
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dan juga panjang, mereka berdua kahirnya sampai di rumah.
"A-akhirnya sampai," gumam Vina, dia segera melepas helm, mantel, dan begitu sudah melepaskan sepatunya, dia segera pergi berlari masuk kedalam rumah.
KLEK...
BRAKK!
Suara dari pintu kamar mandi pun benar-benar keras, sampai Vano hanya melongo.
"Sejak kapan dia menahannya?" gumam Vano, dia tahu jelas apa yang sudah terjadi pada Vina itu, sebab sampai harus merelakan jas yang di pakai di gunakan sebagai penutup pan*tat nya, karena sempat bocor, Vano benar-benar merasa cukup terhibur dengan semua kecerobohan yang di lakukan oleh Vina ini.
"Kenapa kalian bisa pulang semalam ini? Sudah makan?" tanya ibunya Vina, dia dari tadi sebenarnya duduk di ruang tamu.
Tentu, karena rasa khawatir, jadi sebagai Ibu, tetap akan menunggu anaknya yang sedang pergi jauh.
"Sebenarnya sepanjang jalan hujan terus, jadi kami Vina mengendarai motornya pelan-pelan, tapi kami sudah makan, dan ini untuk tante dan paman," Vano memberikan satu kantong plastik berwarna putih kepada Ibu nya Vina.
"Hmm? Kalian makan bakso ya? Enak juga, ayo masuk, kau pasti lelah." pinta sang Ibu nya Vina, memberi tawaran aga Vano masuk, sedangkan dirinya langsung pergi ke dapur untuk menyajikan bakso itu kepada suaminya yang kebetulan memang sedang makan di meja makan.
Sedangkan Vano, dia pun segera masuk kedalam rumah itu, rumah nya Vina, atau lebih tepatnya rumah kedua orang tuanya Vina. Tidak mewah, tapi masih bisa dikatakan lebih bagus, karena cat dan penataan barang-barang di sana cukup rapi.
Sama hal nya dengan apa yang dirasakan oleh Vina yang lelah, Vano pun begitu duduk, dia langsung menghela nafas kasar sambil duduk selonjor dengan kedua kaki lurus ke bawah.
"Hahh, akhirnya sampai juga," gumam Vano, kepalanya sedikit mendongak ke atas, dan melihat ada stiker bentuk bunga es, yang mana stiker itu bisa menyala ketika suasana menjadi gelap.
Sejujurnya, Vano memandanginya bukan karena kagum, melainkan sedang berpikir.
Benar, dia benar-benar memiliki pikiran yang sama sekali tidak bisa dia lupakan, dan itu soal kecelakaan yang terjadi beberapa jam lalu di kota PWT, sebab di dalam kepalanya itu, dia memiliki semua pikiran soal ingatan yang terasa seperti miliknya?
'Tapi masa sih? Apa iya, aku punya pengalaman seperti itu?' benak hati Vano, dia sangat tidak suka jika ingatan itu benar-benar miliknya.
__ADS_1
Tapi, saat Vano mencoba memejamkan matanya, yang ada di dalam kepalanya itu dia justru mendengar banyak rintihan dari orang-orang.
"Akhh! J-jangan!"
DORR...
"Tidak! Aku mohon, semua ini hanyalah fitnah, ta-"
DORR....
Tiap kali matanya terpejam, Vano tetap saja mendengar suara tembakan, peluru yang keluar dari senjata api untuk membunuh korbannya, dan itu cukup mengganggu Vano, di saat Vano benar-benar tidak memiliki ingatan tentang masa lalunya.
"Shhtt..." Vano tiba-tiba mendesis kasar dan berkata : "kenapa ingatanku seburuk ini sih? Jangan-jangan setelah kepalaku terbentur keras, aku benar-benar jadi orang bodoh, sampai punya halusinasi semengerikan ini." ucap Vano pada dirinya sendiri gara-gara ingatan yang terasa tidak manusiawi itu.
JDERRR....
Sampai di malam yang masih di guyur hujan deras itu, petir akhirnya datang menyambar dengan dentuman yang cukup keras.
"Halusinasi? Kau bicara soal ingatanmu kah?" hingga suara milik Vina pun mengusik suasana tegang milik Vano.
'Apa dia mandi? Tapi apa dia memang mandi secepat ini? Padahal belum sepuluh menit, tapi aku langsung mencium aroma sabun dan sampo yang dia gunakan,' lirik Vano terhadap Vina begitu semerbak aroma sampo dan sabun itu langsung menyeruak masuk ke indera penciumannya.
"Hanya ada teh, tidak apa-apa kan?" tanya Vina dengan wajah pucat.
Vano yang melihatnya, saat Vina meletakkan cangkir teh itu di atas meja, Vano seketika langsung mencengkram pergelangan tangan kanannya Vina.
"Vin, wajahmu pucat, apa kau sakit?"
"Aku hanya pusing, tidak apa-apa," jawab Vina dengan malas. Bahkan sebenarnya Vina sedang malas untuk banyak bicara, tapi sayangnya pertanyaan harus dia jawab, agar tidak di tanyai terus.
Vano terus memandanginya, terlihat wajah Vina benar-benar pucat, dan seringkali memejamkan matanya seperti mau pingsan.
__ADS_1
"Kalau begitu jangan berdiri terus, sini duduk dan minum teh nya." Vano pun menawarkan Vina untuk duduk di sampingnya, dan dengan begitu menurut, Vina mau duduk di sebelah Vano, lalu menerima uluran dari cangkir teh yang di pegang oleh Vano, dan menyeruputnya dengan pelan.
SRUPPTT...
"Kalau sakit, kenapa kau tidak bilang dari pagi?" tanya Vano khawatir, padahal selama perjalanan, Vina terlihat senang, tapi begitu pulang rasanya sudah lesu seperti mau tumbang.
Vina kembali memejamkan matanya, mengangkat kedua tangannya untuk memijat kepalanya itu, dia pun menjawab : "Ini sudah biasa, maksudku...ahh...m kalau pergi lama-lama, aku biasa sakit kepala seperti in- mph.." Vina seketika langsung menghentikan ucapannya saat mulutnya langsung Vina bungkam, karena ia sangat ingin sekali muntah.
"Vina, kalau mau muntah-muntah saja," perintah Vano, dia bahkan sudah menyodorkan kedua tangannya yang disatukan seperti sebuah mangkuk tepat di depan Vina.
Tapi Vina menggeleng, "Aku hanya mual, tapi bukan berarti aku mau muntah, jangan bicara lagi, ini sangat pusing!" protes Vina, dia sebenarnya sudah menahan rasa sakit kepalanya semenjak pulang dari Mall, dan semakin sakit ketika dia harus melihat insiden berdarah itu. "Huek~"
Dengan raut wajahnya yang cemas, Vano mencoba bertanya apa yang di inginkan oleh Vina.
"Kau mau apa? Makan apa atau ingin minum apa?"
"Air hangat, tremosnya sekalian bawa sini," jawab Vina, dia masih terus memijat-mijat kepalanya.
"Akan aku ambilkan, tunggu sebentar,"
'Padahal dia mencoba melakukan kebaikan, tapi kenapa rasanya dia tidak cocok ya? Ahh! Sudah ah, ini sangat pusing!' ucap Vina dalam hati, meronta, berteriak, mengeluh rasa sakit sana dan sini.
Bagaikan di layani oleh seorang suami, Vina setidaknya merasa cukup lega, sebab Vano mau membantu rasa susah yang sedang Vina rasakan saat itu.
"Ini tre-"
"Ya ampun, padahal yang kecil juga ada, kenapa malah bawa yang besar?" tanya Vina, betapa terkejutnya dia saat termos yang di bawa Vano adalah yang besar, bukan yang ukuran kecil yang bisa di bawa kemanapun. "Sudah, tidak masalah," imbuhnya, ketika Vano terlihat ingin mengembalikannya.
Dengan demikian, setelah Vina makan obat dan terus minum air hangat, Vano pun menawarkan diri untuk memijat kepalanya Vina.
____________
__ADS_1
Seperti itulah...
Saat di balik latar belakang Vano yang masih belum di ketahui oleh Vano sendiri, dan Vina yang mengira Vano yang Vina selamatkan dari maut adalah orang biasa saja, di balik itu semu, tangan kanan dari kedua Tuan muda yang sedang berebut kekuasaan sekaligus posisi sebagai ketua Mafia, sudah mulai turun tangan untuk mencari Elvano.