantang mundur dengan keinginannya untuk melemparkan kresek berisi hasil muntahannya itu ke mobilnya Abel. "Ini jadi kesempatan kita, untuk membalasnya." imbuhnya.
Kesempatan ini di berikan berkat sekarang jalanan sudah mulai macet. Sehingga Abel sendiri pun sama sekali tidak punya celah untuk menyalip mereka berdua, berkat sisi jalur jalan yang ada di sebelah kiri mereka benar-benar macet, dan hanya meninggalkan sisi jalur kanan yang cukup lenggang.
Meskipun dia takut, akan tetapi Vina mencoba semampunya. Dia pun mengeluarkan separuh tubuhnya keluar dari kaca jendela mobil yang sudah dia buka.
__ADS_1
Memang hal itu cukup berbahaya untuk keselamatannya, tapi Vina sendiri sadar, kalau tidak begitu maka yang lebih parahnya adalah mereka berdua justru berada di posisi yang lebih berbahaya, yaitu kematian.
"Hati-hati," peringat Delvin sambil memegang ujung bajunya Vina, agar Vina bisa menjaga keseimbangannya dengan benar.
'Aku sendiri merasa jijik dengan hasil muntahanku. Tapi dari pada buang sembarangan di jalan, lebih baik aku buang ke mobilmu!' Vina yang sudah siap dengan ayunannya, dengan sekuat tenaga Vina pun melemparkan kantong kresek itu ke arah mobilnya Abel.
PRAKK~
"Yes!" Vina yang kegirangan, langsung kembali masuk ke dalam mobil, "Bom nya sudah mendarat dengan sempurna."
Sedangkan Abel?
"A-apa?! Menjijikan sekali!" Pekik Abel, dia langsung menekan salah satu tombol untuk mengeluarkan air ke kaca mobilnya, lalu wiper mobil pun langsung bergerak untuk membersihkan kotoran hasil dari muntahannya Vina yang super duper menjijikan.
Meskipun sudah melakukan pembersihan pada kaca mobil, tapi rupanya tidak dengan kap mobil yang benar-benar kotor.
"Ini akan jadi hari terburukku. Mobilku, kau kotori?! Sebaiknya saat aku bisa menangkap wanita itu, aku kotori juga sekalian. Awas saja Vina, kau tidak akan lolos dariku," geram Abel, dan bersumpah serapah terhadap Vina yang ada di depan mobil sana.
__________
Di indonesia, kampung halamannya Vina.
"Iya, ma, aku akan pergi mencari bahan untuk membuat buket lagi." jawab wanita ini. Dia sudah mulai berkemas untuk pergi dan mencari kebutuhan untuk membuat buket bunga. 'Kira-kira sampai berapa lama lagi aku harus menyamar menjadi wanita sang Tuan muda?' pikir wanita ini sambil memandangi langit yang begitu cerah itu.
Dia adalah anak buahnya Delvin yang di tugaskan untuk menggantikan posisinya Vina.
Awalnya memang, di keluarga kecil itu mendapatkan suatu masalah, berkat Vina yang tiba-tiba saja menghilang.
Namun, berkat perintah yang di turunkan dari sang Tuan muda Elvano, dia bisa meredam kecemasan itu sendiri dengan menggantikan Vina.
Sudah satu bulan lebih dirinya menjalani hidup yang terbilang cukup santai. Satu pekerjaan yang cukup baru untuknya.
"Ma, aku peri dulu,"
"Hmm, hati-hati di jalan." sahut ibunya Vina.
Sebenarnya tujuan aslinya bukan untuk pergi belanja, sebab dia sudah memerintahkan beberapa orang untuk mencarikan barang kebutuhannya. Melainkan dia pergi untuk mengambil laptop sendiri, sekaligus bertemu dengan seseorang yang akan membawakan informasi terkini terkait majikannya itu.
Dia pergi menggunakan motor, hanya kurang lebih 10 menit perjalanan dia bisa ke tempat tujuannya.
__ADS_1
Tapi, siapa yang akan menduga, kalau seseorang lainnya, sedang mengincar kedua orang tuanya Vina.
"Hah, bagus sekali dia pergi, kalian berdua waktunya menangkap dua orang itu. Kita bawa mereka ke markas," perintah pria ini kepada dua temannya yang sudah ada di posisinya masing-masing dengan berpakaian seperti rakyat biasa.
Lalu dua orang itu pun beraksi, dengan bertamu ke rumahnya Vina, di saat tidak ada banyak orang lewat.
"Permisi~"
Ibunya Vina yang sedang ada di dapur, langsung keluar dan bertanya, "Ya? Ada apa ya?"
"Apa ini betul rumah dari Vina?" tanyanya dengan wajah polosnya, sehingga tidak akan ketahuan kalau niat sebenarnya adalah untuk menculiknya.
"Iya, tapi kebetulan Vina baru saja pergi. Anda siapa ya?"
"Saya temannya Vina, dan ingin pesan buket kepadanya, tapi karena Vina sedang pergi, apa boleh saya menunggu disini?" jelasnya.
"Kalau begitu mari masuk, dia tidak akan pergi lama," jawabnya, dan dengan begitu percayanya, ibunya Vina pun mempersilahkan tamu itu masuk ke dalam rumah.
Sebagai warga kampung, karena kehidupan di desa tidak ada masalah apapun, ataupun kejahatan apapun, maka dari itu, ibunya Vina pun memperbolehkan tamu itu masuk, tanpa ada curiga apapun.
"Kalau begitu saya permisi,"
"Apa anda mau minum?" tanya ibunya vIna tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"Air putih saja, kalau bisa yang dingin," kemudian pria ini pun perlahan berjalan mengekori Ibunya Vina, dan sudah menyiapkan sebuah saputangan yang sudah di bubuhi dengan obat bius.
"Ngomong-ngomong anda dari mana ya?"
"Hm, saya dari-" tepat pada waktunya untuk membius ibunya Vina, dia pun beraksi, ketika Ibunya Vina hendak mengambil gelas.
"Mphh...! Mphh!"
"Nah, kau sebaiknya bertemu dengan putrimu yang asli, Nyonya." kata pria ini, dengan membekap mulut ibunya Vina, dan membuat semua kerja keras untuk memberontak melepaskan diri pun menjadi sesuatu yang sia-sia.
'Putriku yang asli? Apa maksudnya? Ah~ kenapa tiba-tiba jadi mengantuk?' setelah beberapa waktu, karena obat bius yang cukup kuat, hal tersebut membuat kesadarannya pun berangsur menghilang.
BRUKK....
"Masalah satu sudah selesai, sekarang tinggal suaminya," gumam pria ini. Tersirat rasa puas, sebab tujuannya untuk membawa kedua orang tuanya Vina akan benar-benar berhasil.
__ADS_1