
Tak..Tak...Tak...Tak....
Dengan gerakan jari jemarinya yang begitu lihai, Elvano pun berhasil mengetik banyak dalam waktu yang singkat.
"Kau tadi bicara dengan siapa?" tanya Vano tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya.
"Anak buah saya." jawab Delvin dengan cepat, tanpa membuat pria yang sedang duduk di kursi singgasananya itu menunggu lama.
"Iya, yang aku tanyakan itu siapa. Jangan memberi jawaban dengan makna yang luas begitu." tegur Vano, dia sangat tidak suka jika jawaban yang dia dapatkan itu malah harus membuatnya jadi mengutarakan kalimatnya lagi untuk menuntut si penjawab menjawab dengan lebih detail.
"Dengan perawat yang merawat Nona Vina." jawab Delvin sekali lagi.
TAK.....
Tepat setelah dia menekan enter, Elvano pun menghentikan tangannya dalam mengetik.
"Vina? Tidak terjadi apapun kepadanya kan?" tanya Vano, dia malah tiba-tiba saja jadi cemas dengan keadaan dari Vina yang dia tinggal di rumah sakit sendirian.
"Tidak terjadi apapun. Hanya pemberitahuan rutin saja." imbuh Delvin lagi, tanpa membuat Elvano curiga, kalau sebenarnya yang di tanyakan tadi adalah soal sup.
TING...
"Oh, untunglah. Kalau begitu aku bisa melanjutkan pekerjaanku lagi dengan fokus." gumam Vano.
Delvin yang tiba-tiba saja mendapatkan pesan singkat dari Jason, dokter pribadi milik dari Tuan muda Elvano, dia pun segera membukanya dan membacanya dengan sekilas.
'Hmm, ternyata ada kejadian yang seperti ini juga. Tapi untung saja bisa mereka bereskan dengan cepat, tanpa membuatku turun tangan.' merasa lega kalau penyusup yang hendak membahayakan perempuan bernama Vina itu berhasil di tangkap, Delvin pun bisa akhirnya bisa bekerja dengan leluasa juga.
______________
"Terima kasih dok, saya jadi terselamatkan karena bantuan anda dan kalian berdua." ucap suster ini, orang yang di sekap di dalam locker.
"Bagaimana bisa kau di ikat dan di masukkan kesana?" tanya salah satu temannya.
__ADS_1
Namun, karena dokter muda itu tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia pun jadinya angkat bicara lebih dulu. "Ini karena pasti ada yang mau menyusup masuk. Dengan menggunakan wajahnya, tentu saja penyusup ini bisa masuk dengan leluasa masuk ke rumah sakit ini."
"Waduh, kau suatu hari nanti aku ju-"
"Tidak akan ada kejadian untuk kedua kalinya, kalian hanya tinggal bekerja saja, urusan keamanan akan di tangani oleh pihak rumah sakit," jelasnya.
Lalu kembali ke suster bernama Dairen yang menjadi korban penyekapan seseorang, dia yang saat ini hanya memakai pakaian da lam saja, karena seragamnya di ambil oleh si penyusup, dokter ini pun lebih dulu menyerahkan jas dokter miliknya untuk menutupi tubuhnya Dairen.
"Kau pakai ini dulu, aku akan mengambilkan seragam baru untukmu." ucapnya, lalu segera pergi dari sana.
"Terima kasih." jawab Dairen.
"Dairen, kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?"
"Iya, aku cemas, ternyata orang yang dari tadi bersuara itu, malahan kau. Tapi- apa kau melihat wajah si penyusup itu?" tanyanya lagi.
Diberikan pertanyaan tersebut oleh kedua rekan kerjanya, Dairen pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, karena wajahnya sudah terlihat seperti aku tepat di saat aku berhasil membuka maskernya, jadinya aku sama sekali tidak tahu seperti apa di balik topengnya."
Dairen pun menganggukkan kepalanya.
Dan kedua orang temannya itu pun saling pandang satu sama lain.
KLEK...
"Ini seragammu." dokter barusan pun sudah kembali dengan membawakan seragam baru untuk Dairen.
"Terima kasih dok, nanti jas nya akan saya kembalikan."
"Santai saja, aku pergi dulu." sahutnya, lalu dia segera pergi setelah meninggalkan seragam baru milik Dairen di kursi.
_____________
__ADS_1
"Eh iya ya, ini enak No- maksudku Vina." ucap Jef. Dia yang masih berada di dalam kamar inap milik Vina, akhirnya bisa saling bicara dengan cukup santai.
"Kan enak, masakan dari kakakmu itu sangat enak, aku juga ingin berterima kasih kepada kakakmu, karena aku jadi punya nostalgia masakan rumah yang sudah lama aku rindukan. Titip salam ya?" kata Vina, berharap kalau salamnya bisa di sampaikan oleh Jef kepada kakak Jef.
"Iya, akan aku sampaikan." jawabnya. "Tapi kenapa kau tidak makan telur dan dagingnya? Itu juga ada ayam goreng." menunjuk pada beberapa menu makanan yang tidak di makan.
"Aku tidak suka yang amis-amis. Aku bisa memakannya, tapi sebagai gantinya aku harus punya simpanan makanan manis, seperti permen atau jus jeruk yang enak di mulut, agar aku tidak muntah."
"Ternyata ada juga ya, yang seperti itu." Jef sendiri baru tahu, rupanya ada juga orang yang harus punya aturan seperti itu jika mau makan yang di anggap seperti hal tabu.
"Oh ya, bagaimana dengan tubuhmu? Kemarin aku dengar kalau kau hampir terlibat dengan kecelakaan."
Menimbang-nimbang bagaimana menjelaskannya, Vina pun tersenyum lemah, dan meletakkan ikan salmon di area tempat yang tidak ingin dia makan, dan hanya mengambil sushi tanpa ikan mentah itu, dan menjawab : "Aku di selamatkan oleh Elvano."
'Seberapa dekat hubungan antara Tuan muda dengan Nona ini? Padahal kan Tuan muda sudah punya kekasih. Bagaimana ya, jika kekasih sang Tuan muda tahu dengan keberadaan dari Nona ini?' pikir Jef, dia pun jadi cemas jika Nona yang ada di depannya itu akan di jadikan sebagai bahan pelampiasan dari kekasihnya Elvano yang asli.
"Aku sepertinya sudah kenyang, makasih makanannya ya." ucapan dari Vina pun langsung membuyarkan pikirannya Jef.
Sontak, saat melihat Vina hendak membereskan rantang-rantang itu, Jef langsung mencengkram pergelangan tangannya Vina dan berkata : "Biar aku saja, kau kan tidak boleh banyak bergerak. Kau juga pasti sedang menahan rasa sakit karena berusaha makan sendiri kan?" tanya Jef, menebak kondisi Vina itu.
"T-ternyata aku memang orang yang pikirannya mudah di baca ya?" Vina yang sedih karena dia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit ataupun perasaannya dengan baik, sampai bisa di tebak dengan benar oleh orang lain, membuatnya jadi murung.
"B-bukan itu-" Jef jadinya bingung sendiri. 'Aku salah bicara lagi, aduh, bagaimana ini?' Jef jadi frustasi, dia jadi bingung mau bicara apa lagi kepada Vina, agar tidak salah paham. "Bukan seperti itu, ah..maaf, aku bukan bermaksud seperti itu kepadamu. Aku hnya khawatir saja, jangan pedulikan yang tadi aku katakan soal aku menebak kondisimu itu."
Entah apa yang dibicarakannya itu, Jef pun jadinya pasrah, karena yang salah di sini adalah dirinya, sebab mengatakan hal yang menyinggung perasaan Vina.
"Tidak apa-apa, aku memang berusaha menahan sakitnya, agar aku tidak terlihat manja ingin di suapi seperti anak kecil terus. Itu memalukan," jawab Vina, mencoba membuat alasan untuk Jef, agar Jef tidak merasa bersalah lagi.
"Maaf ya. Apa kau mau coklat?" sebagai ganti rasa bersalahnya itu, Jef pun mengeluarkan coklat batangan kecil dari dalam sakunya.
"Makasih," jawabnya dengan anggukan. 'Ih, ada kacang mete.' Vina sangat suka dengan coklat, makannya hatinya yang tadinya sempat sedih, karena dirinya adalah tipe orang yang pikirannya mudah di baca, akhirnya di obati dengan satu batang coklat.
'Perubahan perasaannya kenapa cepat sekali ya?' Jef jadi takjub, padahal tadi Vina terlihat seperti sedang sedih, tapi sekarang malah sebaliknya, cukup bahagia. "Sama-sama. Kalau begitu aku tinggal dulu ya, istirahatlah dulu." Jef pun segera menyita semau peralatannya dari atas meja makan itu, dan segera pergi.
__ADS_1
"Nyam..., enak, apalagi kacangnya, hihihi. Aku dapat teman baru." menikmati hasil dari belas kasih dari seseorang, dia pun jadinya bisa mendapatkan coklat batangan yang sudah lama tidak dia rasakan.